Parpol Islam Indak Adoh Nan
Baminaik?<http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=287981:parpol-islam-tak-diminati&catid=77:fokuredaksi&Itemid=131>Kabaa
Nyano Awak?!



Partai politik berbasis massa Islam masih terjebak pada ideologi internal
yang simbolik.
"Islam diterjemahkan masih secara simbolik bukan mencoba menyelesaaikan
permasalahan yang ada dengan keputusan radikal. Misalnya di Jakarta, apakah
berani penguasa melawan lobi dari perusahaan mobil," kata Ahmad Norma di
Jakarta, dek sari. “Parpol berbasis massa Islam seharusnya mengambil alih
isu-isu fundamental dalam masalah bangsa sehingga tidak hanya membahas
masalah pluralisme dan persatuan saja”.

Dia mencontohkan parpol Islam itu harus berani merancang industrialisasi
dan mengelola Sumber Daya Alam bagi kemakmuran masyarakat Indonesia. "Kalau
ada parpol Islam yang punya konsep pengelolaan migas yang bagus dan berani,
saya kira kelas menengah, kaum terpelajar, serta media massa akan
mendukung," katanya.

Menurut dia, selama ini parpol Islam sering salah dalam mengimplementasikan
penegakan hukum. Misalnya, masalah maksiat diatasi dengan menerbitkan
Peraturan Daerah syariah.

Ia mengemukakan titik mula persoalan bangsa adalah tidak adanya peningkatan
kualitas ekonomi dalam kehidupan. "Apabila pendidikan dan ekonomi bagus,
maka masyarakat dapat bekerja dan sekolah sehingga kehidupan stabil. Hal
itu yang menjadi perbedaan antara negara maju dengan yang masih
terbelakang," katanya.

Benarkah Partai Islam semakin tidak diminati masyarakat dalam pemilu 2014?
Jawabannya belum pasti, namun kecenderungan mengindikasikan ke arah sana,
suatu kondisi yang muram.

Setidaknya, sejauh ini hasil Survei Saiful Mujani Research and Consulting
(SMRC) pada Februari silam menyingkapkan perolehan suara pemilu PKB 5,6%,
PPP 4,1%, PKS 2,7% dan PAN 1,9%. Survei itu dilakukan untuk 1.220 responden
yang tersebar Indonesia dengan pertanyaan ‘bila pemilu nasional diadakan l
3 Februari 2013’.

Berbeda dengan survei SMRC itu, Lembaga Klimatologi Politik (LKP) juga
mengadakan survei April ini dengan hasil: PKS 5,1%, PAN 4,6%, PKB 4,4%, PPP
3,9% dan PBB 0,9%.

Memang hasil-hasil survei tersebut belum bisa mewakili kondisi sebenarnya
karena hanya 2 lembaga survei dan responden yang terbatas. Tetapi minimal
dari survei itu bisa menggambarkan kondisi Partai Islam yang cenderung
mengalami penurunan suara.

Merosotnya minat rakyat terhadap Partai Islam, menurut mantan Ketua
Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, untuk sebagian disebabkan bahwa Partai Islam
tidak punya isu dan agenda yang strategis dan memihak kepentingan ummat
(rakyat). Parpol Islam dan bukan Islam juga ternyata sama saja aspirasi dan
jenis kelamin politiknya, tanpa diferensiasi visi-misi dan program yang
pasti.

Partai Islam juga tidak bersih dan tidak peduli terlihat dari temuan bahwa
di dalam Partai Islam juga terjadi kejahatan korupsi. Tidak ada jaminan
bahwa Partai Islam lebih bersih dari Partai non Islam sehingga orang Islam
di luar partai akan berpikir tidak harus memilih partai Islam.

“Partai politik Islam yang hakiki itu sebenarnya tidak ada. Partai yang
benar-benar Islam pun tidak ada. Karena parpol yang tidak Islam pun
sebenarnya memperjuangkan Islam,” kata Mahfud, Ketua Presidium KAHMI.

Sejak wafatnya Gus Dur, umat Islam dari kalangan Nahdliyin tidak lagi punya
tokoh besar yang berani memperjuangkan ideologi pribumisasi Islam dan juga
tidak berani berseberangan pendapat dengan pemerintah. Begitu juga dari
kalangan Muhammadiyah dimana dulu ada Amien Rais yang sangat kritis pada
penguasa.

Kedua-duanya menjadi icon dan tanpa mengeluarkan dana besar untuk kampanye
pun, baik PKB dan PAN di masa lalu, sudah memperoleh suara dari umat Islam
yang kagum dengan tokoh-tokohnya masing-masing.

Hampir semua partai berbasis Islam yang ada menyatakan bahwa mereka
terbuka, mereka dapat menerima perbedaan dan lain sebagainya. Tapi
kenyataan yang ada dan sudah umum diketahui bahwa mereka eksklusif,
terfragmentasi dan terkotak-kotak bahkan terpecah belah. Dalam internal
partai ada elite NU yang menguasai/mengendalikan PKB. Dari PAN tentu saja
Muhammadiyah dan dari PKS dikuasai Tarbiyah yang meniru Ikhwanul Muslimin.

Eksklusifisme parpol Islam itu justru mengerdilkan partai Islam sendiri dan
akhirnya dukungan rakyat cenderung merosot tajam. Seakan sudah takdir bahwa
Parpol Islam bernasib kelam? (WASPADA ONLINE)


---------- Pesan terusan ----------
Dari: ajo duta <[email protected]>
Tanggal: 8 Mei 2014 00.02
Subjek: Re: [R@ntau-Net] Anggota DPRD Provinsi Sumbar Periode 2014-2019
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>


Uda Asmardi nan ambo hormati,

Bukankah pemilu itu alah merupakan pooling? Nan membuktikan rakyat SB
labiah mamiliah partai nan indak berbasis Islam.

Baa gak ati....uda?



Wassalaamu'alaikum WW

Dutamardin Umar (aka. Ajo Duta),
17/8/1947, suku Mandahiliang, gala Bagindo
Gasan Gadang Pariaman - Tebingtinggi Deli -
Jakarta - Sterling, Virginia USA

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke