Komunitas r@ntaunet nan dirakhmati Allah. Nah.... Baa kaba awak di sinan? Baa gakti....? [?] [?] [?]
Salam.................................., *mm**** ---------- Pesan terusan ---------- Dari: Akmal Nasery Basral <[email protected]> Tanggal: 19 Maret 2014 09.48 Subjek: Re: Fwd: [R@ntau-Net] Tentang Jaringan Islam Liberal Kepada: "[email protected]" <[email protected]> Pak Arman Bahar & Pak Marindo Palar n.a.h. Tanpa harus bergabung dengan JIL, barangkali kita sudah lebih dulu "liberal" dalam banyak hal. Ini dua contoh saja yang teringat oleh ambo pagi ini: 1. Nabi Saw berpesan kepada Abdullah bin Amr bin Ash agar mengkhatamkan Al Qur'an dalam sebulan (lalu karena Abdullah menawar bisa lebih cepat terjadi "tawar menawar" dengan Nabi, sampai dibolehkan menjadi 20 hari, 15 hari, 10 hari, dan 5 hari, tidak boleh lebih cepat dari itu). Jadi standar minimal khatam Qur'an adalah 30 hari, dan paling cepat adalah 5 hari (ini dilakukan ulama besar seperti Buya Hamka yang khatam Qur'an 5-6 kali dalam sebulan). Kini syarat minimal itu diformulasi oleh ulama untuk mempermudah umat dalam program ODOJ (One Day One Juz) seperti pernah disampaikan pula beberapa kali oleh Buya kita Ust. Zulharbi Salim. Sekarang lihatlah realitas muslim di sekitar kita, dan sangat mungkin diri kita sendiri: berapa banyak muslim yang betul-betul mengikuti sunnah Nabi, mengikuti "anjuran minimal" agar khatam Qur'an sebulan, atau membaca satu juz sehari? Ada yang baca koran bisa seperti minum obat, pagi iya, siang iya, malam iya. Baca Qur'an? Kadang satu 'ain pun luput, apatah lagi satu juz. Kalau sudah begini, bukankah ini sebuah tindakan yang sangat liberal? Pesan Nabi saja dilawan. Baca indeks pergerakan harga saham, sempat. Baca trend opini publik, sempat. Baca data kurs valuta asing, bunga deposito, reksadana dll instrumen ekonomi, sempat. Baca data kisah-kisah kaum masa lalu, perjuangan para rasul, keindahan investasi masa depan yang sebenarnya di dalam Qur'an? Mana sempat. Bukankah ini sebuah tindakan yang sangat liberal? 2. Satu contoh lagi yang banyak dilakukan muslimah dan didukung para suami atau ayah: menyangkut lama menyusui anak. Setiap muslim sudah diajarkan sejak kecil, bahwa bayi disapih umur 2 tahun (QS 31: 14). Tapi berapa banyak keluarga muslim yang melakukannya sekarang di tengah invasi susu formula? Ada juga dengan alasan estetika, karena si ibu bekerja, supaya (maaf) payudara tetap indah, tidak kendur, dll alasan yang jelas-jelas menyelisihi pembentukan karakter manusia di awal pertumbuhannya. Bukankah ini sebuah liberalisme yang bukan main? Dari penetrasi susu formula inilah kemudian berkembang industri derivatif botol susu, dot, teether, dll, yang sangat menguntungkan produsen dan kapitalisme global yang menciptakan sebuah "kebutuhan semu". Dan siapa mayoritas konsumennya di negara-negara seperti Indonesia, Malaysia? Let's do this easy math. Bukankah ini sebuah tindakan yang sangat liberal dari kaum muslimin? Dan barangkali, sedihnya, juga dilakukan sukarela oleh kita semua? Bagi anggota RN muslimah yang sudah punya anak, berapa lama sang bayi disusui? Bagi anggota RN muslim yang masih muda, berapa lama sang istri menyusui? Bagi anggota RN senior yang sudah bercucu, pastikah ananda/menantu menyusui cucu masing-masing sesuai dengan firman Allah di atas? (bukan pesan Nabi lagi, meski tiap pesan Nabi pasti juga datang dari Allah) Kalau ternyata anak-anak/cucu kita hanya menyusu 3-6 bulan, bahkan setahun, sementara ayat itu sudah sampai kepada kita, bahkan berulang kali didengar/dibaca, bukankah itu sebuah praktik liberal yang luar biasa? Salah seorang dokter (muslimah) yang sangat cemas dan gelisah melihat tingkat kriminalitas remaja dan berteori bahwa penyebab awalnya berkait dengan periode menyusu adalah dr. Utami Roesli, cucu sastrawan Marah Roesli. Salah satu hipotesis terbaru dr. Utami Roesli adalah menyangkut keheranan (lebih tepat "ketidakpercayaannya") bagaimana pasangan sejoli Hafitd-Asyifa yang pekan lalu menggegerkan Indonesia karena pembunuhan keji dan berencana mereka terhadap mantan pacar/kawan sendiri. Beliau (dr. Utami) sampai ingin menyelidiki riwayat penyusuan kedua pelaku karena (secara tersirat) beliau yakin bahwa muasal dari sikap-sikap asosial, abnormal, perilaku menyimpang yang jauh di atas tingkat "kenakalan remaja" (karena ini sudah menyangkut kriminalitas) ada kaitannya dengan riwayat penyusuan. Dan dr. Utami bukan sedang sekadar mencoba "menjadi syar'i" tanpa dukungan data medis yang sahih. Beliau menyandarkan pada hasil riset pakar nutrisi Australia, Wendy H. Oddy, yang dipublikasikan dalam *Journal Pediatric*(Oktober 2009), bahwa ada kaitan yang sangat signifikan antara riwayat menyusu seorang anak dengan perkembangan mentalnya kelak. http://mosleminfo.com/2014/03/11/riwayat-pemberian-asi-hafidt-dan-assifa-dipertanyakan.html Subhanallah! 14 abad sebelum riset nutrisi kontemporer menunjukkan bukti-bukti seperti ditemukan Wendy H. Oddy, Nabi Saw dan para mukminin/mukminat mengikuti dan taat pada perintah menyusui anak dan menyapihnya pada umur 2 tahun, sementara banyak kaum muslimin sekarang (tentu tidak semua) dengan mengandalkan modernitas (karir, estetika tubuh, penampilan, dll), malah membuang jauh-jauh salah satu dasar parenting utama ini karena termakan strategi "susu formula adalah pengganti terbaik bagi ASI". Banyak kaum muslimin dengan pendidikan supertinggi sekarang ini yang sudah lupa kearifan ungkapan sederhana: "susu sapi untuk anak sapi". Untuk anak manusia? tentu susu manusia, susu ibunyalah yang cocok. Bagaimana jika kondisi sang ibu, tersebab satu dan lain hal bermasalah, sehingga tak bisa menyusui sampai 2 tahun, bahkan pada kasus medis yang ekstrim 1 hari pun tak bisa pula? Kembalikan solusinya pada Al Qur'an, seperti dalam QS 2:233: "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. Seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. Janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan karena anaknya dan seorang ayah karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. Apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, maka tidak ada dosa atas keduanya. Dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut.Bertakwalah kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan." Itulah solusi dari Rabb Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, bahwa jika ada satu penyebab yang membuat proses menyusui tak sempurna selama dua tahun, solusinya adalah agar sang anak disusukan (diberi susu) ORANG LAIN, alias ibu susu. Bukan dari susu hewan. Sebab kalau susu hewan bisa menjadi pengganti (dalam proses awal 2 tahun pertama yang sangat penting itu), mengapa tak ada nash dan nabi tak pernah menyebutkan hal itu bisa dilakukan? (Sementara ada hadist shahih lain tentang tiga orang lelaki yang mendadak terperangkap di dalam gua dan ketiganya berdoa kepada Allah dengan menyebutkan amal saleh masing-masing agar batu yang menutupi gua terbuka. Batu akhirnya terbuka setelah salah seorang dari tiga pria itu menyampaikan kebiasaannya memberikan susu kepada ibunya sebelum kepada dirinya sendiri dan anak-anaknya). * Ini menunjukkan susu hewan boleh diminum untuk manusia, namun setelah berumur di atas 2 tahun/disapih dari ASI). Hanya dengan melihat dua contoh di atas saja (kebiasaan membaca satu juz sehari dan kebiasaan menyusui anak di kalangan umat Islam, belum kebiasaan-kebiasaan salah kaprah yang lain) belumkah waktunya kita lebih sibuk membenahi "ke-liberal-an" yang ada di masyarakat sekeliling kita? Allahu a'lam. ANB 45, Cibubur Note: * Hadist Riwayat Imam Muslim No. 4926. Bagi yang ingin membaca matan lengkapnya bisa di sini: http://www.mutiarahadits.com/07/69/76/kisah-tiga-orang-yang-terperangkap-dalam-gua.htm -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Grup Google. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke rantaunet+berhenti [email protected] . Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
<<B09.gif>>
<<982.gif>>
<<B0E.gif>>
