Assalamu'alaikum wr.wb.

http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,52963-lang,id-c,kolom-t,Jokowi+di+Mata+Kiai+Lokal-.phpx


*Oleh Irfan Nuruddin*

---Berawal dari seringnya mendapat pertanyaan dari teman-teman alumni
Pondok  Langitan, perihal sosok Jokowi,  bagaimana keislamannya dan kiprah
dia sewaktu menjadi Wali Kota Solo. Pertanyaan tersebut ada mungkin karena
seringnya kampanye hitam yang mereka terima, baik melalui SMS, transkrip
pembicaraan, media cetak maupun di sosial media.

Awalnya saya jawab, “Menurutku, sepengetahuanku….” Tapi jawaban seperti
itu, bagiku sendiri juga tidak afdhol, kurang begitu *shohih, tsiqoh*, aku
iki lho sopo (saya bukan siapa-siapa)?

Kemudian saya berinisiatif untuk mendapatkan info tentang Jokowi dari
sumber yang *tsiqoh*, yang tahu dan kenal dekat dengan Jokowi, dan yang aku
tahu adalah KH. Abdul Kareem, seorang hafidzul Qur’an dan juga Pengasuh
Pondok Pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo. Untuk masyarakat Solo dan
sekitarnya pasti tahu siapa beliau. Beliau juga sahabat sekaligus mentor
Jokowi.

“Pak, keislaman Jokowi niku pripun (bagaimana sebenarnya keislaman
Jokowi)?” tanyaku langsung ke masalah. Siang itu, Ahad  22 Juni di *ndalem*
beliau, Tegal Ayu, Laweyan, Solo.

 “Islam-imanipun Jokowi miturut kulo *sae, saestu sae* (baik, benar-benar
baik). Saya kenal Jokowi jauh sebelum dia menjadi walikota, ketika dia
menjadi ketua Asmindo, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia, dia punya
perusahaan mebel namanya ‘Rakabu’. Dia aktif mengikuti pengajian-pengajian
saya. Dan dikemudian hari membentuk majlis pengajian Pengusaha Islam Muda
yang namanya Bening Ati, pengasuhnya kulo kiyambak (saya sendiri), Pak Yai
Nahar, (Pengasuh PP Ta’mirul Islam waktu itu) dan juga PakYai Rozaq,
(Pengasuh PP Al Muayyad).

Tapi beberapa tahun majelis pengajian berlangsung, kemudian goyah, karena
beberapa anggotanya sama mencalonkan dirimenjadi Wali Kota, Pak Jokowi
sendiri, Pak Purnomo, (sekarang menjadi Wakil WaliKota Solo) dan Pak
Hardono. Lah kulo ‘kebagian’ mendukung Pak Jokowi, dan pada saat itulah
saya tahu betul bagaimana Pak Jokowi, sebab renteng-renteng bareng
kemana-mana, puasa Senin-Kemisnya tidak pernah ketinggalan, tahajudnya juga
luar biasa, sama sekali tidak pernah tinggal Jum’atan, apalagi cuma sholat
lima waktu yang memang dah kewajiban. Keluarga Jokowi juga Islamnya taat,
adik-adiknya putri semua berjilbab itu juga sejak dulu, dan juga diambil
mantu oleh orang-orang  yang Islamnya baik semua, Jenengan ngertos kiyambak
tho Gus?” jawab beliau lugas.

  “Tapi kulo *gih *tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas-jelas
keislamannya kok diisukan kafir, keturunan nasrani, cina dan lain-lain,
hanya karena perbedaan politik, tur itu yang mengisukan yo wong islam dewe…
Kulo ape meneng wae opo yo trimo, opo yo pantes, dulur Islam
dikafir-kafirke kok meneng ora mbelani, opo yo pantes…” ucap beliau dengan
berusaha keras menahan air mata sehingga mata beliau memerah. Suara beliau
sengau menahan isak.

Melihat pemandangan seperti itu, hatiku rasanya ngilu, seperti
diremas-remas oleh kekuatan dunia lain, betapa ringannya orang
mempolitisasi agama untuk kekuasaan, aku terdiam lama, untuk meneruskan
pertanyaan rasanya tidak mampu.Terbawa suasana yang tiba-tiba
mengiris-ngiris kalbu.

 “Ya memang Pak Jokowi bukanlah santri ndeles kados Jenengan Gus, bacaannya
tidak sebagus santri-santri Muayyad, tapi opo terus kekurangan seperti itu
menjadikan dia pantas dicap abangan, gak ngerti agomo…apalagi kafir?”
Dengan menahan isak pertanyaan tersebut terucap.

Memang isu Jokowi sebagai orang abangan atau kejawen itu dimunculkan sejak
Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta dua tahun lalu, dan
setahuku Jokowi waktu itu sama sekali tidak menggubris isu-isu tersebut.
Dan rupanya isu-isu tersebut dimunculkan lagi saat pilpres ini dan lebih
masih dan dasyhat, sehingga pada waktu  Jokowi *sowan* ke Pak Dul Kareem
(begitu aku biasa menyebut KH Abdul Kareem Ahmad), 6 Juni lalu, JOKOWI
madul, “Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah-fitnah seperti
itu, tetapi *menawi *kalau itu ibu saya, ibu saya difitnah kafir, nasrani,…
kulo sing mboten saget nrimo (tidak apa saya difitnah, tapi kalau ibu saya
yang difitnah kafir, nasrani, saya tidak terima),” kata Jokowi ditrukan Pak
Dul Kareem. Lah dalah, aku merinding mendengar cerita tersebut.

Mungkin juga, Jokowi dianggap orang abangan karena dia diusung oleh PDIP
yang identik dengan abang-abang, padahal PDIP Solo, sangat agamis, punya
masjid sendiri di depan Kantor PDIP di Brengosan, dan masjidnya makmur,
setiap minggu ada kegiatan semaan Al Qur’an bil ghoib dan pengajian rutin.
Tur juga, partai yang terkuat di Solo adalah PDIP, partai-partai lain yang
berbasis Islam seperti PPP, dan PKB sama sekali gak ada baunya, kecuali PAN
dan PKS-*mambu-mambu sitik* (partai Islam di Solo tidak terlalu kuat).

Sebetulnya obrolan tersebut sangat panjang dan beragam masalah yang
didawuhkan oleh Pak Dul Kareem, tapi karena terbatasnya halaman, aku
singkat semua obrolan tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana
kepemimpinan Jokowi selama menjadi wali kota Solo, ketegasannya dan juga
kebijakannya, terutamapada umat Islam?”

 “Kebijakkan Pak Jokowi selama di Solo, sama sekali tidak ada yang
merugikan umat Islam, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah
agama selalu dikonsultasikan dulu pada ulama Solo, terutamanya pada Kyai
Durrohim, Mustasyar NU waktu itu. Dan kebijakan Pak Jokowi itu bersifat
Islam subtantif Gus, *tur yo* merakyat *tenan*, umat Islam di Solo itu kan
mayoritas dan juga kalangan bawah, jadi  Pak Jokowi untuk mengangkat
ekonomi rakyat kecil dengan menbangun banyak pasar-pasar tradisional,
minimarket tidak boleh buka 24 jam, tidak mengizinkan mall-mall ada
lagi,jarene Pak Jokowi, kalo umat Islam sejahtera maka masjid dengan
sendirinya akan dipenuhi jama’ah, gitu Gus,” jelas Pak Dul Kareem padaku.

Memang yang kudengar selama ini ya begitu itu, bahkan Jokowi berani
menentang kebijakan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang mengizinkan
dibangunnya mall di Sari Petojo, sebab memang tanah Sari Petojo adalah
milik propinsi, dan berhubung itu berada di daerah Solo, pembangunan
tersebut tidak diizinkan oleh Jokowi, karena tidak berpihak pada ekonomi
rakyat kecil di sekitarnya.

 “Contoh lain, lokalisasi Shilir yang ada di Semanggi setahun menjadi Wali
Kota, ditutup oleh Pak Jokowi, dan kemudian dibangun sebuah pasar
untukmenghidupkan perekonomian warga sekitar. Dan yang mengisi pasar
tersebut adalah para pedagang loak yang di Banjarsari, di sana itu ada
sebuah monument yang menjadi cagar budaya, kumuh dan kotor karena di
tempati oleh PKL-PKL yang tidak teratur. Dan cara memindahkannya pun, Masya
Alloh, sangat manusiawi, nguwongke uwong tenan, perwakilan PKL di undang
makan di Lodji Gandrung sampai puluhan kali kalau tidak  salah untuk
berdiplomasi dengan para pedagang, dan ketika para pedagang menerima
dipindah, mindahnya pun tidak dengan kekerasan, dipawaikan… dikirab dengan
marak… *podo ditumpakke  jaran, seneng tenan… podo diuwongke mbek* Wali
Kotane… (proses pemindahan tidak dengan kekerasan, semua pihak merasa
dihargai),”  cerita PakDul Kareem panjang lebar.

Aku membayangkan kemeriahan tersebut dan kegembiraan warganya yang merasa
dimanusiakan oleh pemimpinnya. Selama sebelum Jokowi, Solo kumuh dan
semrawut, dan  sekarang terlihat lebih hijau dan rapi, meskipun tidak
semuanya, tapi itu jauh lebih baik dari pada masa-masa sebelum Wali Kota
Jokowi. Dan ketika Shilir di tutup, Habib Syekh yang memang tinggal di
Semanggi mendirikan majelis “Shilir Berdzikir” yang menjadi cikal bakal
Ahbabul Musthofa saat ini.

Solo saat ini jadi lebih hijau *dhohiron wa bathinan*, peringatan hari
besar Islam juga lebih semarak, ada Parade Hadrah setiap Rajab, Festival
Sholawat, kegiatan dzikir tahlil dan barzanji semakin marak, ada setiap
saat, tidak hanya di masjid-masjid tapi juga di hotel-hotel mewah. Itu
semua sebab kebijakan-kebijakan Jokowi dalam membangun Solo sebagai Kota
Sholawat dan juga Spirit of Java. Sholawat Barzanji yang awalnya sesuatu
yang jarang, karena NU di Solo adalah minoritas, sekarang menjadi hal yang
seakan harus hadir dalam setiap moment, iya, sejak Jokowi menjadikan
Majelis Dzikir dan Sholawatan sebagai tamu rutin di Balai Kota setiap
Rabiul Awwal. Tidak hanya itu, di Rumah Dinas beliau, Lodji Gandrung
dijadikan tempat rutin taraweh ala Masjidil Haram, 23 rakaat beserta witir
dan mengkhatamkan Al Qur’an.

 “Ketika Jamuro pertama kali diundang di Balai Kota, Pak Jokowi memberi
kenang-kenangan, dalam bungkusan yang sangat tebal, *kulo ngiro niku isinya
arto* Gus, tapi *jebule* stiker (saya kira isinya uang, tapi sertanya
isinya stiker) bertuliskan, “Jamuro, dengan Bershalawat Kita Semua Selamat
Dunia Akhirat.”

Aku tertawa mendengar cerita tersebut, sebab kenang-kenangan tumpukan 5000
stiker sebesar uang kertas, dibungkus dengan rapi kertas coklat, yang
dibuka di depan umum, bisa menjadikan orang menyangka itu adalah uang
puluhan juta. Jebule cuma stiker.

Jamuro, singkatan dari Jam’ah Muji Rosul, awalnya hanya majlis dzikir
tahlil dan pembacaan Barjanji yang menjadi rutinan segelintir jamaah, tapi
sekarang jama’ahnya puluhan ribu dari Solo dan sekitarnya. Dan Pak Jokowi
adalah salah satu pembinanya.

 “Lah ndilalah, Pak Jokowi satu tahun jadi wali kota, kulo kebetulan dados
ketua PCNU Solo, jadi *gih saget* bersinergi dengan Pak Wali, dan Pak
Jokowilah yang mengusulkan dan yang ngobrak-ngobrakki agar di bentuk
Ranting NU di seluruh Solo, ada 51 Ranting, dan ini baru pertama kalinya
PCNU Solo punya ranting, itu berkat Pak Jokowi dan Pak Jokowi juga yang
membuatkan 51 papan nama untuk ranting NU tersebut,” cerita Pak Dul Kareem
dengan antusias.

 “Di antara juga, shalat Idul Fitri bisa terlaksana di Balai Kota, itu juga
kebijakan Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri yang menutupi dua arca yang di
depan balai kota itu, pakai kain mori, ditutup sendiri, padahal untuk hal
seperti itu*, nyuruh* ajudan kan bisa.” Saya jadi teringat ketika Jokowi
*ngangkati* gong yang mau ditabuh oleh SBY, entah dalam pembukaan apa itu,
aku lupa.

 Hal-hal seperti itu tentu tidak pernah kita dengar dari mulut Jokowi
sendiri, yang kita dengar hanyalah pembelaan, “Saya Islam, dan saya
meyakini kebenaran Islam saya.” Dan pembelaan diri Jokowi bahwa dirinya
dari keluarga muslim yang baik,  yang juga telah melakukan rukun Islam
kelima, itu juga baru kita dengar setelah begitu gencarnya fitnah yang
meragukan keislaman dia selama Pilpres 2014 ini. Selama Pilkada Jakarta,
dua tahun lalu, JOKOWI membiarkan fitnah-fitnah itu bagai angin lalu,
Islamku yo Islamku, lapo dipamer-pamerke… mungkin seperti itu pikirnya.
 Padahal sekarang yang lagi naik daun adalah  “Akulah yang paling Islam,
Akulah yang paling benar” yang lain KW.

Pak Kiai Dul Kareem, memang tidak semasyhur poro masyayih maupun poro
mursyid, tapi beliau adalah orang yang ikhlas, dan juga salah satu tokoh
yang nasehatnya di dengar Jokowi. Dan Jokowi pun tidak pernah menarik Pak
Dul Kareem dalam ranah politik dia.

“Gus Kareem, saya minta dikawal sampai saya selesai, tapi Panjenengan hanya
bisa menasehati kulo atau memberi usul, tidak bisa merubah kebijakan saya
dalam hal pemerintahan. Kalo dalam hal wudhu, atau sholat, atau ibadah kulo
yang salah, *kulo menawi mboten nurut Jenengan, kulo monggo Jenengan
sampluk*. (Kalau dala urusan wudhu dan shalat saya salah, tolong saya
diluruskan), itu perkataan Jokowi sendiri ketika dia menjadi Wali Kota
Solo, begitu itu sosok Pak Jokowi Gus, tegas, semua bawahannya pasti tahu
itu.” Akhir cerita PakDul Kareem, allohu yarham.

Terlepas dari penuturan di atas, Jokowi juga mempunyai banyak kekurangan,
dalam pemerintahannya maupun perilaku. Dan itu kalau ditulis bisa jauh
berlampir-lampir, beredisi-edisi, sebab mengurai kekurangan orang lain
tidak akan habisnya. Ia hanyalah manusia biasa. Tapi aku hanya mengfokuskan
diri menjawab pertanyaan teman-temanku selama ini.

*Wallohu a’lam bisshowab.*

*Irfan Nuruddin*, santri Pondok Pesantren Langitan, Khodimul ma’had Al
Muayyad, Mangkuyudan, Solo



Salam


Muhammad Syahreza

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke