Quraish Shihab Doakan Jokowi - JK Terpilih
<http://www.tujuhnews.com/view.php?id=77&jenis=Pemilu&aktif=0>

http://www.tujuhnews.com/view.php?id=77&jenis=Pemilu


2014-07-05 14:02 GMT+07:00 muhammad syahreza <[email protected]>:

> Assalamu'alaikum wr.wb.
>
>
> http://nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,4-id,52963-lang,id-c,kolom-t,Jokowi+di+Mata+Kiai+Lokal-.phpx
>
>
> *Oleh Irfan Nuruddin*
>
> ---Berawal dari seringnya mendapat pertanyaan dari teman-teman alumni
> Pondok  Langitan, perihal sosok Jokowi,  bagaimana keislamannya dan kiprah
> dia sewaktu menjadi Wali Kota Solo. Pertanyaan tersebut ada mungkin karena
> seringnya kampanye hitam yang mereka terima, baik melalui SMS, transkrip
> pembicaraan, media cetak maupun di sosial media.
>
> Awalnya saya jawab, “Menurutku, sepengetahuanku….” Tapi jawaban seperti
> itu, bagiku sendiri juga tidak afdhol, kurang begitu *shohih, tsiqoh*,
> aku iki lho sopo (saya bukan siapa-siapa)?
>
> Kemudian saya berinisiatif untuk mendapatkan info tentang Jokowi dari
> sumber yang *tsiqoh*, yang tahu dan kenal dekat dengan Jokowi, dan yang
> aku tahu adalah KH. Abdul Kareem, seorang hafidzul Qur’an dan juga Pengasuh
> Pondok Pesantren Az-Zayyady, Laweyan, Solo. Untuk masyarakat Solo dan
> sekitarnya pasti tahu siapa beliau. Beliau juga sahabat sekaligus mentor
> Jokowi.
>
> “Pak, keislaman Jokowi niku pripun (bagaimana sebenarnya keislaman
> Jokowi)?” tanyaku langsung ke masalah. Siang itu, Ahad  22 Juni di
> *ndalem* beliau, Tegal Ayu, Laweyan, Solo.
>
>  “Islam-imanipun Jokowi miturut kulo *sae, saestu sae* (baik, benar-benar
> baik). Saya kenal Jokowi jauh sebelum dia menjadi walikota, ketika dia
> menjadi ketua Asmindo, Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia, dia punya
> perusahaan mebel namanya ‘Rakabu’. Dia aktif mengikuti pengajian-pengajian
> saya. Dan dikemudian hari membentuk majlis pengajian Pengusaha Islam Muda
> yang namanya Bening Ati, pengasuhnya kulo kiyambak (saya sendiri), Pak Yai
> Nahar, (Pengasuh PP Ta’mirul Islam waktu itu) dan juga PakYai Rozaq,
> (Pengasuh PP Al Muayyad).
>
> Tapi beberapa tahun majelis pengajian berlangsung, kemudian goyah, karena
> beberapa anggotanya sama mencalonkan dirimenjadi Wali Kota, Pak Jokowi
> sendiri, Pak Purnomo, (sekarang menjadi Wakil WaliKota Solo) dan Pak
> Hardono. Lah kulo ‘kebagian’ mendukung Pak Jokowi, dan pada saat itulah
> saya tahu betul bagaimana Pak Jokowi, sebab renteng-renteng bareng
> kemana-mana, puasa Senin-Kemisnya tidak pernah ketinggalan, tahajudnya juga
> luar biasa, sama sekali tidak pernah tinggal Jum’atan, apalagi cuma sholat
> lima waktu yang memang dah kewajiban. Keluarga Jokowi juga Islamnya taat,
> adik-adiknya putri semua berjilbab itu juga sejak dulu, dan juga diambil
> mantu oleh orang-orang  yang Islamnya baik semua, Jenengan ngertos kiyambak
> tho Gus?” jawab beliau lugas.
>
>   “Tapi kulo *gih *tidak habis pikir, kenapa orang yang jelas-jelas
> keislamannya kok diisukan kafir, keturunan nasrani, cina dan lain-lain,
> hanya karena perbedaan politik, tur itu yang mengisukan yo wong islam dewe…
> Kulo ape meneng wae opo yo trimo, opo yo pantes, dulur Islam
> dikafir-kafirke kok meneng ora mbelani, opo yo pantes…” ucap beliau dengan
> berusaha keras menahan air mata sehingga mata beliau memerah. Suara beliau
> sengau menahan isak.
>
> Melihat pemandangan seperti itu, hatiku rasanya ngilu, seperti
> diremas-remas oleh kekuatan dunia lain, betapa ringannya orang
> mempolitisasi agama untuk kekuasaan, aku terdiam lama, untuk meneruskan
> pertanyaan rasanya tidak mampu.Terbawa suasana yang tiba-tiba
> mengiris-ngiris kalbu.
>
>  “Ya memang Pak Jokowi bukanlah santri ndeles kados Jenengan Gus,
> bacaannya tidak sebagus santri-santri Muayyad, tapi opo terus kekurangan
> seperti itu menjadikan dia pantas dicap abangan, gak ngerti agomo…apalagi
> kafir?” Dengan menahan isak pertanyaan tersebut terucap.
>
> Memang isu Jokowi sebagai orang abangan atau kejawen itu dimunculkan sejak
> Jokowi mencalonkan diri sebagai Gubernur Jakarta dua tahun lalu, dan
> setahuku Jokowi waktu itu sama sekali tidak menggubris isu-isu tersebut.
> Dan rupanya isu-isu tersebut dimunculkan lagi saat pilpres ini dan lebih
> masih dan dasyhat, sehingga pada waktu  Jokowi *sowan* ke Pak Dul Kareem
> (begitu aku biasa menyebut KH Abdul Kareem Ahmad), 6 Juni lalu, JOKOWI
> madul, “Kulo kiyambak Gus Kareem, bisa menahan diri difitnah-fitnah seperti
> itu, tetapi *menawi *kalau itu ibu saya, ibu saya difitnah kafir,
> nasrani,… kulo sing mboten saget nrimo (tidak apa saya difitnah, tapi kalau
> ibu saya yang difitnah kafir, nasrani, saya tidak terima),” kata Jokowi
> ditrukan Pak Dul Kareem. Lah dalah, aku merinding mendengar cerita tersebut.
>
> Mungkin juga, Jokowi dianggap orang abangan karena dia diusung oleh PDIP
> yang identik dengan abang-abang, padahal PDIP Solo, sangat agamis, punya
> masjid sendiri di depan Kantor PDIP di Brengosan, dan masjidnya makmur,
> setiap minggu ada kegiatan semaan Al Qur’an bil ghoib dan pengajian rutin.
> Tur juga, partai yang terkuat di Solo adalah PDIP, partai-partai lain yang
> berbasis Islam seperti PPP, dan PKB sama sekali gak ada baunya, kecuali PAN
> dan PKS-*mambu-mambu sitik* (partai Islam di Solo tidak terlalu kuat).
>
> Sebetulnya obrolan tersebut sangat panjang dan beragam masalah yang
> didawuhkan oleh Pak Dul Kareem, tapi karena terbatasnya halaman, aku
> singkat semua obrolan tersebut dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana
> kepemimpinan Jokowi selama menjadi wali kota Solo, ketegasannya dan juga
> kebijakannya, terutamapada umat Islam?”
>
>  “Kebijakkan Pak Jokowi selama di Solo, sama sekali tidak ada yang
> merugikan umat Islam, kebijakan-kebijakan yang berhubungan dengan masalah
> agama selalu dikonsultasikan dulu pada ulama Solo, terutamanya pada Kyai
> Durrohim, Mustasyar NU waktu itu. Dan kebijakan Pak Jokowi itu bersifat
> Islam subtantif Gus, *tur yo* merakyat *tenan*, umat Islam di Solo itu
> kan mayoritas dan juga kalangan bawah, jadi  Pak Jokowi untuk mengangkat
> ekonomi rakyat kecil dengan menbangun banyak pasar-pasar tradisional,
> minimarket tidak boleh buka 24 jam, tidak mengizinkan mall-mall ada
> lagi,jarene Pak Jokowi, kalo umat Islam sejahtera maka masjid dengan
> sendirinya akan dipenuhi jama’ah, gitu Gus,” jelas Pak Dul Kareem padaku.
>
> Memang yang kudengar selama ini ya begitu itu, bahkan Jokowi berani
> menentang kebijakan Bibit Waluyo, Gubernur Jawa Tengah yang mengizinkan
> dibangunnya mall di Sari Petojo, sebab memang tanah Sari Petojo adalah
> milik propinsi, dan berhubung itu berada di daerah Solo, pembangunan
> tersebut tidak diizinkan oleh Jokowi, karena tidak berpihak pada ekonomi
> rakyat kecil di sekitarnya.
>
>  “Contoh lain, lokalisasi Shilir yang ada di Semanggi setahun menjadi Wali
> Kota, ditutup oleh Pak Jokowi, dan kemudian dibangun sebuah pasar
> untukmenghidupkan perekonomian warga sekitar. Dan yang mengisi pasar
> tersebut adalah para pedagang loak yang di Banjarsari, di sana itu ada
> sebuah monument yang menjadi cagar budaya, kumuh dan kotor karena di
> tempati oleh PKL-PKL yang tidak teratur. Dan cara memindahkannya pun, Masya
> Alloh, sangat manusiawi, nguwongke uwong tenan, perwakilan PKL di undang
> makan di Lodji Gandrung sampai puluhan kali kalau tidak  salah untuk
> berdiplomasi dengan para pedagang, dan ketika para pedagang menerima
> dipindah, mindahnya pun tidak dengan kekerasan, dipawaikan… dikirab dengan
> marak… *podo ditumpakke  jaran, seneng tenan… podo diuwongke mbek* Wali
> Kotane… (proses pemindahan tidak dengan kekerasan, semua pihak merasa
> dihargai),”  cerita PakDul Kareem panjang lebar.
>
> Aku membayangkan kemeriahan tersebut dan kegembiraan warganya yang merasa
> dimanusiakan oleh pemimpinnya. Selama sebelum Jokowi, Solo kumuh dan
> semrawut, dan  sekarang terlihat lebih hijau dan rapi, meskipun tidak
> semuanya, tapi itu jauh lebih baik dari pada masa-masa sebelum Wali Kota
> Jokowi. Dan ketika Shilir di tutup, Habib Syekh yang memang tinggal di
> Semanggi mendirikan majelis “Shilir Berdzikir” yang menjadi cikal bakal
> Ahbabul Musthofa saat ini.
>
> Solo saat ini jadi lebih hijau *dhohiron wa bathinan*, peringatan hari
> besar Islam juga lebih semarak, ada Parade Hadrah setiap Rajab, Festival
> Sholawat, kegiatan dzikir tahlil dan barzanji semakin marak, ada setiap
> saat, tidak hanya di masjid-masjid tapi juga di hotel-hotel mewah. Itu
> semua sebab kebijakan-kebijakan Jokowi dalam membangun Solo sebagai Kota
> Sholawat dan juga Spirit of Java. Sholawat Barzanji yang awalnya sesuatu
> yang jarang, karena NU di Solo adalah minoritas, sekarang menjadi hal yang
> seakan harus hadir dalam setiap moment, iya, sejak Jokowi menjadikan
> Majelis Dzikir dan Sholawatan sebagai tamu rutin di Balai Kota setiap
> Rabiul Awwal. Tidak hanya itu, di Rumah Dinas beliau, Lodji Gandrung
> dijadikan tempat rutin taraweh ala Masjidil Haram, 23 rakaat beserta witir
> dan mengkhatamkan Al Qur’an.
>
>  “Ketika Jamuro pertama kali diundang di Balai Kota, Pak Jokowi memberi
> kenang-kenangan, dalam bungkusan yang sangat tebal, *kulo ngiro niku
> isinya arto* Gus, tapi *jebule* stiker (saya kira isinya uang, tapi
> sertanya isinya stiker) bertuliskan, “Jamuro, dengan Bershalawat Kita Semua
> Selamat Dunia Akhirat.”
>
> Aku tertawa mendengar cerita tersebut, sebab kenang-kenangan tumpukan 5000
> stiker sebesar uang kertas, dibungkus dengan rapi kertas coklat, yang
> dibuka di depan umum, bisa menjadikan orang menyangka itu adalah uang
> puluhan juta. Jebule cuma stiker.
>
> Jamuro, singkatan dari Jam’ah Muji Rosul, awalnya hanya majlis dzikir
> tahlil dan pembacaan Barjanji yang menjadi rutinan segelintir jamaah, tapi
> sekarang jama’ahnya puluhan ribu dari Solo dan sekitarnya. Dan Pak Jokowi
> adalah salah satu pembinanya.
>
>  “Lah ndilalah, Pak Jokowi satu tahun jadi wali kota, kulo kebetulan dados
> ketua PCNU Solo, jadi *gih saget* bersinergi dengan Pak Wali, dan Pak
> Jokowilah yang mengusulkan dan yang ngobrak-ngobrakki agar di bentuk
> Ranting NU di seluruh Solo, ada 51 Ranting, dan ini baru pertama kalinya
> PCNU Solo punya ranting, itu berkat Pak Jokowi dan Pak Jokowi juga yang
> membuatkan 51 papan nama untuk ranting NU tersebut,” cerita Pak Dul Kareem
> dengan antusias.
>
>  “Di antara juga, shalat Idul Fitri bisa terlaksana di Balai Kota, itu
> juga kebijakan Pak Jokowi dan Pak Jokowi sendiri yang menutupi dua arca
> yang di depan balai kota itu, pakai kain mori, ditutup sendiri, padahal
> untuk hal seperti itu*, nyuruh* ajudan kan bisa.” Saya jadi teringat
> ketika Jokowi *ngangkati* gong yang mau ditabuh oleh SBY, entah dalam
> pembukaan apa itu, aku lupa.
>
>  Hal-hal seperti itu tentu tidak pernah kita dengar dari mulut Jokowi
> sendiri, yang kita dengar hanyalah pembelaan, “Saya Islam, dan saya
> meyakini kebenaran Islam saya.” Dan pembelaan diri Jokowi bahwa dirinya
> dari keluarga muslim yang baik,  yang juga telah melakukan rukun Islam
> kelima, itu juga baru kita dengar setelah begitu gencarnya fitnah yang
> meragukan keislaman dia selama Pilpres 2014 ini. Selama Pilkada Jakarta,
> dua tahun lalu, JOKOWI membiarkan fitnah-fitnah itu bagai angin lalu,
> Islamku yo Islamku, lapo dipamer-pamerke… mungkin seperti itu pikirnya.
>  Padahal sekarang yang lagi naik daun adalah  “Akulah yang paling Islam,
> Akulah yang paling benar” yang lain KW.
>
> Pak Kiai Dul Kareem, memang tidak semasyhur poro masyayih maupun poro
> mursyid, tapi beliau adalah orang yang ikhlas, dan juga salah satu tokoh
> yang nasehatnya di dengar Jokowi. Dan Jokowi pun tidak pernah menarik Pak
> Dul Kareem dalam ranah politik dia.
>
> “Gus Kareem, saya minta dikawal sampai saya selesai, tapi Panjenengan
> hanya bisa menasehati kulo atau memberi usul, tidak bisa merubah kebijakan
> saya dalam hal pemerintahan. Kalo dalam hal wudhu, atau sholat, atau ibadah
> kulo yang salah, *kulo menawi mboten nurut Jenengan, kulo monggo Jenengan
> sampluk*. (Kalau dala urusan wudhu dan shalat saya salah, tolong saya
> diluruskan), itu perkataan Jokowi sendiri ketika dia menjadi Wali Kota
> Solo, begitu itu sosok Pak Jokowi Gus, tegas, semua bawahannya pasti tahu
> itu.” Akhir cerita PakDul Kareem, allohu yarham.
>
> Terlepas dari penuturan di atas, Jokowi juga mempunyai banyak kekurangan,
> dalam pemerintahannya maupun perilaku. Dan itu kalau ditulis bisa jauh
> berlampir-lampir, beredisi-edisi, sebab mengurai kekurangan orang lain
> tidak akan habisnya. Ia hanyalah manusia biasa. Tapi aku hanya mengfokuskan
> diri menjawab pertanyaan teman-temanku selama ini.
>
> *Wallohu a’lam bisshowab.*
>
> *Irfan Nuruddin*, santri Pondok Pesantren Langitan, Khodimul ma’had Al
> Muayyad, Mangkuyudan, Solo
>
>
>
> Salam
>
>
> Muhammad Syahreza
>
>
>
>
>  --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>



-- 
Zorion Anas
(+62)085811292236
[email protected], [email protected]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke