Muhammad Bayu Vesky– Singgalang | August 16, 2014

​
Pudah empat hari ini, Devia Rahmayani tidak keluar rumah. Hatinya perih.
Ingin bercerita, tapi tidak tahu kepada siapa. Anak tukang jua karisiak
ini, lumpuh oleh nasibnya.

Ia kayuh harapan ke rantau, menolong mengasuh anak eteknya sambil sekolah.
Jika malam ia jadi pelayan di sebuah warung nasi goreng. Ia sakit. Lantas
pulang ke kampung dan menjadi pembantu.

Gadis itu kini diterima du UNP. Nasib memulunnya kembali, Amaknya sakit dan
sudah talatak saja di kasur. Karena itulah kemudian ia mengurung diri di
kamar. Ia risau.

Bagaimana tidak risau, Pia, begitu gadis miskin asal Padang Kuniang,
Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota ini akrab disapa, baru saja
mendapat kabar, kalau dia lulus dalam penerimaan mahasiswa Program Studi
PPKN, Fakultas Ilmu Sosial, UNP.

Pengumuman itu, dia terima bersama ribuan calon mahasiswa UNP lainnya, pada
10 Agustus silam. “Saya ingin kuliah, Da. Ingin sekali. Tapi tak ada
biaya,” cerita Pia, mengadu kepada wartawan Singgalang, di Payakumbuh,
Kamis (14/8).

Dia datang ke Payakumbuh, bersama Hafnizal, guru SMAN 1 Situjuah yang
sengaja menjemputnya ke Padang Kuniang, untuk mencari jalan keluar, agar
Pia dapat kuliah. “Salah satunya, dengan cara ini. Kami yakin, melalui
surat kabar, Insy Allah ada dermawan yang peduli,” kata Hafnizal.

Guru Kimia SMAN 1 Situjuah itu, memang menjaadi ‘langganan’ bagi kaum-kaum
kecil dan anak-anak miskin untuk menjadi sandaran dan tempat mengadu setiap
tahun ajaran baru. Hingga 2014 ini, dia sudah menghantarkan 79 anak-anak
kaum papa menjadi mahasiswa.

Hebatnya, 7 dari 79 anak-anak itu, sudah menamatkan S2. Mereka tersebar di
dalam dan luar negeri. Menurut Hafnizal, Rabu (13/8) sore, dia mendapat
kabar, jika Pia tengah panik. Gadis lima bersaudara ini, merasa sendiri dan
tidak berdaya untuk dapat menduduki bangku kuliah.

Sebelumnya, dua orang kaka perempuan Pia, juga pernah dibantu biaya
pendidiknnya oleh Hafnizal.
“Tadi, saya jemput Pia ke Situjuah. Makanya saya bawa ke sini,” kata
Hafnizal yang mengaku, uang dan tabungannya yang tinggal hanya Rp500 ribu.
Uang itu, sudah dia berikan ke Pia.
“Itu sangat kurang. Saya berharap, ada dermawan yang mau membantu Pia,”
ujar putra asli Lintau, Tanah Datar itu.

Tinggal bersama amak
Kisah hidup Pia, tidak secantik nama pemberian orang tuanya. Ia lahir 24
Desember 1993. Sejak kecil, dia sudah ditinggalkan bapaknya. Si bapak,
punya istri lagi. Orangtuanya berpisah. Pia tinggal bersama Amak, orang
yang sangat dia cintai.

Orang tua perempuan Pia, yakni Lis Yurnita (46) juga bukan orang berada.
Janda yang dipanggil Amak ini, sehari-hari bekerja mencari daun pisang.
Karisiak. Daun itu, dia jual ke pasar-pasar nagari. Di lain waktu, di pesan
oleh tukang sate.

Uangnya pas-pasan untuk membeli beras, serta lauk seadanya. Makan daging
jarang. Kecuali lebaran Idul Adha. Malang, tiga tahun belakangan, Lis
Yurnita tidak mampu lagi bekerja. Badannya sakit-sakitan. Dia didiagnosa
menderita penyakit gula. Sampai sekarang, Lis hanya mampu tidur di rumah.

Badannya tidak kuat lagi digerakan. “Amak awak sakik, da. Lah lolok sajo di
rumah. Indak tolok karajo, lai,” kata Pia, menyambung cerita. Semenjak
orang tuanya sakit-sakitan itu pula, nasib Pia terlunta-lunta.

Pia yang merupakan anak ketiga dari 5 saudara, bersama dua orang kakaknya,
kini menjadi tulang punggung oleh keluarga dan dua orang adik-adik mereka.
Adik-adik Pia, masih kecil. Yang nomor empat kelas 1 SMAN 1 Situjuah,
paling bungsu kelas 4 Sekolah Dasar. Semuanya perempuan.

Jadilah, Pia yang saat kelas 1 SMA belajar di SMAN 1 Situjuah, berhenti
sekolah di sana dan memilih bekerja dengan eteknya, di Duri. Di Provinsi
Riau itu, Pia tinggal bersama saudara orang tua perempuannya, yakni
pasangan suami-istri Nedra dan Rafles. “Mangasuah anak etek, Da,” lanjut
dia.

Beruntung, di Duri, Pia disekolahkan. Dia mengecap bangku kelas II hingga
tamat SMA di SMAN 2 Mandau. Tamat tahun 2012, Pia menguburkan cita-cita
ingin berkuliahnya. Dia sadar betul, uang tidak punya. Mengadu kepada orang
tua, itu kaji mustahil. Jadilah Pia bekerja sebagai pelayan toko hingga
pelayan rumah makan.

Di pusat pertokoan di Duri, Pia bekerja siang hari. Malam harinya, dia
menjadi pelayan di sebuah warung nasi goreng pinggir jalan. Hasil
pendapatan dari pekerjaannya itu, dia tabung. Sesekali, dia kirim buat
adik-adiknya melalui rekening tetangga.

Malang, hanya 8 bulan bekerja di Duri setelah tamat SMA, Pia harus
dilarikan pulang. Dia kerap pingsan. Mukanya pucat. Dokter mendiagnosa, Pia
mengalami penyakit tukak lambung. Dia sadar eteknya, di Duri, hidup
pas-pasan pula. Dia memilih pulang ke Situjuah. Mencoba berobat alternatif.
Di tengah-tengah pengobatan alternatif itu, Pia yang di kampungnya di kenal
sebagai anak yang sopan, taat dan berperangai baik tersebut, ditawari oleh
tetangga, untuk bekerja di sebuah rumah warga di Labuah Basilang, Kota
Payakumbuh sebagai pembantu rumah tangga.

Tawaran itu, langsung disambut baik oleh Pia. Sebab dia sadar, kalau
terus-terusan di rumah, adiknya bisa-bisa tidak makan serta putus sekolah.
Berharap dua orang kakak, mereka sudah berkeluarga pula. Untuk makan
masing-masing mereka dengan suami dan anak saja susah, apalagi untuk
keluarga.
Jadilah, Pia berstatus sebagai pembantu rumah tangga. Dia memang cekatan
memasak. Pandai pula mengasuh anak. Sebulan, Pia digaji Rp1 juta. “Awal
masuk, gaji saya 900 ribu, Da. Tapi, terakhir sudah Rp1 juta.
Alhamdulillah, lumayan untuk adik-adik serta Amak yang sakit,” katanya.
Sekarang, adik Pia nomor 4 sudah menduduki bangku SMAN 1 Situjuha kelas 1.
Paling kecil kelas IV SD.
Kuliah
Setelah sempat menguburkan cita-citanya dua tahun silam untuk kuliah, pada
tahun ajaran 2014 ini, Pia akhirnya membulatkan tekad untuk mengikuti tes
pendaftaran calon mahasiswa UNP. Kata Pia, dia ingin jadi guru. Biar bisa
mendidik dan menyekolahkan orang-orang susah.

Dia punya mimpi besar, jika nasib berubah, hendak membangun sekolah gratis
untuk orang miskin. “Di Situjuah masih banyak yang belum sekolah, saya
ingin adik-adik semua sekolah,” katanya berangan-angan.

Kini, adalah tahun terakhir bagi Pia bisa kuliah di UNP, kampus yang dia
banggakan itu.
Hanya saja, niat besar Pia tersandung dengan biaya kuliah. Sebab, pada
Senin (18/8) besok, dia sudah harus menyediakan Uang Kuliah Tunggal sebesar
Rp2 Juta. Pia juga harus menyiapkan uang kos dan uang saku sebesar Rp1,5
juta, menjelang mendapat pekerjaan halal di Padang.

Uang-uang tersebut, sampai kemarin siang, belum diperoleh Pia. Dia hanya
punya uang, sekitar Rp800 ribu. Karena tidak tahu, akan mengadu kepada
siapa, Pia, pada Kamis (14/8), memberanikan diri datang ke SMAN 1 Situjuah
Limo Nagari.

Di sana dia bertemu Hafnizal dan sejumlah guru. Inilah hari di mana Pia
keluar rumah. Segala doa dan usaha sudah dicobanya. Siapa yang peduli?
Adakah kuliah tidak hanya bahagian hak dari orang-orang berada? Bantulah
Pia. Ini nomor teleponenya, 085271103834. (*)--

http://hariansinggalang.co.id/butuh-bantuan-anak-tukang-karisiak-itu-mau-kuliah/






*Wassalam*



*Nofend St. Mudo37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok
SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola *

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke