Sangat membanggakan http://id.m.wikipedia.org/wiki/Handry_Satriago Pada 19 Jul 2014 09:39, "Zorion Anas" <[email protected]> menulis:
> Ini pikiran orang Payakumbuh untuk Indonesia > > Handry Satriago > CEO > GE Indonesia > BRI II Tower, 16th Floor > JL. Jend Sudirman No. 44-46. > Jakarta 10210 > > Jakarta, 9 July 2012 > > Kepada para pemimpin Indonesia masa depan > > Di manapun Anda berada > > Di dunia yang semakin global. > > Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia yang saya huni ini mampu > membuat 112 buah mobil dalam 1 menit, menerbangkan orang non-stop dari > Singapura ke New York dalam 18 jam, dan menghasilkan produk “Made in The > World” seperti celana jeans yg saya pakai sekarang. Karena, walaupun saya > beli di Bandung dan berlabelkan “Made in Indonesia”, > celana ini melibatkan lebih dari 15 negara dalam value chain pembuatannya. > > Malam ini, ketika surat ini saya ketik dengan komputer yang mampu > mengumpulkan 411 juta informasi dalam 0.23 detik untuk pencarian kata > “leadership”, saya membayangkan keterbatasan mencari pengatahuan yg > dihadapi ayah saya, saat mimpinya untuk sekolah sirna karena perang > yang berkecamuk. > > Saya memikirkan daya apa yang dimilikinya, sehingga dia berani mendobrak > keterbatasannya dengan merantau dan berjibaku untuk survive di berbagai > kota di Sumatera hingga akhirnya sampai di Jakarta, Tidakkah dia takut > dengan keterbatasannya? > Usianya baru 15 tahun saat itu, dan hidup tidak berjalan seperti yang dia > inginkan. > > Saya juga terkenang dengan peristiwa mengerikan yang saya hadapi sendiri > pada tahun 1987, ketika saya tiba-tiba divonis menderita kanker lymphoma > non-hodkin- kanker kelenjar getah bening, yang tumbuh di medulla spinalis > saya dan merusaknya sedemikian rupa sampai saya > kehilangan kemampuan untuk berjalan. > > Bulan-bulan yang melelahkan karena harus berobat ke sana ke mari, dan > akhirnya berujung kepada keharusan menjalankan hidup dengan menggunakan > kursi roda. Saya ingat betul betapa takutnya saya untuk menjalani hidup > saat itu. Keterbatasan menghadang di banyak hal. Usia saya baru 17 tahun > waktu itu, dan hidup berjalan jauh dari yang saya harapkan. > > Apa yang bisa dilakukan ketika keterbatasan seakan menjelma menjadi tembok > besar dan ketakutan adalah anak panah berapi yang terus dilontarkan kepada > kita sehingga kita tidak berani maju dan terus mundur? > > Saya, dan mungkin juga ayah saya waktu itu, memulainya dengan menerima > kenyataan. Menerima bahwa jalan tidak lagi mulus, bahwa lapangan > pertempuran saya jelek, dan amunisi saya tidak lengkap. “Reality bites” > kata orang. Betul itu. Tapi menerima “gigitan” itu berguna untuk membuat > kita mampu menyusun strategi baru. Menghindarinya atau lari darinya justru > membuat kita terlena mengasihani diri kita terus menerus dan menenggelamkan > kemampuan kita untuk dapat melawan balik. > > Kemudian saya mengumpulkan kembali puing-puing mimpi saya. Tidak! Mimpi > tidak akan pernah mati. Manusia bisa dibungkam, dilumpuhkan, bahkan > dibunuh, tapi mimpi tetap akan hidup. Ketika keterbatasan dan ketakutan > melanda, mimpi kita mungkin pecah, runtuh, dan berserakan, tapi tidak akan > hilang. Dengan usaha keras, kita bisa menyusunnya kembali, dan ketika mimpi > telah kembali utuh, ia akan hidup, menyala, dan memberikan cahaya terhadap > pilihan jalan yang akan ditempuh untuk mewujudkannya. > > Dua puluh enam tahun menjalani kehidupan dengan kursi roda membuat saya > semakin yakin bahwa Yang Maha Kuasa memang telah menciptakan kita untuk > menjadi makhluk yang paling tinggi kemampuan survival nya di muka bumi ini. > > Kita diberikan rasa takut, yang merupakan mekanisme primitif yang dimiliki > organisme untuk survive, yaitu keinginan untuk lari dari ancaman, atau… > melawannya!. Ketika pilihannya adalah melawan, maka perangkat perang telah > disiapkanNya untuk kita. Perangkat itu terwujud dalam kemampuan bouncing > back—daya pantul, yang jika digunakan mampu membuat kita memantul tinggi > ketika kita dihempaskan ke tanah. Kitalah yang bisa membuat daya pantul itu > bekerja. Jika kita tak ingin melawan, perangkat perang tersebut bahkan > tidak akan hadir. > > Berpuluh kali, atau beratus kali atau mungkin beribu kali saya diserang > rasa takut ketika menjalani kehidupan dengan kursi roda ini. Ketika membuat > pilihan kembali ke sekolah, ketika menyeret kaki untuk menaiki tangga > bioskop agar bisa menemani wanita pujaan menonton, ketika memutuskan untuk > kuliah, ketika menghadapi 4 lantai untuk bias praktikum kuliah, ketika > harus menjalani kemoterapi, ketika memulai bekerja, ketika naik pesawat, > ketika akhirnya bisa ke luar negeri, ketika melamar calon istri, ketika > mulai bekerja di GE yang penuh dengan orang General Electric International > Operations Company, Inc. asing, ketika menerima tawaran untuk mempimpin GE > di Indonesia…. > > Saya takut. Tembok besar berdiri tegak, angkuh, dan ribuan panah berapi > menghujami saya. > Namun seiring dengan rasa takut yang timbul tersebut, mimpi saya untuk > dapat menjalankan dan menikmati hidup menerangi jalan yang ingin saya > tempuh. Dan ketika perangkat perang—semangat untuk memantul, saya gunakan, > saya seakan menjelma menjadi jenderal yang siap perang, yang didukung oleh > ribuan pasukan—keluarga, teman, bahkan orang yang tak > dikenal, yang tiba-tiba hadir karena mereka percaya terhadap keyakinan > saya. > > Saya maju berperang, dengan keyakinan bahwa peperanganlah yang harus saya > jalani, saya nikmati. Hasil peperangan sendiri tidaklah terlalu penting, > karena kalaupun kalah, toh saya akan berperang lagi. Kalau mati, saya akan > mengakhiri perang dengan senyum, karena saya tahu saya telah berjuang > dengan sebaik-baiknya. Sang Pencipta lah yang pada akhirnya memilihkan > hasil dari perjuangan kita. > > Menjadi pemimpin bermula dari memimpin diri sendiri. Mewujudkan mimpi yang > ingin dicapai. Tidak perlu membayar orang untuk menjadi pengikut. Jika > mereka melihat anda dengan penuh keyakinan berani mempimpin diri anda > sendiri, mereka akan mengikuti dan membantu anda dengan tulus, serta > percaya pada kepemimpinan anda. > > Saat saya menulis surat ini kepada Anda, dunia tempat saya hidupsekarang > ini menghasilkan pendapatan kotor setahun $70 triliun. Sekitar 40% dari > pendapatan dunia tersebut dihasilkan oleh 500 korporasi terbesar dunia, dan > tidak ada satu pun yang berasal dari negara kita (133 > dari Amerika Serikat, 79 dari China, 8 dari India). Terdapat sekurangnya > 136 negara yang berkompetisi di dunia ini untuk mendapatkan keuntungan > terbanyak dari proses ekonomi global, dan daya saing Indonesia terukur pada > ranking 46. Singkat kata, kita masih belum menjadi pemeran utama di > panggung dunia yang tak berhenti mengglobal. > > Pekerjaan rumah anda sebagai pemimpin Indonesia tidaklah mudah. Tidak > berarti, tembok besar dan ribuan panah api bisa menghentikan langkah anda > untuk berperang. > > Follow twitter Pak @HandryGE > Keep Breathing, Keep Inspiring! > > -- > Zorion Anas > (+62)085811292236 > [email protected], [email protected] > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
