Ajo Buyuang NAH sarato Palanta RN.
Walaupun diagiah rumah menteng ka founding father NKRI.
Tapi biaya hiduik indak talok dek apak awak sarupo Bung Hatta mengirim slip
gaji dan tagihan listrik ke Alm. Ali Sadikin. Ternyata tagihan listriknya
5X gaji Bung Hatta. Ali Sadikin lah yang melakukan perbaikan nasib founding
father kita.

Cerita2 iko memang paralu diulang2 untuk renungan dan pelajaran pada orang2
yang memburu jabatan publil.
On 1 May 2014 17:18, "Zubir Amin" <[email protected]> wrote:

>  Sanak Darwin n sanak palanta nn berbahagia.
> Informasi tentang kehidupan para pemimpin bangsa ini pd awal2 mula
> berdirinya Negara RI ini memang seperti nn sanak tulih.Bukan hanya
> kehidupan Inyiak HAS tapi ju ga kehidupan para pemimpin pendiri negara nn
> lain nn hiduik secara sangat sederhana.
> Kita bisa maklum pd situasi permulaan kemerdekaan rumah2 rancak spt di
> Daerah Menteng hampir kasado alahe di miliki oleh Tuan2 Belanda nn kayo2.
> Pemimpin2 para pendiri negara ini tingga didaerah2 pinggiran spt
> Tanahbang, Karet,Jatinegara,Paseban,krukut dlsb.Transportasi mereka adalah
> andong,kuretangin n kaki duo.Pdhal hampir semua pemimpin Tua ini anggota
> Volksraad kudian barubah menjaadi BPU Kemerdekaan Indonesia(BPU-KI di
> Pejambon) n kudian anggota PPKI nn menelorkan Piagam Jakarta.
> Ado curito re- Inyiak HAS ukatu tingga di Paseban(sdh) menjadi anggota
> BPU-KI, naik andong ka Pejambon.Ditangah jln manuju Pejambon kudo Andong ko
> takantuik.Inyiak ki to ko bareaksi,'masuak angin' kudo ko pak Kusia.pak
> Kusia Andong manjawab,bukan pak,'kalua angin' tu namonyo.
> Sampai di Pejambon,dilihat oleh pak Muh Yamin,Inyiak kito ko bamuram durja
> n ndak ceria,langsung disapo oleh pak Yamin,baa kok kalam sajo muko Inyiak
> di pagi ko?
> 'Lah lamo hiduik malang melintang di dunia Int n banyak pemimpin dunia
> sangko ka Den,eeh si Kusia Andong mangalahkan Den kuti ko Kudo 'e takantuik
> Den katoan 'masuak angin'.Inyo jawek 'bukan masuak angin',itu namonyo kalua
> angin.
> Tabahak galak pak Yamin,ondeh wa yoi di schaackmat rang gaek awak kiro 'e.
> Babaliak ka tampek tingga ko,sasudah penghuni Menteng kabua ka Ulando
> tahun2 1950,rumah2 rancak tu nn ditinggakan oleh Ulando Kayo2tu, oleh BK
> sabagai Pre siden diberikan kpd para menteri Kabnya.Hampir semua Menteri
> diberikan rumah di daerah Menteng.Inyiak awak diberikan rumah di Jln Has
> kini(disebrang Sekolah Kanisi us?),Pak Natsir di HOS Cokro aminto(arah jln
> Sumatra),pak Syafrudin Prawiranegara,di jln Besuki?,pak Hatta di Cikni(jln
> Diponegoro)-semuanya di daerah Elite Menteng- n
> Jadi,pd awal mulo kemerde kaan memang kehidupan n perumahan nn dimliki
> oleh tokoh2 pejuang kemerdekaan itu hidup sederhana n tinggal diperumahan
> sedehana pula.Ini berlaku semasa di Jakarta n Jogjakarta.
> Ko curito tuk sekedar melengkapi info sanak Darwin Chalidi.JB pernah lo
> tingga di daerah Menteng tu,numpang samo kakak.He3x.
> JB,DtRJ,75thn,lah babaliak ka Bonjer,Jakbar.
> Sent from my AXIS Worry Free BlackBerry® smartphone
> ------------------------------
> *From: * Darwin Chalidi <[email protected]>
> *Sender: * [email protected]
> *Date: *Thu, 1 May 2014 16:03:18 +0700
> *To: *Darwin Chalidi<[email protected]>; Rantau Net<
> [email protected]>
> *ReplyTo: * [email protected]
> *Subject: *[R@ntau-Net] (OOT) Keteladanan Haji Agus Salim
>
> Subhanallah, semoga Allah memberikan Surga untuk pejuang, pendiri,
> pahlawan2 bangsa ini. Aamiin..
> [image: = Ketika Seorang Menteri Mengontrak Rumah (Kisah Nayata)= DI dalam
> gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang-gang padat
> rumah di Jatinegara terdapat sebuah rumah mungil dengan satu ruang besar.
> Begitu pintu dibuka, akan ada koper-koper berkumpul di sudut rumah dan
> kasur-kasu digulung di sudut lainnya ruang besar itu. Di sanalah tempat
> tidur Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI) bersama istri dan
> anak-anaknya. Dikontrakkan yang lain, Agus Salim, kira-kira enam bulan
> sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya.
> Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim
> berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan,
> yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau
> pergi istirahat di lain kota atau negeri. Begitulah seperti dikisahkan Mr.
> Roem, murid dari H. Agus Salim yang juga tokoh Masyumi ini. Anies Baswedan
> dalam ‘Agus Salim: Kesederhanaan, Keteladanan yang Menggerakan’ menyebutkan
> bahwa H. Agus Salim hidup sebagai Menteri dengan pola ‘nomaden’ atau pindah
> kontrakkan ke kontrakkan lain. Dari satu gang ke gang lain. Berkali-kali
> Agus Salim pindah rumah bersama keluarganya. “Selama hidupnya dia selalu
> melarat dan miskin,” kata Profesor Willem “Wim” Schermerhorn. Wim menjadi
> ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati. (Majalah Tempo Edisi
> Khusus Agus Salim) Pernah, pada salah satu kontrakkan tersebut, toiletnya
> rusak. Setiap Agus Salim menyiram WC, air dari dalam meluap. Sang istri pun
> menangis sejadi-jadinya, karena baunya yang meluber dan air yang meleber.
> Zainatun Nahar istrinya,tak kuat lagi menahan jijik sehingga ia
> muntah-muntah. Agus Salim akhirnya melarang istrinya membuang kakus di WC
> dan ia sendiri yang membuang kotoran istirnya menggunakan pispot. Kasman
> Singodimedjo (tokoh Muhammadiyah dan Masyumi Ketua KNIP Pertama), dalam
> ‘Hidup Itu Berjuang’ mengutip perkataan mentornya yang paling terkenal:
> “leiden is lijden” (memimpin itu menderita) kata Agus Salim. Lihatlah
> bagaimana tak ada sumpah serapah meminta kenaikan jabatan, tunjangan rumah
> dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC, tunjangan dinas ke
> luar negeri untuk pelesiran, dll. Saat salah satu anak Salim wafat ia
> bahkan tak punya uang untuk membeli kain kafan. Salim membungkus jenazah
> anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan
> baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim.
> “Untuk yang mati, cukuplah kain itu.” Dalam Buku ‘Seratus Tahun Agus Salim’
> Kustiniyati Mochtar menulis, “Tak jarang mereka kekurangan uang belanja.”
> Ya, seorang diplomat ulung, menteri, pendiri Bangsa yang mewakafkan dirinya
> untuk mengabdi kepada Allah, bahwa memimpin itu adalah ibadah. Seorang yang
> memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding
> gemerlap karpet merah dan mobil Land Cruiser, Alphard, dan gemerlap jantung
> kota lainnya. Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang
> melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi kekosongan
> nurani rakyat. Ketika Wapres Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu
> impiannya hingga akhir hayat. Ketika Perdana Menteri Natsir menggunakan jas
> tambal, mengayuh sepeda ontel ke rumah kontrakkanya. Ketika Menteri
> keuangan Pak Syafrudin yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Semoga
> Allah hadirkan mereka, sebuah keteladanan yang mulai memudar di tengah
> gemerlap karpet merah Istana dan Senayan. Subhanallah...
> --------------------------- Like this And Share ---------------> Kisah Dan
> Hikmah Jika Anda tersentuh dengan Kisah di atas, tolong “share” cerita ini
> ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada
> pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita,
> terimakasih.]= Ketika Seorang Menteri Mengontrak Rumah (Kisah Nayata)=
>
> DI dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang-gang
> padat rumah di Jatinegara terdapat sebuah rumah mungil dengan satu ruang
> besar. Begitu pintu dibuka, akan ada koper-koper berkumpul di sudut rumah
> dan kasur-kasu digulung di sudut lainnya ruang besar itu. Di sanalah tempat
> tidur Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI) bersama istri dan
> anak-anaknya.
>
> Dikontrakkan yang lain, Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah
> letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar
> makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim berpendapat bahwa
> dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia
> sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat
> di lain kota atau negeri.
>
> Begitulah seperti dikisahkan Mr. Roem, murid dari H. Agus Salim yang juga
> tokoh Masyumi ini. Anies Baswedan dalam ‘Agus Salim: Kesederhanaan,
> Keteladanan yang Menggerakan’ menyebutkan bahwa H. Agus Salim hidup sebagai
> Menteri dengan pola ‘nomaden’ atau pindah kontrakkan ke kontrakkan lain.
>
> Dari satu gang ke gang lain. Berkali-kali Agus Salim pindah rumah bersama
> keluarganya. “Selama hidupnya dia selalu melarat dan miskin,” kata Profesor
> Willem “Wim” Schermerhorn. Wim menjadi ketua delegasi Belanda dalam
> perundingan Linggarjati. (Majalah Tempo Edisi Khusus Agus Salim)
>
> Pernah, pada salah satu kontrakkan tersebut, toiletnya rusak. Setiap Agus
> Salim menyiram WC, air dari dalam meluap. Sang istri pun menangis
> sejadi-jadinya, karena baunya yang meluber dan air yang meleber. Zainatun
> Nahar istrinya,tak kuat lagi menahan jijik sehingga ia muntah-muntah. Agus
> Salim akhirnya melarang istrinya membuang kakus di WC dan ia sendiri yang
> membuang kotoran istirnya menggunakan pispot.
>
> Kasman Singodimedjo (tokoh Muhammadiyah dan Masyumi Ketua KNIP Pertama),
> dalam ‘Hidup Itu Berjuang’ mengutip perkataan mentornya yang paling
> terkenal: “leiden is lijden” (memimpin itu menderita) kata Agus Salim.
> Lihatlah bagaimana tak ada sumpah serapah meminta kenaikan jabatan,
> tunjangan rumah dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC,
> tunjangan dinas ke luar negeri untuk pelesiran, dll.
>
> Saat salah satu anak Salim wafat ia bahkan tak punya uang untuk membeli
> kain kafan. Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan
> kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup
> lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim. “Untuk yang mati, cukuplah
> kain itu.”
>
> Dalam Buku ‘Seratus Tahun Agus Salim’ Kustiniyati Mochtar menulis, “Tak
> jarang mereka kekurangan uang belanja.” Ya, seorang diplomat ulung,
> menteri, pendiri Bangsa yang mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada
> Allah, bahwa memimpin itu adalah ibadah.
>
> Seorang yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan
> tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil Land Cruiser, Alphard,
> dan gemerlap jantung kota lainnya. Kita tentu rindu sosok seperti mereka,
> bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang
> mengisi kekosongan nurani rakyat.
>
> Ketika Wapres Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu impiannya hingga
> akhir hayat. Ketika Perdana Menteri Natsir menggunakan jas tambal, mengayuh
> sepeda ontel ke rumah kontrakkanya. Ketika Menteri keuangan Pak Syafrudin
> yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Semoga Allah hadirkan mereka,
> sebuah keteladanan yang mulai memudar di tengah gemerlap karpet merah
> Istana dan Senayan.
>
> Subhanallah...
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke