Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit..
Kalau dari ketek-ketek dibiarkan, babarapo puluah tahun lai saat turis lah
makin banyak datang, mungkin lah samo jo Gang Dolly di Sby...
Pak Gubernur nan dari PKS mudah-mudahan bisa turun tangan, kalau pak Wako
Bukik Tinggi indak sempat...
*----- Rapat Rutin Pengurus Serikat Harus Tetap Ada. **Karena Disitulah
Hati, Jiwa Dan Semangat Pengurus Dipertemukan, Diingatkan Dan Dipersatukan
-----*
*Salam dan Terima Kasih,*
*Dedi Suryadi*
_____________________________________________________________________________
***** Sukses Seringkali Datang Pada Mereka Yang
Berani Bertindak Dan *****
******Jarang Menghampiri Penakut Yang Tidak Berani Mengambil
Konsekuensi (Jawaharlal Nehru**)* *****
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"The Best Human Being Among of You is The Most Beneficial for The
Others" (Hadith by Bukhari)
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
****...."Kasihilah Yang Di Bumi, Maka Yang Di Langit Akan Mengasihimu...
".....*****
"Love What On Earth, Then What On Sky Will Love You ..."
Pada 18 Februari 2014 08.46, ajo duta <[email protected]> menulis:
>
> Pemko dan DPRD Bukittinggi Terkesan Membiarkan Prostitusi Merajalela.
> Benarkah ?
> Senin, 10 Februari 2014 - 01:12:11 WIB
>
> THEONEREDAXI,BUKITTINGGI -- Bisnis prostitusi makin merajalea di Kota
> Bukittinggi. Sebagian besar masyarakat mulai gerah, namun pemko tak
> bergeming.
>
> Masyarakat menilai pemko tak bernyali memberantas biusnis haram
> ini.Pembiaran ini membuat para pelaku memberanikan diri secara
> terrang-terangan memjajakan bisnis mereka pada para wisatawan yang datang.
>
> Berdasarkan informasi dan investigasi Theoneredaxi di lapangan, para
> pelacur atau PSK ini berkeliaraan di seputar Kota Bukittinggi yang terkenal
> dengan istilah kawasan "Gang Sempit" dan mentok alias gang buntu seperti
> telah diberitakan emdia ini sebelumnya. Di lokasi tersebut terdapat 12
> kamar yang terbuat dari papan yang pemiliknya salah seorang oknum warga.
>
> Kemudian, masyarakat di sekitar lokasi tak ada yang berani mempersoalkan
> tempat mesum tersebut. Konon oknum pemilik mengancam kepada orang yang
> mengusik bisnis "lendirnya" tersebut.
>
> Tempat mesum lainnya, di beberapa hotel melati di kota itu juga seolah
> tidak tersentuh. Beberapa hotel tersebut tidak bermanajemen syariah.
> Pantauan di lapangan sejumlah warung tuak di Bukittinggi semakin marak
> saja, sebut saja di kawasan Pasar Bawah (ada lima buah warung tuak), di
> Kampung Cina (3 buah), dan di Jalan Kereta juga ada.
>
> Ketua DPD Front Pembela Islam (FPI) Sumatera Barat, Muhammad Busyra ketika
> dihubungi media ini menyatakan, pihaknya mengecam sikap Pemerintah Kota
> Bukittinggi yang seolah tidak peduli terhadap semakin maraknya prostitusi.
> Padahal, Kota Bukittinggi punya visi "Masyarakat Bukittinggi Cerdas, Sehat
> dan Berekonomi Mapan dengan Dilandasi Nilai-Nilai Agama Dan Adat".
>
> "Bagi FPI Sumbar, jika Pemerintah Bukittinggi tidak mau atau tidak mampu
> melawan kemaksiatan dan kemungkaran, maka FPI siap berada di garda terdepan
> menyelamatkan akhlak dan moral anak nagari Bukittinggi," tegas Buya
> Muhammad Busyra.
>
> Buya menjelaskan, anggota FPI pernah melakukan konfirmasi kepada Kepala
> Satpol PP Bukittinggi, namun dirinya sangat kecewa menerima jawaban pihak
> Satpol PP Bukittinggi itu yang mengatakan, tidak ada laporan dari RW/RT
> setempat terkait lokasi-lokasi maksiat itu.
>
> Yang anehnya lagi, kata Buya, ketika anggota FPI melaporkan kepada Wakil
> Walikota Bukittinggi, jawaban yang diterimanya juga mengecewakan. "Kata
> Wakil Wali Kota, dirinya sudah tahu di mana saja tempat maksiat di
> Bukittinggi, tetapi yang penting sekarang adalah masalah pembenahan
> ekonomi," kata Buya mengulangi jawaban Wawako Bukittinggi itu.
>
> Sementara ketika dilaporkan ke Walikota Bukittingi, FPI mendapatkan
> jawaban, kalau beliau berada di Jakarta dan berjanji akan menurunkan tim
> untuk razia. "Tapi janji Walikota itu hanya tinggal janji dan yang akan
> turun itu nihil," kata Buya dengan nada kecewa.
>
> Padahal, masalah protitusi itu telah diatur oleh Peraturan Daerah Nomor 20
> tahun 2003 tentang Penertiban, Penindakan Penyakit Masyarakat (Pekat).
> "Yang anehnya lagi, DPRD sebagai yang membuat perda, juga tidak melakukan
> pengawasan dan mempersoalkan masalah protitusi ini kepada pemerintah Kota
> Bukittinggi.
>
> Sebenarnya, kata Buya, hotel-hotel di Bukittinggi harus bermanajemen
> sesuai dengan visi dan misi Pemerintah Kota, sehingga hotel tidak menerima
> orang yang tidak berstatus suami istri tidur sekamar. "Kita masih menunggu
> sikap tegas Walikota Bukittinggi dan komitmen beliau menjalankan visi dan
> misi Bukittinggi itu," katanya.
>
> Kesannya, tambah Buya, antara eksekutif dan legislatif telah berkompromi
> untuk membiarkan saja Kota Bukittinggi dinodai oleh berkeliaraannya para
> pelacur. "Menindaklanjuti hal ini, FPI akan datang ke DPRD Bukittinggi,
> serta menemui beberapa tokoh masyarakat, ninik mamak dan alim ulama,"
> tambahnya.
>
> Maraknya prostitusi di Kota Bukittinggi, diduga karena adanya oknum
> tertentu secara diam-diam menjadi beking para germo itu. "Dugaan ini karena
> setelah ditangkap melalui razia, para pelacur itu dilepas lagi dan
> disinyalir para pelacur itu memberi fee kepada oknum-oknum tersebut," ujar
> Buya lagi, sembari menambahkan, kalau tak ada beking, mana mungkin para
> germo berani mengancam. (indra)
> - See more at:
> http://m.theoneredaxi.com/berita-pemko-dan-dprd-bukittinggi-terkesan-membiarkan-prostitusi-merajalela-benarkah-.html#sthash.BdPeeDOe.maN7uA69.dpuf
> Wassalaamu'alaikum WW
>
> Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
> 17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo
> Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli -
> Jakarta - Sterling, Virginia USA
> ------------------------------------------------------------
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.