Oleh : *Musfi Yendra*

INI saya tulis agar menjadi pelajaran dalam kehidupan berbangsa. Tentang
etika dan sikap seseorang yang pada dirinya melekat jabatan negara.
Kejadiannya di kampus yang notabene-nya adalah tempat pembentukan
kompetensi dan karakter generasi.

Bukan tanpa alasan saya diundang menghadiri acara pembukaan Musyawarah
Forum Silaturahim Dakwah Kampus Daerah (FSLDKD) se-Sumatera Barat di
Politeknik Pertanian Universitas Andalas di Tanjung Pati Payakumbuh, Kamis
(4/9) kemarin.

Bersama pengurus FSLDKD Sumbar ini saya dari Dompet Dhuafa Singgalang
menggagas sebuah edukasi yang kami sebut "Gerakan Sedekah Mingguan". Ide
ini lahir dari kondisi banyaknya mahasiswa kurang mampu selama ini
mengajukan bantuan pendidikan ke Dompet Dhuafa Singgalang. Selain itu
menyikapi keterbatasan pendanaan kegiatan keislaman di kampus yang
dijalankan oleh mahasiswa.

Gerakan "Sedekah Mingguan" ini dilakukan dalam bentuk mahasiswa bersedekah
Rp5000 setiap hari Jumat secara bersama. Ada pengelola yang mereka sepakati
di masing-masing kampus. Untuk tahap awal gerakan ini menargetkan diikuti
oleh 1000 orang mahasiswa dari berbagai kampus di Sumatera Barat. Sehingga
sebulan bisa mengumpulkan dana Rp20.000.000. Setahunnya jika gerakan ini
konsisten mencapai Rp240.000.000.

Begini kami mengajarkan mahasiswa, agar mampu peduli sesama mereka.
"Gerakan Sedekah Mingguan" ini di-launching pada hari itu bersama dengan
Asisten III Pemko Payakumbuh, Kabag Kesra Pemko Payakumbuh, Pembina LDK dan
Direktur Politani Unand. Mereka men-support gerakan sederhana ini.

Setelah rangkaian acara pembukaan selesai sekitar jam 10.45 Wib datang
ulama dan sesepuh Sumatera Barat, Buya Masoed Abidin. Beliau akan mengisi
seminar untuk mahasiswa. Siapa yang tak kenal Buya. Dalam usia memasuki 80
tahun beliau sangat bersemangat datang dari Padang untuk memberikan ilmu
dan nasehat kepada mahasiswa.

Sejumlah pejabat yang menghadiri acara pembukaan kegiatan pamitan kepada
Buya. Sehingga tinggallah saya dan istri, Buya, panitia dan seratusan
peserta dalam ruangan itu. Saya menunggu giliran presentasi sekitar 15
menit tentang "Gerakan Sedekah Mingguan" sekaligus mendampingi Buya. Buya
Masoed Abidin merupakan penasehat di Dompet Dhuafa Singgalang. Karena
terjadi kemoloran waktu, panitia mengklarifikasi ke saya presentasi diundur
setelah zuhur.

Sekitar jam 11.00 wib acara seminar langsung dimulai. Harusnya pembicara
ada dua orang; Buya Masoed Abidin dan Adib Alfikri (Ketua KNPI Sumbar).
Namun Adib Alfikri tidak hadir. Buya Masoed memberikan materi seminar
sekitar 30 menit. Beliau menjelaskan hubungan antara wahyu Allah, iman,
ibadah dan karakter umat kepada mahasiswa. Ada 14 poin nasehat yang akan
disampaikan beliau. Namun baru dipoin keempat, panitia menyampaikan waktu
bicara Buya sudah habis. Moderator seminar melanjutkan untuk panitia
bertanya. Satu orang bertanya kepada Buya.

Namun sebelum menanggapi, moderator menunda Buya menjawab pertanyaan
tersebut. Si moderator menyebutkan telah hadir pembicara dari Kementerian
Pemuda dan Olahraga. Namanya "IH". Langsung dari Jakarta. Agak lama
menunggu, kemudian pembicara ini masuk.

Ketika micropon diberikan kepada beliau, ia langsung marah-marah kepada
panitia di hadapan peserta, saya dan Buya Masoed Abidin. "Panitia kurang
ajar, kalau angkatkan acara dengan benar dong. Saya ini pejabat dari
Kementerian Pemuda dan Olahraga. Datang ke sini. Saya diminta bicara dari
jam 10, baru dikasih waktu sekarang. Sudah jam setengah dua belas ini. Saya
ini harus bicara dua jam dalam seminar ini. Hari ini saya harusnya ditemui
sejumlah gubernur, termasuk Irwan Prayitno, gubernur Sumbar. Anda pikir
baru sekali ini saya ke Sumbar. Kurang ajar....". Ia tampak begitu emosi.
Di depan peserta saat bicara, dua kali telponnya berbunyi dan ia pun
mengangkatnya dengan cara yang kurang baik menurut saya.

Buya yang masih duduk di kursi pembicara, senyum-senyum ke saya. Moderator
sudah mulai cemas. Peserta terdiam. Entah apa yang mereka pikirkan. Saya
merasa tak nyaman, tapi tetap duduk di kursi tamu paling depan peserta.
Saya meng-google di gadget, siapa sebenarnya orang ini.  Saya temukan
jawaban,  ia adalah Asisten Deputi Peningkatan Kapasitas Pemuda
Kemenegpora. 
(*http://bantenraya.com/banten-raya/serang/5885-kemenpora-gelar-sosialisasi-iptek-
<http://bantenraya.com/banten-raya/serang/5885-kemenpora-gelar-sosialisasi-iptek->.
24 Mei 2014)*

Saya kian tak nyaman, tapi juga tak keluar dari ruangan itu. Walau ingin
meninggalkan seminar, tapi saya segan sama Buya dan panitia. Si pejabat itu
tetap memaki-maki panitia. Beberapa kalimat dari lisannya yang saya ingat.

"Saya ini pernah dibina oleh Yahudi. Saya waktu mahasiswa pernah dipenjara
sembilan kali. Sekarang saya masih aktif di sebuah organisasi dunia,
pengurusnya hanya 4 orang. Tiga orang dari Yahudi dan tambah saya. Kami
bisa menggulingkan presiden di negara lain.... Sekarang saya sedang
memfitnah ketuanya, agar saya bisa jadi ketua. Ha ha ha... Katanya kalian
mau hadirkan gubernur ke sini, tapi nyatanya tak ada... Saya bisa telpon
gubernur kalian sekarang. Saya telpon si Adib Ketua KNPI, katanya tak tahu
dia acara ini...Maaf Pak saya marah sama mereka". Kalimat terakhir ia
tujukan ke Buya Masoed. Hampir 30 menit ia bicara. Buya Masoed masih tetap
di kursi pembicara.

Ia menghadap ke Buya Masoed, dan bicara "kalau Bapak mau duluan silahkan
saja. Saya mau bicara di sini sampai jam 1. Ini baru jatah saya 15 menit.
Bicara apa saya waktu segitu". Padahal ia sudah bicara sekitar 30 menit.
Tak tahan akhirnya saya mengangkat tangan minta izin bicara pada moderator.
Saya mengingatkan, bahwa sebaiknya sebelum diskusi dengan Ibnu Hasan,
dituntaskan dulu pertanyaan ke Buya Masoed. Saya bilang juga ke "IH",
tolong hargai Buya.

"Beliau ini sesepuh dan ulama kami di Sumatera Barat, datang ke sini untuk
memberikan ilmu. Beliau datang dari Padang untuk menemui mahasiswa. Tadi
sebelum bapak masuk, ada pertanyaan kepada Buya dan belum beliau jawab.
Terpending karena bapak langsung bicara. Tolong dituntaskan dulu ini,
mungkin Buya juga ada agenda lain".

Ketika saya sampaikan begitu, dia emosi kepada saya dan menjawab, "Bapak
mau juga bicara, silahkan ini mic-nya..." sambil ia berikan ke tangan saya.
Ia langsung keluar, kemudian masuk lagi sambil menggerutu. Moderator
memberikan kesempatan kepada Buya sesaat untuk menjawab pertanyaan
sebelumnya. Terakhir Buya berpesan kepada panitia.

"Sebagai ilmu untuk ananda semua, tolong diprint makalah Buya sejumlah 14
halaman dan dibagikan kepada peserta. Buya buatkan itu dua hari lamanya,
Buya datang menemui ananda juga baru pulang dari Malaysia". Setelah itu
saya, istri dan Buya pamit meninggalkan ruangan seminar.

Di luar ruangan saya bertanya pada panitia apa yang terjadi. Dari
penjelasan panitia, sejak jam 10.00 wib pejabat kementerian itu sudah
memarah-marahi panitia karena terjadi kemoloran waktu di acara pembukaan.
Pengakuan panitia mereka sudah maksimal menyiapkan kegiatan. Namun pejabat
dari pihak Pemko juga terlambat datang membuka acara tersebut. Ke saya dan
Buya mahasiswa berjanji akan belajar dari masalah itu. Mereka minta maaf ke
saya dan Buya.

Saya mengingatkan para pejabat negara agar jangan arogan kepada rakyat.
Kalau ada sesuatu yang salah dengan orang lain sampaikanlah dengan cara
yang baik. Anda harus tahu sedang dimana bicara dan bersama siapa. Anda
oknum pejabat tapi berkata-kata layaknya orang tak terdidik. Pantas banyak
generasi kita kurang ajar, karena anda memakinya dengan kata "kurang ajar".

Apa pentingnya anda menyebut diri sebagai mantan binaan Yahudi? Kemudian
mempertontonkan tentang sebuah kewengan dan kekuasaan saat emosi. Apa yang
disampaikan saudara "IH" mungkin saja tujuannya baik. Ada pesan yang ia
sampaikan, tapi caranya tak sesuai norma dan kearifan lokal.

Atas nama masyarakat Sumatera Barat saya meminta Menteri Pemuda dan
Olahraga, Roy Suryo untuk memberikan sanksi lisan maupun tertulis kepada
anak buahnya "IH". Kemudian meminta saudara "IH" agar mengklarifikasi
maksud ucapan-ucapan dan makian yang disampaikannya dengan sangat emosional
di acara itu. Juga meminta yang bersangkutan meminta maaf secara terbuka
kepada masyarakat Minangkabau, atas perkataan yang tidak pantas kepada anak
kemenakan kita di kampus tersebut.

Ini menjadi catatan juga bagi presiden terpilih agar memperhatikan
penempatan pejabat di berbagai kementerian ke depan. Pelajaran bagi semua
kepala daerah. Mari kita sudahi kebiasan buruk. Kompetensi saja tak cukup
sebagai dasar penempatan pejabat. Karakter juga penting agar tak
semena-mena kepada rakyat.

**) Pegiat Sosial Sumatera Barat*

Sabtu, 06 September 2014

http://m.sumbaronline.com/berita-19977-arogansi-oknum-pejabat.html

-- 



*Wassalam*



*Nofend St. Mudo37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok
SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola *

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke