Aww. Sudaroku MSyaheza jo Palanta n.a.h.
aaa) Menarik  duo tulisan Puzzle PRRI tsb. dan ambo sangeik senang banyak foto 
jo informasi sarato versi jo versa satantangan Puzzle PRRI tsbk. Dengan 
demikian samakin nampak jaleih manakala kito membahas dan mambalik2 carito lamo 
satantangan "pergolakan" daerah terhadap pempus NKRI dimaso lalu itu ;
bbb) Bagi ambo hal2 seperti itu akan selalu menarik dan manambah pemahaman dari 
ucapan rang gaek ambo katiko liau tapaso "marantau" ka bumi criwijaya dan tanah 
Basemah di Pagaralam dan kudian tapaso masuk penjaro "Dewan Garuda-Barlian" di 
kota Lahat hampir anam bulan ditahun 1957-an dantapaso ambo baduo naik kureta 
dari prabumulih ka Tanjungkarang untuk manyubarang malarikan diri dari 
cengkeraman Dewan Garuda untuk rencana dibawo ka-balik papan alias ditembak 
mati pulo. Namun Allah selalu Maha Adil dan Maha Mengetahui bahwasanyo kami 
sekelbes . tapaso malanjuikkan "perantauan" ka Betawi dan Alhamdulillah sampai 
kini ambo masih manikmati carito2 kekejaman dimaso pergolakan PRRI tsb.
ccc) Saran ambo adolah sajalan jo  pasan2 rang gaek ambo supayo pabilo rang 
Minangkabau nak punyo keinginan "bergolak" cubo lah tiru caro2 Amerik atau 
Yahudi untuk mambuek medan pertempuran / membantai manusia dibuekklah 
dikampueng urang lain. Baa gak ati?
Sekedar ilustrasi sajo, semoga semakin banyak tulisan2 nan alun sampeik 
diangkeik dijadikan satu ka buku Bungo Rampai PRRI karangan     Dunsanak Datuk 
Soda.Wassalam dan maaf ambo pabilo kurang bekenan.. Haasma Depok

Pada Rabu, 30 April 2014 8:43, muhammad syahreza <[email protected]> 
menulis:
 


Assalamu'alaikum wr.wb.


http://garudamiliter.blogspot.com/2014/04/kompi-benny-pemburu-prri-2.html

Kenangan Bersama Lettu Fadhillah
Menjelang tengah malam, Benny mengajak pasukannya meninggalkan dusun dan 
mengambil posisistelling di pinggiran Sungai Kampar. Pengalaman sewaktu memburu 
DI/TII pada awal 1950-an di pedalaman Jawa Barat dulu menyatakan bahwa musuh 
sering kali melakukan serangan pada malam hari. Tepat seperti perhitungan 
Benny, menjelang dinihari, posisi pasukan Benny sebelumnya di Danau bingkuang 
dihujani dengan mortir 60mm dari seberang sungai. Untung saja mereka sudah 
bergeser ke posisi lain. Namun sejauh itu, pemberontak hanya menghujani mereka 
dengan tembakan mortir, para pemberontak sama sekali tidak berani menyeberangi 
sungai. Selain bunyi siutan peluru mortir, tembakan flare ke udara dan ledakan 
keras, tidak ada gangguan lain terhadap pasukan Benny hingga keesokan harinya.

Kompi A RPKAD kemudian ditarik kembali ke pangkalan di Tanjung Pinang, setelah 
menyerahkan penjagaan kota Pekanbaru kepada pasukan Diponegoro dan Brawijaya. 
Sebagai satuan pemukul, RPKAD memang jauh berbeda dengan infanteri biasa, 
mereka sama sekali tidak diserahi tugas teritorial. Begitu sasaran sudah 
direbut, mereka ditarik untuk kembali diterjunkan ke palagan lain yang lebih 
kritis. Hanya sempat beristirahat sebentar di Tanjung Pinang, Kompi Benny 
kembali diperintahkan menyiapkan diri untuk bergabung dengan Operasi Sapta 
Marga, operasi militer yang disusun secara terburu-buru untuk menyerbu Medan.

Sebagai prajurit komando, situasi buruk dan mendesak merupakan santapan 
sehari-hari, sehingga walaupun dalam batin mengelak, mereka harus melaksanakan 
tugas dengan sebaik-baiknya.

Pagi hari tanggal 17 April 1958, Kompi Benny, yang kali ini hanya disertai 1 
Kompi PGT diterbangkan menuju Medan. Ketika mesin Dakota sudah bersiap untuk 
heading menuju landasan pacu, Lettu Fadhillah, Komandan Kompi B/RPKAD dan juga 
sahabat Benny nampak berlari menghampirinya.

"Ben, Benny! Tunggu!" Benny menoleh, tidak paham apa yang dikehendaki oleh 
sahabat sekaligus seniornya di Baret Merah itu.

"Sek yo, iki ambi. Pakai cincin saya biar kamu selamat!" Kata Fadhillah sambil 
mengacungkan sebentuk cincin ditangannya.

Sayup-sayup Benny mendengar penjelasan perwira komando asal Tegal itu bahwa 
cincin yang diberikannya merupakan hadiah dari seorang Kepala Suku Dayak di 
pedalaman Kalimantan, tempat ia pernah bertugas.

Dengan hati bimbang antara ya dan tidak, karena ia seorang penganut Katholik 
yang taat, Benny menerima pemberian seniornya itu. Kini cincin "bertuah" itu 
melingkar dijari tangan kirinya. Diakhiri lambaian tangan, dua orang sahabat 
itupun berpisah.

Benny harus mengejar jadwal penerjunan agar serangan ke kota Medan tidak 
tertunda lagi, sedangkan Lettu Fadhillah memimpin pasukannya menyerbu 
Payakumbuh.

Ternyata pertemuan di Landasan Tanjung Pinang itu merupakan pertemuan terakhir 
mereka buat selamanya. Tanggal 3 April 1958, dalam serangan komando untuk 
menduduki posisi pertahanan pasukan pemberontak di Desa Jegar, wilayah Lubuk 
Jambi, Riau Daratan, Lettu Fadhillah tertembak di tengah pertempuran, peluru 
7.62 mengoyak perut perwira komando ini dan gugur seketika.
Menyerbu Kota Medan
Kolonel GPH. Djatikusumo, Deputy I/KSAD [google]

Serangan komando pasukan RPKAD kali ini sudah kehilangan ciri khasnya yaitu 
pendadakan. Selain mereka diterjunkan pada siang bolong, Pak Nas pun sudah 
menyiarkan di radio bahwa Medan akan diserbu oleh 3 Batalyon Lintas Udara 
(padahal cuma ada 2 Kompi). Psywar ini sengaja disampaikan untuk menekan moral 
para pemberontak agar mental mereka merosot.

C-47 Dakota yang ditumpangi Benny dipiloti oleh Kapten Udara Pribadi, seorang 
penerbang AURI yang cukup berpengalaman. Di atas Medan Dakota berputar-putar 
beberapa kali mencari lokasi DZ yang di rasa cocok untuk penerjunan. Kelihatan 
dari udara Kota Medan sangat sepi, tidak terlihat adanya pergerakan lalu lintas 
kendaraan dijalan raya maupun rutinitas warga selayaknya sebuah kota besar. 
Benny kemudian meminta pilot membawa pesawatnya melintasi bandara Polonia. 
Namun ditempat ini pun sangat sepi, landasan kosong dan sama sekali tidak 
terlihat apa-apa aktifitas di bawah.

Sebenarnya, Bandara Polonia masih dikuasai oleh beberapa satuan pasukan yang 
masih setia kepada Pusat. Kapten Udara Nico Juluw, komandan AURI setempat 
bertahan mati-matian walau diserang oleh pasukan PRRI dan dipaksa menyerah. 
Ditempat itu juga turut bertahan satuan Artileri dibawah pimpinan Mayor Hanafie 
dan belasan personel Polri dibawah pimpinan Komisaris Polisi Hoegeng Iman 
Santoso.

KSAU Komodor Udara Surjadi Surjadarma sebelumnya telah mengeluarkan perintah 
agar lapangan udara Polonia dipertahankan habis-habisan. Sehari sebelumnya, 
bandara Polonia di serbu oleh Pasukan PRRI dan dihujani tembakan Mortir, namun 
pasukan yang bertahan berhasil memperkuat parimeter pertahanannya sehingga 
serangan musuh dapat ditahan. Walau bagaimanapun, mereka dalam kondisi 
terkepung rapat, karena pasukan PRRI memblokade semua jalur keluar masuk ke 
bandara Polonia.

Suasana sunyi sepi yang terlihat dari udara menimbulkan pertanyaan, 
jangan-jangan PRRI sudah mempersiapkan diri dibawah dan memasang 
jebakan-jebakan. Atau suasana sepi itu adalah taktik musuh agar pasukan 
penyerbu terjun mendarat kemudian dikepung rapat dan dihancurkan. Benny 
menyangka bahwa para pemberontak di bawah sudah menyiapkan semacam "panitia 
penyambutan" untuk pasukannya. Benny tidak mau ambil resiko, ia segera meminta 
pilot untuk sekali lagi berputar mendekat kearah Pantai Cermin.

Namun suasana di pantai tidak jauh berbeda dengan kedua tempat sebelumnya, sepi 
dan sunyi, serta angin bertiup kencang sehingga membahayakan penerjunan.

"Wah kencang sekali anginnya, bisa-bisa kami nyemplung ke laut semua, cari 
tempat lain saja!" Kata Benny kepada Pilot Dakota. Sementara dibelakang, 
pasukannya sudah gelisah karena dari tadi pesawat berputar-putar terus tanpa 
tujuan pasti. Untunglah kemudian sekilas Benny melihat dari jauh Pelabuhan 
Belawan terlihat aktifitas penduduk dan kelihatan normal seperti biasa.

"Sudah disini saja, terjun disini saja, pasukan ready?!" Kata Benny memberitahu 
Pilot sekaligus memberitahu anak buahnya agar bersiap.

Terjun ditengah pelabuhan tentu saja mengandung resiko yang tinggi, 
bangunan-bangunan tinggi, aliran listrik dibawah mengancam jiwa para penerjun. 
Tapi Dewi Fortuna masih berpihak kepada Benny dan pasukannya, mereka semuanya 
selamat mendarat. Selain Letda Soewono mendarat jatuh menimpa gerobak penjual 
es dipinggir jalan dan seorang Tamtama yang nyangkut di pohon Trambesi dekat 
pelabuhan, tidak ada insiden lain yang berakibat fatal menimpa mereka.

Begitu mendarat, pasukan komando langsung menyebar berusaha mengamankan 
pelabuhan dan sekitarnya. Sebelum berangkat tadi pagi, Benny sempat memberi 
taklimat kepada anak buahnya, "Pokok e lihat baju ijo sikat!"

Benny begitu percaya kepada laporan intelijen bahwa pasukan PRRI masih 
menguasai kota Medan. Padahal kenyataannya, pagi-pagi sekali Mayor Boyke 
Nainggolan beserta seluruh pasukan PRRI sudah menyingkir dari kota Medan menuju 
Permatang Siantar. Konvoi pengungsian pasukan PRRI ini sebenarnya sudah 
terendus oleh sebuah B-25 Mitchell AURI di sekitar Tanjung Morawa dan langsung 
dilaporkan kepada Pak Nas. Namun Pak Nas sendiri tidak mengeluarkan perintah 
apa-apa, apalagi menyerang konvoi pemberontak. Perintahnya hanya untuk 
mengawasi dari udara karena rupanya Pak Nas tidak yakin kalau konvoi tersebut 
merupakan konvoi musuh.

Ketika Kompi RPKAD bergerak memasuki Stasiun KA yang terletak tidak jauh dari 
pelabuhan, selintas terlihat seorang berseragam hijau tentara menongolkan 
kepalanya sambil melambaikan tangannya. Kopral Sihombing, Tamtama penembak Bren 
langsung mengokang senjatanya dan membidikkan senjata seberat 8kg tersebut 
kearah empunya kepala.

"Hush.jangan tembak, ngawur jangan tembak!" Seru Benny cepat-cepat. Masih dalam 
posisi siaga, Sihombing pun menurunkan senjatanya yang tadi tinggal menarik 
picu.

Sepintas, rupanya Benny mengenali sang pria berseragam hijau tentara tersebut. 
Pria berparas tampan dan bersih itu adalah Kolonel GPH. Djatikusumo, Deputy 
I/KSAD. Beliau merupakan putra dari Sri Susuhunan Pakubuwono X, Raja Surakarta. 
Kolonel Djatikusumo merupakan salah satu diantara sedikit perwira TNI pada masa 
itu yang berpendidikan lengkap. Ia pernah menempuh pendidikan di Institute 
Technologie Deft di Belanda. Ia juga pernah masuk dalam pendidikan Perwira 
Cadangan CORO dan di gembleng Jepang sebagai perwira PETA.

Kemudian dari Pak Djatikusumo lah kemudian Benny mengetahui bahwa pasukan PRRI 
sudah menyingkir ke luar kota. Kepada Benny, Pak Djatikusumo memberikan 
briefing singkat,

"Pasukan PRRI dipimpin Mayor Boyke mungkin sudah berada di Permatang Siantar, 
siap melakukan serangan balasan ke kota Medan. Kamu kejar dan bekuk mereka!"

"Siap kerjakan Kolonel!" Jawab Benny.Kopral Sihombing Gugur
Chalimi Imam Santoso [wongsangar]

Pada siang hari itu juga, Benny memimpin pasukannya menyerbu Permatang Siantar 
dengan gerakan melambung, hanya ada 2 peleton RPKAD yang menyertainya, masing 
Peleton 1 dipimpin Letda CI. Santoso dan Peleton 2 oleh Letda Tatang Sudibjo. 
Sedangkan sisa pasukan RPKAD dan PGT yang diterjunkan bersamanya di Pelabuhan 
Belawan, ditinggalkan untuk menjaga keamanan kota Medan, sebelum pasukan induk 
yang lebih besar tiba.

Benny dan pasukannya menuju Tanjung Morawa, tanpa sengaja dan ia ketahui bahwa 
jalur itu tadi merupakan jalur pengunduran pasukan pemberontak.

Menjelang senja, Benny dan pasukannya sudah mencapai Permatang Siantar. Mereka 
kemudian bertemu dengan Mayor Manaf Lubis, Komandan Resimen II/TT. I dan 
pasukannya yang sedang membuat kubu pertahanan dipinggir kota. Atas petunjuk 
perwira menengah TNI asli Mandailing itu, pasukan RPKAD mengambil posisi 
penjagaan disebuah persimpangan strategis yang menghubungkan kota Permatang 
Siantar dengan Brastagi dan Prapat.

Di Simpang Tiga, dibawah lindungan Bukit Barisan yang menjulang itu, Benny 
menemukan 1 Peleton Kavaleri dan sekitar 1 Regu Polisi yang masih setia kepada 
Pusat. Sebagai satu-satunya perwira paling senior disitu, Benny langsung 
mengoper pimpinan. Para Polisi ia perintahkan menjaga jalan ke arah Brastagi. 
Kemudian datanglah seorang Bintara Kavaleri menghadap Benny.

"Lapor, Serma Kemis siap menunggu perintah Pak!" Rupanya Serma Kemis adalah 
bekas murid Benny sewaktu dia menjadi Instruktur di Sekolah Kader Infanteri 
akhir 1952.

"Wah, sampean iki bukannya di Yonif to ?" Tanya Benny heran.

"Siap. Saya sekarang di Kavaleri, Pak!" Jelas Kemis sambil menghormat.

"Ok. Sekarang kamu majukan pasukan mu itu sedikit. Arahkan moncong Panser ke 
arah Prapat. Tembak kalau ada gerakan mencurigakan. Jangan ragu-ragu!" Perintah 
Benny.

"Siap. Kerjakan!"

Serma Kemis kemudian menggerak kan Peleton nya ke posisi yang diperintahkan 
Benny. Ia menempatkan kenderaan tempur lapis baja nya M8 Greyhound dengan 
meriam 37mm menghadap Prapat. Panser beroda karet 4x4 buatan AS itu juga 
dilengkapi sepucuk SMB 12.7mm dan senapan mesin segaris bidik (coaxial) 
Browning 7.62mm. Kini pasukan Benny dapat beristirahat dan tidur dengan nyenyak 
nya malam itu karena merasa aman, mereka tenang dijaga oleh kesatuan tempur 
bersenjata berat.

Keesokan harinya muncul iring-iringan sepeda dari arah Prapat. Rupanya mereka 
adalah para buruh kelapa sawit keturunan Jawa yang bermukim di Prapat. Dari 
mereka Benny bisa mengetahui kedudukan pasukan PRRI serta posisi pertahanannya. 
Benny langsung menyiagakan pasukannya, Peleton CI. Santosa diperintahkan maju 
kedepan diikuti oleh Peleton Tatang Sudibjo. Sementara para polisi yang bersiap 
di samping dan Peleton Kavaleri serta Pansernya akan memberikan tembakan 
bantuan.

Belum pun sempat Peleton C.I. Santosa mencapai depan sebuah pengkolan, mendadak 
dari arah kiri jalan terdengar rentetan senjata berat. Peluru musuh berhamburan 
menerjang pasukan "koalisi" Benny, dan tidak berapa lama, posisi Benny dan 
pasukannya pun langsung terkepung, disirami tembakan gencar. Dalam riuh rendah 
tembakan, tiba-tiba terdengar suara letusan menggelegar! Rupanya suara itu tadi 
berasal dari Bazooka 2.5inch yang ditembakkan musuh kearah pasukan Benny. 
Untung lah pasukan PRRI belum sempat mempelajari karasteristik dari senjata 
tersebut, belum mahir menggunakannya sehingga walau banyak roket yang 
ditembakkan, tidak satupun yang menghantam telak.

Masih dalam suasana riuh rendah pertempuran, telinga Benny menangkap suara aneh 
persenjataan yang digunakan oleh PRRI, suara tersebut layaknya 
hentakan-hentakan kaki ke tanah dengan keras. Setelah melihat bahwa peluru dari 
suara senjata aneh tersebut meledak dan memencarkan serpihan besi panas, maka 
maklumlah Benny apa gerangan senjata tersebut. Itulah suara Mortir 60mm yang 
baru saja dipasok AS kepada PRRI.

Melihat Peleton CI. Santosa yang nampak stuck tidak bisa bergerak disiram 
tembakan gencar senjata berat PRRI, Benny berteriak,

"Panser, majuu!"

Mendengar perintah Benny, Serma Kemis langsung menggerakkan Pansernya maju 
sambil menembakkan kanon nya, sementara SMB 12.7mm nya memberondong sisi bukit 
yang ditengarai sebagai basis penyerangan PRRI. SMB M8-Greyhoound ini pun 
langsung memerah laras SMB nya, panas akibat tembakan berondongan ratusan 
peluru tanpa henti yang ditembakkan. Gerakan Panser yang menantang resiko berat 
menjadi bulan-bulanan Bazooka 2.5 inch PRRI sangat beresiko. Karena bisa 
dipastikan, satu saja hantaman telak dari Bazooka tadi akan membuat lumat 
Panser dan seluruh isinya termasuk Serma Kemis.

Saat bersamaan, dibawah lindungan tembakan kanon Panser, Peleton Tatang Sudibjo 
maju membantu meringankan beban Peleton CI Santosa yang terjepit sehingga 
mereka bisa bernafas lega.

Dirusuk kiri arah serangan PRRI, Kopral Sihombing, Tamtama senapan mesin sudah 
menghabiskan 2round amunisinya. Tidak terhitung lagi berapa banyak peluru yang 
dia tembakkan, juga tidak terhitung musuh yang menjadi mangsa senjatanya. 
Setelah mengisi amunisi untuk ke tiga kalinya, Sihombing merengsek maju sambil 
menunduk menuju tanggul pertahanan pasukan PRRI. Belum pun sempat dia 
berlindung dari gerakan maju tiga dua yang dia lakukan tadi, sebuah peluru 
musuh menyambar dada kirinya. Sihombing langsung limbung, ketika sebuah lagi 
peluru menyambar perutnya, dia langsung terkapar tidak bergerak lagi. CI 
Santosa yang berusaha menggapai tubuh Sihombing dan menariknya ke area yang 
aman menjadi bulan-bulan tembakan gencar, niatnya pun diurungkan. Sihombing, 
Tamtama Bren andalan Kompi Benny, penerjun pertama dalam setiap penerjunan, 
prajurit komando kenyang pengalaman tempur, gugur ditangan saudara sebangsanya 
sendiri.

Pertempuran masih berlangsung cukup lama, kemudian berakhir dengan semakin 
lemahnya tembakan balasan dari pihak PRRI dan akhirnya berhenti. Jumlah korban 
PRRI dalam pertempuran ini demikian besar. Tubuh mereka bertindih-tindihan 
mulai dari jalan raya, tanggul, bertebaran hingga ke kaki bukit dan pinggiran 
hutan.

Benny sendiri tertegun menyaksikan begitu banyak nya korban pemberontak di 
depan matanya. Rata-rata mereka masih berusia sangat muda, belasan tahun, 
berserakan hingga ke kaki bukit. Seumuran mereka sepantasnya masih menimba ilmu 
di bangku sekolah, bukan menyabung nyawa di di palagan pertempuran. Disisi 
lain, Benny sedih kehilangan Kopral Sihombing, anak buah yang sudah sekian lama 
turut bersamanya diberbagai penugasan.

Pertempuran di Simpang Tiga tersebut diberikan kepada khalayak luas. Dalam 
siaran resminya, Pemerintah RI menyebutkan, "TELAH GUGUR SEORANG PRAJURIT DARI 
RPKAD BERNAMA KOPRAL SIHOMBING". Masyarakat Medan pun terhenyak, "Lho itu kan 
nama orang kita, bukan nama Jawa!".

Rupanya selama ini PRRI menghembuskan isu bahwa perjuangan mereka adalah untuk 
menghapus dominasi etnis Jawa dalam Pemerintah RI. Gugurnya Kopral Sihombing 
telah membuktikan bahwa propaganda itu sama sekali tidak benar, bukan tentara 
Batak melawan tentara Jawa, melainlan Pemerintah melawan sekelompok oportunis.. 


 Bersambung ... 

Ditulis Samuel.Tirta (Kaskuser) dari berbagai sumber
Hormat saya

Muhammad Syahreza





-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke