Sanak sapalanta n a h Ass ww. Ambo kutip tulisan sanak "Asmun sjueib" sebagai berikut : "......... dengan mampasatukan NU jo Muhammadiyah jo kalau paralu Ahmadiyah dan mashab2 lainnyo nan ado di Indonesia." Terus terang membawa bawa Ahmadiyah sebagai bagian dari kelompok Islam menurut saya akan membawa mudarat yang besar. Kelompok ini jelas sudah dinyatakan sebagai aliran sesat oleh MUI dan jelas bahwa kelompok ini bukan pengikut Nabi Muhammad dan seharusnya diklasifikasikan sebagai bukan Islam, tapi kita memperlakukan mereka seolah mereka itu Islam. Saya kawatir. Mereka juga giat menyebarkan paham mereka dan bagi umat yang akidahnya belum kuat akan mudah tertarik dan mengikuti paham ini. Wassalam Dunil Zaid. 71.Kpg Ujuang Pandan Parak Karambia, Pdg. Tingga di Jkt.
2014-04-19 8:00 GMT+07:00 Akmal Nasery Basral <[email protected]>: > Inyiak Lako dan dunsanak palanta RN n.a.h, > > judul thread inyiak nan labiah tapek adolah "Para Pemimpin Parpol Beragama > Islam" (P3BI), bukan "Para Pemimpin Islam" (PPI). Sebab kalau kalau para > pemimpin Islam yang berkumpul, maka yang akan kita dengar adalah: > > 1. PPI akan menjadikan masjid sebagai jangkar penaut hati, bukan di rumah > pengusaha. Saat ini sudah banyak masjid yang sangat representatif dari sisi > kenyamanan sebagai tempat pertemuan. Jika yang dipikirkan memang > kepentingan umat Islam secara keseluruhan, aura masjid sebagai tempat > pertemuan sangat penting. > > 2. PPI yang berharap hidayah dan rahmat Allah turun melingkupi hati para > peserta pertemuan, akan bersama-sama menunaikan shalat hajat khusus untuk > itu, terlepas apa partai mereka, preferensi politiknya, hasil pileg > sementara. PPI yang sejati akan berikhtiar keras agar pertemuan dibuka > pertama-tama dengan pembacaan kalam Ilahi agar seluruh jiwa dan pikiran > peserta disamakan dulu frekuensinya dengan imbauan Rabbaniyah mengapa > muslim disebut "kuntum khairu ummah" (sebagai ummat terbaik), bukan sekadar > kepentingan pragmatis koalisi jangka pendek. > > 3. Dan jika pertemuan berlangsung lama (sudah seharusnya pertemuan yang > membahas kepentingan umat berlangsung serius dan lama, bukan hanya 2-3 jam) > sampai tembus tengah malam, PPI sejati akan menutup pertemuan dengan > qiyamul lail bersama-sama, apa pun partainya, berapa pun hasil pileg > sementara yang diraih. Qiyamul lail bersama di akhir pertemuan akan > mengoreksi ambisi-ambisi duniawi yang mungkin tercetus sepanjang pertemuan. > Boleh jadi saat Qunut Witir mereka lakukan, Allah akan mengilhamkan lagi ke > dalam hati mereka ketakutan Umar bin Khattab r.a. ketika dipercaya sebagai > khalifah. Ucapan pertama yang keluar dari mulutnya adalah "Innalillahi wa > inna ilaihi raji'un". Padahal beliau yang berjuluk Al Faruq -- gelar khusus > yang diberikan Rasulullah karena ketegasan sikap Umar sebagai pembeda > kebenaran dan kebatilan -- adalah juga salah seorang yang sudah mendapat > jaminan masuk surga. > > Jadi ketika tren "para pemimpin Islam" selama ini yang setiap mendapat > jabatan justru mengucap "alhamdulillah" disertai sujud syukur di depan > kamera TV, lalu kedua tangan terangkat seperti berdoa mengucap terima kasih > kepada pihak A, B, C atas "amanah yang diberikan", maka ke manakah perginya > pengetahuan mereka, "para pemimpin Islam" itu tentang kisah Umar ketika > mendapat amanah? > > Tiga poin di atas, menjadikan masjid sebagai simpul yang mempertemukan > hati, masih bisakah kita temukan sekarang dari para PPI yang sebenarnya > hanya P3BI? > > Jika masjid sudah tak masuk prioritas tempat pertemuan untuk topik > sepenting itu ("masa depan umat islam"), mau sebutannya Koalisi Indonesia > Raya, Koalisi Indonesia Mooi, Koalisi Indonesia Mandiri. dll, maka > sejatinya pertemuan jenis ini tak beda dengan pertemuan-pertemuan yang > disebutkan Nobelis Sastra Chinua Achebe sebagai pertemuan pelampias syahwat > kekuasaan yang sesungguhnya hanya kemasan indah dari praktik sejak jaman > purba, "*you chop, me myself I chop, palaver finish*." > > Karena itu jika ada pertemuan-(pertemuan) yang mengatasnamakan umat Islam, > tapi tak dicelupi spirit masjid, tak dimulai dan ditutup dengan ibadah > spesifik nabawiyyah (kalau hanya dibuka dan ditutup dengan doa bersama, > maka senam pagi tiap Minggu di kelurahan pun dimulai dan ditutup dengan doa > bersama juga), kita harus berendah hati dan memberi ruang kepada diri > sendiri untuk mempertanyakan secara kritis: apakah mereka sudah tepat > disebut PPI, atau baru pada tingkatan P3BI? > > Cendekiawan muslim Endang Saifuddin Anshari, putra KH Anshari, pernah > membuat model pembedaan antara Islam-Filsafat Islam-Filsafat Orang Islam. > Dengan meminjam dan memodifikasi modelnya itu, ambo membedakan antara > Islam-Politik Islam-Politik Orang Islam dari sisi ajaran sbb: > > 1. Islam = mutlak mutlak (*absolutely absolute*). > 2. Politik Islam = relatif absolut (*relatively absolute*). > 3. Politik Orang Islam = mutlak relatif (*absolutely relative*) > > Dan karena memang level kita baru sampai yang no. 3 itulah maka tak heran > jika satu "partai Islam" sedang kisruh internal karena Pak Ketum menghela > lokomotif ke arah berbeda dengan Waketum dan sejumlah DPD/DPW-nya sendiri > dan memilih merapat lebih dulu pada salah satu partai tiga besar. Satu > "partai Islam" lain sudah jelas-jelas menyatakan emoh bergabung karena > pengalaman traumatik pernah dikadali oleh sesama "tokoh Islam" sendiri. > Satu "partai Islam" lain yang mewarisi nama besar dan kejayaan partai Islam > terdahulu, bahkan mendapat kepercayaan rakyat pun begitu kurangnya sehingga > masuk 10 Besar pun tak. Padahal kualifikasi para pemimpin partai ini bahkan > malang melintang sebagai menteri ini itu dalam kabinet-kabinet terakhir. > Kenapa umat tak menitipkan suara mereka pada partai "pewaris" kejayaan > partai Islam masa silam ini? > > Karena P3BI ini sendiri yang mencontohkan kepada umat bahwa masjid dan > spirit masjid tak diperlukan dalam pembahasan tentang strategi kekuasaan. > Masjid hanya tempat ibadah dan pembentukan panitia zakat. Titik. > > Kalau sudah begini, apa perbedaan esensial pertemuan di rumah Hasjim Ning > dengan pertemuan di rumah Jacob Soetoyo, yang juga pengusaha, antara Jokowi > dan 7 dubes negara sahabat? Tak ada bedanya. Kalau yang pertama mengusung > tema "Koalisi Indonesia Raya", yang kedua justru lebih gigantik sebagai > "Koalisi Global Raya" karena kehadiran 7 dubes mewakili representasi > kepentingan global sekarang dari AS, Amerika Latin (Mexico), China, Katolik > (Vatican), sampai Islam (Turki). Dari sudut ini, Pertemuan Cikini > ketinggalan satu langkah dari Pertemuan Permata Hijau. > > Tetapi esensi keduanya sama: *You chop, me myself I chop. Palaver finish.* > > Wassalam, > > ANB > 45, Cibubur > > > > > Pada 14 April 2014 08.56, inyiaklako <[email protected]> menulis: > >> Saatinilah waktmunya bapak sekalian menunjukan kebesaran jiwa pemimpin >> Islam sebagai contoh tauladan bagi adik2 dan anak2 kita untuk bersatu >> menegakan kebenaran memimpin umat bernegara ...... Amin. >> >> H.J. Inyiak Lako , 78 thn , suku Malayu , Baso , Agam , Depok . >> >> -- >> . >> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat >> lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ >> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. >> =========================================================== >> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: >> * DILARANG: >> 1. Email besar dari 200KB; >> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; >> 3. Email One Liner. >> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta >> mengirimkan biodata! >> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting >> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply >> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & >> mengganti subjeknya. >> =========================================================== >> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: >> http://groups.google.com/group/RantauNet/ >> --- >> Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari >> Google Grup. >> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, >> kirim email ke [email protected]. >> Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. >> > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
