Assalamualaikum Wr Wb.

Komunitas r@ntaunet n.a.h dan a.c di ma sajo Sanak barado.


Angku Prabowo-Hatta nan kini sadang puaso wajib Ramadhan, sabana barek
tugeh Angku sakironyo > 50% + 1 nan sato mamiliah No.1 nantik di tanggal
9/7/14.


Antahlah...., antahlah......

Mungkin Sanak ZulTan dan Sanak Zorion bisa bakomentar dari suduik pandangan
"Sabagai Si  Padang Nan Alah Lamo Bagalimang Jua Bali Pitih" (maaf, kalau
istilah dalam tando kutib nan bastabilo kuniang dari ambo di ateh, taraso
kasa pulo bunyi kalimaiknyo dek urang ---nan biaso--- aluih di suduik
palanta ko).


He he he..................

Salam....................,

*mm****

Lk-2; 59; Bks



Dapat dari milis tetangga .....



*NEGERI JAJAHAN*


Kemarin saya bertemu dengan teman yang bekerja sebagai professional di
Strategic Consulting di Singapore. Saya suka teman ini karena wawasannya
yang luas. Sebagai periset dibidang *strategic business* , saya bisa
mendapatkan banyak informasi yang kadang mengubah sudut pandang saya
terhadap data dan informasi yang saya dapat lewat media riset.


Indonesia menuju *open source* bagi siapa saja. Katanya. Tidak ada istilah
asing atau lokal. Di hadapan UU semua punya hak memanfaatkan semua
*resource* yang ada di Indonesia. Negara hanya sebagai *arranger* yang
mendapatkan *fee* (pajak) dari kegiatan modal. Menurut data API bahwa 100 %
distribusi barang dikuasai oleh asing. Benarkah?


Bukankah Carrefour sudah diambil oleh Chairul Tanjung (CT) melalui Trans
Retail Indonesia. Teman ini hanya tersenyum. Menurutnya CT hanyalah
*settlor* dari skema penguasaan asing terhadap bisnis strategis. Maklum
sebelumnya Carrefour digugat oleh pegiat UKM di KPPU dan karena itu
perlunya status kepemilikan saham dari asing menjadi lokal. Cara ini memang
berhasil menghentikan proses gugatan pegiat UKM di mahkamah KPPU.


Saya tertegun. Menurutnya bukan hanya CT tapi beberapa nama beken pengusaha
nasional seperti Hari Tanujaya (HT), Hashim Djojohadikusumo (HD), dan Abu
Rizal Bakrie (ARB) juga bertindak sebagai *settlor* asing, khususnya dalam
pengambil alihan Media TV. Saat sekarang asing telah menguasai saham media
TV baik secara langsung maupun tidak langsung (melalui pasar modal) di atas
50%.

"Bisa dimaklumi karena Asing menguasai modal", kata saya.

Menurutnya bahwa asing tidak pernah investasi menggunakan uangnya sendiri.
Mereka hanya menciptakan skema untuk menarik *financial resource* dari
dalam negeri Indonesia sendiri. Sumber itu berasal dari lembaga Asuransi,
perbankan dan Pasar Modal.


Anda mungkin tidak percaya bahwa 52% pangsa pasar asuransi dan *reinsurance*
dikuasai oleh hanya 6 perusahaan asuransi Asing, yaitu Prudential,
Manulife, AXA Mandiri, Allianz Life Indonesia, PT Asuransi Jiwa Sinarmas
MSIG, serta PT AIA Financial! .


Ini melibatkan *turnover sales* sebesar USD 6 miliar atau Rp. 56 triliun.
Dari Rp. 189 Triliun dana yang ditempatkan di dalam Reksadana melalui
menejer investasi, Rp. 112 Trilun atau 60% dikuasai hanya oleh tiga
perusahaan sekuritas Asing yaitu PT Schroder Investment Management, PT
Manulife Aset Manajemen Indonesia, dan PT BNP Paribas Investment Partners.


Bila tahun 2008, Perbankan nasional hanya 48% dikuasai asing namun kini
tahun 2013 asing telah menguasai diatas 50%. Artinya lebih Rp 1.551 triliun
dari total aset perbankan Rp 3.065 triliun dikuasai asing. Akan bertambah
lebih besar lagi bila proses pengambil alihan Danamon oleh DBS Holding
(Singapura) dan Bank Mestika oleh RHB Capital asal Malaysia selesai.

Dengan penguasaan *financial resource* dalam negeri maka tentu memudahkan
asing mengakses *sophisticated fund* diwilayah *offshore* untuk membiayai
project strategis yang berhubungan dengan sumber daya alam.


Era Soeharto, Pertamina mengendalikan semua *resource* minyak namun kini
berkat liberalisasi bisnis Migas, Pertamina harus menerima kalah dari
asing. Lebih dari 70% SDA migas dikuasai asing dan sisanya nasional.


ExxonMobile, Total Fina Elf, BP Amoco Arco, dan Texaco yang menguasai
cadangan minyak 70 persen dan gas 80 persen Indonesia. Conoco, Repsol,
Unocal, Santa Fe, Gulf, Premier, Lasmo, Inpex dan Japex yang menguasai
cadangan minyak 18 persen dan gas 15 persen. Sisanya perusahaan swasta
nasional yang tidak ada kaitannya dengan konglmerasi bisnis minyak, hanya
menguasai cadangan minyak 12 persen dan gas 5 persen.


Hanya soal waktu, kekuatan Pertamina dibidang *retail* SPBU akan dikalahkan
oleh asing. Tambang emas dan perak, 90% dikuasai asing dan itu hanya dua
perusahaan yaitu Freeport dan Newmont, sisanya atau 10% PT. Aneka Tambang.
Dari penguasaan Tambang baik minyak, gas, emas, perak, pengolahannya 80%
dilakukan di luar negeri. Artinya Indonesia hanya dimanfaatkan sumber
dayanya saja tanpa ada nilai tambah apapun.

Dibidang telekomunikasi dan IT , Asing menguasai secara langsung maupun
tidak langsung saham sekitar 59 %, sedangkan Indonesia hanya mengendalikan
sekitar 41 % saja. Dari jumlah itu , kepemilikan Pemerintah 26%, dan publik
melalui pasar modal berkisar 15%. Jumlah ini Asing akan terus bertambah.


Investor asing yang menguasai saham telekomunikasi adalah The Bank Of New
York AS (pada PT. Telkom), Axiata Group Berhad (pada XL), Qatar Telkom Asia
dan Skagen AS (pada Indosat), Saudi Telcom Company dan Maxis Communications
Berhad (pada AXIS), Hutchison Whampoa dan Charoen Pokphand (pada IM3).


Bagaimana dengan *consumer goods*? Kalau anda suka kecap ABC maka itu
sekitar 65 persen sahamnya dimiliki Hj Heinz (AS). Seluruh saham teh milik
PT Sari Wangi sudah berpindah ke Unilever, juga kecap Cap Bango dan makanan
ringan merek Taro. Begitu pula produk air minum kemasan merek Aqua dan Ades
yang masing-masing sahamnya sebesar 74 persen dan 100 persen sudah dikuasai
Danone (Perancis) dan Coca Cola (AS). Sampoerna diambil alih oleh Philip
Morris (AS). Itu sebabnya waralaba *retail consumer goods *asing seperti
7eleven, Kmart, Circle, berdatangan untuk ambil peluang dari rakyat yang
gemar konsumsi. Ini tambang emas karena menyangkut konsumsi ratusan juta
penduduk Indonesia.

Dengan diberlakukannya UU Jaminan Sosial Nasional dimana pemerintah
menanggung biaya berobat maka yang pasti akan mendapat keuntungan terbesar
adalah industri pharmasi. Dari 280 Industri Pharmasi, hanya 20 milik asing
namun mereka menguasai 80 % supply akan obat-obatan secara nasional. Dan
lagi seluruh bahan baku maupun barang modal industri Pharmasi berasal dari
Import. Transaksi dibidang pharmasi ini per-tahunnya mencapai Rp. 25
triliun pertahun. Diperkirakan *margin* laba mencapai 60%. Hitunglah betapa
dahsyatnya laba dari *business* ini. Indonesia benar benar tambang emas
bagi asing. Kata teman saya itu sambil tersenyum.


Rakyat yang lemah dan bodoh tentu tidak bisa perkasa melawan asing namun
BUMN tentu bisa. Kata saya. Teman saya itu tertawa. Dia tidak lagi
tersenyum. Apakah ada yang lucu.Justru BUMN yang lebih dulu keok dengan
asing. Tegasnya. Kini dari semua BUMN yang telah diprivatisasi, kepemilikan
asing sudah mencapai 60%. Itu belum lagi penguasaan asing melalui pasar
modal yang mencapai 60-70% dari semua saham emiten yang *listing* di bursa
efek. Sebagian besar emiten didominasi usaha Jasa Penerbangan, Perkebunan,
Perhotelan , media massa, *automotive*?dll.


Jadi neoliberal menuju neocolonialism, bukan hanya mitos tapi sudah terjadi
pada diri kita, di rumah kita. Inilah warisan untuk generasi setelah
kita: *sebuah
negeri jajahan*.

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke