Kmd. Nofend St. Mudo,

Kalau kondisinyo Pia ko sarupo itu, indak paralu ka koran doh, minta tolong
ka guru Hafnizal tu mambaoknyo ka rektorat UNP, mintak kan beasiswa bidik
misi, indak ado alasan UNP untuak manulaknyo doh. Malalui program bidik
misi ko, ybs dibayiekan UKT nyo (idr 2,5 juta) dan diagiah beasiswa untuak
biaya hidupnyo salamo ampek tahun.

itu usul ambo.

salam

imam sati
rantau boyo/55


2014-08-16 12:51 GMT+07:00 Nofend St. Mudo <[email protected]>:

> Muhammad Bayu Vesky– Singgalang | August 16, 2014
>
> ​
> Pudah empat hari ini, Devia Rahmayani tidak keluar rumah. Hatinya perih.
> Ingin bercerita, tapi tidak tahu kepada siapa. Anak tukang jua karisiak
> ini, lumpuh oleh nasibnya.
>
> Ia kayuh harapan ke rantau, menolong mengasuh anak eteknya sambil sekolah.
> Jika malam ia jadi pelayan di sebuah warung nasi goreng. Ia sakit. Lantas
> pulang ke kampung dan menjadi pembantu.
>
> Gadis itu kini diterima du UNP. Nasib memulunnya kembali, Amaknya sakit
> dan sudah talatak saja di kasur. Karena itulah kemudian ia mengurung diri
> di kamar. Ia risau.
>
> Bagaimana tidak risau, Pia, begitu gadis miskin asal Padang Kuniang,
> Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Limapuluh Kota ini akrab disapa, baru saja
> mendapat kabar, kalau dia lulus dalam penerimaan mahasiswa Program Studi
> PPKN, Fakultas Ilmu Sosial, UNP.
>
> Pengumuman itu, dia terima bersama ribuan calon mahasiswa UNP lainnya,
> pada 10 Agustus silam. “Saya ingin kuliah, Da. Ingin sekali. Tapi tak ada
> biaya,” cerita Pia, mengadu kepada wartawan Singgalang, di Payakumbuh,
> Kamis (14/8).
>
> Dia datang ke Payakumbuh, bersama Hafnizal, guru SMAN 1 Situjuah yang
> sengaja menjemputnya ke Padang Kuniang, untuk mencari jalan keluar, agar
> Pia dapat kuliah. “Salah satunya, dengan cara ini. Kami yakin, melalui
> surat kabar, Insy Allah ada dermawan yang peduli,” kata Hafnizal.
>
> Guru Kimia SMAN 1 Situjuah itu, memang menjaadi ‘langganan’ bagi kaum-kaum
> kecil dan anak-anak miskin untuk menjadi sandaran dan tempat mengadu setiap
> tahun ajaran baru. Hingga 2014 ini, dia sudah menghantarkan 79 anak-anak
> kaum papa menjadi mahasiswa.
>
> Hebatnya, 7 dari 79 anak-anak itu, sudah menamatkan S2. Mereka tersebar di
> dalam dan luar negeri. Menurut Hafnizal, Rabu (13/8) sore, dia mendapat
> kabar, jika Pia tengah panik. Gadis lima bersaudara ini, merasa sendiri dan
> tidak berdaya untuk dapat menduduki bangku kuliah.
>
> Sebelumnya, dua orang kaka perempuan Pia, juga pernah dibantu biaya
> pendidiknnya oleh Hafnizal.
> “Tadi, saya jemput Pia ke Situjuah. Makanya saya bawa ke sini,” kata
> Hafnizal yang mengaku, uang dan tabungannya yang tinggal hanya Rp500 ribu.
> Uang itu, sudah dia berikan ke Pia.
> “Itu sangat kurang. Saya berharap, ada dermawan yang mau membantu Pia,”
> ujar putra asli Lintau, Tanah Datar itu.
>
> Tinggal bersama amak
> Kisah hidup Pia, tidak secantik nama pemberian orang tuanya. Ia lahir 24
> Desember 1993. Sejak kecil, dia sudah ditinggalkan bapaknya. Si bapak,
> punya istri lagi. Orangtuanya berpisah. Pia tinggal bersama Amak, orang
> yang sangat dia cintai.
>
> Orang tua perempuan Pia, yakni Lis Yurnita (46) juga bukan orang berada.
> Janda yang dipanggil Amak ini, sehari-hari bekerja mencari daun pisang.
> Karisiak. Daun itu, dia jual ke pasar-pasar nagari. Di lain waktu, di pesan
> oleh tukang sate.
>
> Uangnya pas-pasan untuk membeli beras, serta lauk seadanya. Makan daging
> jarang. Kecuali lebaran Idul Adha. Malang, tiga tahun belakangan, Lis
> Yurnita tidak mampu lagi bekerja. Badannya sakit-sakitan. Dia didiagnosa
> menderita penyakit gula. Sampai sekarang, Lis hanya mampu tidur di rumah.
>
> Badannya tidak kuat lagi digerakan. “Amak awak sakik, da. Lah lolok sajo
> di rumah. Indak tolok karajo, lai,” kata Pia, menyambung cerita. Semenjak
> orang tuanya sakit-sakitan itu pula, nasib Pia terlunta-lunta.
>
> Pia yang merupakan anak ketiga dari 5 saudara, bersama dua orang kakaknya,
> kini menjadi tulang punggung oleh keluarga dan dua orang adik-adik mereka.
> Adik-adik Pia, masih kecil. Yang nomor empat kelas 1 SMAN 1 Situjuah,
> paling bungsu kelas 4 Sekolah Dasar. Semuanya perempuan.
>
> Jadilah, Pia yang saat kelas 1 SMA belajar di SMAN 1 Situjuah, berhenti
> sekolah di sana dan memilih bekerja dengan eteknya, di Duri. Di Provinsi
> Riau itu, Pia tinggal bersama saudara orang tua perempuannya, yakni
> pasangan suami-istri Nedra dan Rafles. “Mangasuah anak etek, Da,” lanjut
> dia.
>
> Beruntung, di Duri, Pia disekolahkan. Dia mengecap bangku kelas II hingga
> tamat SMA di SMAN 2 Mandau. Tamat tahun 2012, Pia menguburkan cita-cita
> ingin berkuliahnya. Dia sadar betul, uang tidak punya. Mengadu kepada orang
> tua, itu kaji mustahil. Jadilah Pia bekerja sebagai pelayan toko hingga
> pelayan rumah makan.
>
> Di pusat pertokoan di Duri, Pia bekerja siang hari. Malam harinya, dia
> menjadi pelayan di sebuah warung nasi goreng pinggir jalan. Hasil
> pendapatan dari pekerjaannya itu, dia tabung. Sesekali, dia kirim buat
> adik-adiknya melalui rekening tetangga.
>
> Malang, hanya 8 bulan bekerja di Duri setelah tamat SMA, Pia harus
> dilarikan pulang. Dia kerap pingsan. Mukanya pucat. Dokter mendiagnosa, Pia
> mengalami penyakit tukak lambung. Dia sadar eteknya, di Duri, hidup
> pas-pasan pula. Dia memilih pulang ke Situjuah. Mencoba berobat alternatif.
> Di tengah-tengah pengobatan alternatif itu, Pia yang di kampungnya di
> kenal sebagai anak yang sopan, taat dan berperangai baik tersebut, ditawari
> oleh tetangga, untuk bekerja di sebuah rumah warga di Labuah Basilang, Kota
> Payakumbuh sebagai pembantu rumah tangga.
>
> Tawaran itu, langsung disambut baik oleh Pia. Sebab dia sadar, kalau
> terus-terusan di rumah, adiknya bisa-bisa tidak makan serta putus sekolah.
> Berharap dua orang kakak, mereka sudah berkeluarga pula. Untuk makan
> masing-masing mereka dengan suami dan anak saja susah, apalagi untuk
> keluarga.
> Jadilah, Pia berstatus sebagai pembantu rumah tangga. Dia memang cekatan
> memasak. Pandai pula mengasuh anak. Sebulan, Pia digaji Rp1 juta. “Awal
> masuk, gaji saya 900 ribu, Da. Tapi, terakhir sudah Rp1 juta.
> Alhamdulillah, lumayan untuk adik-adik serta Amak yang sakit,” katanya.
> Sekarang, adik Pia nomor 4 sudah menduduki bangku SMAN 1 Situjuha kelas 1.
> Paling kecil kelas IV SD.
> Kuliah
> Setelah sempat menguburkan cita-citanya dua tahun silam untuk kuliah, pada
> tahun ajaran 2014 ini, Pia akhirnya membulatkan tekad untuk mengikuti tes
> pendaftaran calon mahasiswa UNP. Kata Pia, dia ingin jadi guru. Biar bisa
> mendidik dan menyekolahkan orang-orang susah.
>
> Dia punya mimpi besar, jika nasib berubah, hendak membangun sekolah gratis
> untuk orang miskin. “Di Situjuah masih banyak yang belum sekolah, saya
> ingin adik-adik semua sekolah,” katanya berangan-angan.
>
> Kini, adalah tahun terakhir bagi Pia bisa kuliah di UNP, kampus yang dia
> banggakan itu.
> Hanya saja, niat besar Pia tersandung dengan biaya kuliah. Sebab, pada
> Senin (18/8) besok, dia sudah harus menyediakan Uang Kuliah Tunggal sebesar
> Rp2 Juta. Pia juga harus menyiapkan uang kos dan uang saku sebesar Rp1,5
> juta, menjelang mendapat pekerjaan halal di Padang.
>
> Uang-uang tersebut, sampai kemarin siang, belum diperoleh Pia. Dia hanya
> punya uang, sekitar Rp800 ribu. Karena tidak tahu, akan mengadu kepada
> siapa, Pia, pada Kamis (14/8), memberanikan diri datang ke SMAN 1 Situjuah
> Limo Nagari.
>
> Di sana dia bertemu Hafnizal dan sejumlah guru. Inilah hari di mana Pia
> keluar rumah. Segala doa dan usaha sudah dicobanya. Siapa yang peduli?
> Adakah kuliah tidak hanya bahagian hak dari orang-orang berada? Bantulah
> Pia. Ini nomor teleponenya, 085271103834. (*)--
>
>
> http://hariansinggalang.co.id/butuh-bantuan-anak-tukang-karisiak-itu-mau-kuliah/
>
>
>
>
>
>
> *Wassalam*
>
>
>
> *Nofend St. Mudo37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok
> Selatan Tweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola *
>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>



-- 
*R. Y. Perry Burhan, Prof., Dr.*
Laboratorium Geokimia Molekuler
Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
Kampus ITS Keputih
Surabaya 60111
Tel. +62 31 594 33 53
Faks. + 62 31 592 83 14
Tel. portatif +62 811 313 1810; +62 812 30 00 22 59

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke