Assalamu'alaikum wr.wb.

Versi lain PRRI :

http://garudamiliter.blogspot.com/2014/04/kompi-benny-pemburu-prri-1.html

*Persiapan Operasi Gabungan*[image:
http://kolektorsejarah.files.wordpress.com/2012/05/prri-tokoh2-re-koleksi-www-bode-talumewo-blogspot-com.jpg?w=468]<http://kolektorsejarah.files.wordpress.com/2012/05/prri-tokoh2-re-koleksi-www-bode-talumewo-blogspot-com.jpg?w=468>*Tokoh
PRRI [Foto kolektorsejarah.files]*

12 Maret 1958, waktu baru saja lewat tengah malam ketika ajudan KSAD Mayjen
TNI AH. Nasution mengetuk pintu kamar atasannya. Kepada Pak Nas kemudian
diserahkan pesan dari pilot pesawat pengintai PBY Catalina AURI yang baru
saja diterima. Isinya, "Dilapangan udara Simpang Tiga Pekanbaru terdapat
sejumlah titik-titik api unggun dan sebuah pesawat besar bermesin empat
sedang beraktifitas, menunggu perintah lebih lanjut!".

Pak Nas waktu itu juga sekaligus Ketua GKS (Gabungan Kepala Staf) yang
sedang berada di Lanud Tg. Pinang Kep. Riau mengawasi jalannya OPERASI
TEGAS. Operasi ini merupakan seluruh Angkatan dan Polri dibawah pimpinan
Letkol Kaharuddin Nasution. Basis operasi bermarkas di Tg. Pinang dengan
kekuatan Yon 423/Raiders/Diponegoro, Yon 528/Brawijaya, Kompi A RPKAD, 1
Batalyon Brigade Mobil Polri, 1 Batalyon PGT AURI, beserta unsur-unsur
pendukung lainnya seperti Zeni, Perhubungan, MP, Perbekalan, dan lain-lain.
Kekuatan Operasi ini juga masih ditambah dengan unsur kekuatan laut seperti
KRI Banteng, dan satu satuan taktis udara AURI yang terdiri dari 26 C-47
Dakota, 4 B-25 Mitchell, dan 10 P-51 Mustang.

Mendapat berita mendadak tersebut, Pak Nas segera mengkonsolidasikan
Operasi Tegas yang ternyata sudah siap melancarkan operasi militer
gabungan. Ditemukannya aktifitas pesawat bermesin empat dilapangan udara
Simpang Tiga, jelas menunjukkan adanya intervensi asing mengenai persoalan
politik dalam negeri Indonesia. Sejauh itu, baik AURI maupun Maskapai
Garuda Airways tidak memiliki dan mengoperasikan sebarang pesawat bermesin
empat. Dengan dasar analisa tersebut, Pak Nas langsung mengeluarkan
perintah, "BERANGKAT!"

Sehabis subuh, dengan diiringi beberapa staf, Pak Nas segera menuju menara
agar memperoleh pandangan visual lebih baik terhadap operasi yang akan
segera dilaksanakan. Dipangkalan sudah bersiap puluhan pesawat aneka jenis
yang kemudian satu persatu mulai lepas landas.

Namun saat itulah kemudian terjadi insiden yang hampir saja merenggut nyawa
Pak Nas dan barisan staf nya. Sebuah Bomber B-25 Mitchell yang sedang di
*service* di pinggir landasan seketika menembakkan rentetan mitraliur 12.7
nya. Peluru maut menyambar di atas kepala Pak Nas dan stafnya. Untung saja
insiden tersebut tidak memakan korban, hanya menara Lanud Tanjung Pinang
bagian atas yang pecah, gompal dan porak poranda terhantam peluru
mitraliur. Operasi tetap dilanjutkan.*Perebutan Lapangan Simpang
Tiga*<http://1.bp.blogspot.com/-kIoH0iwiymI/U18HD7vucRI/AAAAAAAAEMQ/J4RU2fuEMNA/s1600/kop2kz8.jpg>*Ilustrasi
Letnan Leornadus Benny Moerdani [google]*

Diatas udara Lapangan Udara Simpang Tiga yang dikuasai Pasukan PRRI, satu
persatu pemburu P-51 Mustang dengan flight leaderKapten Udara Rusjmin
Nurjadin dan Bomber B-25 Mitchell dengan flight leader Mayor Udara Sri
Muljono Herlambang menukik berurutan sambil menghamburkan rentetan 12.7mm.
B-25 Mitchell tidak membawa bom dalam operasi ini karena laporan intelijen
yang masuk mengatakan bahwa PRRI tidak diperkuat dengan pesawat pemburu
danbomber, sehingga bom-bom yang yang sangat berharga tersebut disimpan
untuk menghantam sasaran lainnya.

Sesekali P-51 Mustang bermanuver tajam sambil meluncurkan roket 5 inch yang
tidak hanya berguna untuk menghantam bangunan disekitar landasan, tapi juga
berfungsi meruntuhkan mental lawan. Aksi gabungan fighter dan bomber ini
dimaksudkan untuk mengamankan Lapangan Udara Simpang Tiga sebelum pasukan
Lintas Udara diterjunkan. Pasukan PRRI yang mengawasi senjata Arhanud di
landasan hanya sempat memberikan perlawanan sebentar sebelum berhamburan
melarikan diri. Begitu perlawanan dibawah dapat diredam, Mustang dan
Mitchell segera menyingkir, memberi jalan kepada Dakota-Dakota yang akan
menerjunkan pasukan.

Disalah satu C-47 Dakota yang membawa pasukan penyerbu, terdapat Letnan
Satu Leornadus Benny Moerdani, Komandan Komp A RPKAD. Sebagai Danki, Benny
agak resah karena meski memiliki kualifikasi Komando, ia sama sekali belum
pernah mengikuti latihan terjun. Sewaktu kompinya menjalani latihan terjun
di Margahayu, Benny justru di opname di RS akibat kecelakaan sepulang dari
Yogyakarta. Namun Benny berusaha keras mengusir segala macam pikiran buruk
dikepalanya. "Wedhus saja dipakein parasut, ditendang terjun bisa selamat,
apalagi manusia?" Demikian pendapatnya.

Benny sengaja duduk nomor 2 dari pintu Dakota, disebelah Kopral Sihombing
seorang penembak SMR yang bertindak selaku penerjun 1. Dibelakangnya, duduk
sahabatnya sejak Pendidikan Dasar Militer dulu, Letda Soeweno, dan selang
beberapa orang lagi duduk Letda Dading Kalbuadi, juga rekan sealmamater
Benny di P3AD. Selain itu, dipesawat yang lain turut juga teman Benny,
Letda C.I.Santoso.

Dilihat dari kelengkapan tempurnya, pasukan Para Komando yang ditugaskan
merebut Pangkalan Udara Simpang Tiga jauh dari kesan sempurna. Mereka hanya
dibekali peralatan tempur yang notabene peninggalan PD II. Masing-masing
menyandang parasut Irvine dipunggung tanpa payung cadangan, sehingga jika
kemudian kuncup pada saat terjun, ajal tinggal menunggu dalam hitungan
detik. Masih untung bagi pasukan Benny, untuk senjata perorangan mereka
dilengkapi dengan FN-49 7.62mm yang baru saja dibeli pemerintah dari FN
Herstal Belgia. Sedangkan satu-satunya persenjataan berat yang mereka
miliki adalah SM Bren 7.7mm yang sudah dipakai sejak Perang Kemerdekaan
dulu. Selain beberapa granat tangan M36 lansiran Inggris, pisau komando dan
pistol untuk setiap perwira, tidak ada lagi senjata pendukung bagi pasukan
komando ini.

Sejak berangkat Benny sudah berpesan kepada Letda Soeweno agar jika dalam
penerjunan nanti dia kelihatan ragu-ragu langsung di dorong saja.
Permintaan dari komandannya diiyakan saja oleh Soeweno karena tidak punya
pilihan lain. Mendekati Simpang Tiga, *jump master* memberi isyarat
bersiap, begitu lampu merah menyala pintu Dakota langsung terbuka. Begitu
lampu hijau menyala, tanpa ragu-ragu Kopral Sihombing selaku penerjun 1
menerjang keluar pintu dan tidak lama kemudian payungnya mengembang dengan
sempurna. Entah jadi di dorong atau tidak oleh Soeweno, yang jelas beberapa
detik kemudian Benny sudah mendapati dirinya mengayun-ayun di angkasa. 3
Kompi pasukan Lintas Udara berhasil mendarat dengan selamat tanpa kerugian
apapun. Di rimbunan semak-semak yang mengelilingi landasan Simpang Tiga,
Letda Soeweno berlari menghampiri Benny dan langsung menyematkan Wing Para
di dadanya sambil berucap, "Ben, kowe iki sudah jadi penerjun beneran,
selamat!"

Melihat pasukan Komando bergerak cepat sembari mengumbar tembakan, pasukan
PRRI yang seharusnya tadi sudah disiagakan dengan serangan P-51 Mustang dan
B-25 Mitchell bukannya meningkatkan kewaspadaan dengan bertempur, melainkan
lari kocar kacir masuk kedalam hutan. Pada saat mereka sedang sibuk memuat
berbagai macam peralatan persenjataan ke dalam truk dipinggir landasan.
Bahkan awalnya mereka malah mengira payung pasukan Komando yang mengambang
di atas mereka ada peti-peti perbekalan yang dijatuhkan oleh pesawat asing
rekannya. Ketika pasukan Benny mendarat, mereka mendapati banyak obor-obor
disekitar landasan dan masih menyala. Obor itu kelihatannya merupakan
penuntun *check point *ke DZ (*Dropping Zone*).

Hanya dalam hitungan menit, Lapangan Udara Simpang Tiga jatuh ke tangan
RPKAD. Benny, dengan inisiatifnya sendiri menyuruh seorang anggota PRRI
yang menyerah untuk menyetir sebuah truk berkeliling beberapa kali di
landasan. Ini untuk memastikan tidak ada ranjau atau *bobby trap* yang
dipasang PRRI disekitar landasan. Namun jika ada, tidak mungkin anggota
yang menyerah tadi mau mati konyol melindasnya. Benny secara cerdik
memanfaatkannya. Sewaktu RPKAD membongkar muatan truk yang ditinggalkan
pemberontak dipinggir landasan, terbelalak lah mata mereka menyaksikan
tumpukan persenjataan modern yang selama ini hanya mereka ketahui dari
bahan bacaan, bertimbun dan tertata rapi dalam peti-peti kayu. Selain
senjata ringan seperti senapan Springfield M1903 dan M1 Garrand, juga
terdapat persenjataan jenis STTB Recoilless gun M20 75mm, Bazooka 2.5inch,
SMR Browning 30, dan SMB M2HB 12.7mm. Semuanya lengkap dengan amunisi yang
melimpah. Tak ayal Benny mengkomando anak buahnya untuk memilih sendiri
senjata yang mereka sukai.

Jam 09.00 pagi, sebuah Dakota mendarat membawa Letkol Udara Wiriadinata,
Wakil Komandan Operasi Tegas. Dengan senyum lebar, ia menyalami Benny dan
kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya langsung bernada perintah.

"Berani kau ke kota?"
"Siap, berani Overste!" Jawab Benny.

Padahal, tidak ada satupun prajurit RPKAD termasuk Benny sendiri yang
pernah bertugas di Pekanbaru. Jarak dari Simpang Tiga ke Pekanbaru sendiri
sekitar 15km.

Saat itu mata Benny langsung tertumbuk pada Jeep Willy 44 diantara deretan
truk PRRI. Tanpa membuang waktu Benny mengajak Letda Soeweno, Letda Dading
Kalbuadi, Kopral Sihombing, dan Sersan Sukma seorang bintara PHB untuk
berangkat ke kota dengan jeep tersebut. Kendaraan yang ditumpangi Benny dkk
segera potong kompas, mencari jalan terdekat menuju kota, tentu saja mereka
selalu salah arah, karena sama sekali belum ada yang pernah ke kota.
Sedangkan pasukan lain, dipimpin oleh Letkol Udara Wiriadinata berjalan
kaki dengan gerak melambung menuju arah yang sama.*Berlima Menguber Pasukan
Musuh*Jeep rampasan yang ditumpangi Benny dkk itu merupakan satu-satunya
kendaraan yang melaju dijalanan sepi Simpang Tiga-Pekanbaru. Lima prajurit
komando yang nekat ini bergerak sendirian menyerbu Pekanbaru, jelas suatu
tindakan konyol, tapi itulah yang dilakukan Benny. Walaupun mereka buta
kekuatan musuh, atau bagaimana nasib mereka nantinya jika musuh ternyata
menyergap, mereka tidak perduli. Tidak ada satupun diantara mereka termasuk
Benny yang sudah menikah, semua masih bujangan. Sebab itu mereka seakan
tidak ambil pusing jika seandainya terluka atau gugur dimedan tugas, toh
tidak punya tanggungan.

Entah kebetulan, diatas Benny melayang-layang 2 pesawat P-51 Mustang yang
dipiloti oleh Kapten Udara Rusjmin Nurjadin. Entah ide siapa, Sersan Sukma
seorang bintara PHB membuat "*sandiwara*" kontak palsu dengan pesawat yang
sedang melayang-layang diudara. Kebetulan di belakang Jeep ada pesawat
radio dengan antenna yang menjulang tinggi, sehingga sepanjang perjalanan
ke Pekanbaru mereka "*cuap-cuap*" seolah-olah ada kontak antara RPKAD yang
di Jeep dengan Mustang. Padahal sama sekali tidak ada, cuma sandiwara
mereka saja.

Sandiwara yang sebenarnya hanya untuk memperteguh semangat mereka ternyata
berimbas positif. Ketika Jeep Benny melewati 1 Detasemen Polisi berkekuatan
1 Kompi yang masih dikuasai pemberontak, mereka menurut saja ketika
digertak agar meletakkan senjata. Kejadian seperti ini berlangsung beberapa
kali, dan dengan mudah tanpa perlawanan Pekanbaru direbut dari tangan PRRI.

Menjelang senja, masih dengan personel yang sama berjumlah 5 orang, Benny
melanjutkan perjalanan menuju Danau Bingkuang. Ada laporan masuk bahwa
pasukan PRRI menyeberangi Sungai Kampar dan bersiap melakukan serangan
balas. Benny meluncur dengan Jeep yang sekarang sudah ditongkrongin SMR
Browning 30.

Ditepi sebuah Dusun dipinggir sungai, tiba-tiba Benny bertatapan muka
dengan pemberontak. Reflek Benny yang memegang kemudi menghentikan
kendaraannya dan ke-5 dari mereka berhamburan mencari perlindungan.

Tanpa disangka, pasukan pemberontak yang juga kaget juga berhamburan
berusaha mendorong rakit menyeberangi sungai. Dari balik tanggul, Kopral
Sihombing telah mengokang senapan 7.62 nya siap memberondongkan peluru.

"Tembak Pak, Tembak Pak..! Teriak Sihombing menunggu perintah Benny.

"Sudah, ngga usah. Mereka kan sudah lari!" kata Benny.

Dari balik perlindungannya, dengan Browning M30 yang mampu menghamburkan
600 butir peluru per menit, pasukan PRRI yang kocar kacir itu dapat saja di
bantai dengan mudah. Tapi bagaimanapun, peperangan melawan saudara sendiri
menimbulkan rasa tidak nyaman dihati masing-masing pihak. Apalagi menilik
kenyataan, bahwa andaikan tadi pada saat pasukan Benny yang hanya terdiri
dari 5 orang itu benar-benar mendapatkan perlawanan oleh pasukan PRRI yang
jumlahnya ratusan tersebut, serta adanya sejumlah Bazooka yang dipanggul
oleh mereka, bisa dikatakan dalam sekali tembak dengan Bazooka saja,
pasukan Benny akan gugur semua.

Benny memutuskan untuk tetap tinggal di pinggir Sungai Kampar di
Danaubingkuang, mengantisipasi segala kemungkinan. Secara bergantian mereka
beristirahat di dusun tersebut hingga malam semakin larut. Suasana tegang
dan kecapekan karena sudah seharian memburu musuh rupanya membuat Letda
Dading Kalbuadi kegerahan. Ia mencopot pakaian loreng RPKAD nya dan berjaga
hanya menggunakan celana dalam.

"Wong Banyumasan guendeng! Kalau nanti ada serangan baru tau rasa Kau,
nganeh-nganehi!" Kata Letda Soeweno demi melihat temannya yang asli
Banyumas itu bertingkah "nyeleneh".

Dading hanya tertawa mendengar umpatan temannya, sambil tetap ber "tarzan"
sambil meneteng senjatanya.


 *Bersambung ... *

Ditulis *Samuel.Tirta* (Kaskuser) dari berbagai sumber
Hormat saya

Muhammad Syahreza

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke