Dikie Pano, Alat Perjuangan Tuanku Imam Bonjol yang Hampir Punah 

dalam Budaya <http://ranahberita.com/kategori/ranah/budaya>, Ranah 
<http://ranahberita.com/kategori/ranah> 4 April 201520:18 WIB 0 
<http://ranahberita.com/47951/dikie-pano-alat-perjuangan-tuanku-imam-bonjol-yang-hampir-punah#respond>
 187 
dikunjungi 
 [image: Dikie Pano, Alat Perjuangan Tuanku Imam Bonjol yang Hampir Punah]

Penampilan Dikie Pano. (Foto: Muslim)

RANAHBERITA- Festival kesenian tradisional Nan Jombang Tanggal 3, menguak 
salah satu alat perjuangan Tuanku Imam Bonjol. Pertunjukan kesenian yang 
diadakan di Ladang Tari Nan Jombang, Balai Baru Kota Padang dipadati 
penonton pada Jum’at (3/4/2015) malam.

Dikie Pano, sebuah tradisi berdzikir ala kabupaten pasaman. Grup kesenian 
tradisional Bundo Kanduang menjadi satu-satunya grup tradisional yang masih 
mempertahankan kesenian Dikie Pano. Kesenian ini merupakan perpaduan 
kemahiran menabuh (mangguguah) Pano (Rebana Besar), dengan lantunan Dikie 
(lagu tradisional) yang berisikan petuah adat dan agama.

Menurut pimpinan grup kesenian Bundo Kanduang, Andermi. Dikie Pano ini 
dipakai oleh Tuanku Imam Bonjol dalam berdakwah dan menyampaikan 
propagandanya ke tengah masyarakat. Apalagi di kala itu, perang Paderi 
tengah berkecamuk dan Belanda menjadi pihak yang mengambil keuntungan dari 
konflk tersebut.

“Karena perang Paderi, masyarakat menjadi sangat sensitif apalagi Belanda 
sangat mengawasi pergerakan Tuanku Imam Bonjol. Maka lewat tradisi Dikie 
Pano inilah, Tuanku menyampaikan ajaran agama Islam dan petuah data untuk 
semua masyarakat,” jelas Andermi pada ranahberita.com sebelum penampilan 
Dikie Pano, Jum’at (3/4/2015) malam.

Dengan tiga orang pangguguah (penabuh) pano, dan dua orang tukang Dikie. 
Tradisi ini dimulai dengan guguah murai kencak, salah satu teknik menabuh 
Pano dengan ritme yang cepat. Seusai guguah murai kencak, pertunjukan 
dilanjutkan dengan Dikie dengan lagu Sikambang Pasambahan bertempo lambat.

Dikie dengan lagu SIkambang ini alunan vokalnya gembira, tempo Dikie lebih 
lambat. Dua ritme pantun berima itu diselingi guguahan Pano, dan berlanjut 
dengan pantun petuah kehidupan.

Di sesi terakhir, Dikie Pano memiliki guguhan nan energik, para penabuh 
Pano melakukan guguah tupai bagaluik. Tempo tabuhan Pano saling berkejaran 
dengan alunan Dikie lagu Siti Arafah dan Dikie Sikambang berisikan pantun 
petuah adat.

Pertunjukan tradisional Dikie Pano ini telah tampil sebelumnya di Nan 
Jombang Tanggal 3 pada tahun 2013. Dan pada tahun ketiga festival bulanan 
ini, mereka kembali tampil. Namun sangat disayangkan, kesenian tradisi ini 
sudah mulai hilang tanpa regenerasi.

Para generasi muda tidak ada lagi yang mempelajarinya. Seperti diungkapkan 
Andermi, para pemain Dikie Pano pada pertunjukan malam tadi adalah generasi 
terakhir dari masyarakat Pasaman yang masih memainkan Dikie Pano.

“Kami sangat cemas, karena tradisi ini sudah mulai hilang. Tidak ada lagi 
yang memainkannya, bahkan kami telah membicarakan ini dengan Ery Mefri 
(pimpinan Nan Jombang Dance Company) agar beliau mau mengambil seni tradisi 
ini dan dikembangkan serat dilestarikan. Hingga suatu saat, mana kala ada 
generasi muda Pasaman yang ingin mengetahui sejarah dan kebudayaannya bisa 
belajar ke Nan Jombang. Jika tetap di Pasaman, maka kesenian ini akan 
hilang” pungkas Andermi. (Muslim/Ed1)

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke