Asslmlkm, Pak Saaf. Semoga bertambah para dunsanak yang merenungkan tulisan pendek tapi padat dari Pak Saat di bawah. Salam hormat,
Andrinof A Chaniago (L/52-) 2014-03-28 5:39 GMT+07:00 Saafroedin Bahar <[email protected]>: > Assalamualaikum w.w. para sanak sekalian. Di bawah iko ambo posting baliak > surek ambo ka pakguruonline tahun 2006 nan lalu. Sasudah ambo baco-baco > rasonyo maisih relevan untuak maso kini, karano sampai kini kito kan alun > juo bisa bersatu lai. Samantaro tu nan dii urang lalu juo. > Sekedar untuak dikunyah-kunyah, Kok bamanfaat silakan ditindaklanjtui, kok > diraso indak, anggap indak ado sajo. > > -- > Dr.Saafroedin Bahar > Male, 77 yrs, Jakarta > > Pakgururuonline, 22 Oktober 2006. > > > > Waalaikumsalam w.w. Dunsanak Zulifikri dan para netters, > > > > Sambil mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1427, saya > menyampaikan terima kasih atas pendapat Dunsanak, bahwa 'penyakit' tak mau > bersatu itu bukan hanya terdapat pada urang Minang, tetapi juga pada bangsa > Indonesia secara menyeluruh, dan faktor peyebabnya adalah metode mengajar > yang mendorong anak-anak untuk bersifat nafsi-nafsi, saling 'ma-ikik-i'. > Saya setuju dengan saran dunsanak agar anak-anak kita didik dengan metoda > yang lebih mendorong kebersamaan. > > > > Namun ada masalah yang belum terjawab, yaitu bagaimana kita menerangkan > demikian kuatnya solidaritas etnik di antara dunsanak kita urang Aceh, > urang Batak, urang Sunda, urang Dayak, urang Madura, atau urang Papua ? > Solidaritas mereka ini bukan hanya dalam kata-kata, tetapi juga dalam > perbuatan ! Mereka kan juga dididik dengan didaktik dan metodik yang sama > dengan orang Minang ? Jadi mungkin ada 'faktor x' pada urang Minang, yang > menyebabkan ketidakmampuan untuk hidup bersama itu demikian menonjol, dan > kebersamaan itu demikian musykil untuk terwujud sebelum 'faktor x' itu > dirapikan terlebih dahulu. Saya telah mencoba membolak balik masalah ini, > ujung-ujungnya kembali juga ke sistem nilai dan struktur sosial yang selain > bukan saja memang tidak dirancang untuk bersatu tetapi juga demikian > resisten untuk bersatu. Saya sedang memikir-memikir faktor apa yang > menyebabkan hal itu. Sudah ada sih sekedar hipotesa, tapi biar saya simpan > saja dulu. Sekedar sebagai perbandingan, saya menemukan hal yang sama pada > suku Kerala di India (tentang mereka ini silakan lihat keterangannya di > internet; saya mengutipnya dalam buku yang saya tulis bersama dengan Ir > Mohammad Zulfan Tadjoeddin MA). > > > > Apa mungkin 'faktor x' ini diatasi ? Jelas mungkin, dan sudah > mulai dirintis sejak tahun 1945, yaitu dalam format negara kesatuan > Republik Indonesia, dengan dasar negara Pancasila. Kita sukar bersatu > sebagai urang Minang, karena kita lebih merasa sebagai urang Solok, urang > Sulik Aia, urang Pariaman, atau urang Payakumbuh, namun mau tidak mau kita > harus merasa menjadi orang Indonesia yang diikat dan terikat oleh hukum > hukum positif nasional. Kita malah baru merasa menjadi urang Minangkabau di > antara demikian banyak -- 1,072 pada Sensus tahun 2000 -- etnik-etnik > lainnya di Indonesia. Ringkasnya, kita harus menepuh 'jalan berbelok' > ('detour') untuk menjadi urang Minangkabau, yaitu dengan melalui jalan > menjadi urang Indonesia terlebih dahulu. Ini yang belum banyak > di-'explore' oleh tokoh-tokoh Minang, dan yang saya coba untuk > mendayagunakannya, kalau mungkin. Sekedar catatan, itu juga yang mungkin > menyebabkan kita menjadi pendukung negara kesatuan yang gigih. > > > > Sekian dahulu. > > > > Wassalam, > > Saafroedin Bahar. > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
