Kalau kasus iko indak tabukak ka publik, mako Mendikbud indak akan tau, pemko indak akan membentuk timsus, dan tidak tertutp kemungkinan kasus sarupo akan tajadi karena semua masih kurang teliti dan peka..
====== Senin, 13 Oktober 2014 03:20 *PEMKO BUKITTINGGI BENTUK TIM KHUSUS: Video Kekerasan Murid SD Beredar* Video kekerasan murid SD di Bukittinggi bikin heboh. Seorang murid perempuan dikeroyok sekitar tujuh orang temannya. Pemko Bukittinggi membentuk tim khusus untuk mengusut kejadian tersebut. BUKITTINGGI, HALUAN — Video kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah anak SD Trisula Perwari Kota Bukittinggi beredar di Youtube. Video yang berdurasi satu menit 52 detik ini diketahui pertama kali diunggah oleh Bukittinggi Info pada Sabtu 11 Oktober 2014 dan membuat heboh banyak orang. Pengunggah Bukittinggi Info menyebutkan, peristiwa itu terjadi hanya gara-gara uang. Disebutkan, korban berinisial DAN (12) kelas 5 mengalami kekerasan karena tidak memberikan uang kepada teman-temannya. Namun pada Minggu (12/10) video tersebut tidak lagi tampak di Youtube. Besar kemungkinan video itu telah dihapus sendiri oleh pengunggahnya. Meski demikian, video tersebut telah banyak disebar oleh akun-akun lainnya. Dalam video ini, terlihat salah seorang anak SD berseragam yang berjenis kelamin perempuan mendapat pukulan dan tendangan dari sejumlah teman lelaki dan perempuannya yang berjumlah sekitar tujuh orang di dalam kelas. Dalam video tersebut juga terdengar suara korban berbahasa Minang yang meminta teman-temannya untuk menghentikan aksi kekerasan itu. Namun permintaan itu tidak diindahkan oleh teman-temannya. Ketika dikonfirmasi, Kepala SD Perwari Kota Bukittinggi, Evawani Sofia membenarkan bahwa peristiwa itu memang terjadi di sekolah yang dipimpinnya. Ia mengatakan, peristiwa tersebut terjadi pada 18 September 2014 lalu. “Korbannya adalah cucu saya sendiri. Tidak ada memar ataupun luka-luka yang dialami cucu saya yang menjadi korban itu,” tutur Evawani Sofia, Minggu (12/10). Evawani menjelaskan, kejadian ini telah diselesaikan secara baik-baik antara orangtua murid. Bahkan permasalahan itu menurut Evawani telah juga diselesaikan di tingkat dinas. Ia sangat kecewa, karena tiba-tiba video tersebut beredar di jejaring sosial. “Kejadian ini berawal dari olok-olokan antara pelaku dan korban. Kejadian ini hanya bentuk kenakalan anak-anak. Orangtua korban juga menerima kejadian ini dengan ikhlas, dan tak bermaksud untuk menuntut pelaku ke jalur hukum,” jelas Evawani Sofia. Meski Kepala Sekolah SD Perwari Bukittinggi mengklaim telah ada perdamaian antara orangtua korban dan pelaku, namun Nurmaili selaku orangtua korban mengaku tidak mengetahui kejadian itu, dengan alasan tidak pernah diberitahu oleh anaknya atas kejadian tersebut. “Anak saya tidak pernah memberitahu dirinya dipukul. Saya juga tidak pernah melihat video itu, dan saya tidak mau melihat video itu. Bahkan saya baru mengetahui ada kejadian ini saat dipanggil oleh pihak sekolah,” ujar Nurmaili. Nurmaili tetap berharap kejadian tersebut bisa diselesaikan secara baik-baik dan secara kekeluargaan. Walikota Bukittinggi Ismet Amzis mengatakan tengah mengusut kekerasan yang terjadi pada siswi SD Trisula Perwari. Pengeroyokan seorang siswi itu terjadi saat mata pelajaran agama berlangsung. Saat itu gurunya sedang meninggalkan ruangan untuk mengajar di sekolah lain. Walikota mengaku sudah manggil pemilik Yayasan Perwari dan Kepala SD Trisula Perwari. Menurut Ismet, kepala sekolah dan pemilik yayasan sudah memanggil orang tua pelaku dan korban. Mereka membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi kejadian tersebut. Namun, kasus ini tidak berhenti di situ. Ismet mengatakan tetap melakukan investigasi dan mengevaluasi yayasan, kepala sekolah serta guru. Menurut Ismet, kepala sekolah dan guru akan disidang di Majelis Pertimbangan Pegawai. “Setelah itu kasus ini akan kita naikan ke Sekretaris Daerah,” ujarnya. Pemko Bukittinggi bersama Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Bukittinggi dan pihak terkait lainnya juga melakukan pertemuan mendadak di Kantor Disdikpora Bukittinggi pada Minggu (12/10) kemarin. “Dalam pertemuan ini disimpulkan, orang-orang yang terlibat di dalamnya, baik korban, pelaku, orangtua, kepala sekolah, dinas pendidikan dan yang lainnya akan dipertemukan pada Senin 13 Oktober 2014 ini di SD Perwari,” ujar Humas Pemko Bukittinggi, Jondri, Minggu (12/10). Untuk menyikapi permasalahan, lanjut Jondri, Pemko Bukittinggi membentuk tim khusus untuk mengusut kejadian tersebut, yang di antaranya terdiri dari dinas pendidikan, Pusat Pelayanan Terpadu dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A), yang di dalamnya juga ada psikolog. “Untuk sekolah yang bersangkutan akan diaudit dan akan dievaluasi di segala bidang, baik sistem pembelajaran, penanaman karakter pada siswa, dan yang lainnya serta akan dilakukan pengawasan yang intensif,” pungkas Jondri. Febby Pertama Upload Tokoh masyarakat Kota Bukittinggi, Febby Dt Bangso Nan Putiah mengakui bahwa dirinyalah yang pertama kali mengupload video kekerasan anak SD Perwari Kota Bukittinggi ke jejaring sosial. Namun jejaring sosial itu adalah Facebook, bukan Youtube. “Saya mengupload video kekerasan itu di Facebook pada Sabtu 11 Oktober 2014 sekitar pukul 12.30 WIB. Dengan berbagai pertimbangan, video yang saya upload itu saya hapus di Facebook pada malam harinya. Namun ternyata, video itu cepat beredar luas dan ada yang menduplikatnya dan menguploadnya ke Youtube,” ujar Febby, Minggu (12/10). Menurut Febby, video kekerasan itu diterima oleh temannya di sebuah warung di Kota Bukittinggi, tepatnya tiga hari sebelum dirinya mengupload video ke Facebook. Namun Ia menolak menyebut orang yang memberikan video itu, dengan alasan untuk menjaga nama baik sumber informasi. Febby mengaku tidak mengenal korban, namun sengaja mengupload video kekerasan itu ke jejaring sosial, dengan alasan prihatin. “Karena saya prihatin, saya minta video itu kepada teman, dan saya menunggu sekitar dua sampai tiga hari, kira-kira lanjutan pemberitaannya seperti apa. Kemudian setelah saya dapat jawaban, bahwasannya masalah itu dianggap telah selesai, seolah-olah kejadiannya itu hanya bercanda. Saya sebagai orangtua yang punya anak yang masih sekolah tentu tidak merasa puas dan akhirnya dengan berbagai pertimbangan, mohon maaf saya terpaksa mengupload ke Facebook,” ujar Febby. Selain itu, lanjut Febby, ketika melihat tayangan video tersebut menurutnya tidak ada lagi rasa sedih atau ketakutan pada anak, malahan ada rasa bangga saat anak SD memukul temannya. Menurutnya, kejadian itu merupakan suatu kejiwaan yang sakit, karena merasa puas setelah memukul orang, ditambah lagi dalam video tersebut ada sekelompok anak yang tidak mau peduli dengan kejadian itu. “Kita tidak perlu mencari siapa yang salah dan siapa yang benar dalam kejadian ini, namun intinya bagaimana solusi dan ke depannya menghadapi persoalan kekerasan yang terjadi di sekolah. Sebenarnya saya selaku warga masyarakat berharap hal ini tidak terjadi kembali. Makanya dalam status Facebook saya membuat, robohnya Surau Kami itu ternyata bukan hanya di novel atau Balai Pustaka, tapi juga terjadi degradasi moral yang membuat saya miris,” pungkas Febby. (h/wan) http://harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/34867-video-kekerasan-murid-sd-beredar- -- *Wassalam* *Nofend St. Mudo37th/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola * -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
