Uni Ifah, Mak Asmardi, dan dunsanak palanta RN n.a.h,
di bawah ko salah satu kisah sangat bagus tentang pentingnya niat. Ambo
ambiek dari kitab *Qashashul Anbiya* (Kisah Para Nabi) karya Ibnu Katsir.
-----
Satu hari para pengikut setia Isa putra Maryam kehilangan dirinya.
Lalu ada yang memberitahu mereka, "Dia pergi ke arah laut."
Mereka pun beramai-ramai mencarinya.
Sampai di tepi laut, mereka melihat Isa berjalan di atas lautan,
sesekali diangkat gelombang, sesekali dibawa turun.
"Dengan apa kau berjalan di atas air, wahai Nabi Allah?"
Isa menjawab, "Dengan iman dan yakin."
Para pengikut setianya pun berkata, "Kami beriman seperti halnya
engkau dan yakin seperti halnya engkau." Isa menjawab, "Kalau begitu
silakan kalian mendekatiku dan berjalan di atas air." Mereka mencoba, dan
langsung tenggelam.
Isa bertanya, "Kalian kenapa?"
Mereka menjawab, "Kami takut gelombang wahai Nabi Allah."
Isa berkata, "Kenapa kalian tidak takut kepada Tuhan penguasa
gelombang?"
- *Qashashul Anbiya*, Ibnu Katsir, hal.
928-929.
------
Wass,
ANB
45, Cibubur
Pada 3 Maret 2014 07.30, Asmardi Arbi <[email protected]> menulis:
>
> Subhanallah wal hamdulillah, tarimokasih banyak nakan ANB ateh sharing
> infonya , sahinggo samakin batambah ilmu kami. Uraian pakaro niatko bana2
> baru buek mamak, nan kini banyak baraja ka kamanakan nan ahli manyimpan
> digudang infonyo dan didukuang memorynyo nan sangek kuek untuak maingek nan
> alah tasimpan. . Semoga selalu ado waktu untuak babagi.
>
> Wassalam,
> AA/72.
>
> On 03/03/2014 07:15, Akmal Nasery Basral wrote:
>
> Wa'alaikumsalam Wr. Wb. Uni Ifah n.a.h.
>
> 1. Tentu konteks jawaban Habib Al Kaff nan ambo sampaikan adolah
> menyangkut niat jamaah Bengkulu nan ikut program itu, bukan niat Uni Ifah.
> Ambo yakin in syaa Allah niat Uni tentu mencari keridhaan Allah,
> sebagaimana juga in syaa Allah niat seluruh jamaah masjid At Taqwa tiap
> shalat Zuhur di hari Rabu itu.
>
> 2. Meski begitu kita coba diskusikan "Bab Niat" ini secara lebih umum,
> Uni.
>
> Hadits tentang niat yang sangat populer ini sebetulnya begitu penting
> karena Imam Syafi'i menafsirkan sebagai "mencakup 1/3 ilmu" tersebab adanya
> 3 unsur dalam tindakan manusia: niat (dalam hati), ucapan (dalam lisan),
> dan perilaku (kegiatan fisik).
>
> Namun sayangnya banyak kalangan muslim sendiri mengartikan hadist niat
> ini terlalu mudah, atau dimudah-mudahkan, seperti "yang penting kalau
> niatnya betul, maka ...." atau "yang penting kalau tauhidnya sudah betul,
> maka ..." seakan-akan kita, yang hidup di zaman yang berabad jarak jauhnya
> dari Nabi, bisa dengan mudah memastikan kemurnian niat semudah membalik
> telapak tangan.
>
> Padahal kalau kita teroka asbabul wurud munculnya hadits ini, settingnya
> sungguh tidak main-main: hadits ini diucapkan Nabi saw di MADINAH
> *pasca*hijrah. Ambo kutip terjemahan lengkapnya dalam bahasa Indonesia:
>
> *Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya
> setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang
> hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka
> hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya
> karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya
> maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan*. (Muttafaq
> 'alaihi)
> Mengapa settingnya tidak main-main? Karena hadits ini disampaikan Nabi
> kepada para sahabat, sekumpulan orang terpilih yang* sudah sekitar 13
> tahun sebelumnya digembleng Nabi saw sendiri* hampir setiap saat ketika
> mereka masih di Makkah. Dan mereka digembleng Nabi bukan dalam suasana
> pengajian yang nyaman seperti kita sekarang, melainkan dalam suasana
> penyiksaan yang hampir terus menerus, sehingga ketaatan para sahabat dan
> kekuatan dan kemurnian tauhid mereka kepada Allah Swt betul-betul teruji. Toh
> dengan kondisi seperti itu pun Nabi *MASIH MENGINGATKAN* pentingnya niat
> untuk mencari keridhaan Allah dan RasulNya saja. Subhanallah.
>
> Mata batin Nabi Muhammad Saw yang sangat tajam tahu, bahwa meskipun para
> sahabat itu adalah manusia kualitas utama, mereka tetap saja manusia yang
> niatnya bisa tergoda oleh bujukan dunia. Dan itulah yang sungguh-sungguh
> terjadi karena salah seorang sahabat yang berhijrah, niatnya adalah untuk
> memperistri seorang wanita Madinah cantik yang dikenal sebagai Ummi Qais
> sehingga sang sahabat itu mendapat julukan *Muhajir Ummi Qais* ("orang
> yang hijrah karena Ummi Qais"). Sejak itu sebutan "Muhajir Ummu Qais" --
> selanjutnya kita sebut MUQ saja -- menjadi "brand generik" untuk orang yang
> melakukan sebuah aktivitas dakwah atau ibadah dengan niat utama selain
> mencari ridha Allah.
>
> Kalau kita telisik dan pikirkan lagi fenomena MUQ ini lebih jauh,
> sahabat MUQ itu pasti juga mencari ridha Allah dan rasulNya ketika ikut
> hijrah. Tidak mungkin sahabat MUQ ini jenis orang sekuler yang melupakan
> Allah dan NabiNya sama sekali, dan semata-mata hanya mencari dunia. Hanya
> saja, sahabat MUQ ini "meninggikan sehelai benang" niat untuk mendapatkan
> dunia (istri cantik dan shalehah) ketimbang betul-betul mengutamakan ridha
> Allah. Dan itu terlihat oleh Nabi Saw sehingga beliau mengucapkan hadits
> yang kemudian sangat terkenal ini.
>
> 3. Untuk lebih mengetahui sehebat apa kualitas para sahabat Nabi, mari
> kita gunakan deskripsi dari Allah sendiri dalam QS 9:100:
>
> "Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-pertama masuk Islam
> (*assabiquunal
> awwaluun*) di antara orang-orang muhajirin dan anshar dan orang-orang
> yang mengikuti mereka dengan baik, *Allah ridha kepada mereka dan mereka
> pun ridha kepada Allah* ..."
>
> Luar biasa sekali, bukan, Uni Ifah? Para sahabat ini adalah orang-orang
> yang *radhiyallahu 'anhum wa radhu 'anhu*, Allah ridha kepada mereka dan
> mereka pun ridha kepada Allah. Tak ada keistimewaan lain yang bisa
> diperoleh manusia selain dari privilese di atas.
>
> Toh sudah dengan kualitas istimewa seperti itu saja, masih ada sahabat
> yang "tergelincir" menjadi MUQ, apatah lagi umat Islam kebanyakan seperti
> kita yang kualitas tauhid kita tak ada seujung kuku mereka.
>
> Itulah yang, ambo kira, ingin disampaikan oleh Habib Al Kaff atau para
> ulama lain yang mengomentari kasus "shalat berhadiah Innova" dengan santun
> dan bijak, sembari tetap mengapresiasi niat sang pemberi hadiah, sembari
> tetap mengingatkan betapa besarnya bahaya yang mengancam di depan mata
> dengan probabilitas besar yang bisa dialami umat untuk menjadi "Muhajir
> Ummi Qais".
>
> Allahu a'lam.
>
> Wass,
>
> ANB
> 45, Cibubur
>
>
> * * *
>
>
>
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup
Google.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke rantaunet+berhenti [email protected] .
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/groups/opt_out.