BASUO PALAPEH TADAGAK ?


Himbauan dari pak Irman Gusman (IG) agar persatuan perantau tidak hanya
palapeh tadagak tapi mampaarek karajo samo dalam hubungan usaho , memang
tapek, handaknyo samo-samo kito renung.



Ado pesan beliau nan mungkin menyintak kita basamo.

Saat kini, kecek baliau, Sumatera Barat sudah   makin taicia dek karano
daerah-daerah lain sudah makin maju. Sabanta lai, tahun di muko, parsaingan
dunia global akan makin nyato dengan balakunyo Masyarakat Ekonomi ASEAN
(ASEAN Economic Community) awal tahun 2015.

Daerah lain sepintas nampaknyo memang maju dari Sumbar, DKI misalnyo.

Di DKI memang banyak Gedung bertingkat, Jalan tol, Perumhan mewah, tempat
Hiburan dan Pariwisata memang kalau dilihat sepintas memang Wah.

Apakah itu bermanfaat bagi rakyat, belum tentu.

Setelah Gedung  bertingkat, Jalan Tol, perumahan mewah dan seterusnya itu
terbangun, rakyat yang tadinya melepaskan tanahnya untuk bangunan tersebut,
kerjapun tidak bisa disana, akhirnya hanya kepinggir.

Pembangunan mal-mal  dan gedung bertingkat termasuk untuk hunian dan lainnya
yang dibangun oleh pengembang/developer di DKI , sebenarnya dibangun untuk
siapa



Kita lihat sedikit saja.

Hunian di DKI:  Pantai Indah Kapok, Senopati, dll, juga yang di luar
Jakarta , Sentul City dan banyak lagi yang lain. Angsuranya tak kurang  36
juta per bulan

Apakah pribumi sanggup memiliki bangunan  dengan angsuran sebesar itu.

Atau memang sengaja disediakan untuk orang  Singapur,  Malaysia, Taiwan,
Hongkong, Jepang atau mungkin Amerika dsb. mereka berbisnis disini dilepas
kepasar beradu ulet dengan pribumi.

Jelas saja pribumi semua akan gulung tikar, kepinggir, jadi penonton,
akhirnya jadi kuli.



Pada 2015 ACEAN masuk dilepas bebas kepasar,  adu keuletan dengan pribumi,
pribumi akan mengalami nasib yang sama-kepinggir, Sudah terbayang  grosir
sayur di Koto Baru,  dakek Bika si Mariana tu akan depegang oleh
orang-orang dari Asean.

Sudah dapat dibayangkan lambat laun, kemana nantinya pribumi kita.
Kehidupan bisnis dikota-kota akan dikuasai konglomerat asing tak ada lagi
lahan bisnis  bagi pribumi untuk hidup dinegeri ini kecuali hanya sebagai
buruh.



Kita berharap kalau bisa jangan dimasukan dulu masarakat Asean itu ke
Sumbar, daerah lain terserahlah bagi orang daerahnya.

Bagi Sumbar biarlah penduduknya nyaman hidup dengan hasil pertaniannya, tak
perlu diperagakan gedung bertingka dsb ala DKI itu.

Di Sumbar perhatian pertama pemerintah daerah adalah pertanian untuk
produksi bahan pangan terutama ketersediaan pupuk , benih yang baik dan
insectisida/racun hama.

Kedua pembangunan jalan kereta api, kalau bisa 2015-2020, pembangunan
Sumbar lebih baik terfokus  kepada kedua pembangunan itu. Dan itu hendaknya
berlanjut oleh priode selanjutnya. Kalau dapat seluruh Sumbar itu dilayani
angkutannya dengan kerata api. Ini mengingat kita dengan bahan bakar sudah
kembang kempis.

Kalau kereta api, cukup kepalanya saja diberi BBM, sudah bisa menarik 400 –
500 orang sekali jalan, kalau roda empat perlu 100 buah, masing-masing
minum BBM.



Di Sumbar tak usahlah bercita –cita membikin jalahn tol, kalau sudah
terencana, lebih baik batalkan saja, Bawahnya jalan tol itu nanti akan jadi
sarang pemutadan bagi Sumbar. Bawah tol itu akan dimanfaatkan bagi
pendatang pesanan, alasannya itu tanah Negara, siapa saja berhak pakai.
Mudaratnya sangat banyak kepada ABS SBK nya Sumbar.



Pemikiran baru,  untuk pembangunan di Sumbar, kalau ada tanah rakyat berupa
tanah ulayat yang dipakai untuk Bisnis harus sistis sewa, sehingga rakyat
tidak kehilangan tanahnya. Ini mungkin mencengangkan banyak orang, tapi ini
demi keselamatan anak cucu Sumbar agar tidak kehilangan tanah selamanya
seperti DKI, sistim sewa ini harus dipakai. Ini juga didukung kepemilikan
tanah di Sumbar yang beda dengan daerah lainnya.



Kok dapek kebijakan pembangunan di  NKRI ko, hendaknyo membawa pribumi
untuk mendominasi kehidupan ekonomi dan social  dinegeri sendiri, jangan
menjadikan pribumi hanya kuli.



Duo kali Pak IG manyabuik kato taicia.

Kita kawatir nanti pemimpin  Sumbar karena tersentak oleh kata-kata taicia
itu , lantas tarambau membangun  ala Jakarta dengan mengundang investor
yang memang sudah gatal-gatal ingin masuk Sumbar, hanya sekedar menyamai
Wahnya DKI saja.

Kalau itu yang terjadi, pembangunan tidak membawa kesejahteraan bagi rakyat
Sumbar malah menyajikan  kemiskinan .



Sakitu dari ambo, talabiah takurang  abih gawa jo karilahan.

Maturidi (76).

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke