Ambo setuju dengan imbauan dinda Fitr, agar kita selalu berikhtiar
menjauhkan diri dari kebiasaan qala wa qila ("konon kata si ini, konon kata
si anu").
Ini salah satu link yang penulisnya terlihat sangat kenal dan akrab dengan
keluarga besar Jokowi di Solo. Silakan dibaca sebagai tambahan informasi.

http://m.kompasiana.com/post/read/649614/1/menjawab-isu-miring-tentang-gelar-haji-jokowi-dan-soal-ayahnya.html

Untuk dunsanak yang mengalami kendala akses internet, ambo copas tulisan
itu lengkap dengan foto penulisnya.

DISCLAIMER: Perlu ambo sampaikan dari sekarang, bahwa in syaa Allah ambo
indak akan memilih Jokowi pada pilpres nanti siapa pun wakilnya (bahkan
jika JK sekali pun, yang merupakan pilihan ambo pada pemilu 2009). Ambo
tidak punya masalah dengan Jokowi secara pribadi, tapi ambo selalu merasa
tidak "compatible" dengan kebijakan-kebijakan PDIP sejak dulu. Sayangnya,
bagi ambo, Jokowi berada di partai yang bukan preferensi ambo.

Ambo memposting tulisan Niken Satyawati ini untuk memenuhi anjuran agamo
awak:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ
بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا
اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ
خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

*“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang
selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan
janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil.
Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”* (QS. Al
Maa’idah: 8).

Jadi, posting ambo jangan dilihat sebagai posting dari orang yang
pro-Jokowi sebagai capres. "Nehi, nehi!" kecek bintang film Bollywood.  Dan
ambo berlindung dan mohon ampun kepada Allah atas segala kemungkinan
kesalahan dalam posting ini sekiranya juga masih termasuk kategori "qala wa
qila".

Allahu a'lam.

ANB

* * *
Menjawab Isu Miring tentang Gelar Haji Jokowi dan Soal Ayahnya

Niken Satyawati <http://m.kompasiana.com/user/profile/nikensatyawati>

21 Apr 2014 | 03:47

Joko Widodo (Jokowi) adalah "The Number One Public Enemy". Begitulah yang
saya rasakan sejak pengumuman pencapresannya oleh Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan (PDIP), 14 Maret 2014. Hampir tiap hari postingan
bernada menyerang Jokowi diunggah di berbagai laman media sosial.Baik
berupa tulisan panjang maupun tulisan pendek seperti status di Facebook
atau Twitter.

Dari yang sekadar menyebutnya dengan sebutan yang diplesetkan, menyindir
hingga yang terang-terangan. Dari yang sekadar mengolok-olok hingga
mencemooh bahkan mendakwa selayaknya Jokowi seorang penjahat. Atau dengan
modus sok mengamati, membandingkan gaya tulisan, tanda tangan atau hal
kecil lainnya, membandingkannya dengan Capres lain, tapi kesimpulannya
mengagung-agungkan Capres lain, dan sebaliknya melemahkan dan
memperolok-olok Jokowi. Ada pula yang sangat yakin dengan sebuah informasi,
padahal itu fitnah belaka.

Tak dipungkiri, mendekati Pilpres, memang seolah-olah media sosial menjadi
ajang kampanye hitam yang efektif. Begitu mudahnya orang menyebarkan
informasi sumir, mendramatisasi dan memelintir fakta dan juga melancarkan
fitnah. Kadang saya berpikir, bagaimana kalau olok-olok, cemoohan, fitnah
dan dakwaan yang tidak pada tempatnya tertuju pada diri ataupun keluarga si
pemosting tulisan itu? Apakah dia tidak sakit hati? Lantas apa yang akan
dilakukannya?

Untunglah Jokowi yang dibegitukan. Tentu saja dia sebenarnya tak terima
dengan semua itu. Namun dia tidak membalas. Tapi pencintanya, pendukungnya,
relawannya sebagian ada yang diam karena tak mau terlibat polemik
berkepanjangan, sedangkan sebagian lain tak mau tinggal diam. Kadang membalas
karena terpancing emosi. Jadilah balas-membalas postingan dan komentar,
dari yang sekadar nyinyir hingga teramat kejam.

Setelah PDIP resmi memperoleh suara terbanyak dalam Pileg, serangan semakin
masif. Isu-isu negatif kembali diumbar, dilancarkan sama
pendukung-pendukung Capres lain. Bahkan isu SARA yang cukup lama tertimbun
isu lain, mulai diungkit-ungkit lagi. Mulai ada yang mempertanyakan lagi
isu lama yang pernah dilontarkan Bang Haji Rhoma Irama, dari soal gelar
“haji” Jokowi, Jokowi Kristen hingga ayahnya yang diisukan sebagai orang
Tionghoa. Saya sendiri sebagai pendukung Jokowi sebenarnya malas
mengklarifikasi isu basi ini. Sebentar… sebentar…. kalau Jokowi bukan haji
dan bapaknya Tionghoa, namun mampu membuat perubahan yang baik saat menjadi
pemimpin di negeri ini, emangnya kenapa?

Kebetulan saja saya tinggal di kawasan Solo. Saya kenal Pak Jokowi dan
beberapa anggota keluarganya. Kebetulan adik ipar Jokowi atau tepatnya adik
kandung Ibu Iriana adalah kawan saya di jurusan Ilmu Komunikasi Universitas
Sebelas Maret, Angkatan ’93. Sampai kini kami masih berteman baik. Dan
sepupu Pak Jokowi adalah dokter anak di mana ketiga anak saya biasa
melakukan imunisasi ataupun memeriksakan kesehatan. Jadi sedikit banyak
saya tahu keluarga ini. Dan saya jamin:
1. Pak Jokowi muslim yang baik, sudah berhaji pada tahun 2003, dan umrah
beberapa kali. Buktinya bukan foto yang bersama keluarganya di depan Kabah
(yang menjadi ilustrasi tulisan Pak Gunawan), karena itu foto umrah tahun
2012. Banyak saksi yang masih hidup baik mengantar maupun terlibat dan
bersilaturahmi sebelum berangkat ke Tanah Suci, dan sesudah kembali ke
Tanah Air. Pak Jokowi ke Tanah Suci dengan ibunya dan juga beberapa anggota
keluarga besar. Dokter yang membantu kesehatan anak-anak saya cerita.
Berangkat bersama rombongan KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) yang saat itu
masih ngetop dan belum kena masalah pasca poligami.

Waktu itu Jokowi belum jadi Walikota, tapi sudah tergolong keluarga berada.
Jadi bisa bayar haji khusus tanpa harus memanfaatkan jabatan demi mengemis
kepada Raja Arab Saudi atau Pangeran Yordania agar mendapat paket haji
khusus. Sebenarnya ada foto-foto yang disimpan di hard disk, sayang hard
disk itu rusak.

Kalau ada yang mempertanyakan mana fotonya saat berhaji? Saya nggak punya,
saya juga ragu keluarga Jokowi punya. Sebab keluarga itu termasuk keluarga
yang lugu. Lagipula tahun itu untuk mendokumentasikan suatu momentum tidak
semudah sekarang, di mana orang bisa kemana-mana bawa gadget yang
dilengkapi kamera, selfi sana selfi sini, bahkan selfi beraroma riya’ di
depan Kabah dan mengunggahnya saat itu juga. Lagian hal seperti ini kan
urusan privat. Kenapa orang bisa sangat hebohnya mengurusi gelar haji Pak
Jokowi?

2. Ayahanda Jokowi bernama Notomiharjo. Dia Jawa tulen walau matanya memang
sipit. Panggilannya Pak Noto. Pak Noto ini anak seorang lurah di Kragan,
Sragen, Jawa Tengah. Tak hanya ayah Pak Noto, keluarga besar Pak Noto kalau
dibuat garis ke atas, banyak yang menjadi lurah di desanya. Pak Noto
menikah dengan ibu Jokowi pada tahun 1960. Tahun 1961 lahirlah Jokowi.
Mereka berdua berjualan kayu di Solo. Bu Noto buka lapak, Pak Noto yang
mencari barang ke daerah Purwodadi hingga Cepu. Demikianlah orangtua Jokowi
menghidupi anak-anaknya hingga menjadi orang. Pak Noto sempat sakit cukup
lama, hingga akhirnya meninggal dunia pada tahun 2000.

Sayang, keluarga ini bukan keluarga narsis yang banyak memiliki dokumentasi
foto keluarga. Ketika suatu hari kami mengunjungi Ibunda Jokowi dan
menanyakan perihal dokumentasi foto Pak Noto, ibu Jokowi, Sujiatmi
mengungkapkan, sebenarnya ada beberapa foto, tapi diminta wartawan atau
orang-orang yang membuat buku tentang Jokowi. Mereka bilang foto-foto itu
akan dikembalikan. Tapi ternyata tak kunjung kembali.

Semoga sekelumit tulisan ini bisa membantu menjawab rasa penasaran orang
yang merasa berkepentingan dengan simpang siur gelar haji dan informasi
tentang ayah Jokowi.

Solo, 20 April 2014

Dibaca : 670 kali




Pada 20 April 2014 22.46, Fitrianto <[email protected]> menulis:

> Uda Andrinof sudah datang dengan kesaksian mata bahwa Jokowi itu ngaji dan
> muslim.
>
> Kalau kita hendak membantahnya, hendaknya dengan kesaksian mata juga agar
> sepadan.
> Jangan dari qala wa qila.
>
> Wassalam
> fitr
>
>
>
> 2014-04-20 10:54 GMT-04:00 Imran Al <[email protected]>:
>
>  info yang berseliweran, lembaga pak andrinof (Cirus) jo PolMark milik Eep
>> S Fatah adolah bagian tim pemenangan Jokowi-Ahok saat pilgub dulu
>>
>> imran, tingga di padang
>>   Pada Minggu, 20 April 2014 21:45, Hanifah Damanhuri <[email protected]>
>> menulis:
>>  Bapak Andrinof Yth
>>
>> He he he Bapak kroninya Jokowi ya???
>> Bapak suruah kami mancari surang tantang Jokowi
>> Dapek dikami tulisan nan di atehdun
>> Ma tau kami itu asli atau palsu du?
>> Ndak sumbarang urang bagai nan maagiah tulisan tu doh
>> Tampak ndak tulisan awak di Bapak nan batanyo
>>
>> Baa pulo jo info iko ha?
>>
>> Lagian, Jokowi maadoan pangajian di rumah, kan bukan bararti Jokowi pai
>> ka majlis taklim?
>>
>> Salam
>>
>> Hanifah
>>
>>
>>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke