Assalamu'alaikum wr.wb.

http://garudamiliter.blogspot.com/2014/04/kompi-benny-pemburu-prri-2.html

*Kenangan Bersama Lettu Fadhillah*Menjelang tengah malam, Benny mengajak
pasukannya meninggalkan dusun dan mengambil posisi*stelling* di pinggiran
Sungai Kampar. Pengalaman sewaktu memburu DI/TII pada awal 1950-an di
pedalaman Jawa Barat dulu menyatakan bahwa musuh sering kali melakukan
serangan pada malam hari. Tepat seperti perhitungan Benny, menjelang
dinihari, posisi pasukan Benny sebelumnya di Danau bingkuang dihujani
dengan mortir 60mm dari seberang sungai. Untung saja mereka sudah bergeser
ke posisi lain. Namun sejauh itu, pemberontak hanya menghujani mereka
dengan tembakan mortir, para pemberontak sama sekali tidak berani
menyeberangi sungai. Selain bunyi siutan peluru mortir, tembakan *flare* ke
udara dan ledakan keras, tidak ada gangguan lain terhadap pasukan Benny
hingga keesokan harinya.

Kompi A RPKAD kemudian ditarik kembali ke pangkalan di Tanjung Pinang,
setelah menyerahkan penjagaan kota Pekanbaru kepada pasukan Diponegoro dan
Brawijaya. Sebagai satuan pemukul, RPKAD memang jauh berbeda dengan
infanteri biasa, mereka sama sekali tidak diserahi tugas teritorial. Begitu
sasaran sudah direbut, mereka ditarik untuk kembali diterjunkan ke palagan
lain yang lebih kritis. Hanya sempat beristirahat sebentar di Tanjung
Pinang, Kompi Benny kembali diperintahkan menyiapkan diri untuk bergabung
dengan Operasi Sapta Marga, operasi militer yang disusun secara
terburu-buru untuk menyerbu Medan.

Sebagai prajurit komando, situasi buruk dan mendesak merupakan santapan
sehari-hari, sehingga walaupun dalam batin mengelak, mereka harus
melaksanakan tugas dengan sebaik-baiknya.

Pagi hari tanggal 17 April 1958, Kompi Benny, yang kali ini hanya disertai
1 Kompi PGT diterbangkan menuju Medan. Ketika mesin Dakota sudah bersiap
untuk heading menuju landasan pacu, Lettu Fadhillah, Komandan Kompi B/RPKAD
dan juga sahabat Benny nampak berlari menghampirinya.

"Ben, Benny! Tunggu!" Benny menoleh, tidak paham apa yang dikehendaki oleh
sahabat sekaligus seniornya di Baret Merah itu.

"Sek yo, iki ambi. Pakai cincin saya biar kamu selamat!" Kata Fadhillah
sambil mengacungkan sebentuk cincin ditangannya.

Sayup-sayup Benny mendengar penjelasan perwira komando asal Tegal itu bahwa
cincin yang diberikannya merupakan hadiah dari seorang Kepala Suku Dayak di
pedalaman Kalimantan, tempat ia pernah bertugas.

Dengan hati bimbang antara ya dan tidak, karena ia seorang penganut
Katholik yang taat, Benny menerima pemberian seniornya itu. Kini cincin "
*bertuah*" itu melingkar dijari tangan kirinya. Diakhiri lambaian tangan,
dua orang sahabat itupun berpisah.

Benny harus mengejar jadwal penerjunan agar serangan ke kota Medan tidak
tertunda lagi, sedangkan Lettu Fadhillah memimpin pasukannya menyerbu
Payakumbuh.

Ternyata pertemuan di Landasan Tanjung Pinang itu merupakan pertemuan
terakhir mereka buat selamanya. Tanggal 3 April 1958, dalam serangan
komando untuk menduduki posisi pertahanan pasukan pemberontak di Desa
Jegar, wilayah Lubuk Jambi, Riau Daratan, Lettu Fadhillah tertembak di
tengah pertempuran, peluru 7.62 mengoyak perut perwira komando ini dan
gugur seketika.*Menyerbu Kota Medan*[image:
http://3.bp.blogspot.com/-KOBYk5TpeS8/TweBzEbqdOI/AAAAAAAAAlI/toFTZRIZFe4/s1600/kol+djatikusumo.jpg]<http://3.bp.blogspot.com/-KOBYk5TpeS8/TweBzEbqdOI/AAAAAAAAAlI/toFTZRIZFe4/s1600/kol+djatikusumo.jpg>*Kolonel
GPH. Djatikusumo, Deputy I/KSAD [google]*

Serangan komando pasukan RPKAD kali ini sudah kehilangan ciri khasnya yaitu
pendadakan. Selain mereka diterjunkan pada siang bolong, Pak Nas pun sudah
menyiarkan di radio bahwa Medan akan diserbu oleh 3 Batalyon Lintas Udara
(padahal cuma ada 2 Kompi). *Psywar* ini sengaja disampaikan untuk menekan
moral para pemberontak agar mental mereka merosot.

C-47 Dakota yang ditumpangi Benny dipiloti oleh Kapten Udara Pribadi,
seorang penerbang AURI yang cukup berpengalaman. Di atas Medan Dakota
berputar-putar beberapa kali mencari lokasi DZ yang di rasa cocok untuk
penerjunan. Kelihatan dari udara Kota Medan sangat sepi, tidak terlihat
adanya pergerakan lalu lintas kendaraan dijalan raya maupun rutinitas warga
selayaknya sebuah kota besar. Benny kemudian meminta pilot membawa
pesawatnya melintasi bandara Polonia. Namun ditempat ini pun sangat sepi,
landasan kosong dan sama sekali tidak terlihat apa-apa aktifitas di bawah.

Sebenarnya, Bandara Polonia masih dikuasai oleh beberapa satuan pasukan
yang masih setia kepada Pusat. Kapten Udara Nico Juluw, komandan AURI
setempat bertahan mati-matian walau diserang oleh pasukan PRRI dan dipaksa
menyerah. Ditempat itu juga turut bertahan satuan Artileri dibawah pimpinan
Mayor Hanafie dan belasan personel Polri dibawah pimpinan Komisaris Polisi
Hoegeng Iman Santoso.

KSAU Komodor Udara Surjadi Surjadarma sebelumnya telah mengeluarkan
perintah agar lapangan udara Polonia dipertahankan habis-habisan. Sehari
sebelumnya, bandara Polonia di serbu oleh Pasukan PRRI dan dihujani
tembakan Mortir, namun pasukan yang bertahan berhasil memperkuat parimeter
pertahanannya sehingga serangan musuh dapat ditahan. Walau bagaimanapun,
mereka dalam kondisi terkepung rapat, karena pasukan PRRI memblokade semua
jalur keluar masuk ke bandara Polonia.

Suasana sunyi sepi yang terlihat dari udara menimbulkan pertanyaan,
jangan-jangan PRRI sudah mempersiapkan diri dibawah dan memasang
jebakan-jebakan. Atau suasana sepi itu adalah taktik musuh agar pasukan
penyerbu terjun mendarat kemudian dikepung rapat dan dihancurkan. Benny
menyangka bahwa para pemberontak di bawah sudah menyiapkan semacam "panitia
penyambutan" untuk pasukannya. Benny tidak mau ambil resiko, ia segera
meminta pilot untuk sekali lagi berputar mendekat kearah Pantai Cermin.

Namun suasana di pantai tidak jauh berbeda dengan kedua tempat sebelumnya,
sepi dan sunyi, serta angin bertiup kencang sehingga membahayakan
penerjunan.

"Wah kencang sekali anginnya, bisa-bisa kami nyemplung ke laut semua, cari
tempat lain saja!" Kata Benny kepada Pilot Dakota. Sementara dibelakang,
pasukannya sudah gelisah karena dari tadi pesawat berputar-putar terus
tanpa tujuan pasti. Untunglah kemudian sekilas Benny melihat dari jauh
Pelabuhan Belawan terlihat aktifitas penduduk dan kelihatan normal seperti
biasa.

"Sudah disini saja, terjun disini saja, pasukan *ready*?!" Kata Benny
memberitahu Pilot sekaligus memberitahu anak buahnya agar bersiap.

Terjun ditengah pelabuhan tentu saja mengandung resiko yang tinggi,
bangunan-bangunan tinggi, aliran listrik dibawah mengancam jiwa para
penerjun. Tapi Dewi Fortuna masih berpihak kepada Benny dan pasukannya,
mereka semuanya selamat mendarat. Selain Letda Soewono mendarat jatuh
menimpa gerobak penjual es dipinggir jalan dan seorang Tamtama yang
nyangkut di pohon Trambesi dekat pelabuhan, tidak ada insiden lain yang
berakibat fatal menimpa mereka.

Begitu mendarat, pasukan komando langsung menyebar berusaha mengamankan
pelabuhan dan sekitarnya. Sebelum berangkat tadi pagi, Benny sempat memberi
taklimat kepada anak buahnya, "Pokok e lihat baju ijo sikat!"

Benny begitu percaya kepada laporan intelijen bahwa pasukan PRRI masih
menguasai kota Medan. Padahal kenyataannya, pagi-pagi sekali Mayor Boyke
Nainggolan beserta seluruh pasukan PRRI sudah menyingkir dari kota Medan
menuju Permatang Siantar. Konvoi pengungsian pasukan PRRI ini sebenarnya
sudah terendus oleh sebuah B-25 Mitchell AURI di sekitar Tanjung Morawa dan
langsung dilaporkan kepada Pak Nas. Namun Pak Nas sendiri tidak
mengeluarkan perintah apa-apa, apalagi menyerang konvoi pemberontak.
Perintahnya hanya untuk mengawasi dari udara karena rupanya Pak Nas tidak
yakin kalau konvoi tersebut merupakan konvoi musuh.

Ketika Kompi RPKAD bergerak memasuki Stasiun KA yang terletak tidak jauh
dari pelabuhan, selintas terlihat seorang berseragam hijau tentara
menongolkan kepalanya sambil melambaikan tangannya. Kopral Sihombing,
Tamtama penembak Bren langsung mengokang senjatanya dan membidikkan senjata
seberat 8kg tersebut kearah empunya kepala.

"Hush.jangan tembak, ngawur jangan tembak!" Seru Benny cepat-cepat. Masih
dalam posisi siaga, Sihombing pun menurunkan senjatanya yang tadi tinggal
menarik picu.

Sepintas, rupanya Benny mengenali sang pria berseragam hijau tentara
tersebut. Pria berparas tampan dan bersih itu adalah Kolonel GPH.
Djatikusumo, Deputy I/KSAD. Beliau merupakan putra dari Sri Susuhunan
Pakubuwono X, Raja Surakarta. Kolonel Djatikusumo merupakan salah satu
diantara sedikit perwira TNI pada masa itu yang berpendidikan lengkap. Ia
pernah menempuh pendidikan di Institute Technologie Deft di Belanda. Ia
juga pernah masuk dalam pendidikan Perwira Cadangan CORO dan di gembleng
Jepang sebagai perwira PETA.

Kemudian dari Pak Djatikusumo lah kemudian Benny mengetahui bahwa pasukan
PRRI sudah menyingkir ke luar kota. Kepada Benny, Pak Djatikusumo
memberikan *briefing* singkat,

"Pasukan PRRI dipimpin Mayor Boyke mungkin sudah berada di Permatang
Siantar, siap melakukan serangan balasan ke kota Medan. Kamu kejar dan
bekuk mereka!"

"Siap kerjakan Kolonel!" Jawab Benny.*Kopral Sihombing
Gugur*<http://1.bp.blogspot.com/-pqSwnJg5r3c/Ukgna_X89JI/AAAAAAAAB6M/XqhP2s68qpo/s1600/ci+santoso.jpg>*Chalimi
Imam Santoso [wongsangar]*

Pada siang hari itu juga, Benny memimpin pasukannya menyerbu Permatang
Siantar dengan gerakan melambung, hanya ada 2 peleton RPKAD yang
menyertainya, masing Peleton 1 dipimpin Letda CI. Santoso dan Peleton 2
oleh Letda Tatang Sudibjo. Sedangkan sisa pasukan RPKAD dan PGT yang
diterjunkan bersamanya di Pelabuhan Belawan, ditinggalkan untuk menjaga
keamanan kota Medan, sebelum pasukan induk yang lebih besar tiba.

Benny dan pasukannya menuju Tanjung Morawa, tanpa sengaja dan ia ketahui
bahwa jalur itu tadi merupakan jalur pengunduran pasukan pemberontak.

Menjelang senja, Benny dan pasukannya sudah mencapai Permatang Siantar.
Mereka kemudian bertemu dengan Mayor Manaf Lubis, Komandan Resimen II/TT. I
dan pasukannya yang sedang membuat kubu pertahanan dipinggir kota. Atas
petunjuk perwira menengah TNI asli Mandailing itu, pasukan RPKAD mengambil
posisi penjagaan disebuah persimpangan strategis yang menghubungkan kota
Permatang Siantar dengan Brastagi dan Prapat.

Di Simpang Tiga, dibawah lindungan Bukit Barisan yang menjulang itu, Benny
menemukan 1 Peleton Kavaleri dan sekitar 1 Regu Polisi yang masih setia
kepada Pusat. Sebagai satu-satunya perwira paling senior disitu, Benny
langsung mengoper pimpinan. Para Polisi ia perintahkan menjaga jalan ke
arah Brastagi. Kemudian datanglah seorang Bintara Kavaleri menghadap Benny.

"Lapor, Serma Kemis siap menunggu perintah Pak!" Rupanya Serma Kemis adalah
bekas murid Benny sewaktu dia menjadi Instruktur di Sekolah Kader Infanteri
akhir 1952.

"Wah, sampean iki bukannya di Yonif to ?" Tanya Benny heran.

"Siap. Saya sekarang di Kavaleri, Pak!" Jelas Kemis sambil menghormat.

"Ok. Sekarang kamu majukan pasukan mu itu sedikit. Arahkan moncong Panser
ke arah Prapat. Tembak kalau ada gerakan mencurigakan. Jangan ragu-ragu!"
Perintah Benny.

"Siap. Kerjakan!"

Serma Kemis kemudian menggerak kan Peleton nya ke posisi yang diperintahkan
Benny. Ia menempatkan kenderaan tempur lapis baja nya M8 Greyhound dengan
meriam 37mm menghadap Prapat. Panser beroda karet 4x4 buatan AS itu juga
dilengkapi sepucuk SMB 12.7mm dan senapan mesin segaris bidik (coaxial)
Browning 7.62mm. Kini pasukan Benny dapat beristirahat dan tidur dengan
nyenyak nya malam itu karena merasa aman, mereka tenang dijaga oleh
kesatuan tempur bersenjata berat.

Keesokan harinya muncul iring-iringan sepeda dari arah Prapat. Rupanya
mereka adalah para buruh kelapa sawit keturunan Jawa yang bermukim di
Prapat. Dari mereka Benny bisa mengetahui kedudukan pasukan PRRI serta
posisi pertahanannya. Benny langsung menyiagakan pasukannya, Peleton CI.
Santosa diperintahkan maju kedepan diikuti oleh Peleton Tatang Sudibjo.
Sementara para polisi yang bersiap di samping dan Peleton Kavaleri serta
Pansernya akan memberikan tembakan bantuan.

Belum pun sempat Peleton C.I. Santosa mencapai depan sebuah pengkolan,
mendadak dari arah kiri jalan terdengar rentetan senjata berat. Peluru
musuh berhamburan menerjang pasukan "*koalisi*" Benny, dan tidak berapa
lama, posisi Benny dan pasukannya pun langsung terkepung, disirami tembakan
gencar. Dalam riuh rendah tembakan, tiba-tiba terdengar suara letusan
menggelegar! Rupanya suara itu tadi berasal dari Bazooka 2.5inch yang
ditembakkan musuh kearah pasukan Benny. Untung lah pasukan PRRI belum
sempat mempelajari karasteristik dari senjata tersebut, belum mahir
menggunakannya sehingga walau banyak roket yang ditembakkan, tidak satupun
yang menghantam telak.

Masih dalam suasana riuh rendah pertempuran, telinga Benny menangkap suara
aneh persenjataan yang digunakan oleh PRRI, suara tersebut layaknya
hentakan-hentakan kaki ke tanah dengan keras. Setelah melihat bahwa peluru
dari suara senjata aneh tersebut meledak dan memencarkan serpihan besi
panas, maka maklumlah Benny apa gerangan senjata tersebut. Itulah suara
Mortir 60mm yang baru saja dipasok AS kepada PRRI.

Melihat Peleton CI. Santosa yang nampak *stuck* tidak bisa bergerak disiram
tembakan gencar senjata berat PRRI, Benny berteriak,

"Panser, majuu!"

Mendengar perintah Benny, Serma Kemis langsung menggerakkan Pansernya maju
sambil menembakkan kanon nya, sementara SMB 12.7mm nya memberondong sisi
bukit yang ditengarai sebagai basis penyerangan PRRI. SMB M8-Greyhoound ini
pun langsung memerah laras SMB nya, panas akibat tembakan berondongan
ratusan peluru tanpa henti yang ditembakkan. Gerakan Panser yang menantang
resiko berat menjadi bulan-bulanan Bazooka 2.5 inch PRRI sangat beresiko.
Karena bisa dipastikan, satu saja hantaman telak dari Bazooka tadi akan
membuat lumat Panser dan seluruh isinya termasuk Serma Kemis.

Saat bersamaan, dibawah lindungan tembakan kanon Panser, Peleton Tatang
Sudibjo maju membantu meringankan beban Peleton CI Santosa yang terjepit
sehingga mereka bisa bernafas lega.

Dirusuk kiri arah serangan PRRI, Kopral Sihombing, Tamtama senapan mesin
sudah menghabiskan 2*round* amunisinya. Tidak terhitung lagi berapa banyak
peluru yang dia tembakkan, juga tidak terhitung musuh yang menjadi mangsa
senjatanya. Setelah mengisi amunisi untuk ke tiga kalinya, Sihombing
merengsek maju sambil menunduk menuju tanggul pertahanan pasukan PRRI.
Belum pun sempat dia berlindung dari gerakan maju tiga dua yang dia lakukan
tadi, sebuah peluru musuh menyambar dada kirinya. Sihombing langsung
limbung, ketika sebuah lagi peluru menyambar perutnya, dia langsung
terkapar tidak bergerak lagi. CI Santosa yang berusaha menggapai tubuh
Sihombing dan menariknya ke area yang aman menjadi bulan-bulan tembakan
gencar, niatnya pun diurungkan. Sihombing, Tamtama Bren andalan Kompi
Benny, penerjun pertama dalam setiap penerjunan, prajurit komando kenyang
pengalaman tempur, gugur ditangan saudara sebangsanya sendiri.

Pertempuran masih berlangsung cukup lama, kemudian berakhir dengan semakin
lemahnya tembakan balasan dari pihak PRRI dan akhirnya berhenti. Jumlah
korban PRRI dalam pertempuran ini demikian besar. Tubuh mereka
bertindih-tindihan mulai dari jalan raya, tanggul, bertebaran hingga ke
kaki bukit dan pinggiran hutan.

Benny sendiri tertegun menyaksikan begitu banyak nya korban pemberontak di
depan matanya. Rata-rata mereka masih berusia sangat muda, belasan tahun,
berserakan hingga ke kaki bukit. Seumuran mereka sepantasnya masih menimba
ilmu di bangku sekolah, bukan menyabung nyawa di di palagan pertempuran.
Disisi lain, Benny sedih kehilangan Kopral Sihombing, anak buah yang sudah
sekian lama turut bersamanya diberbagai penugasan.

Pertempuran di Simpang Tiga tersebut diberikan kepada khalayak luas. Dalam
siaran resminya, Pemerintah RI menyebutkan, "TELAH GUGUR SEORANG PRAJURIT
DARI RPKAD BERNAMA KOPRAL SIHOMBING". Masyarakat Medan pun terhenyak, "Lho
itu kan nama orang kita, bukan nama Jawa!".

Rupanya selama ini PRRI menghembuskan isu bahwa perjuangan mereka adalah
untuk menghapus dominasi etnis Jawa dalam Pemerintah RI. Gugurnya Kopral
Sihombing telah membuktikan bahwa propaganda itu sama sekali tidak benar,
bukan tentara Batak melawan tentara Jawa, melainlan Pemerintah melawan
sekelompok oportunis..


 *Bersambung ... *

Ditulis *Samuel.Tirta* (Kaskuser) dari berbagai sumber
Hormat saya

Muhammad Syahreza

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke