salam saudara Zutan

satu kisah benar bagaimana Allah menunjukan kuasa nya dan hidayah nya dari
seorang barandalan dapat hidayah dari Allah perjuangan yang dilalui oleh
saudara kita cukup perit hanya keyakinan yang mantap kekuatan iman sudah
bertahta dikamar hati nya apapun siksaan dan cobaan dia tabah dan Allah
melindungi nya Amin YRA

Mudah mudahan Allah tetap beri kekuatan dan hidayah kepada  muhamad Rafli

wasalam

HD St Banso
Kuala Lumpur




2014-02-22 13:03 GMT+08:00 Zorion Anas <[email protected]>:

> Kisah menarik, seseorang berjihad tauhid dgn hati yang akan mengantarkan
> dia ke sorga.
>
> Salam,
> Zorion Anas, 58, Padang
> Pada 2014 2 22 08:28, "ZulTan" <[email protected]> menulis:
>
>
>>
>> Ibuku bernama Rosida Silaban dan Ayah biasa dipanggil Alle Sihombing.  Aku
>> lahir 9 November 1972 di desa Biaro, Kecamatan Biaro, Batusangkar, Sumatera
>> Barat.  Aku empat bersaudara dan semuanya laki-laki.  Tiga abang, satu
>> adik; Mangaan, Madin, Nur Salim, dan Mangatuk.  Keluargaku cukup taat
>> beragama kecuali aku. Aku tumbuh menjadi anak berandalan yang oleh
>> masyarakat dan teman-teman disebut "anjing".  Aku juga pemimpin gang
>> bukan karena jagoan melainkan karena aku sering memamerkan dan mengandalkan
>> keluarga.  Ayahku pensiunan militer di Tarutung, sedangkan seorang
>> Abangku anggota militer di Medan.
>>
>> Karena keberandalan itulah, aku langganan bolak-balik masuk penjara
>> hingga tujuh kali.  Pertama Januari 1988, aku dihukum dua bulan penjara
>> karena menodong dan mendapat 25 g emas serta uang Rp 350.000.  Kedua,
>> November masih tahun yang sama aku masuk penjara lagi karena menghamili
>> anak gadis orang dan tidak mau bertanggung jawab.  Ketiga Maret 1990,
>> aku dipenjara tiga bulan karena mencuri seekor kerbau.  Tahun itu juga,
>> dipenjara lagi selama tujuh bulan karena memukul orang.  Tahun 1992,
>> dipenjara setahun karena memukul orang lagi.  Masih tahun ini juga,
>> masuk lagi dua minggu karena judi dan minum minuman keras.  Terakhir,
>> mendekam selama lima bulan karena memukuli orang hingga cacat.
>>
>> Saat di penjara yang ketujuh inilah, pada Jumat malam, aku bermimpi
>> bertemu seorang kakek berpakaian putih dan berkata, "Tobatlah kamu, karena
>> perbuatanmu menyengsarakan masyarakat."  Orang tua itu hilang begitu aku
>> terbangun.  Saat itu pukul 02.00.  Paginya, Ibu datang menjenguk membawa
>> nasi.  Aku berpesan kepada Ibu agar besok ketika menjenguk agar
>> dibawakan Alkitab.
>>
>> Sejak itu, siang malam selama tiga bulan tanpa henti aku membaca Alkitab
>> terus-menerus dan tak pernah merasa puas, hingga masa penjara berakhir.  
>> Setelah
>> bebas, aku hanya beristirahat di rumah satu minggu.  Saat itu aku tidak
>> bekerja apa-apa karena tubuhku hancur digebuki.  Selama seminggu itu,
>> aku berpikir ingin merantau ke daerah lain.  Akhirnya pilihanku ke
>> Sumatera Barat dan bekerja sebagai kondektur bus Manila Indah.
>>
>> Di sanalah aku tertarik dengan seorang gadis manis bernama Yanti.  Selama
>> tiga bulan pacaran aku menyembunyikan agamaku yang sebenarnya, sebab ia
>> beragama Islam.  Ketika Yanti ke masjid untuk sembahyang Magrib
>> dilanjutkan Isya, aku menunggu di rumahnya.  Saat menunggu, aku
>> memanfaatkan waktu dengan membaca-baca Injil yang selalu ku bawa-bawa di
>> balik baju.  Selain itu, aku juga membaca Quran terjemahan.  Aku membaca
>> kisah Nabi Adam hingga Nabi Isya.  Aku terkejut ketika membaca sejarah
>> Nabi Isya.  Dalam Islam, ternyata ia bukan Tuhan sedangkan yang di salib
>> adalah Yudas.
>>
>> Sejak itulah aku bertanya dari satu pendeta ke pendeta yang lain.  Dari
>> satu gereja ke gereja yang lain guna memperoleh kejelasan.  Namun, semua
>> keterangan yang diperoleh tidak satu pun yang dapat memuaskanku, bahkan
>> membuatku ragu dengan agama yang kuanut.
>>
>> Akhirnya, aku datang kepada ulama terkenal di Kota Padang bernama H.
>> Muhammad Rabani, guna meminta penjelasan.  Setelah puas dengan
>> penjelasan Pak Haji, aku mengemukakan niat untuk masuk Islam.  Namun Pak
>> Haji Rabani menyarankan agar aku memohon izin kepada orangtua.  Setelah
>> tiga bulan surat aku kirimkan kepada orangtua tanpa beroleh jawaban, aku
>> pun lantas diislamkan dan dikhitan di masjid dengan banyak saksi.  
>> Diantaranya
>> Sapaner, Pak Haji Rabani dan perawat Dasae yang mengkhitanku.
>>
>> Setelah sembuh dari khitan, aku pulang ke rumah orangtua.  Pukul 24.00
>> WIB aku tiba.  Ayah langsung marah-marah dan menanyai tentang kepindahan
>> agamaku.  Oleh karena aku menjawab dengan mantap bahwa benar aku sudah
>> pindah ke Islam, detik itu juga, di tengah malam buta itu, aku diusir
>> sebelum aku bertemu dengan Ibu yang sangat kurindukan.  Saat itu juga,
>> aku berjalan kaki sejauh 35 km dan menemukan sebuah mushalla di Padang.  Di
>> mushallah inilah aku menangis sejadi-jadinya dan betapa sakitnya hatiku
>> melihat sikap Ayah.  Usai menunaikan shalat Subuh aku kembali ke rumah
>> dengan jalan kaki kembali guna bertemu Ibu.  Pesis pukul 8 pagi aku tiba
>> di rumah saat ayah pergi ke sawah.  Rinduku yang sangat kepada Ibu
>> langsung terobati.
>>
>> Saat Ayah pulang, keributan terjadi lagi, untung Ibu melerai.  Dengan
>> kasih sayang seorang Ibu, akhirnya Ibu memohon kepada Ayah supaya
>> memberikan kesempatan kepadaku untuk beristirahat di rumah guna
>> pertimbangan lebih lanjut.
>>
>> Tak terasa, aku sempat bertahan selama setengah tahun di rumah.  Dalam
>> waktu setengah tahun itulah pembantaian demi pembantaian yang dilakukan
>> keluarga kepadaku berlangsung terus tanpa henti.  Bila ingin shalat
>> Subuh, aku katakan kepada Ayah bahwa aku ingin berolahraga, padahal aku
>> shalat di ladang.  Suatu ketika aku dibuntuti.  Persis saat sujud, Ayah
>> melempari kepalaku dengan batu.  *Alhamdulillah*, Allah melindungiku.  Batu
>> besar itu hanya menyerempet kepala tetapi tidak melukai.  Demikian pula
>> sikap abang nomor dua.  Karena sama-sama di rumah dia tahu apa yang aku
>> lakukan.  Saat aku shalat zuhur di kamar, pas rakaat terakhir, ketika
>> aku mengucapkan *Allahu Akbar* dia memukul punggungku dengan kayu dari
>> pohon kelapa sebesar lengan.  Allah Mahabesar, aku tidak merasa sakit
>> walau baju dan celanaku robek.  Aku hanya diam tapi tidak melawan.
>>
>> Waktu pun terus berjalan.  Suatu ketika saat Magrib tiba, aku bergegas
>> masuk kamar dan menunaikan shalat.  Waktu itu Ayah dan Ibu belum pulang
>> dari sawah.  Saat mereka tiba, masakan belum siap dan air baru saja
>> mendidih.  Karena mendengar bacaanku yang agak keras, abang langsung
>> mengambil air mendidih itu dan disiramkan ke seluruh tubuhku.  Akibatnya,
>> selama tiga minggu aku tidak dapat berbuat apa-apa karena kulitku lecet dan
>> melepuh.  Sampai sekarang bekasnya masih terlihat jelas di tangan.  Tubuh
>> dan tangan yang sakit itu tidak diobati kecuali hanya diolesi minyak karena
>> aku tidak punya uang.
>>
>> Kejadian lain, ketika aku tidur siang.  Abang nomor dua datang dengan
>> membawa pisau dan batang ubi kayu.  Aku mau dibunuh.  Namun, sekali lagi
>> Allah masih melindungiku.  Pisau yang semula diniatkan untuk ditancapkan
>> ke tubuhku menyangkut di jendela.  Aku segera lari keluar.  Seperti
>> kesetanan, abang mengejarku dengan pisau terhunus.  Melihat kejadian
>> itu, Ibu berusaha melerai sampai tangan Ibu terluka terkena pisau dan
>> bajunya robek.  Sambil menangis Ibu berkata kepada abang, "Aku sajalah
>> yang kau bunuh nak, jangan adikmu, Daniel."
>>
>> Melihat bujukan dan tindakan fisik tidak berhasil, keluarga mengubah
>> rencana.  Mereka berniat mengawinkan aku dengan seorang gadis Kristen
>> bernama Eva.  Ayah mengatakan kalau aku mau mengawininya dan kembali ke
>> agama Kristen, aku akan diberi uang 1,5 juta rupiah, 200 ekor babi, dan
>> harta serta emas calon istri.  Akan tetapi dengan tegas aku mengatakan,
>> "Aku tidak mau kawin kecuali dia mau pindah ke Islam.  Lebih baik aku
>> miskin di dunia daripada harus masuk Neraka."  Mendengar jawaban itu,
>> Ayah dan abang naik pitam.  Ayah lalu mengambil pisau sedang abang siap
>> dengan pistolnya.  Aku akan dibunuh bila masih mempertahankan Islam.  
>> Lagi-lagi
>> Ibu melerai dan aku pun diusir.
>>
>> Mei 1994 ketika itu, selepas mengemasi pakain, aku pamit dengan baik-baik.
>> Tanpa berbekal uang sepeser pun, aku memberanikan diri menyetop bus ALS.
>> Aku ceritakan semua kejadian kepada supir.  Supir yang baik itu,
>> mengizinkan aku menumpang sampai ke Jawa.  Aku turun di Kebumen, Jateng,
>> di mana abang tertua bermukim.  Saat turun, supir itu masih memberi aku
>> ongkos beca Rp 5.000.  Tanpa menemui kesulitan aku berhasil menemukan
>> rumah abang.  Oleh abang, aku diberi pekerjaan sebagai satpam proyek.  Aku
>> tidak menceritakan terus terang apa yang sebenarnya terjadi kepada abang.
>> Namun, surat Ayah yang meminta abang mengembalikan aku ke agama leluhur
>> hampir tiap saat datang.  Bahkan Ayah mengatakan, jika tidak mau, usir
>> saja.
>>
>> Dengan segala upaya, abang mencoba mengembalikanku ke agama semula.  Aku
>> bahkan didukuni serta diancam tukang pukul sewaan abang.  Karena aku
>> tetap kukuh, akhirnya diusir.  Aku tidak tahu lagi harus ke mana.  Akhirnya,
>> aku mendatangi Haji Tohir dan memohon uang untuk bekal.  Semula beliau
>> melarang aku pergi, namun karena niatku untuk meninggalkan Kebumen sudah
>> bulat, beliau memberikan uang 5.000 rupiah.
>>
>> Di jalan raya aku menghentika bus Aman yang tengah melintas tanpa tahu
>> kemana bus itu menuju.  Di atas, barulah aku tahu bus sedang menuju Kota
>> Cilacap.  Tanpa pikir panjang aku memberikan ongkos.  Akhirnya,
>> sampailah kami di Terminal Cilacap.  Usai makan, aku bertanya-tanya
>> kepada penjaga warung dan para agen bus kalau-kalau ada pekerjaan yang bisa
>> kulakukan.  Hasilnya nihil.  Akhirnya atas prakarsa umat Islam di PPC
>> (Pelabuhan Perikanan Cilacap) aku diantar ke Yayasan At-Thuba Jalan Kendeng
>> No. 55 Cilacap yang hingga sekarang menjadi tempat tinggalku.
>>
>> Untuk memperdalam keimanan, aku mengikuti pesantren kilat yang diadakan
>> Pertamina dan Al-Irsyad.  Entah sampai kapan aku berada di sini.  Yang
>> jelas aku sudah merasa agak tenang dapat mengerjakan shalat dengan khusyuk
>> dan menambah pengetahuan agama.
>>
>> Kisah Daniel Sihombing yang kini bernama Muhammad Rafli.  Semoga Allah
>> menjaga keislamannya dan menambah keimanan kita.
>>
>> [Saya salin ulang dari kitab *"Kembali ke Pangkuan Islam"* yang disusun
>> oleh Tardjono Abu M. Muaz, 2002, Gema Insani, Jakarta, dengan sedikit
>> perubahan]
>> Bogor, 22-02-14
>>
>> Salam
>> ZulTan, L, 53, Bogor
>>
>> --
>> .
>> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat
>> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
>> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
>> ===========================================================
>> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
>> * DILARANG:
>> 1. Email besar dari 200KB;
>> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
>> 3. Email One Liner.
>> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
>> mengirimkan biodata!
>> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
>> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
>> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
>> mengganti subjeknya.
>> ===========================================================
>> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
>> http://groups.google.com/group/RantauNet/
>> ---
>> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
>> Grup Google.
>> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
>> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
>> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari
> Grup Google.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup 
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.

Kirim email ke