Ibuku bernama Rosida Silaban dan
Ayah biasa dipanggil Alle Sihombing.  Aku
lahir 9 November 1972 di desa Biaro, Kecamatan Biaro, Batusangkar, Sumatera
Barat.  Aku empat bersaudara dan semuanya
laki-laki.  Tiga abang, satu adik;
Mangaan, Madin, Nur Salim, dan Mangatuk.  Keluargaku cukup taat beragama 
kecuali aku. Aku tumbuh menjadi anak
berandalan yang oleh masyarakat dan teman-teman disebut “anjing”.  Aku juga 
pemimpin gang bukan karena jagoan
melainkan karena aku sering memamerkan dan mengandalkan keluarga.  Ayahku 
pensiunan militer di Tarutung,
sedangkan seorang Abangku anggota militer di Medan.

Karena keberandalan itulah, aku
langganan bolak-balik masuk penjara hingga tujuh kali.  Pertama Januari 1988, 
aku dihukum dua bulan
penjara karena menodong dan mendapat 25 g emas serta uang Rp 350.000.  Kedua, 
November masih tahun yang sama aku
masuk penjara lagi karena menghamili anak gadis orang dan tidak mau bertanggung
jawab.  Ketiga Maret 1990, aku dipenjara
tiga bulan karena mencuri seekor kerbau.  Tahun itu juga, dipenjara lagi selama 
tujuh bulan karena memukul orang.  Tahun 1992, dipenjara setahun karena memukul
orang lagi.  Masih tahun ini juga, masuk
lagi dua minggu karena judi dan minum minuman keras.  Terakhir, mendekam selama 
lima bulan karena
memukuli orang hingga cacat.

Saat di penjara yang ketujuh
inilah, pada Jumat malam, aku bermimpi bertemu seorang kakek berpakaian putih
dan berkata, “Tobatlah kamu, karena perbuatanmu menyengsarakan masyarakat.”  
Orang tua itu hilang begitu aku
terbangun.  Saat itu pukul 02.00.  Paginya, Ibu datang menjenguk membawa
nasi.  Aku berpesan kepada Ibu agar besok
ketika menjenguk agar dibawakan Alkitab.

Sejak itu, siang malam selama
tiga bulan tanpa henti aku membaca Alkitab terus-menerus dan tak pernah merasa
puas, hingga masa penjara berakhir.  Setelah
bebas, aku hanya beristirahat di rumah satu minggu.  Saat itu aku tidak bekerja 
apa-apa karena
tubuhku hancur digebuki.  Selama seminggu
itu, aku berpikir ingin merantau ke daerah lain.  Akhirnya pilihanku ke 
Sumatera Barat dan
bekerja sebagai kondektur bus Manila Indah.

Di sanalah aku tertarik dengan
seorang gadis manis bernama Yanti.  Selama tiga bulan pacaran aku 
menyembunyikan agamaku yang sebenarnya,
sebab ia beragama Islam.  Ketika Yanti ke
masjid untuk sembahyang Magrib dilanjutkan Isya, aku menunggu di rumahnya.  
Saat menunggu, aku memanfaatkan waktu dengan
membaca-baca Injil yang selalu ku bawa-bawa di balik baju.  Selain itu, aku 
juga membaca Quran
terjemahan.  Aku membaca kisah Nabi Adam
hingga Nabi Isya.  Aku terkejut ketika
membaca sejarah Nabi Isya.  Dalam Islam,
ternyata ia bukan Tuhan sedangkan yang di salib adalah Yudas.

Sejak itulah aku bertanya dari
satu pendeta ke pendeta yang lain.  Dari satu
gereja ke gereja yang lain guna memperoleh kejelasan.  Namun, semua keterangan 
yang diperoleh tidak
satu pun yang dapat memuaskanku, bahkan membuatku ragu dengan agama yang 
kuanut. 


Akhirnya, aku datang kepada ulama
terkenal di Kota Padang bernama H. Muhammad Rabani, guna meminta penjelasan.  
Setelah puas dengan penjelasan Pak Haji, aku
mengemukakan niat untuk masuk Islam.  Namun Pak Haji Rabani menyarankan agar 
aku memohon izin kepada orangtua.  Setelah tiga bulan surat aku kirimkan kepada
orangtua tanpa beroleh jawaban, aku pun lantas diislamkan dan dikhitan di
masjid dengan banyak saksi.  Diantaranya
Sapaner, Pak Haji Rabani dan perawat Dasae yang mengkhitanku.

Setelah sembuh dari khitan, aku
pulang ke rumah orangtua.  Pukul 24.00
WIB aku tiba.  Ayah langsung marah-marah
dan menanyai tentang kepindahan agamaku.  Oleh karena aku menjawab dengan 
mantap bahwa benar aku sudah pindah ke
Islam, detik itu juga, di tengah malam buta itu, aku diusir sebelum aku bertemu
dengan Ibu yang sangat kurindukan.  Saat itu
juga, aku berjalan kaki sejauh 35 km dan menemukan sebuah mushalla di
Padang.  Di mushallah inilah aku menangis
sejadi-jadinya dan betapa sakitnya hatiku melihat sikap Ayah.  Usai menunaikan 
shalat Subuh aku kembali ke
rumah dengan jalan kaki kembali guna bertemu Ibu.  Pesis pukul 8 pagi aku tiba 
di rumah saat
ayah pergi ke sawah.  Rinduku yang sangat
kepada Ibu langsung terobati.

Saat Ayah pulang, keributan
terjadi lagi, untung Ibu melerai.  Dengan
kasih sayang seorang Ibu, akhirnya Ibu memohon kepada Ayah supaya memberikan
kesempatan kepadaku untuk beristirahat di rumah guna pertimbangan lebih lanjut.

Tak terasa, aku sempat bertahan
selama setengah tahun di rumah.  Dalam waktu
setengah tahun itulah pembantaian demi pembantaian yang dilakukan keluarga
kepadaku berlangsung terus tanpa henti.  Bila
ingin shalat Subuh, aku katakan kepada Ayah bahwa aku ingin berolahraga,
padahal aku shalat di ladang.  Suatu ketika
aku dibuntuti.  Persis saat sujud, Ayah
melempari kepalaku dengan batu.  Alhamdulillah, Allah melindungiku.  Batu besar 
itu hanya menyerempet kepala
tetapi tidak melukai.  Demikian pula
sikap abang nomor dua.  Karena sama-sama
di rumah dia tahu apa yang aku lakukan.  Saat
aku shalat zuhur di kamar, pas rakaat terakhir, ketika aku mengucapkan Allahu 
Akbar dia memukul punggungku
dengan kayu dari pohon kelapa sebesar lengan.  Allah Mahabesar, aku tidak 
merasa sakit walau baju dan celanaku
robek.  Aku hanya diam tapi tidak
melawan.

Waktu pun terus berjalan.  Suatu ketika saat Magrib tiba, aku bergegas
masuk kamar dan menunaikan shalat.  Waktu
itu Ayah dan Ibu belum pulang dari sawah.  Saat mereka tiba, masakan belum siap 
dan air baru saja mendidih.  Karena mendengar bacaanku yang agak keras, abang
langsung mengambil air mendidih itu dan disiramkan ke seluruh tubuhku.  
Akibatnya, selama tiga minggu aku tidak dapat
berbuat apa-apa karena kulitku lecet dan melepuh.  Sampai sekarang bekasnya 
masih terlihat jelas
di tangan.  Tubuh dan tangan yang sakit
itu tidak diobati kecuali hanya diolesi minyak karena aku tidak punya uang.

Kejadian lain, ketika aku tidur
siang.  Abang nomor dua datang dengan
membawa pisau dan batang ubi kayu.  Aku mau
dibunuh.  Namun, sekali lagi Allah masih
melindungiku.  Pisau yang semula
diniatkan untuk ditancapkan ke tubuhku menyangkut di jendela.  Aku segera lari 
keluar.  Seperti kesetanan, abang mengejarku dengan
pisau terhunus.  Melihat kejadian itu,
Ibu berusaha melerai sampai tangan Ibu terluka terkena pisau dan bajunya
robek.  Sambil menangis Ibu berkata kepada
abang, “Aku sajalah yang kau bunuh nak, jangan adikmu, Daniel.”

Melihat bujukan dan tindakan
fisik tidak berhasil, keluarga mengubah rencana.  Mereka berniat mengawinkan 
aku dengan seorang
gadis Kristen bernama Eva.  Ayah mengatakan
kalau aku mau mengawininya dan kembali ke agama Kristen, aku akan diberi uang
1,5 juta rupiah, 200 ekor babi, dan harta serta emas calon istri.  Akan tetapi 
dengan tegas aku mengatakan, “Aku
tidak mau kawin kecuali dia mau pindah ke Islam.  Lebih baik aku miskin di 
dunia daripada harus
masuk Neraka.”  Mendengar jawaban itu,
Ayah dan abang naik pitam.  Ayah lalu
mengambil pisau sedang abang siap dengan pistolnya.  Aku akan dibunuh bila 
masih mempertahankan
Islam.  Lagi-lagi Ibu melerai dan aku pun
diusir.

Mei 1994 ketika itu, selepas
mengemasi pakain, aku pamit dengan baik-baik.  Tanpa berbekal uang sepeser pun, 
aku memberanikan diri menyetop bus ALS.  Aku ceritakan semua kejadian kepada
supir.  Supir yang baik itu, mengizinkan
aku menumpang sampai ke Jawa.  Aku turun
di Kebumen, Jateng, di mana abang tertua bermukim.  Saat turun, supir itu masih 
memberi aku
ongkos beca Rp 5.000.  Tanpa menemui
kesulitan aku berhasil menemukan rumah abang.  Oleh abang, aku diberi pekerjaan 
sebagai satpam proyek.  Aku tidak menceritakan terus terang apa yang
sebenarnya terjadi kepada abang.  Namun,
surat Ayah yang meminta abang mengembalikan aku ke agama leluhur hampir tiap
saat datang.  Bahkan Ayah mengatakan,
jika tidak mau, usir saja.

Dengan segala upaya, abang
mencoba mengembalikanku ke agama semula.  Aku bahkan didukuni serta diancam 
tukang pukul sewaan abang.  Karena aku tetap kukuh, akhirnya diusir.  Aku tidak 
tahu lagi harus ke mana.  Akhirnya, aku mendatangi Haji Tohir dan
memohon uang untuk bekal.  Semula beliau
melarang aku pergi, namun karena niatku untuk meninggalkan Kebumen sudah bulat,
beliau memberikan uang 5.000 rupiah.

Di jalan raya aku menghentika bus
Aman yang tengah melintas tanpa tahu kemana bus itu menuju.  Di atas, barulah 
aku tahu bus sedang menuju
Kota Cilacap.  Tanpa pikir panjang aku
memberikan ongkos.  Akhirnya, sampailah
kami di Terminal Cilacap.  Usai makan,
aku bertanya-tanya kepada penjaga warung dan para agen bus kalau-kalau ada
pekerjaan yang bisa kulakukan.  Hasilnya nihil.  Akhirnya atas prakarsa umat 
Islam di PPC
(Pelabuhan Perikanan Cilacap) aku diantar ke Yayasan At-Thuba Jalan Kendeng No.
55 Cilacap yang hingga sekarang menjadi tempat tinggalku.

Untuk memperdalam keimanan, aku
mengikuti pesantren kilat yang diadakan Pertamina dan Al-Irsyad.  Entah sampai 
kapan aku berada di sini.  Yang jelas aku sudah merasa agak tenang dapat
mengerjakan shalat dengan khusyuk dan menambah pengetahuan agama.

Kisah Daniel Sihombing yang kini bernama Muhammad Rafli.  Semoga Allah menjaga 
keislamannya dan menambah keimanan kita.


[Saya salin ulang dari kitab “Kembali ke Pangkuan Islam” yang
disusun oleh Tardjono Abu M. Muaz, 2002, Gema Insani, Jakarta, dengan sedikit 
perubahan]
Bogor, 22-02-14

Salam
ZulTan, L, 53, Bogor

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke