Lebaranku (Idul Adha) 1435 H


Dimabuk rindu

Rindu pada papa yang lahir tanggal 5 Oktober 1919

Rindu pada putri yang berlebaran sendirian di Fukuoka

Rindu pada putra  yang berlebaran di Jepara



Sebelumnya di suatu malam usai badai menerjang

Putriku mengeluh jenuh dan rindu

Kami nyanyikan lagu yang dibawakannya di pentas ketika TK

Tau-tau aku sudah melantunkan lagu dengan penuh perasaan

"Mandeh basaba mandeh dahulu

Lai taragak denai nak pulang

Nak basuo ayah jo bundo

Tapi kini sadang sansaro....

Terdengar suara putriku di telpon

"Mama menangis ya..."

...



Ajaib

Walau suaraku cemplang

Namun bisa menenangkan

Alhamdulillah

....



4 Oktober 2014

Di tengah kerinduan

Aku pusatkan perhatian pada Allah

Entah kekuatan darimana

Aku memang agak khusuk mengikuti takbir yang dilantunkan

Bahkan ketika sholat

Perasaanku seperti melayang

Air mataku meleleh dipipi

Seperti air mata mamaku pada suatu hari raya

Kenangan mamaku menangis di sholai Ied tidak pernah bisa kulupa

Waktu itu aku masih suka berlarian di lapangan

Alhamdulillah

Aku merasakan nikmatnya sholat Ied



5 Oktober 2014

Rinduku tertuju pada papa

5 Oktober hari kelahiran papa

"Biarlah Negara yang merayakan"

Kata papa pada hari ultahnya waktu itu

Akupun berkata dalam hati

Biarlah sebagian besar ummat Islam yang merayakan hari lahir papa

Biarlah anak lelakinya yang tersisa

Yang sedang menunaikan ibadah haji

Melebihkan berdoa untuk papa seperti pesanku padanya



Tanpa bisa kutahan

Ketika qurbanku disemblih

Sambil bertakbir air mataku meleleh
Berharap Allah menerimanya

Memberikan pahalanya pada papa

Semoga Allah menyayangi papa

Seperti papa menyayangiku disepanjang hidupnya



Malamnya putraku menelpon

Menanyakan kabar adiknya

Kutawarkan rendang qurban padanya

Dia bilang biar untuk adiknya saja

....



6 Oktober 2014

Sambil mengeringkan rendang

Kubaca catatan putriku Fadilla Zennifa

Sama galaunya denganku

Sama-sama rindu pada ortu

Subhanallah

Alhamdulillah

Lailla haillallah

Allahu Akbar

Lahaula wala quwwata illa billah





Dharmasraya, 6 Oktober 2014





Hanifah Damanhuri





















http://fadillaazeaza.wordpress.com/2014/10/05/lebaranku/



*lebaranku?*

Pagi ini aku terjaga dari mimpi buruk yang membuatku menangis di dalam
mimpi. Mata terasa bengkak dan bangun dalam keadaan sedih. Sepertinya
tidurku malam tadi sangat nyenyak, hingga tahapan REM (Rapid Eye Movement)
terlewatkan saja. Terbangun dalam kondisi gelombang delta yang berkurang
drastic dan tergantikan dengan gelombang alpha, membuatku tercenung. Ku
pijat bagian frontal lobe dan kuputuskan untuk mandi. Tak perlukau tanyakan
dan bahkan tak akan ku ceritakan apa mimpiku semalam padamu
Jujur saja, dalam kondisi cuaca buruk begini, aku sangat malas untuk
berangkat ke masjid yang lokasinya tidak dekat itu.. namun hari ini bukan
hari biasa. Hari ini adalah hari raya idul adha. Jangan kau pikir tak
pernah ku habiskan waktu ku di kamar saat hari raya umat islam. Hasilnya
adalah? Kelabu.
Biasanya aku ke masjid menggunakan bus kampus atau menggunakan subway,
namun hari ini tak ada gairahku untuk pergi bersafar dengan jalan kaki
setelah turun di halte subway terdekat. Maka kuputuskan untuk menggunakan
JR (Japan Railway). Hah dan pada hari ini aku sadar, bahwa pertama kalinya
aku melihat shinkansen yang sangat terkenal seantero bumi ini di depan mata
kepala. Setahun di Jepang tanpa pernah kembali menginjakkan kaki di bumi
pertiwi ternyata masih belum cukup untuk melakukan PDKT dengan kota bernama
fukuoka ini.
Sampai di Masjid, telah berkumpul masyarakat muslim se-Fukuoka, interior
masjid di hias dengan balon dan membuat senyum setiap yang memandang. Ya
aku benar benar dalam suasana idul Adha kali ini. Suara takbir tasbih dan
tahmid terus dikumandangkan. Dan nyess,,,bahkan tak perlu kau tanyakan
bagaimana mataku saat mengetik tulisan ini. Cukup tau saja bagaimana
caranya menahan rasa rindu yang meluap dan di saat yang sama engkau harus
menampung sendiri luapa-luapan itu dan menelannya dan menahannya, jangan
manja pada dunia.
Apa daya mata terpejam, mengikuti takbir tahmid nan dikumandangkan imam.
Hanyut oleh buayan hayalan akan kampung halaman..(anggap saja Sumatra barat
adalah kampung halamanku, karena Indonesia penganut Ius sanguinis, bukan
Ius Soli.)aroma khas bedak mamaku terasa di kepalaku, mungkin aktifitas di
bagian temporal lobe ku sedang tinggi, hingga aku masuk di dunia
khayalanku. Terasa ditelingaku mamaku mengikuti tasbih, tahmid dan tahlil
yang dikumandangkan sang imam. Aku yakin bila beliau di sini saat ini, dia
sudah muntab dari pagi karena aku berleha-leha menuju masjid. Biasanya pagi
-pagi buta dia sudah heboh membangunkan kami. tak perlu kau tanyakan apa
yang terjadi ketika kombinasi khayalan dan nyata menjadi berbatas tipis.
Memejamkan mata adalah saat ketika kita berdoa, atau mengingat sesuatu,
tapi saat engkau memejamkan mata, saat itu pula gelombang alpha di otakmu
muncul lebih dominan. Kadang kita menghubungkan aktifitas alpha dengan
keadaan rileks, tapi apakah memejamkan mata kemudian mengalirkan cairan
bening yang keluar dari sudut sudut mata juga merupakan keadaan rileks?
Entahlah.
Aku rasa imam hari ini sangat pandai membaca rindu setiap insan.
Dibacakannya surat al-isra ayat 23-30. Yang engkau tau saja surat al isra
di ayat 23 tersebut merupakan teguran dan peringatan untuk kita duhai anak
manusia yang masih mempunyai ayah bunda untuk jangan sekali-kali berkata
ah,,,, tetiba teringat mama berkata "jangan begini nak nanti engkau
menyesal" ya tak perlu ku deklarasikan, engkau pun tau bahwa aku bukan anak
penurut dan cenderung suka membuat atau mencari masalah. Di umur yang sudah
23 tahun ini belum juga aku berbakti dan belum ada hal yang ku lakukan
untuk mereka, mama dan papa. Ya engkau benar ma, bahkan saat ini aku
menyesal, aku tak bisa melakukan apa-apa selain mengejar mimpi-mimpiku ini.
Bahkan teringat terus kata-kata mama yang selalu memarahiku yang sangat
tidak suka makan sayur. Tapi jepang sepertinya telah perlahan menyicil
karma untuk ku, hingga aku tersadar bahwa sayur memang bagus untuk
kesehatan. Ya aku menyesal tidak mengikutinya dari dulu-dulu. Mungkin saja
bila rajin makan sayur badanku bisa tinggi dan punya kulit putih.
Lagi-lagi aku terdiam, ibarat sang imam solat idul adha benar benar
membantuku untuk mengingat lagi akan kenakalan ku yang suka modus. Sang
imam melanjutkan membaca surat al isra dan berlanjut ke ayat 32, wa la
taqribu zina, "dan jangan dekati zina" oke lengkap aku tak bisa berkata
kata.
Cinta katanya tak kenal batas dan jarak, hubungan persaudaraan tak kan
pernah putus ibarat air. Iya kah? Sementara saat ini aku masih jadi warga
kelas dua di hati orang-orang yang ku sayangi. Atau mungkin hanya
perasaanku saja kah? Lalu kemana perginya abangku yang tak pernah dapat ku
hubungi lagi itu? Aaa mungkin dia saat ini sedang tersenyum kecut ketika
membaca tembakan langsung ku ini.
Ah ingin ku koreksi kata-kataku lagi, karena papaku selalu menjadikanku
nomor 1 di hatinya. Aku yakin itu, bahkan ketika orang orang hanya terdiam
dengan kepergianku dari tanah air, dia yang dengan sekuat tenaganya menahan
air mata tetap memaksakan diri untuk mengantarku ke bandara International
Kuala namu, medan. Setahun lama tak ku dengar orang memanggilku dengan
"adek" yang ada adalah "mbak atau tante". Teringat protesnya yang
menampakan cemburunya betapa seringnya aku menghubungi mama dibandingkan
menghubungi dirinya. Padahal bagiku menghubungi mama sama dengan
menghubungi papa, paket lengkap. Tapi tidak bagi beliau, dan mungkin saja
nama fadilla ini dia yang beri, karena tampak sekali dia mengutamakanku.
Ah tidak, aku tak ingin timpang. Aku teringat dalam batas semangatku yang
hampir nol ketika sudah sangat jenuh dengan rutinitas yang itu-itu saja,
mama dan papa bernyanyi di telpon untuk menghiburku.
"oh Amelia gadis cilik lincah nian, tak pernah sedih riang selalu sepanjang
hari" mama menyanyi lagu tersebut dan papa pun bermain tebakan dengan
berkata "adek ingat lagu yang sering papa nyanyikan?" lalu aku memberikan
jawaban yang salah. Dia mengoreksi bahwa lagu yang sering dia nyanyikan
adalah lagu anak salido, lalu bergantilah lagu bahasa Indonesia menjadi
lagu-lagu berbahasa minang.. ajaib,,, bad mood ku hilang,, aa mungkin
memang nama fadilla itu tak hanya diberikan oleh papa,, tapi juga mama,,
makanya belakang namaku dibubuhkan zennifa,,, zen dan hanifah.
Tunggu? Bukankah ini cerita tentang lebaranku?
Ya lebaranku hari ini diisi dengan memori yang tersimpan dikepalaku dan
dengan tepisan cemburu bahwa sampai detik ini tak kudapatkan telpon dari
mereka. Apakah aku warga kelas 2? Entahlah. Haruslah ku tau diri bahwa 4910
KM bukan jarak yang dapat ditempuh dalam 3 jam untuk berjumpa. Mungkin
inilah makna pengorbanan. Berjuang mengabaikan rindu demi pertemuan tanpa
batas nanti.

Selamat idul adha
Fukuoka, 5 Oktober 2015

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke