Rekonsiliasi Nasional: Khilafah Politik Yang Harus Diperbaiki (Bagian
Satu)

Selasa, 22 Juli 2014 16:09 WIB

Oleh Dr Ir Ricky Avenzora M.Sc.*

http://www.antarababel.com/berita/11721/rekonsiliasi-nasional-khilafah-politik-yang-harus-diperbaiki-bagian-satu


http://bogor.antaranews.com/berita/8940/rekonsiliasi-nasional--khilaf-politik-yang-harus-diperbaiki-bagian-dua

http://bogor.antaranews.com/berita/9009/rekonsiliasi-nasional-khilaf-politik-yang-harus-diperbaiki-bagian-ketiga

http://bogor.antaranews.com/berita/9009/rekonsiliasi-nasional-khilaf-politik-yang-harus-diperbaiki-bagian-ketiga



Pada 3 Agustus 2014 08.39, Hanifah Damanhuri <[email protected]> menulis:

> Rekonsiliasi Nasional Suatu Kebutuhan
> 17 Jul 2014 18:02:19| Karkhas | Penulis : Dr Ir Ricky Avenzora M.Sc.*
>
> Jakarta (Antara) - Beberapa tahap proses Pemilihan Umum Presiden 2014
> telah dilalui, namun dinamika politik yang menyertainya berkecenderungan
> masih akan menimbulkan berbagai drama panjang yang bersifat sangat krusial
> dan mengandung bahaya laten.
>
> Berbagai dinamika dalam proses Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) yang
> telah dilalui bukan hanya telah membuka mata bangsa Indonsia tentang
> bermacam "kenakalan" berbagai pihak selama ini melainkan juga telah semakin
> meruyak banyak luka lama dalam berbangsa dan bernegara, sedangkan berbagai
> dinamika yang harus dihadapi di masa depan juga tetap terus menganga
> semakin lebar untuk memangsa dan melumpuhkan kita sebagai suatu bangsa dan
> negara.
>
> Jika dicermati dan renungkan berbagai proses yang telah terjadi selama
> masa Pilpres, maka barangkali kita semua akan bisa sepaham untuk mengatakan
> bahwa kita sepertinya belum akan bisa mendapatkan pemimpin bangsa yang
> benar-benar meyakinkan kita semua dan mampu mensejahterakan kita semua.
>
> Salah calon pemimpin sematakah, atau ada juga andil kesalahan kita sebagai
> rakyat dari bangsa dan negara ini?
>
> Jika ditelaah dengan tenang, proses Pilpres 2014 ternyata hanya
> menyuburkan tiga pola perilaku politik saja, yaitu (1) "politik adu domba"
> yang diwarnai oleh isu kampanye hitam atau "black campaign", (2) "politik
> santun jilid dua" yang didominasi oleh sikap-sikap superlatif yang sinis
> dan terlalu percaya diri, serta (3) "politik kolaboratif" yang
> diimplementasikan dalam dua cara yang berbeda, yaitu "politik kolaboratif
> transaksional terbuka" yang dimainkan oleh kubu Prabowo-Hatta dan "politik
> kolaboratif transaksional tertutup" yang dimainkan oleh kubu Jokowi-JK.
>
> Dalam mencermati "politik adu domba", maka kita semua perlu menyadari
> bahwa perilaku "black campaign" tersebut adalah bukan saja potensial untuk
> dilakukan oleh kedua kubu yang sedang bersaing, melainkan juga sangat
> potensial untuk dilakukan oleh pihak ketiga yang memang sengaja dan
> bertujuan untuk melemahkan dan/atau menghancurkan bangsa dan negara
> Indonesia.
>
> Dalam konteks "positif thinking", kita semua harus berfikir bahwa akan
> menjadi terlalu bodoh kalau Probowo-Hatta dan Jokowi-JK secara sadar
> memerintahkan dan membiarkan kelompoknya untuk memainkan "politik adu
> domba", namun demikian sebaliknya Prabowo-Hatta dan Jokowi-JK juga tidak
> bisa terlalu mudah untuk meyakinkan kita semua bahwa kubu mereka
> masing-masing bersih dari permainan "kotor" tersebut.
>
> Selama kedua kubu tidak mampu menunjukan pada kita semua tentang SOP
> berserta sistem kontrol kampanye mereka, maka kedua kubu pun tidak boleh
> marah kepada kita semua atas berbagai prasangka yang dilemparkan pada
> mereka masing-masing.
>
> Adanya pihak ketiga yang memainkan "politik adu domba" untuk tujuan
> melemahkan dan/atau menghancurkan bangsa dan negara kita barangkali perlu
> untuk dibahas agak panjang.
>
> Sebagai salah satu "the richest country in the world" tentunya mudah untuk
> dipahami bahwa banyak bangsa asing yang sangat bernafsu untuk menguasai
> negeri dan bangsa kita ini melalui berbagai cara.
>
> Tanpa harus membuka luka lama, apa pun juga kita semua tidak boleh lupa
> bahwa sebelum kemerdekaan 17 Agustus 1945 bangsa Indonesia pernah dijajah
> oleh bangsa asing berabad-abad lamanya, sedangkan setelah kemerdekaan pun
> Indonesia pernah dibuat susah serta coba didikte dan bahkan dihina
> berkali-kali hingga saat ini oleh berbagai bangsa lain, termasuk oleh
> berbagai negara tetangga yang mestinya menjadi sahabat setia.
>
> Jika sebelum abad ke-20 kolonialisme adalah dimulai dengan bentuk
> pengusaaan wilayah, maka pada abad 20 kolonialisme adalah dimulai dengan
> penguasaan teknologi dan ekonomi, sedangkan dalam abad 21 ini kolonialisme
> akan menjelma dalam bentuk kekuatan yang lebih masif, yaitu ekonomi,
> teknologi, "mindset" dan wilayah secara
> bersamaan.
>
> Mari diingat bagaimana sejarah VOC menjadi cikal bakal penjajahan Belanda
> terhadap Indonesia, lalu coba telusuri serta maknai berbagai konsesi asing
> yang telah mengusai sebagian besar sumber-sumber daya Indonesia saat ini,
> selain migas dan bahan tambang maka cermati jugalah telekomunikasi,
> automotif, perbankan, pendidikan dan pariwisata.
>
> Kemudian mari cermati proses "cuci otak" yang dimainkan berbagai kelompok
> media terhadap generasi muda Indonesia. Bukan hanya setali tiga uang dengan
> pola VOC, melainkan penguasaan sektor, aspek dan distribusi ruang yang
> dikuasainya jauh lebih masif dan laten, bukan?
>
> Politik Santun
> Hadirnya "Politik Santun Jilid II" perlu dicermati dan maknai bukan saja
> karena telah ditirunya pola-pola "Politik Santun Jilid I" yang cenderung
> diasosiasikan masyarakat dengan Presiden SBY dan Partai Demokratnya,
> melainkan juga adalah karena agresifitas "Politik Santun Jilid II" yang
> dimainkan oleh Kubu Jokowi-JK.
>
> Jika "Politik Santun Jilid I" cenderung dominan dimainkan dengan pola
> "indah kabar dari pada rupa", maka dalam "Politik Santun Jilid II"
> Jokowi-JK ingin membangun image (citra) dan mengklaim diri sebagai pemimpin
> yang "merakyat" dan "cepat-kaki ringan-tangan", tapi di sisi lain kita
> semua menjadi saksi betapa sinisnya air muka dan gaya bahasa yang dipakai
> oleh kelompok Jokowi-Jk selama masa berkampanye, serta betapa superlatifnya
> retorika kampanye yang mereka suarakan, seakan-akan mereka adalah kelompok
> tanpa "catatan kenakalan" atau pun tanpa "catatan kekhilafan" dan tanpa
> berkekurangan.
>
> Saking agresifnya dan merasa superlatifnya, kita semua telah menjadi saksi
> betapa JK (sebagai seorang politisi senior dan mantan Wapres negara ini)
> telah secara vulgar merendahkan kelompok lawannya dengan isu
> "gerombolan-mafia" pada saat debat Capres.
>
> Di satu sisi, keagresifan JK adalah sesuatu yang sangat perlu kita semua
> sayangkan, tapi di sisi lain kita semua juga tidak melihat optimalnya
> "kecerdasan-diplomasi" dan "kecerdasan-politik" Prabowo dalam menjawab
> kevulgaran JK tersebut.
>
> Yang kita lihat saat itu adalah Probowo (yang diisukan lawan politiknya
> sebagai individu yang bersifat emosional dan tempramental) ternyata jauh
> lebih dewasa dari seorang JK yang sesungguhnya berumur jauh lebih tua dan
> lebih berpengalaman pula.
>
> Kedewasaan bahasa politik kubu Prabowo-Hatta tersebut nampaknya bukanlah
> "artificial-identity" kubu mereka, yaitu sejalan dengan konsistennya mereka
> mengartikulasikan retorika kampanye mereka secara proporsional selama masa
> kampanye.
>
> Meskipun "politik-kolaboratif-transaksional" telah kita kritik
> habis-habisan semenjak reformasi, namun pilihan langkah politik kubu
> Prabowo-Hatta untuk melakukan Koalisi Permanen Merah Putih dengan dasar
> transaksional (seperti yang diberitakan berbagai media) secara terbuka
> adalah sesuatu yang secara objektif harus dikatakan sangat-sangat
> menyesakkan dada kita semua.
>
> Di satu sisi barangkali bisa kita pahami bahwa langkah tersebut memang
> adalah langkah yang efektif untuk "menjaring" calon kawan untuk mau segera
> berkolaborasi dengan pihak Prabowo, namun di sisi lain bangsa ini menangis
> tersedu sedan atas masih suburnya pemikiran transaksional itu di
> tengah-tengah "Taipan Politik" yang membentuk Koalisi Permanen Merah Putih
> tersebut.
>
> Jika para "Taipan Politik" saja masih memainkan "jurus" tidak terpuji
> tersebut saat ini, maka "jurus-politik" apa lagi yang akan bisa dipelajari
> oleh generasi penerus dari para "Taipan" tersebut sebelum mereka uzur
> nantinya.
>
> Di satu sisi, tidak bisa ditolak jika ada anggota masyarakat yang
> berkesimpulan bahwa langkah politik-transaksional Prabowo telah mencederai
> semangat visioner dan nasionalisme yang beliau kobarkan.
>
> Jika para "Taipan Politik" saja cenderung lebih memetingkan kelompok
> mereka masing-masing, maka tentu tidak aneh kalau kemudian ada bangsa lain
> yang juga ingin dapat "kue" yang diperebutkan itu, bukan?
>
> Namun di sisi lain, kejujuran Prabowo untuk membuat transaksi terbuka
> adalah perlu juga kita hargai, setidak-tidaknya dengan keterbukaan tersebut
> maka kita bisa memberi "input" secara terbuka pula.
>
> Kejujuran politik-transaksional tersebut menjadi penting dan berarti
> ketika harus kita sandingkan dengan retorika kampanye "politik
> kolaborasi-tanpa syarat" yang dengan "angkuhnya" digaungkan oleh kubu
> Megawati-Jokowi-JK.
>
> Ada tiga pertanyaan penting yang harus dijawab sebelum secara objektif
> kita bisa mempercayai bahwa benar terjadi "politik-kolaborasi-tanpa
> syarat", yaitu: (1) Apakah ada kolaborasi politik tanpa berbagi kekuasaan?
> (2) Apakah Megawati-Jokowi begitu kuatnya sehingga Nasdem, Hanura, PKB dan
> seorang JK pun mau "menghambakan diri" kepada Megawati dan Jokowi? (3)
> Apakah Nasdem, Hanura dan PKB serta seorang JK begitu lemahnya sehingga mau
> disuruh berlaku "ndhodhok" oleh Megawati dan Jokowi?
>
> Jika satu saja dari tiga pertanyaan di atas mempunyai jawaban "tidak" maka
> akan sangat sulit bagi kita semua untuk bisa mempercayai "kolaborasi tanpa
> syarat" tersebut, bukan?
>
> Atas hal itu, maka menjadi sulit bagi Kubu Jokowi-JK untuk menyalahkan
> jika ada anggota masyarakat yang menilai bahwa retorika kampanye
> "kolaborasi tanpa syarat" tersebut sesungguhnya hanyalah merupakan suatu
> proses pencitraan belaka, yang kemudian bukan hanya menjadi krusial karena
> telah melakukan "kebohongan publik", melainkan juga menjadi sangat
> berbahaya karena adanya motif "otoriter" yang tersembunyi (seperti politik
> anggaran yang akan diterapkan oleh Jokowi terhadap daerah otonomi).
>
> Hingga di sini, selain pembelajaran dinamika politik yang bisa kita coba
> cerna sebagai masyarakat umum, maka ada satu pertanyaan besar yang perlu
> kita cuatkan bersama, yaitu: "Kapankah Bangsa dan Negara Kita Akan
> Benar-benar Sadar Untuk Benar-Benar Mulai Mencintai dan Membangun Bangsa
> dan Negara ini?"
>
> Ketika "kunci gerbang" pasar bebas sudah terbuka dan saat ini gerbangnya
> pun sudah harus mulai digeser agar terbuka lebar mulai Januari 2015 nanti
> mengapa kita semua masih harus menelan pil-pahit bernegara dan berbangsa
> seperti paparan di atas?
>
> Di satu sisi, kubu calon pemimpin yang visioner seperti "kekurangan akal"
> untuk membangun kolaborasi, sedangkan di sisi lain kubu calon pemimpin yang
> ingin memiliki image "kerakyatan" ternyata hanya menampakan "artificial
> identity" belaka, yang selama kampanye malah sering terindikasikan memiliki
> sikap "serigala berbulu domba".
>
> Dosa dan khilaf apa yang telah turun temurun dilakukan oleh bangsa kita
> ini, sehingga persoalan dan permasalahan yang dihadapi semakin
> berlarut-larut dan kompleks?
>
> Mengapa setelah sekian lama merdeka dan semakin banyak anak bangsa yang
> terdidik malah kita semua masih saja harus bersikap dan bertindak seperti
> pil pahit di atas?
>
> Tidakkah kita semua perlu bersatu untuk bahu membahu membangun bangsa dan
> negara kita tercinta ini secara sungguh-sungguh?
>
> Jika iya, maka nampaknya semua kebodohan kita bersama selama ini hanya
> akan bisa kita hentikan dan perbaiki kalau kita mau dan mampu melakukan
> "rekonsiliasi nasional" secara baik dan benar, jujur dan ikhlas serta
> sesegera mungkin. Tanpa itu, maka persoalan berbangsa dan bernegara setiap
> hari akan semakin carut marut dan menyebabkan saling cakar-mencakar di
> antara kita pun akan sulit terhindari.
>
> Para politikus akan cenderung terus "memakai topeng" dan membuat
> kebohongan publik, para birokrat akan terus menjadi "rayap" yang
> menghancurkan bangunan rumahnya sendiri, sedangkan para teknokrat akan
> terus sombong dan menjadi "salesman" dari teknologi yang mereka banggakan.
>
> Adapun para akademisi senior akan terus berlagak bijak tanpa kejelasan
> sikap dan keberanian bertindak, para akademisi muda (mahasiswa) akan terus
> terombang-ambing, tercuci rasa nasionalismenya oleh jargon ilmu pengetahuan
> yang dicekokan berbagi buku dan kemudian menjadi pion "perang politik"
> belaka, adapun para pengusaha akan terus merasa tidak ada kepastian dan
> cenderung menumpuk kekayaan hingga tujuh turunan sesegera mungkin dengan
> berbagai cara.
>
> Demikian juga para PNS akan terus "diteres" (disayat agar kering dan mati
> pelan-pelan), sama hal nya dengan tentara dan polisi serta hakim dan jaksa
> yang terus didorong untuk terpaksa menjadi "pagar makan tanaman", sedangkan
> para buruh dan petani serta rakyat jelata akan terus diperlakukan tidak
> lebih berharga dari sekedar alas kaki.
>
> Semua itu akan menjadikan bangsa lain semakin mudah serta leluasa untuk
> menjajah bangsa dan negara Indonesia ini.
>
> Jika pemikiran-pemikiran di atas ada benarnya dan masuk di akal kita
> semua, maka barangkali perlu bagi kita untuk berfikir serius serta objektif
> untuk segera memulai suatu proses "rekonsiliasi nasional" sekarang juga.
>
> Untuk itu, maka dalam tulisan selanjutnya kami akan mencoba mengajak
> pembaca untuk memikirkan beberapa dinamika penting berbangsa dan bernegara
> selama ini yang perlu dikenali dan maknai agar kita bisa melakukan
> "rekonsiliasi nasional" secara baik dan benar, serta jujur dan ikhlas, yang
> akan dituangkan dalam tajuk tulisan "Rekonsiliasi Nasional: Khilaf Politik
> Yang Harus Diperbaiki".
>
> *)Penulis adalah salah satu pendiri Perhimpunan Nasionalis Indonesia
> (Pernasindo), saat ini Ketua Program Studi Pascasarjana Manajemen Ekowisata
> dan Jasa Lingkungan Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor (IPB). (*)
>
>
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke