BERLEBARAN DI
BALIK PAPAN
Mochtar Naim
1
Agustus 2014
TADINYA saya berencana mau berlebaran di Perth, Australia. Saya baru sempat
mampir di Airport Perth di penghujung tahun 1970, 44 tahun yl, dalam perjalanan
saya ke ibukota Australia, Canbera, menghadiri kongres internasional dari para
orientalis sedunia, yang saya juga ikut menyampaikan dan membacakan makalah
saya. Tapi rencana ke Perth bersama dengan menantu: Eri Rusli, anak: Elvira,
dan tiga cucu: Zahra, Ihsan dan Rahma, yang sudah dipersiapkan sejak setahun
yang lalu, ternyata batal. Beberapa hari sebelum berangkat diketahui, visa
yang berlaku untuk satu tahun, ternyata habis masa berlakunya. Untuk
memperbaharuinya perlu waktu tiga bulan. Cilakanya lagi, paspor pun habis masa
berlakunya, sehingga jadinya, mereka saja yang pergi. Saya batal pergi. Di
Perth ada adik Eri, Victor Rusli, bertugas di sana sebagai karyawan Chevron,
untuk didatangi.
Untuk membalas kekecewaan, sayapun banting setir mengunjungi anak
lelaki satu-satunya, Emil Hasan Naim, dengan isteri, Nina, dan empat anak
mereka yang adalah juga cucu saya: Salsabila, Namira, Ibrahim dan Ilham, di
Balik Papan. Emilpun kebetulan juga berkerja di Chevron seperti Victor. Dan dia
aktif berdakwah di HTI untuk tujuan Daulah Khilafah se dunia.
Pada hari dan jam yang sama, Kamis, 24 Juli 2014, kamipun berangkat ke
Bandara Sutta, yang mereka ke Perth lewat Denpasar, dan saya tancap ke Balik
Papan. Tahunya dijemput oleh Emil ke Bandara Sepinggan, Balik Papan, barang2
yang di bagasi tidak nongol. Setelah diusut, dijanjikan akan segera diproses.
Dan memang ternyata tidak kebawa bersamaan, yang besoknya baru dikirim.
Alhamdu lillah. Tidak jadi hilang. Tanda barang halal.
Di Balik Papan sempat seminggu terakhir berpuasa dan sekaligus
berlebaran di Balik Papan. Rencananya balik ke Jakarta tgl 4 Agustus, bersama
Emil dan dua anak perempuannya, Salsa dan Namira. Salsa mau lanjut ke Bandung
memasuki Universitas dan Namira kembali ke Bogor masuk kelas 1 SMP di Sekolah
HTI. Nina dan dua anak laki2, Ibrahim dan Ilham sudah duluan ke Jakarta, yang
ayahnya, Rusli Dahlan, adalah kawan sepermainan saya juga waktu masih bujangan,
karena sama2 se Banuhampu.
Walau sudah beberapa kali ke Balik Papan, dan bahkan ke semua kota2 di
Kalimantan, dan Indonesia lainnya, sudah saya turuti, terutama selaku anggota
MPR-RI maupun DPD-RI, 1998-2008. Kemarinpun, Sabtu, tgl 2 Agustus 2014, sempat
juga ke Tenggarong Kutai Kertanegara dan Samarinda, yang sudah malam baru
pulang sampai di rumah.
Balik Papan, Samarinda, Tenggarong, dan semua kota2 di Kalimantan, bagi
pandangan saya adalah kota2 masa depan dari Kalimantan yang adalah Indonesia
bahagian Tengah. Sudah waktunya kita berfikir corak pemerintahan yang cocok ke
masa depan, yang bagi saya tak lain dari NPRI (Negara Persatuan RI) alias
Negara Federal RI, untuk menggantikan NKRI (Negara Kesatuan RI) alias Negara
Unitaris-Sentralistis RI sekarang ini. Indonesia sebesar sekarang ini, yang
adalah negara ke empat terbesar di dunia, sesudah Amerika Serikat, Cina dan
India sekarang ini, baik luas wilayah, jumlah penduduk maupun kekayaan alamnya.
Indonesia bahkan adalah negara maritim terbesar di dunia ini, di samping juga
negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia ini. Negara-negara
tetangga yang jauh lebih kecil, seperti Filipina, Malaysia dan Thailand saja,
adalah negara federal, apatah lagi Indonesia, kok tidak. Sementara dalam
praktek pelaksanaannya, negara2 federal di manapun,
jauh lebih solid, stabil dan kokoh-kuat ketimbang negara2 unitaris, di manapun.
Dari sekarang kita sudah harus berfikir dan merancang Indonesia akan
menjadi Negara Persatuan RI, alias Negara Federal RI, di mana Sumatera, Jawa,
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara dan Papua adalah tujuh Negara
Bahagian dari Negara Persatuan RI itu. Dengan itu tujuan kita tidak lain adalah
bahwa kekayaan alam NPRI ini tidak lagi dikuasai dan dijajah oleh para
kapitalis multi-nasional dan konglomerat warga keturunan non-pribumi Cina yang
dilindungi oleh para penguasa pribumi di pusat dan daerah yang hanya memikirkan
keuntungan untuk diri sendiri dan memiskinkan rakyat Indonesia yang
sesungguhnya adalah pemilik yang sah dari negara ini.
Generasi baru dari NKRI dan NPRI ke masa depan itu sudah harus
membulatkan tekad untuk merubah sistem dan struktur kenegaraan dari NKRI yang
ada sekarang ini ke NPRI itu. Untuk itu tidak ada yang akan dirusak di negara
ini kecuali menjadikan rakyat Indonesia menjadi pemilik yang sah dari RI ini
dan menjadikan kekayaan negara ini sebagai jaminan bagi kesejahteraan yang
melimpah dari rakyat Indonesia itu.
Struktur masyarakat di akar rumput di kota2 di Kalimantan secara
keseluruhan sangat kondusif untuk menuju masyarakat berbilang suku yang saling
menunjang dan bekerjasama antara satu sama lain. Tinggal kita merubah struktur
dan sistem perekonomian Kalimantan dan Indonesia umumnya dari yang ada sekarang
ini yang dikuasai dan dijajah oleh para kapitalis multi-nasional yang
bekerjasama dengan para konglomerat warga keturunan non-pribumi Cina dan
dilindungi oleh kelompok penguasa pribumi, di pusat dan di daerah itu.
Di bidang keagamaan khususnya, tidak ada yang perlu diragukan, karena
masing2 pandai menjaga diri masing2, sehingga tidak ada bentrokan yang terjadi.
Suasana puasa di BP saya rasakan sangat menyenangkan. Saya datangi satu per
satu mesjid2 besar di BP untuk bertarawih dan berqiyamul lail sampai subuh. Ada
dua macam tertib bertarawih yang saya catat dan rasakan. Yang satu, mesjid
ulama kaum tua yang ramai dengan bacaan2 salawat dan dzikir antar rakaat. Dan
dalam bacaan Al Fatihah selalu pakai Basmalah. Sementara yang satu lagi dari
ulama kaum muda tak pakai salawat dan dzikir dan tak pula menzaharkan Basmalah.
Biasanya ayat yang dibaca panjang2, dengan ruku’ dan sujud yang lama2, yang
karena tak biasa, ngilu juga rasanya tulang di belakang pinggang dan punggung.
Tapi di dua2 macam mesjid ini selalu ramai dan penuh ber-saf2 yang panjang ke
belakang. Kami tiap Maghrib, Isya dan Shubuh selalu ke mesjid, yang tiap kali
pakai mobil ke mesjid sekeluarga
yang dalam beberapa menit saja sampai. Emil dan Nina tinggal di BDI: Bukit
Damai Indah, kompleks menengah ke atas yang nyaman dan asri.
Karena tiap kali bepergian, sendirinya yang memasakkan mas2 dan uda2 kita
di bermacam warung kuliner yang uenak2. Warung Padang, seperti juga di kota2
lainnya di Indonesia, bertebaran di mana2, yang umumnya besar2, dan disukai. Di
hari raya 1 Syawal saya sempat beriraya ke rumah kawan2 ransanak awak dari
Minang. Di sana juga ketemu Walikota BP dan tokoh2 Minang lain2nya. Di shalat
Id di lapangan Merdeka dari Kompleks Pertamina kebetulan yang berkhutbah Sdr A
Aziz Kahar Muzakar, anaknya tokoh revolusioner dari Sulsel, dan kawan seanggota
MPR-RI dan DPD-RI tahun 90an yl di Jakarta. Saya sengajakan urut berbaris
menyalaminya, yang dia heran saya ada di BP. Lapangan Merdeka yang sebesar itu
penuh sesak dengan jemaah Id yang sangat membanggakan hati dengan ikut bersama
di sana: Kalimantan Masa Depan Indonesia kita.
Wassalam, Selamat Hari Raya Idul Fithri 1435 H. Mohon Maaf Lahir dan Batin.
MN. 28 Terbalik.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.