Ini pikiran  orang Payakumbuh untuk Indonesia

Handry Satriago
CEO
GE Indonesia
BRI II Tower, 16th Floor
JL. Jend Sudirman No. 44-46.
Jakarta 10210

Jakarta, 9 July 2012

Kepada para pemimpin Indonesia masa depan

Di manapun Anda berada

Di dunia yang semakin global.

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu
membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop dari
Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk “Made in The
World” seperti celana jeans yg saya pakai sekarang. Karena, walaupun saya
beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”,
celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain pembuatannya.

Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu
mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata
“leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengatahuan yg
dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang
yang berkecamuk.

Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga dia berani mendobrak
keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku untuk survive di berbagai
kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di Jakarta, Tidakkah dia takut
dengan keterbatasannya?
Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia
inginkan.

Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi sendiri
pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker lymphoma
non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di medulla spinalis
saya dan merusaknya sedemikian rupa sampai saya
kehilangan kemampuan untuk berjalan.

Bulan-bulan yang melelahkan karena harus berobat ke sana ke mari, dan
akhirnya berujung kepada keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan
kursi roda. Saya ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup
saat itu. Keterbatasan menghadang di banyak hal. Usia saya baru 17 tahun
waktu itu, dan hidup berjalan jauh dari yang saya harapkan.

Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi tembok
besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus dilontarkan kepada
kita sehingga kita tidak berani maju dan terus mundur?

Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan menerima
kenyataan. Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa lapangan
pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap. “Reality bites”
kata orang. Betul itu. Tapi menerima “gigitan” itu berguna untuk membuat
kita mampu menyusun strategi baru. Menghindarinya atau lari darinya justru
membuat kita terlena mengasihani diri kita terus menerus dan menenggelamkan
kemampuan kita untuk dapat melawan balik.

Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya. Tidak! Mimpi
tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan, bahkan
dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup. Ketika keterbatasan dan ketakutan
melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan, tapi tidak akan
hilang. Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya kembali, dan ketika mimpi
telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan memberikan cahaya terhadap
pilihan jalan yang akan ditempuh untuk mewujudkannya.

Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat saya
semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan kita untuk
menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survival nya di muka bumi ini.

Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme primitif yang dimiliki
organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari dari ancaman, atau…
melawannya!. Ketika pilihannya adalah melawan, maka perangkat perang telah
disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu terwujud dalam kemampuan bouncing
back—daya pantul, yang jika digunakan mampu membuat kita memantul tinggi
ketika kita dihempaskan ke tanah. Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu
bekerja. Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan
tidak akan hadir.

Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang
rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini. Ketika membuat
pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki tangga
bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika memutuskan untuk
kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bias praktikum kuliah, ketika
harus menjalani kemoterapi, ketika memulai bekerja, ketika naik pesawat,
ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika melamar calon istri, ketika
mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang General Electric International
Operations Company, Inc. asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE
di Indonesia….

Saya takut. Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi
menghujami saya.
Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk
dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya
tempuh. Dan ketika perangkat perang—semangat untuk memantul, saya gunakan,
saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang didukung oleh
ribuan pasukan—keluarga, teman, bahkan orang yang tak
dikenal, yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan
saya.

Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah yang harus saya
jalani, saya nikmati. Hasil peperangan sendiri tidaklah terlalu penting,
karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi. Kalau mati, saya akan
mengakhiri perang dengan senyum, karena saya tahu saya telah berjuang
dengan sebaik-baiknya. Sang Pencipta lah yang pada akhirnya memilihkan
hasil dari perjuangan kita.

Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan mimpi yang
ingin dicapai. Tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut. Jika
mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani mempimpin diri anda
sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu anda dengan tulus, serta
percaya pada kepemimpinan anda.

Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia tempat saya hidupsekarang
ini menghasilkan pendapatan kotor setahun $70 triliun. Sekitar 40% dari
pendapatan dunia tersebut dihasilkan oleh 500 korporasi terbesar dunia, dan
tidak ada satu pun yang berasal dari negara kita (133
dari Amerika Serikat, 79 dari China, 8 dari India). Terdapat sekurangnya
136 negara yang berkompetisi di dunia ini untuk mendapatkan keuntungan
terbanyak dari proses ekonomi global, dan daya saing Indonesia terukur pada
ranking 46. Singkat kata, kita masih belum menjadi pemeran utama di
panggung dunia yang tak berhenti mengglobal.

Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah. Tidak
berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan langkah anda
untuk berperang.

Follow twitter Pak @HandryGE
Keep Breathing, Keep Inspiring!

-- 
Zorion Anas
(+62)085811292236
[email protected], [email protected]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke