Mengenang Kiprah dr. A. Halim di RSCM

Artikel ini disusun untuk mengenang salah satu diantara tokoh perjuangan
kemerdekaan Indonesia yang agak terlupakan selama ini dan telah meninggalkan
kita 22 tahun yang lalu.

 
<http://www.facebook.com/photo.php?pid=779535&op=1&view=all&subj=15839243854
8&aid=-1&auser=0&oid=158392438548&id=1020817299> Description:
http://photos-d.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs021.snc3/10838_1248257559485_
1020817299_779535_7858384_a.jpg

Nama dr. Abdul Halim mungkin tidak terlalu dikenal oleh generasi muda
sekarang. Dokter spesialis THT ini disebut oleh Rosihan Anwar sebagai
politikus kesasar. Betapa tidak? Tahu-tahu karena situasi dan panggilan
perjuangan kemerdekaan, ia terlontar ke gelanggang politik dan berperan
sebagai anggota Badan Pekerja KNIP (Komite Nasional Indonesia Pusat) dari
Oktober 1945 hingga Juli 1950. Lalu Januari 1950 hingga September 1950
menjadi Perdana Menteri RI di Jogjakarta (era RIS) dan setelah itu diangkat
menjadi Menteri Pertahanan NKRI yang pertama (di masa Perdana Menteri
Natsir). Namun ternyata beliau lebih mencintai profesinya sebagai dokter
sehingga sisa masa hidupnya dihabiskan di dunia kesehatan.

Untuk mengenang jasa-jasa almarhum, dr. Abdul Halim dinobatkan oleh Ikatan
Alumni FKUI sebagai salah satu dari 3 tokoh Salemba 6 (FKUI) yang memiliki
nilai kejoangan yang patut diteladani. Dua tokoh lainnya adalah dr.
Abdurrahman Saleh (pendiri RRI dan perintis AURI) dan dr. Darmasetiawan,
yang pernah menjadi Menteri Kesehatan dalam kabinet Sjahrir dan direktur
kedua CBZ (kini RSCM).

Dibawah ini adalah sepotong kisah dr. A. Halim di RSUP Jakarta yang
disarikan dari buku sejarah lisan terbitan Arsip Nasional R.I. yang berjudul
Diantara Hempasan dan Benturan, kenang-kenangan dr. Abdul Halim 1942-1950.

Menjelang Jepang masuk ke Indonesia, Halim sudah berprofesi sebagai dokter
dan bekerja di RSUP Jakarta. Direktur rumah sakit yang sebelumnya warga
negara Belanda (dr. Bochart) digantikan dengan Prof. Dr. Asikin (almarhum)
pada bulan Desember 1942. Bulan Juli 1943 dr. Halim diangkat sebagai Wakil
pemimpin kedua, dibawah Prof. Asikin.

 
<http://www.facebook.com/photo.php?pid=779514&op=1&view=all&subj=15839243854
8&aid=-1&auser=0&oid=158392438548&id=1020817299> Description:
http://photos-h.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs021.snc3/10838_1248231838842_
1020817299_779514_2315841_n.jpg

Pengangkatan dr. Abdul Halim sebagai Wakil Pimpinan Kedua Rumah Sakit Umum
Negeri (sekarang RS Cipto Mangunkusumo) di Jakarta pada tanggal 28 Juli 1943

Selang setahun Jepang berkuasa, Prof. Asikin digantikan oleh orang Jepang
dan Halim ditawarkan untuk menjadi direktur di Madiun, tapi ia menolak,
memilih untuk tetap di Jakarta. Pada masa itu Jepang mulai menyebarkan
pengaruhnya termasuk di lingkungan rumah sakit, sehingga setiap orang
diharuskan kirei (memberi hormat) setiap kali bertemu di jalan-jalan lorong
di rumah sakit. Halim yang tidak suka dengan cara-cara Jepang malah
menganjurkan kepada kolega dokternya untuk menghindar saja jika berpapasan
dengan Jepang supaya tidak usah kirei.
Akhirnya Halim dipanggil oleh Prof. Itagaki (Dekan Fakultas Kedokteran) yang
berkata: "Sebetulnya tanggal 29 April ini dr. Halim ini akan mendapat
bintang, sebagai seorang muda yang sudah bisa memimpin rumah-sakit. Tapi
karena kelakuannya anti Jepang, maka tidak jadi. Saudara beruntung masih ada
saya. Kalau tidak, saudara akan ditangkap."
Namun Halim semakin intensif mengikuti pertemuan rutin dengan beberapa tokoh
perjuangan, antara lain dengan Prof. Sutomo yang belakangan mengenalkannya
dengan Sutan Sjahrir di jalan Tambak 12 Manggarai, rumah Prof. Sutomo
Tjokronegoro.
Sebagai salah satu pimpinan di rumah sakit, Halim secara rutin melakukan
rapat dengan para dokter Indonesia. Informasi yang ia peroleh dari Sjahrir
disampaikannya kepada dokter-dokter muda, dan juga kepada
mahasiswa-mahasiswanya seperti Sudarpo dan Sudjatmoko.

Beberapa kalangan menganggap bahwa Halim kemudian berperan sebagai semacam
jembatan antara kelompok bawah tanah, seperti Sjahrir cs dengan Bung Karno
dan Bunga Hatta. Tetapi anggapan tersebut dianggapnya tidak terlalu tepat.
Seperti yang pernah diucapkan dr. Halim dalam sebuah wawancara, "saya dengan
Bung Karno sejak dulu kadang-kadang clash. Dengan Bung Hatta saya bukan main
rapatnya, hampir setiap hari bertemu di rumahnya. Salah satu buku menulis
tentang saya, undergroundman during the Japanese occupation, yang tetap
berhubungan dengan Sukarno-Hatta yang bergerak di atas tanah".
Seperti diakuinya kemudian hari, peran itu dijalaninya tanpa disadari. Halim
hanya ingin agar Bung Hatta sebagai salah satu pimpinan pergerakan dapat
mengikuti dinamika dan perkembangan pergerakan yang terjadi.

Sebagai pemimpin rumah sakit di masa pendudukan Jepang, dokter Halim pernah
diminta untuk bertanggung jawab terhadap perkelahian dr. Subandrio dan dr.
Darmasetiawan dengan Jepang. Tidak terlalu jelas apa persoalannya, namun
kala itu dr. Darmasetiawan memang sudah mata gelap. Dr. Halim dipanggil oleh
Prof. Itagaki dan diminta untuk bertanggung jawab. Lalu Halim berkata kepada
dr. Darmasetiawan, "Darma you kerja terus, tapi jangan deh ngomong-ngomong.
Baca buku aja, dan jangan membuat diri mata gelap begitu" yang dijawab,
"saya Lim, apa aje you bilang. Tapi sebelum saya mati, satu Jepang harus
saya bawa mati". Sementara Subandrio diminta oleh Halim untuk pindah ke
Bojong.

Menurut dr. Halim kemudian hari, dokter-dokter muda kita sudah jijik melihat
perilaku orang Jepang dan kalau berpapasan di jalan-jalan di rumah sakit,
harus kirei (memberi hormat). Dan dokter Darmasetiawan yang keras, tidak mau
kirei sehingga berkelahi dan untung segera dipisahkan oleh Prof. Sarwono.

Ketika dr. Halim akan dicopot dari jabatannya di bulan September 1943,
sekitar 50 dokter mengajukan permohonan kepada Djakarta Ika Daigakuco agar
dr. Halim dipertahankan sebagai wakil direktur. Tetapi tidak digubris oleh
Jepang, sementara dr. Halim memilih untuk pindah ke laboratorium.

 
<http://www.facebook.com/photo.php?pid=779520&op=1&view=all&subj=15839243854
8&aid=-1&auser=0&oid=158392438548&id=1020817299> Description:
http://photos-f.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs021.snc3/10838_1248245919194_
1020817299_779520_1228564_n.jpg

Permohonan para dokter di RSUP Jakarta kepada Djakarta Ika Daigakuco agar
dr. Abdul Halim tetap dipertahankan sebagai Wakil Pemimpin Kedua Rumash
Sakit Umum tersebut.

Daftar nama dokter-dokter yang menandatangani surat permohonan tersebut
adalah:

1. Prof. Dr. Asikin Widjajakoesoema
2. Aulia
3. Bahder Djohan
4. Achmad Ramali
5. Diran
6. Sie Boen Liep
7. Oey Eng Tie
8. Tan Wie Oen
9. Moh. Thahir
10. Geno Parsambelan Fand
11. Dajat Hidajat
12. Radja Kamaroedin
13. Soegiri
14. Soeradi
15. Sri Katidjah Moersadik
16. Yap Tjay Heng Hie
17. Slamet Iman Santoso
18. Kho Tjok King
19. Soetan Assin
20. Oetama
21. Dr. Aminoedin Pohan
22. Pamenan Harahap
23. Abdul Azis Saleh
24. Liem No Seey
25. Oey Oen Bio
26. Sarwono Prawirohardjo
27. Goelam
28. Iman Soejoedi
29. Hanifah Wiknjosastro
30. Esmirah
31. Prof. Dr. Soemitro Hadibroto
32. Marsetio
33. Isak Salim
34. Moh. Wonojoedo
35. Dr. Sartono Kertopati
36. Goenawan
37. Djoewari
38. Djua Djing Hwan
39. Khouw Pok Goan
40. Hendarmin Sastrosoepono
41. Moewardi
42. Liem Toan Lien
43. Abdoelkadir Mangkoesoebroto
44. Nahar Jeni
45. Slamet
46. W. Z. Johannes
47. Soehirman
48. Soetjipto Poerwosoeprodjo
49. Soekasah Soerapoetra
50. Soetomo Tjokronegoro
51. Dr. Lie Kian Joe
52. W. M. Tamboenan
53. Soedjati Soemodiardjo

Belakangan setelah lengser dari kegiatan politik, dr. Abdul Halim menjadi
direktur RSUP Jakarta dari Juli 1951 hingga Juli 1961. Setelah itu beliau
menjadi Penasehat bagian THT RSUP (RSCM), Inspektur Jenderal RSCM
(1965-1987) dan Penasehat Pimpinan FKUI dari tahun 1970 hingga akhir
hayatnya.

 
<http://www.facebook.com/photo.php?pid=779522&op=1&view=all&subj=15839243854
8&aid=-1&auser=0&oid=158392438548&id=1020817299> Description:
http://photos-b.ak.fbcdn.net/hphotos-ak-snc3/hs021.snc3/10838_1248247279228_
1020817299_779522_5904435_a.jpg

Prof. Dr. Slamet Iman Santoso (kiri) dan dr. A. Halim dalam rapat penerimaan
mahasiswa baru UI di tahun 1980 an.

Sebagai pimpinan, dr. Halim terkenal dekat dan penuh perhatian terhadap
karyawan rumah sakit dan perawat. Ia pernah menolak permintaan Jepang untuk
mengirimkan perawat-perawat bagi pasien Jepang di barak kelas (Pav VI)
karena ditengarai hanya untuk main-main. Sekali waktu dokter Halim menjual
raket tennis kesayangannya agar dapat membelikan kecap untuk kebutuhan
asrama putri.

Ciputat, 27 Oktober 2009

1 Comment
<http://aswilnazir.com/2009/10/27/mengenang-kiprah-dr-a-halim-di-rscm/#comme
nts> 

Filed under dr. Abdul Halim <http://aswilnazir.com/category/dr-abdul-halim/>
, History <http://aswilnazir.com/category/history/> 

Tagged as History <http://aswilnazir.com/tag/history/> 

 

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke