Assalamu'alaikum wr.wb.

http://garudamiliter.blogspot.com/2014/05/kompi-benny-pemburu-prri-3.html


Sebelumnya merupakan perjalanan Kompi Benny mulai dari Lap. Udara Simpang
Tiga Pekanbaru-Medan, hingga ke Permatang Siantar. Sekarang ini merupakan
OPERASI 17 AGUSTUS, yang merupakan OPERASI PAMUNGKAS dalam kiprah
perjalanan KOMPI BENNY dalam penumpasan PRRI.
*Operasi pamungkas Merebut Kota Padang*[image:
http://dc647.4shared.com/doc/Uio_-R59/preview_html_39d4f97c.jpg]<http://dc647.4shared.com/doc/Uio_-R59/preview_html_39d4f97c.jpg>*Operasi
17 Agustus [google]*

Dengan jatuhnya Pekanbaru dan Medan maka tinggal kota Padang yang masih
dikuasai oleh PRRI, untuk merebut ibukota pemberontak itu, maka disiapkan
lah Operasi 17 Agustus, suatu Operasi Militer Pamungkas yang dipimpin oleh
Kolonel Ahmad Yani.

"Apapun, bagaimanapun, berapapun biaya-nya, Padang harus kita rebut! Kita
akan melancarkan konsep serangan Operasi Gabungan, persiapkan dengan
matang!" Bunyi *briefing* Kolonel Ahmad Yani kepada para staf operasinya.

Konsep Operasi Gabungan dengan eskalasi besar ini melibatkan Operasi Lintas
Udara (*Airbone*) dengan Operasi Pendaratan Lintas Laut secara serentak.
OPS LINUD adalah tugas satuan RPKAD dan PGT, sedangkan KKO akan melakukan
OPS LINTAS LAUT. Satuan gabungan udara dan amfibi akan mendapatkan
perlindungan dari kapal-kapal ALRI serta payung udara P-51 Mustang dan B-25
Mitchell.

Djam D 06.00 - Hari H 17 April 1958 Operasi 17 Agustus di lancarkan.
Seperti biasa, sebagai ujung tombak adalah Kompi RPKAD pimpinan Benny.
Tugas Kompi Benny cukup berat, karena bukan hanya harus merebut pangkalan
udara Tabing dari tangan pemberontak, tapi juga memandu/membuat pancangan
aman bagi penerjunan pasukan PGT dan perbekalan dalam *sortie* berikutnya.

Mengambil pengalaman sewaktu serbuan di Pekanbaru dan Medan kemarin, Benny
menyadari betapa pentingnya payung cadangan bagi pasukan yang akan terjun
ke palagan. Oleh karena itu Benny merencanakan segala sesuatunya dengan
lebih baik. Benny memerintahkan seluruh anggotanya membawa payung cadangan
serta ekstra amunisi karena pasukan PRRI yang dihadapi kali ini pasti jauh
lebih siap dibanding rekan-rekannya di Pekanbaru dan Medan.

PRRI Padang yang dikomandoi oleh Letkol Ahmad Hussein memang sudah
menyiapkan sambutan "*spesial*" bagi pasukan penyerbu. Selain diperkuat
dengan beberapa batalyon bersenjata lengkap, seluruh Pangkalan Udara Tabing
dipenuhi ribuan bambu-bambu runcing yang dipancangkan mendongak keatas,
siap memangsa siapa saja yang mencoba menyerbu dari udara.

"Mereka memasang ribuan perangkap di Lanud Tabing. Bambu-bambu runcing yang
dipancang mendongak seperti tusuk sate saja, siap memangsa pasukan Linud"
demikian ulasan Letkol Udara Wiriadinata dalam laporannya kepada KSAD
Mayjen TNI AH.Nasution.

Di daerah perbukitan sekitar sekitar pelabuhan Teluk Bayur, 1 Kompi
Artileri PRRI bersiaga siap membombardier sebarang pendaratan di Tabing,
bahkan perairan antara Pantai Air Manis hingga Gunung Padang dijaga tidak
kurang 20 pucuk SMB Browning 12.7mm.*Antara Hidup dan Mati di Angkasa Lanud
Tabing*[image: 
http://indomiliter.files.wordpress.com/2013/07/gajah.jpg]<http://indomiliter.files.wordpress.com/2013/07/gajah.jpg>*KRI
Gajah Mada [indomiliter]*

Pesawat C-47 Dakota yang membawa Kompi Benny memasuki Padang dari arah
laut, iring-iringan pesawat melewati eskader ALRI dibawah yang sedang
melakukan bombamdemen pantai dipimpin KRI Gajah Mada. Kapal type Destroyer
hasil hibah AL Belanda pada akhir 1950 itu merupakan kapal perang
tercanggih dengan persenjataan paling hebat yang dimiliki Armada RI.
Semakin mendekat ke Lanud Tabing, mereka disambut dentuman artileri
penangkis serangan udara milik PRRI.

Seperti biasa Benny menjadi penerjun 2. Gugurnya Kopral Sihombing di
Simpang Tiga Permatang Siantar yang biasanya selalu menjadi orang pertama
yang terjun digantikan oleh Sersan Solikhin. Benny sendiri merasakan
seperti ada sesuatu yang hilang dalam operasi kali ini. Sihombing yang
sudah bersamanya sejak operasi penumpasan DI/TII di Jawa Barat sudah tidak
bersamanya lagi.

Lampu merah menyala. "Penerjun siap dipintu!" Teriak *Jumpmaster*. Benny
dan anak buahnya pun berdiri menuju pintu mengikut urutan nya masing-masing.

*Beeep! Green light! "Go!!*" Tanpa ragu_ragu Serda Solikhin sebagai
Penerjun 1 menerjang keluar pesawat. Ketika tiba giliran Benny, ketika ia
bersiap-siap mendadak pesawat oleng dan bergetar keras. Rupanya pesawat
berusaha menghindari tembakan artileri penangkis serangan udara dari bawah,
yang jelas gerakan pesawat tersebut membuat kaki Benny terlilit *static
line*, tali pengikat penerjun pada pesawat. Benny pun spontan mundur
selangkah untuk melepaskan lilitan tersebut, namun langkah mundur Benny ini
justru disalah artikan oleh Jumpmaster di pintu pesawat, ia mengira Benny
ragu-ragu terjun. Tanpa ragu-ragu dengan dorongan keras Jumpmaster mendepak
Benny keluar pesawat.

Benny didepak keluar dari badan pesawat dengan static line masih melilit
kakinya. Kontan saja Benny*stuck* di bawah badan pesawat, terhempas-hempas
oleh angin, tali melilit kaki, dengan payung kuncup! Ketika Benny masih
berjuang antara hidup dan mati dengan lilitan *static line* dan payung
kuncup, anak-anak buanhnya sudah berhamburan terjun ke bawah. Payung-payung
mereka mengembang dengan sempurna. Di tengah-tengah pikiran galau Benny
berusaha tetap tenang sambil tetap berusaha melepaskan tali di kakinya.
Benny kemudian berhasil menggapai pisau komando dipinggangnya, memotong
tali yang membelit kakinya, tali putus dan Benny langsung terjun bebas ke
bawah. Hanya berjarak sepersekian detik, tangan kirinya mencabut rilis
payung cadangan yang meskipun dalam ketinggian minimun masih mengambang
sempurna.

Benny meluncur keras kebawah dan mendarat bergulingan di tanah. Lutut
kakinya terasa linu dan sakit sekali akibat terbentur badan pesawat yang
menghempas-hempas kan nya, tidak kuat menahan beban tubuhnya yang penuh
peralatan tempur.

Dengan terpincang-pincang dan menahan sakit, Benny menghampiri anak buahnya
yang sudah berkumpul siap melakukan serbuan.
*Gerakan ke Muaralabuh, Dading Terluka Parah*Ternyata seperti halnya di
Pekanbaru dan Medan, pasukan PRRI di Padang tidak menunjukkan perlawanan
yang hebat. Padahal, dari segi kekuatan dan persenjataan kekuatan bisa
dikatakan berimbang. Agaknya para pemberontak sudah melorot semangatnya,
terbukti bahwa Letkol Ahmad Hussein yang menjadi pucuk pimpinan pasukan
PRRI mundur ke Solok.

Praktis sekitar jam 13.00 seluruh kota Padang sudah berada dalam kontrol
TNI. Hampir semua unsur pasukan pendarat yang terdiri dari YON 438, YON
440, YON 431/Raiders Diponegoro, YON 509, YON 510/Brawijaya dan 1 YON KKO
berhasil menduduki sasarannya masing-masing. Sedangkan pasukan PRRI yang
menyerah, tanpa kecurigaan sedikitpun tidak ditahan bahwa mereka langsung
dikerahkan sebagai unsur pendukung dan pengawalan tambahan. Sikap dan
*attitude* dari komandan operasi Kolonel Ahmad Yani ini begitu berkesan di
hati Benny.

Besoknya, Kompi Benny diperintahkan untuk menyerbu Indairung bersama YON
438/Diponegoro. Namun, Benny dengan sangat terpaksa tidak bisa memimpin
anak buahnya karena kakinya masih dalam balutan gips akibat cedera waktu
penerjunan. Jangankan untuk bertempur, jalan kaki saja Benny merasa nyeri
sekali, akhirnya kali ini Benny absen dari pertempuran.

Hari berikutnya, Benny memaksa diri untuk ikut menyusul anak buahnya di
Alahan Panjang. Hatinya tidak tenang, melihat dirinya beristirahat
sedangkan anak buahnya menyabung nyawa di palagan. Alahan Panjang merupakan
kota strategis yang terletak di sebuah perempatan jalur transportasi. Semua
jalan-jalan utama ke arah kota-kota si Sumatera Barat harus melalui jalur
ini, baik dari Padang, Solok, maupun Bukitinggi. Di Alahan Panjang ini,
Kompi Benny berhasil menyergap *konvoy* PRRI yang baru saja mengawal Mr.
Syafruddin Prawiranegara. Dalam penyergapan, kontak senjata singkat namun
sengit terjadi. Akhirnya, 20 PRRI dapat ditewaskan sedangkan sisanya
menyerahkan diri.

Kolonel Ahmad Yani yang terus memantau gerakan Kompi RPKAD segera datang ke
Alahan Panjang. Kompi Benny diperintahkan untuk melanjutkan gerakan ke
Muaralabuh karena adanya indikasi bahwa sejumlah besar pasukan PRRI sudah
menyingkir ke sekitar Gunung Kerinci di perbatasan Jambi. Manuver PRRI ini
sangat merungsingkan KSAD Mayjen TNI AH. Nasution. Sebab provinsi Jambi
dengan susah payah sudah diperjuangkan Pak Nas secara persuasif agar tidak
ikut-ikutan memberontak.

Gabungan Kompi RPKAD dan Yon Raiders Diponegoro bergerak ke Muaralabuh
dengan iring-iringan truk. Benny beserta beberapa prajurit menumpang
pick-up di belakang. Selama perjalanan, tidak di temukan hambatan berarti
sehingga kemudian jalanan mulai menanjak mendekati tebing, mesin pickup
yang memang sudah tua mulai rewel. Disitu mata Benny tiba-tiba melihat
seutas kawat yang melintang ditengah jalan, pengemudi pickup langsung ia
perintahkan berhenti. Benny pun turun dengan sikap waspada sambil
memperhatikan kawat tersebut. Pikirnya mungkin saja hanya kawat telepon
biasa yang sudah putus tapi bagaimana kalau pemicu ranjau atau bom tarik
seperti yang dipakai dalam masa Perang Kemerdekaan dulu?

Baru saja Benny berjalan beberapa langkah, tiba-tiba terdengan suara
menggelegar tembakan Bazooka. Kontan Benny dan anak buahnya bertiarap.
Proyektil Bazooka menghantam telak pickup yang tadi ditumpangi Benny,
menghamburkan tanah dan serpihan-serpihan cadas keudara. Belum hilang rasa
kaget Benny akibat sergapan tiba-tiba tersebut, terdengar suara merintih,

"Aduhhhh..Bennn.."

"Siapa itu? Dading? Neng endi kowe Ding?!" Teriak Benny. Rupanya pandangan
matanya tertutup asap dan debu. Dari balik kepulan asap kemudian nampak
Letda Dading Kalbuadi terkapar bersimbah darah dipinggir jalan. Sebuah
proyektil panas menancap dilehernya dan membuat luka besar menganga.

Tanpa perlu dikomando lagi serangan balasan dilancarkan. Tembak menembak
pun berlangsung seru. Rentetan senapan perorangan, senapan mesin, diselingi
oleh dentuman Bazooka dan Mortir 60mm. Ditengah-tengah pertempuran, Benny
berlari mendapatkan Dading yang bersimbah darah. Disitu kemudiannya datang
merayap wakilnya, Letda Soeweno.

"Wen, Dading ungsikan kebelakang dulu. Kasi bantuan medis. Kamu jaga dia!"
Perintah Benny.

"Siap Ben!" Jawab Soeweno.

Soeweno langsung mengambil alih sebuah truk, setelah menaikkan Dading ke
bak truk, langsung dilarikan ke garis belakang untuk perawatan. Truk dibawa
seperti kesetanan, pikirannya cuma satu, nyawa "*konconya*" itu harus
diselamatkan.

Ketika pasukan RPKAD dan Raiders Diponegoro berhasil mencapai tempat
perkubuan para pemberontak, mereka hanya menemukan gubuk-gubuk kosong
dengan sajian nasi hangat dalam jumlah yang besar. Rupannya, belum pun
sempat mereka sarapan pagi, pasukan TNI keburu menyerbu. Banyak
persenjataan yang ditinggalkan begitu saja, termasuk Bazooka 2.6 yang
berserakan, sejenis dengan yang menghantam Letda Dading Kalbuadi tadi.

Selama menuju Alahan Panjang, pasukan Benny tidak kurang mengalami empat
kali penghadangan, dan empat kali pula pasukan PRRI dapat dipukul mundur.
Tidak berapa lama kemudian Alahan Panjang pun dapat direbut.

Situasi Sumatera berangsur-angsur kembali aman dan tertib, apalagi ketika
Presiden Soekarno mengeluarkan amnesti massal, semua yang pernah bergabung
dalam PRRI diampunkan dan diterima kembali kepangkuan ibu pertiwi.

Benny bersama anak buahnya kemudian ditarik kembali ke basisnya di
Batujajar. Mereka telah mengalami serangkaian petualangan yang heroik tapi
juga penuh pengalaman-pengalaman yang mendebarkan hati karena harus
berhadapan dengan saudara sebangsa setanah air. Dari 2 Kompi RPKAD yang di
terjunkan selama OPERASI TEGAS, SAPTA MARGA dan 17 AGUSTUS, RPKAD
kehilangan 9 personilnya gugur, termasuk seorang perwira pertama Kapten
Anumerta Fadhillah, Komandan Kompi A/RPKAD. Seorang lagi perwira RPKAD dari
Kompi Benny, Letda Dading Kalbuadi terluka parah dan dievakuasi ke Jakarta.
Nyawa Dading terselamatkan, meski begitu dia harus absen dari rutinitas
Komando hampir 1 tahun. Salah satu pecahan proyektil Bazooka yang menancap
dilehernya dan hampir merenggut nyawanya, disimpan Dading sebagai
kenang-kenangan.

Di pintu pesawat yang mengudara meninggalkan Lanud Tabing menuju ke basis
di Batujajar, Benny termenung memandang kebawah. Ingatannya melayang ketika
ia pertama kali terjun ke medan pertempuran, nyawa nya terasa sudah diujung
tanduk saja. Ingatannya melayang teringat rekannya Lettu Fadhillah, anak
buahnya Kopral Sihombing dan beberapa lagi yang gugur dalam pertempuran.
Hanya doa dipanjatkan semoga mereka diterima disisi Nya.

*Sekian ---*


*Sumber Tulisan :*
Sepak Terjang Pasukan Komando-V.Pitaya, Notulen Dading Kalbuadi, Memenuhi
Panggilan Tugas Jilid II-AH. Nasution, Biografi Benny Moerdani, Disjarahad,
Sejarah PRRI dan catatan2 para pelaku peristiwa

Salam

Reza

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke