A Bana Takdir Ilahi Tu?
------------------------------

*Beriman kepada Takdir*

Kaum muslimin yang semoga dimuliakan oleh Allah *ta’ala*, salah satu rukun
iman yang wajib diimani oleh setiap muslim adalah beriman kepada takdir
baik maupun buruk.

Perlu diketahui bahwa beriman kepada takdir ada empat tingkatan:

   1. Beriman kepada ilmu Allah yang ajali sebelum segala sesuatu itu ada.
   Di antaranya seseorang harus beriman bahwa amal perbuatannya telah
   diketahui (diilmui) oleh Allah sebelum dia melakukannya.
   2. Mengimani bahwa Allah telah menulis takdir di Lauhul Mahfuzh.
   3. Mengimani *masyi’ah* (kehendak Allah) bahwa segala sesuatu yang
   terjadi adalah karena kehendak-Nya.
   4. Mengimani bahwa Allah telah menciptakan segala sesuatu. Allah adalah
   Pencipta satu-satunya dan selain-Nya adalah makhluk termasuk juga amalan
   manusia.

Dalil dari tingkatan pertama dan kedua di atas adalah firman Allah
*ta’ala*(yang artinya), “*Apakah
kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada
di langit dan di bumi?; bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah
kitab (Lauh Mahfuzh). Sesungguhnya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.*”
(QS. Al Hajj [22]: 70). Kemudian dalil dari tingkatan ketiga di atas adalah
firman Allah (yang artinya), “*Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh
jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.*” (QS. At
Takwir [81]: 29). Sedangkan untuk tingkatan keempat, dalilnya adalah firman
Allah (yang artinya), “*Allah menciptakan kamu dan apa saja yang kamu
perbuat.”* (QS. Ash-Shaffaat [37]: 96). Pada ayat ‘*Wa ma ta’malun’* (dan
apa saja yang kamu perbuat) menunjukkan bahwa perbuatan manusia adalah
ciptaan Allah.

*Macam-Macam Takdir*

Takdir itu ada 2 macam:

*[1] Takdir umum mencakup segala yang ada*. Takdir ini dicatat di Lauhul
Mahfuzh. Dan Allah telah mencatat takdir segala sesuatu hingga hari kiamat.
Takdir ini umum bagi seluruh makhluk. Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa
sallam* bersabda, “*Sesungguhnya yang pertama kali diciptakan Allah adalah
qalam (pena). Allah berfirman kepada qalam tersebut, “Tulislah”. Kemudian
qalam berkata, “Wahai Rabbku, apa yang akan aku tulis?” Allah berfirman,
“Tulislah takdir segala sesuatu yang terjadi hingga hari kiamat.*” (HR. Abu
Daud. Dikatakan *shohih* oleh Syaikh Al Albani dalam *Shohih wa Dho’if
Sunan Abi Daud*).

*[2] Takdir yang merupakan rincian dari takdir yang umum*. Takdir ini
terdiri dari:

*(a) Takdir ‘Umri* yaitu takdir sebagaimana terdapat pada hadits Ibnu
Mas’ud, di mana janin yang sudah ditiupkan ruh di dalam rahim ibunya akan
ditetapkan mengenai 4 hal: (1) rizki, (2) ajal, (3) amal, dan (4) sengsara
atau berbahagia.

*(b) Takdir Tahunan* yaitu takdir yang ditetapkan pada malam *lailatul
qadar* mengenai kejadian dalam setahun. Allah *ta’ala* berfirman (yang
artinya), “*Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah*.”
(QS. Ad Dukhan [44]: 4). Ibnu Abbas mengatakan, “Pada malam lailatul qadar,
ditulis pada *ummul kitab* segala kebaikan, keburukan, rizki dan ajal yang
terjadi dalam setahun.” (Lihat *Ma’alimut Tanzil*, Tafsir Al Baghowi)

Seorang muslim harus beriman dengan takdir yang umum dan terperinci ini.
Barangsiapa yang mengingkari sedikit saja dari keduanya, maka dia tidak
beriman kepada takdir. Dan berarti dia telah mengingkari salah satu rukun
iman yang wajib diimani.

*Salah Dalam Menyikapi Takdir *

Dalam menyikapi takdir Allah, ada yang mengingkari takdir dan ada pula yang
terlalu berlebihan dalam menetapkannya.

Yang pertama ini dikenal dengan *Qodariyyah*. Dan di dalamnya ada dua
kelompok lagi. Kelompok pertama adalah yang paling ekstrem. Mereka
mengingkari ilmu Allah terhadap segala sesuatu dan mengingkari pula apa
yang telah Allah tulis di Lauhul Mahfuzh. Mereka mengatakan bahwa Allah
memerintah dan melarang, namun Allah tidak mengetahui siapa yang taat dan
berbuat maksiat. Perkara ini baru saja diketahui, tidak didahului oleh ilmu
Allah dan takdirnya. Namun kelompok seperti ini sudah musnah dan tidak ada
lagi.

Kelompok kedua adalah yang menetapkan ilmu Allah, namun meniadakan masuknya
perbuatan hamba pada takdir Allah. Mereka menganggap bahwa perbuatan hamba
adalah makhluk yang berdiri sendiri, Allah tidak menciptakannya dan tidak
pula menghendakinya. Inilah madzhab *mu’tazilah*.

Kebalikan dari Qodariyyah adalah kelompok yang berlebihan dalam menetapkan
takdir sehingga hamba seolah-olah dipaksa tanpa mempunyai kemampuan dan
*ikhtiyar* (usaha) sama sekali. Mereka mengatakan bahwasanya hamba itu
dipaksa untuk menuruti takdir. Oleh karena itu, kelompok ini dikenal dengan
*Jabariyyah*.

Keyakinan dua kelompok di atas adalah keyakinan yang salah sebagaimana
ditunjukkan dalam banyak dalil. Di antaranya adalah firman Allah (yang
artinya), “*(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang
lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali
apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.*” (QS. At Takwir [81]:
28-29). Ayat ini secara tegas membantah pendapat yang salah dari dua
kelompok di atas. Pada ayat, “*(yaitu) bagi siapa di antara kamu yang mau
menempuh jalan yang lurus*” merupakan bantahan untuk *jabariyyah* karena
pada ayat ini Allah menetapkan adanya kehendak (pilihan) bagi hamba. Jadi
manusia tidaklah dipaksa dan mereka berkehendak sendiri. Kemudian pada ayat
selanjutnya, “*Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu)
kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam”* merupakan bantahan
untuk *qodariyyah* yang mengatakan bahwa kehendak manusia itu berdiri
sendiri dan diciptakan oleh dirinya sendiri tanpa tergantung pada kehendak
Allah. Ini perkataan yang salah karena pada ayat tersebut, Allah mengaitkan
kehendak hamba dengan kehendak-Nya.

*Keyakinan yang Benar Dalam Mengimani Takdir*

Keyakinan yang benar adalah bahwa semua bentuk ketaatan, maksiat, kekufuran
dan kerusakan terjadi dengan *ketetapan Allah* karena tidak ada pencipta
selain Dia. Semua perbuatan hamba yang baik maupun yang buruk adalah
termasuk makhluk Allah. Dan hamba tidaklah dipaksa dalam setiap yang dia
kerjakan, bahkan hambalah yang memilih untuk melakukannya.

As Safariny mengatakan, “Kesimpulannya bahwa mazhab ulama-ulama terdahulu
(salaf) dan Ahlus Sunnah yang hakiki adalah meyakini bahwa Allah
menciptakan kemampuan, kehendak, dan perbuatan hamba. Dan hambalah yang
menjadi pelaku perbuatan yang dia lakukan secara hakiki. Dan Allah
menjadikan hamba sebagai pelakunya, sebagaimana firman-Nya (yang
artinya), “*Dan
kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila
dikehendaki Allah*” (QS. At Takwir [81]: 29). Maka dalam ayat ini Allah
menetapkan kehendak hamba dan Allah mengabarkan bahwa kehendak hamba ini
tidak terjadi kecuali dengan kehendak-Nya. Inilah dalil yang tegas yang
dipilih oleh Ahlus Sunnah.”

Sebagian orang ada yang salah paham dalam memahami takdir. Mereka menyangka
bahwa seseorang yang mengimani takdir itu *hanya pasrah tanpa melakukan
sebab sama sekali*. Contohnya adalah seseorang yang meninggalkan istrinya
berhari-hari untuk berdakwah keluar kota. Kemudian dia tidak meninggalkan
sedikit pun harta untuk kehidupan istri dan anaknya. Lalu dia mengatakan,
“Saya pasrah, biarkan Allah yang akan memberi rizki pada mereka”. Sungguh
ini adalah suatu kesalahan dalam memahami takdir.

Ingatlah bahwa Allah memerintahkan kita untuk mengimani takdir-Nya, di
samping itu Allah juga memerintahkan kita untuk mengambil sebab dan
melarang kita bermalas-malasan. Apabila kita telah mengambil sebab, namun
kita mendapatkan hasil yang sebaliknya, maka kita tidak boleh berputus asa
dan bersedih karena hal ini sudah menjadi takdir dan ketentuan Allah. Oleh
karena itu, Nabi *shallallahu ‘alaihi wa sallam* bersabda, “*Bersemangatlah
dalam hal yang bermanfaat bagimu. Dan minta tolonglah pada Allah dan
janganlah malas. Apabila kamu tertimpa sesuatu, janganlah kamu berkata:
‘Seandainya aku berbuat demikian, tentu tidak akan begini atau begitu’,
tetapi katakanlah: ‘Qodarollahu wa maa sya’a fa’al’ (Ini telah ditakdirkan
oleh Allah dan Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya) karena
ucapan’seandainya’ akan membuka (pintu) setan.*” (HR. Muslim)

*Buah Beriman Kepada Takdir*

Di antara buah dari beriman kepada takdir dan ketetapan Allah adalah hati
menjadi tenang dan tidak pernah risau dalam menjalani hidup ini. Seseorang
yang mengetahui bahwa musibah itu adalah takdir Allah, maka dia yakin bahwa
hal itu pasti terjadi dan tidak mungkin seseorang pun lari darinya.

Dari Ubadah bin Shomit, beliau pernah mengatakan pada anaknya, “Engkau
tidak dikatakan beriman kepada Allah hingga engkau beriman kepada takdir
yang baik maupun yang buruk dan engkau harus mengetahui bahwa apa saja yang
akan menimpamu tidak akan luput darimu dan apa saja yang luput darimu tidak
akan menimpamu. Saya mendengar Rasulullah *shallallahu ‘alaihi wa
sallam*bersabda, “*Takdir
itu demikian. Barangsiapa yang mati dalam keadaan tidak beriman seperti
ini, maka dia akan masuk neraka*.” (*Shohih*. Lihat *Silsilah Ash
Shohihah*no. 2439)

Maka apabila seseorang memahami takdir Allah dengan benar, tentu dia akan
menyikapi segala musibah yang ada dengan tenang. Hal ini pasti berbeda
dengan orang yang tidak beriman pada takdir dengan benar, yang sudah barang
tentu akan merasa sedih dan gelisah dalam menghadapi musibah. Semoga kita
dimudahkan oleh Allah untuk sabar dalam menghadapi segala cobaan yang
merupakan takdir Allah.

Ya Allah, kami meminta kepada-Mu surga serta perkataan dan amalan yang
mendekatkan kami kepadanya. Dan kami berlindung kepada-Mu dari neraka serta
perkataan dan amalan yang dapat mengantarkan kami kepadanya. Ya Allah, kami
memohon kepada-Mu, jadikanlah semua takdir yang Engkau tetapkan bagi kami
adalah baik. *Amin Ya Mujibbad Da’awat*. (Ciguak : *www.muslim.or.id
<http://www.muslim.or.id>*)

*Sumber Rujukan Utama: *
[1] *Al Irsyad ila Shohihil I’tiqod*, Syaikh Fauzan Al Fauzan
[2] *Syarh Al Aqidah Al Wasithiyyah*, Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin

***


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Muchwardi Muchtar <[email protected]>
Tanggal: 5 Mei 2014 06.49
Subjek: Fwd: [R@ntau-Net] UMAT SLAM MENGHADAPI PILPRES 9 JULI 2014
Kepada: [email protected]


..............“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum
kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa yang pada diri
mereka”................ QS (13) Ar Ra'd :11


---------- Pesan terusan ----------
Dari: Zorion Anas <[email protected]>
Tanggal: 5 Mei 2014 06.38
Subjek: Re: [R@ntau-Net] UMAT SLAM MENGHADAPI PILPRES 9 JULI 2014
Kepada: [email protected]



Bismillahirrahmanirrahiim. Dan ikutilah apa yang diwahyukan kepadamu, dan
bersabarlah hingga Allah memberi keputusan dan Dia adalah Hakim yang
sebaik-baiknya. YUNUS 10 : 10

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke