Pak DC, tampaknya agak babedo jo Pak Emil di bawah jo, yo? Atau data dari
Nyiak Google ko dibuek bak katonyo surang dek Editor MERDEKA.COM kantuik
tu? Paneh pulo rasonyo hati ambo, indak saketek pun disingguang atau
disabuik singkok kato-kato Kotogadang, Bukiktinggi atau Sumatra Barat.


Ukh....!!!!

Salam.............................,


*mm****


*Emil Salim*

<http://profil.merdeka.com/indonesia/e/emil-salim/><http://profil.merdeka.com/indonesia/e/emil-salim/foto/>
 ------------------------------

Nama Lengkap : *Emil Salim*

Tempat Lahir : *Lahat | Sumatera Selatan……………………..?*

Tanggal Lahir : *Minggu, 8 Juni 1930 *

Zodiac : *Gemini*


Istri : *Roosminnie Roza *
Anak : *Amelia Farina *, *Roosdinal Ramdhani*

BIOGRAFI

Professor Dr. Emil Salim merupakan seorang ahli ekonomi kelahiran Sumatera
Selatan (?). Ia dulu mengenyam pendidikan di Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia pada tahun 1959. Ia lalu berhasil meraih gelar PhD bidang ekonomi
dari University of California sebelum akhirnya memutuskan kembali ke
Indonesia untuk mengajar ekonomi di Universitas Indonesia ada tahun 1964.

Pada tahun 1974, ia terpilih menjadi profesor perkembangan ekonomi di
Universitas Indonesia. Ia sering mengikuti dan terlibat dalam beberapa
posisi penting di pemerintahan Indonesia seperti tim pengembangan ekonomi
masa Presiden Soeharto (1966), anggota tim penasehat Menteri Sumber Daya
Manusia (1967-1968), pemimpin tim teknis Kelompok Stabilitas Ekonomi dan
seorang anggota dalam kabinet Gorong Royong (1967-1969). Pernah pula ia
menempati posisi sebagai wakil pemimpin Bappenas, Menteri transportasi,
Menteri lingkungan hidup (1978-1983), dan yang terkini adalah ia
mengabdikan diri kepada Susilo Bambang Yudhoyono.

Profesor Salim merupakan pemimpin di Foundation for Sustainable Development
dan Kehati Foundation di lingkungan warga negara Indonesia yang tinggal di
Amerika Serikat.

Pada bulan Juli 2011, World Bank mengumumkan sebuah review bebas yang
dinamakan Extractive Industries Review. Dr. Salim turut hadir dan
berkontribusi terhadap penandatanganan review tersebut. Dr. Salim juga
membuka kesempatan konsultasi untuk para penanggungjawab pada tahun 202 dan
2003. Hasil review tersebut dipublikasikan pada tahun 2004 dalam bentuk
sebuah laporan final berjudul "Striking a Better Balance".

Riset dan analisa oleh Pilar Asa Susila

PENDIDIKAN

   - Frobel School, Banjarmasin Europesche Lagere School, Banjarmasin
   (1936-1940), Lahat (1940-1942).
   - Dai Ichi Syo-Gakko, Palembang (1942-1944).
   - Sekolah Menengah Umum Pertama, Palembang (1945-1948).
   - Sekolah Menengah Atas I, Bogor (1948-1951).
   - Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (1951-1958).
   - University of California, Berkeley, AS, Department of Economics
   (1959-1964),(Master of Arts, 1962; Ph.D, 1964 dengan disertasi berjudul
   Institutional  Structure and Economic Development).

KARIR

   - Guru Besar FEUI (1983).
   - Asisten Dosen FE UI.
   - Dosen, dan selanjutnya guru besar FE UI.
   - Tim Penasihat Ekonomi Presiden (1966).
   - Anggota DPR GR (1967-1969).
   - Anggota Tim Penasihat Menteri Tenaga Kerja (1967-1968).
   - Ketua dan Anggota Tim Teknis Badan Stabilitas Ekonomi (1967-1969).
   - Dosen Seskoad dan Seskoal (1971-1973).
   - Menteri Negara Penyempurnaan dan Pembersihan Aparatur Negara merangkap
   Wakil Kepala Bappenas (1971-1973).
   - Menteri Perhubungan (Kabinet Pembangunan II 1973-1978).
   - Menteri Negara Urusan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (Kabinet
   Pembangunan III 1978-1983.
   - Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Kabinet
   Pembangunan IV-V 1983-1993.
   - Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN-1999-2000).
   - Anggota Dewan Penasihat Presiden (2007-2009).
   - Kegiatan lain:
   - Anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1950).
   - Ketua IPPI Bogor (1949).
   - Ketua Tentara Pelajar Palembang (1946-1949).
   - Ketua Perhimpunan Peningkatan Kebudayaan Masyarakat (1983).
   - Anggota Komisi Lingkungan dan Pembangunan Perserikatan Bangsa-Bangsa
   (Komisi Brundtland) mewakili Asia bersama Saburo Okita dari Jepang
   (1984-1987).
   - Deputy Chairperson pada Dewan Penasehat Tinggi PBB untuk Pembangunan
   Berkelanjutan (1992).
   - Anggota Kehormatan Persatuan Insinyur Indonesia (1992).
   - Co-chair pada Komisi Dunia untuk Hutan dan Pembangunan Berkelanjutan
   (1994).
   - Pendiri dan Ketua Yayasan Pembangunan Berkelanjutan.
   - Program Kepemimpinan Mengenai Lingkungan dan Pembangunan
   - LEAD (1994).
   - Pendiri dan Ketua Umum Yayasan Keragaman Hayati -Kehati (1994)
   - Ketua Tim Screening UNDP (1999).
   - Anggota Komnas HAM.
   - Organisasi:
   - Ketua Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI) Sumatera Selatan
   (1946-1949).
   - Ketua Tentara Pelajar Palembang (1946-1949).
   - Ketua IPPI Bogor dan anggota Korps Mobilisasi Pelajar Siliwangi (1949).
   - PPMI (Perserikatan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia) 1954.

PENGHARGAAN

   - Bintang Mahaputera Adipradana (1973).
   - Pria Berbusana Terbaik (1980) - Golden ARK (Comandeur) of Netherlands
   (1982).
   - J Paul Getty Wildlife Concervation Prize (1990) Doctor Honoris Causa
   dari University .Kebangsaan Malaysia (1996).
   - Zayed International Prize for the Environment dari Uni Emirat Arab
   (2006).
   - Blue Planet Prize ke-15 dari Yayasan Asahi Glass, Jepang (2006).



---------- Pesan terusan ----------
Dari: Darwin Chalidi <[email protected]>
Tanggal: 1 Mei 2014 16.03
Subjek: [R@ntau-Net] (OOT) Keteladanan Haji Agus Salim
Kepada: Darwin Chalidi <[email protected]>, Rantau Net <
[email protected]>


Subhanallah, semoga Allah memberikan Surga untuk pejuang, pendiri,
pahlawan2 bangsa ini. Aamiin..
[image: = Ketika Seorang Menteri Mengontrak Rumah (Kisah Nayata)= DI dalam
gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang-gang padat
rumah di Jatinegara terdapat sebuah rumah mungil dengan satu ruang besar.
Begitu pintu dibuka, akan ada koper-koper berkumpul di sudut rumah dan
kasur-kasu digulung di sudut lainnya ruang besar itu. Di sanalah tempat
tidur Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI) bersama istri dan
anak-anaknya. Dikontrakkan yang lain, Agus Salim, kira-kira enam bulan
sekali mengubah letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya.
Kadang-kadang kamar makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim
berpendapat bahwa dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan,
yang manusia sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau
pergi istirahat di lain kota atau negeri. Begitulah seperti dikisahkan Mr.
Roem, murid dari H. Agus Salim yang juga tokoh Masyumi ini. Anies Baswedan
dalam ‘Agus Salim: Kesederhanaan, Keteladanan yang Menggerakan’ menyebutkan
bahwa H. Agus Salim hidup sebagai Menteri dengan pola ‘nomaden’ atau pindah
kontrakkan ke kontrakkan lain. Dari satu gang ke gang lain. Berkali-kali
Agus Salim pindah rumah bersama keluarganya. “Selama hidupnya dia selalu
melarat dan miskin,” kata Profesor Willem “Wim” Schermerhorn. Wim menjadi
ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati. (Majalah Tempo Edisi
Khusus Agus Salim) Pernah, pada salah satu kontrakkan tersebut, toiletnya
rusak. Setiap Agus Salim menyiram WC, air dari dalam meluap. Sang istri pun
menangis sejadi-jadinya, karena baunya yang meluber dan air yang meleber.
Zainatun Nahar istrinya,tak kuat lagi menahan jijik sehingga ia
muntah-muntah. Agus Salim akhirnya melarang istrinya membuang kakus di WC
dan ia sendiri yang membuang kotoran istirnya menggunakan pispot. Kasman
Singodimedjo (tokoh Muhammadiyah dan Masyumi Ketua KNIP Pertama), dalam
‘Hidup Itu Berjuang’ mengutip perkataan mentornya yang paling terkenal:
“leiden is lijden” (memimpin itu menderita) kata Agus Salim. Lihatlah
bagaimana tak ada sumpah serapah meminta kenaikan jabatan, tunjangan rumah
dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC, tunjangan dinas ke
luar negeri untuk pelesiran, dll. Saat salah satu anak Salim wafat ia
bahkan tak punya uang untuk membeli kain kafan. Salim membungkus jenazah
anaknya dengan taplak meja dan kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan
baru. “Orang yang masih hidup lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim.
“Untuk yang mati, cukuplah kain itu.” Dalam Buku ‘Seratus Tahun Agus Salim’
Kustiniyati Mochtar menulis, “Tak jarang mereka kekurangan uang belanja.”
Ya, seorang diplomat ulung, menteri, pendiri Bangsa yang mewakafkan dirinya
untuk mengabdi kepada Allah, bahwa memimpin itu adalah ibadah. Seorang yang
memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding
gemerlap karpet merah dan mobil Land Cruiser, Alphard, dan gemerlap jantung
kota lainnya. Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang
melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi kekosongan
nurani rakyat. Ketika Wapres Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu
impiannya hingga akhir hayat. Ketika Perdana Menteri Natsir menggunakan jas
tambal, mengayuh sepeda ontel ke rumah kontrakkanya. Ketika Menteri
keuangan Pak Syafrudin yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Semoga
Allah hadirkan mereka, sebuah keteladanan yang mulai memudar di tengah
gemerlap karpet merah Istana dan Senayan. Subhanallah...
--------------------------- Like this And Share ---------------> Kisah Dan
Hikmah Jika Anda tersentuh dengan Kisah di atas, tolong “share” cerita ini
ke teman-teman yang lain agar mereka juga dapat memetik hikmah yang ada
pada cerita di atas. Semoga dapat bermanfaat bagi kehidupan kita,
terimakasih.]= Ketika Seorang Menteri Mengontrak Rumah (Kisah Nayata)=

DI dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang-gang
padat rumah di Jatinegara terdapat sebuah rumah mungil dengan satu ruang
besar. Begitu pintu dibuka, akan ada koper-koper berkumpul di sudut rumah
dan kasur-kasu digulung di sudut lainnya ruang besar itu. Di sanalah tempat
tidur Haji Agus Salim (Menteri Luar Negeri RI) bersama istri dan
anak-anaknya.

Dikontrakkan yang lain, Agus Salim, kira-kira enam bulan sekali mengubah
letak meja kursi, lemari sampai tempat tidur rumahnya. Kadang-kadang kamar
makan ditukarnya dengan kamar tidur. Haji Agus Salim berpendapat bahwa
dengan berbuat demikian ia merasa mengubah lingkungan, yang manusia
sewaktu-waktu perlukan tanpa pindah tempat atau rumah atau pergi istirahat
di lain kota atau negeri.

Begitulah seperti dikisahkan Mr. Roem, murid dari H. Agus Salim yang juga
tokoh Masyumi ini. Anies Baswedan dalam ‘Agus Salim: Kesederhanaan,
Keteladanan yang Menggerakan’ menyebutkan bahwa H. Agus Salim hidup sebagai
Menteri dengan pola ‘nomaden’ atau pindah kontrakkan ke kontrakkan lain.

Dari satu gang ke gang lain. Berkali-kali Agus Salim pindah rumah bersama
keluarganya. “Selama hidupnya dia selalu melarat dan miskin,” kata Profesor
Willem “Wim” Schermerhorn. Wim menjadi ketua delegasi Belanda dalam
perundingan Linggarjati. (Majalah Tempo Edisi Khusus Agus Salim)

Pernah, pada salah satu kontrakkan tersebut, toiletnya rusak. Setiap Agus
Salim menyiram WC, air dari dalam meluap. Sang istri pun menangis
sejadi-jadinya, karena baunya yang meluber dan air yang meleber. Zainatun
Nahar istrinya,tak kuat lagi menahan jijik sehingga ia muntah-muntah. Agus
Salim akhirnya melarang istrinya membuang kakus di WC dan ia sendiri yang
membuang kotoran istirnya menggunakan pispot.

Kasman Singodimedjo (tokoh Muhammadiyah dan Masyumi Ketua KNIP Pertama),
dalam ‘Hidup Itu Berjuang’ mengutip perkataan mentornya yang paling
terkenal: “leiden is lijden” (memimpin itu menderita) kata Agus Salim.
Lihatlah bagaimana tak ada sumpah serapah meminta kenaikan jabatan,
tunjangan rumah dinas, tunjangan kendaraan, tunjangan kebersihan WC,
tunjangan dinas ke luar negeri untuk pelesiran, dll.

Saat salah satu anak Salim wafat ia bahkan tak punya uang untuk membeli
kain kafan. Salim membungkus jenazah anaknya dengan taplak meja dan
kelambu. Ia menolak pemberian kain kafan baru. “Orang yang masih hidup
lebih berhak memakai kain baru,” kata Salim. “Untuk yang mati, cukuplah
kain itu.”

Dalam Buku ‘Seratus Tahun Agus Salim’ Kustiniyati Mochtar menulis, “Tak
jarang mereka kekurangan uang belanja.” Ya, seorang diplomat ulung,
menteri, pendiri Bangsa yang mewakafkan dirinya untuk mengabdi kepada
Allah, bahwa memimpin itu adalah ibadah.

Seorang yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya
dibanding gemerlap karpet merah dan mobil Land Cruiser, Alphard, dan
gemerlap jantung kota lainnya. Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan
tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan yang mengisi
kekosongan nurani rakyat.

Ketika Wapres Mohammad Hata tak mampu membeli sepatu impiannya hingga akhir
hayat. Ketika Perdana Menteri Natsir menggunakan jas tambal, mengayuh
sepeda ontel ke rumah kontrakkanya. Ketika Menteri keuangan Pak Syafrudin
yang tak mampu membeli popok untuk anaknya. Semoga Allah hadirkan mereka,
sebuah keteladanan yang mulai memudar di tengah gemerlap karpet merah
Istana dan Senayan.

Subhanallah...

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke