Da MM jo dunsanak sapalanta, Berita detikcom nan di forward Ustadz Ridha tu ado berita no di TV dalam konprensi pers pak mentri.
Dan nan sangat menarik waktu urang mulai eboh dan tweet no Ustadz YM ado keterangan Pak Mentri dibawahko: mengakui ado rencana seperti itu tapi masih dalam pembahasan, tapi alun tantu di jalankan. Untuak analisa rancak ka tigo berita tu di samdiangkan dan apo nan tasirek kiro2. Apo mungkin iko bantuak mauji riak aia, ketek riak no lalu kan, kalau riak no gadang cari alasan dan bantahan. Ko berita no: Setelah mulai rame, ini jawaban Anies. Soal Doa, Anies Baswedan: Kenapa Baru Muncul Sekarang? 09 December 2014 19:57 WIB Anies Baswedan REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kebudayaan Pendidikan Dasar dan Menengah Anis Baswedan mengatakan, tidak berencana melanjutkan penyusunan tata tertib (tatib) terkait tata cara membuka dan menutup proses belajar mengajar di sekolah dengan berdoa. Tatib itu disusun terkait banyaknya keluhan orang tua murid terhadap tata cara berdoa yang dinilai medominasi agama tertentu. "Tidak tahu tatib itu akan dibikin apa tidak. Itu baru wacana," kata Anis saat dihubungi Republika, Selasa (9/12). Anis menjelaskan, penyusunan tatib itu baru wacana dan tidak akan dilanjutkan. Karenanya, pemberitaan mengenai penyusunan tatib untuk mengatur tata cara berdoa yang dibuat kementeriannya itu dinilai berlebihan. Sent from my Samsung device -------- Original message -------- From: Muchwardi Muchtar <[email protected]> Date: 12/12/2014 21:54 (GMT+07:00) To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] Renungan Jum'at ini Sanak Ahmad Ridha n.a.h basarato komunitas r@ntaunet n.a.c. Maliek fakta berita nan Sanak kopikan dari detik.com, tingga ciek lai aka Si Anih, yaitu jo caro mangatokan bahaso reporter detik.com salah kutib (kalau ado recorder-nyo, bisa dtaruihkan : reporter salah rekam). Ambo jadi takana pangajian lamo (kutiko ambo acok batandang ka sarang JIL samaso Nurcholis Madjid masih hiduik, di Pulogebang dek sari (2003), ciri urang JIL (bukan : Jaringan Iblis Laknatullah..!!!) adolah agak samo ju urang munapiak. Kutiko mangecek wanyo banyak mangicuah, kutiko bajanji wanyo mangkia, kutiko dibari amanah wanyo khianat. Dan ambo tambah ciek lai ciri-ciri urang JIL tu : "Kutiko diajak badebat, dan wanyo kapepet, tasuduik...., satalah awak bari jo ayaik dari Al Qur'an nan dogma, mako wanyo jo muko badak capek maaliahkan topik ka topik lain" Karano badebat atau bakaruak arang jo urang-urang JIL ambo alah acok mangalami (tarutamo kutiko tiok hari Satu pagi dek sari ado acara "Kongkow Jo Gus Dur" di Radio Jil, Utankayu, Jakarta), ambo hanyo bisa manutuik sur-el via palanta ko jo kutiban dendang Bob Tutupoli : ........Memang lidah tak berulang, tak terbatas kata-kata...., lain di bibir lain di hati......................... Salam dan maaf............................, mm*** Pada 12 Desember 2014 21.04, Ahmad Ridha <[email protected]> menulis: Saya masih penasaran terhadap isi jumpa pers Mendikbud yang diberitakan. Apakah jumpa pers itu benar terjadi? Apakah kutipan dan reportasenya akurat? Menurut saya, klarifikasi yang diberitakan belum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, misalkan jika tidak akurat, bagaimana sih kutipan pernyataan beliau yang akurat. http://m.detik.com/news/read/2014/12/01/161654/2764309/10/mendikbud-anies-sekolah-negeri-promosikan-sikap-berketuhanan-yang-maha-esa?nd771104bcj --- Senin, 01/12/2014 16:16 WIB Mendikbud Anies: Sekolah Negeri Promosikan Sikap Berketuhanan Yang Maha Esa Rini Friastuti - detikNews Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan mengatakan kementeriannya sedang mengevaluasi proses belajar mengajar yang selama ini berlangsung di sekolah-sekolah negeri. Salah satu yang sedang dievaluasi terkait dengan tata cara membuka dan menutup proses belajar. "Saat ini kita sedang menyusun, tatib soal aktivitas ini, bagaimana memulai dan menutup sekolah, termasuk soal doa yang memang menimbulkan masalah. Ini sedang direview dengan biro hukum," ujar Anies dalam jumpa pers di kantornya, Gedung Kemendikbud, Jalan Jend Sudirman, Jakarta, Senin (1/12/2014). Anies mengatakan hal itu menjawab pertanyaan tentang adanya keluhan sejumlah orangtua murid terhadap tata cara dominan agama tertentu dalam proses belajar mengajar. Hal itu membuat siswa penganut agama lain menjadi tidak nyaman. "Sekolah di Indonesia mempromosikan anak-anak taat menjalankan agama, tapi bukan melaksanakan praktik satu agama saja," tuturnya. Menurut Anies, sekolah negeri bukanlah tempat untuk mempromosikan keyakinan agama tertentu. Sesuai dengan asas pemerintah menjamin kemerdekaan beragama di Indonesia, sekolah seharusnya memberikan kesetaraan bagi penganut agama lainnya. "Sekolah negeri menjadi sekolah yang mempromosikan sikap berketuhanan yang Maha Esa, bukan satu agama," tutup Anies. (rni/rmd) --- Wassalaaam, --- Ahmad Ridha -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
