Aww. MN jo Palanta sarato Dunsanak di Ranah jo Rantau. M A N T A B. Sebagai
tambahan kironyo dapeik ambo tambahkan kalau baitu jo ATHG bagi DIM paralu juo
wak kaji2 ulang. Karano nan jaleih TH nyo iyolah ummat beda ugamo jo Islam
sarato urang Minang nan indak maraso Minang. Lanjuikkan MN. Wassalam. Haasma
(Laki-laki/70/Depok)
Pada Selasa, 12 Mei 2015 15:11, 'Mochtar Naim' via RantauNet
<[email protected]> menulis:
Sdr Suardi Sawai dkk, Daerah manapun di Indonesia ini yang merasa
memiliki ciri khas tersendiri dari corak budayanya, oleh UUD1945, khususnya
pasal 18, diberi peluang untuk mengajukan diri sebagai Daerah Provinsi
Istimewa. Sejauh ini sudah ada 4 daerah yang sudah mendapatkan hak istimewa
itu: DI Aceh, DI Yogya, DI Papua, dan DKI Jakarta sebelumnya. Kalau Sumbar juga
berhasil, maka Daerah Istimewa Minangkabau (DIM) akan menjadi yang kelima.
Pertanyaannya, kenapa kita merasa perlu untuk mengajukan hak DI itu? Pertama,
karena peluang untuk itu memang diberikan oleh Konstitusi kita. Kalau tidak,
untuk apa repot2. Kedua, kita sendiri memang memiliki ciri khas budaya sendiri
yang nyaris tidak ada duanya di Indonesia dan Asia Tenggara ini. Bahkan di
dunia pun termasuk yang langka. Yaitu sistem matrilinealisme. Sebagai Anda
tahu, sistem matrilineal yang juga berlaku di daerah tempat tinggal Anda di
Malaysia itu hanyalah semata perpanjangan tangan dari rantaunya Minang di
Malaysia itu. Dengan matrilinealisme, maka jangkauannya juga kepada
istimewanya kedudukan perempuan dibanding laki2. Sesuai sekali dengan dalih
yang dikemukakan oleh Rasulullah sendiri, siapa yang paling utama kita hormati,
yang Rasulullah sampai tiga kali mengatakan: Ibumu, Ibumu, Ibumu, baru keempat,
Bapakmu. Dengan matrilinealisme itu pula maka kita mengenal harta pusaka tinggi
dan rendah yang tidak dibagi ketika seseorang meninggal; karena harta yang
dibagi secara hukum faraidh itu hanyalah harta milik pribadi dari yang
meninggal, siapapun dia, laki2 maupun perempuan. Dan tidak harta bersama berupa
ulayat kaum, suku dan nagari, yang pemanfaatannya dipergunakan untuk melindungi
ibu dan anak-anak dalam kaum, suku dan nagari itu. Anda lihat sendiri,
tidak ada negeri ataupun Negara di dunia ini yang memiliki sistem budaya yang
seperti itu, kecuali hanya pelesetan2 belaka. Kedua, baru ABS-SBK, yang
ATJG (Alam Takambang Jadi Guru) itu hanyalah bahagian yang integral yang tidak
bisa dipisahkan dari filosofi ABS-SBK itu. Anda dan siapapun tidak usah
takut dan malu2 dengan ABS-SBK itu, karena adat di Minang tidak berdiri
sendiri, tapi bahagian tak terpisahkan dari Syarak yang datangnya dari Pembikin
satu2nya dari Alam Takambang yang Anda puja2 itu, yang tertuang ke dalam
Kitabullah. Aneh, Anda yang tinggal di Tanah Melayu yang negaranya adalah
Negara Islam, tetapi belum2 sudah ketakutan kalau Minangkabau Tanah leluhur
Anda itu dasarnya juga Syarak dan Islam.Dalam konteks NKRI sendiri, sila
pertama dari Pancasila adalah Ketuhanan "Yang Maha Esa" -- yang implisit
artinya Islam; bukan hanya Ketuhanan semata. Dan di NKRI semua penganut agama
dijamin dalam mereka mempraktekkan ajaran agamanya, dalam bidang apapun. Kalau
Aceh saja qanun yang dasarnya syarak dan kitabullah bisa, kenapa kita juga
tidak. Nah, permasalahan itu tidak lain ada pada diri Anda sendiri yang
kayaknya takut dan malu2 dengan agama yang Anda anut itu. Artinya orang Minang,
Islam, takut kalau Islam berlaku dan terpakai secara aktif dalam sistem sosial,
budaya, pendidikan, ekonomi, teknologi di daerah kampung halaman, tumpah
darahnya sendiri. Jadi masalah itu ada pada diri Anda, sementara kita-kita
yang di ranah dan di rantau di manapun, setuju dengan DIM itu. Dengan DIM kita
lalu memperbaiki semua yang telah kacau dan rusak di kampung halaman kita,
justeru dengan secara sadar kita melaksanakan ajaran ABS-SBK yang sangat-sangat
kita butuhkan dalam kita memperbaiki moralitas dan adab-sopan-santun kita yang
Sdr sendiri mengatakan telah banyak kacau dan rusak itu. Insya Allah kita akan
banyak belajar dari Malaysia dan Singapura bagaimana membangun bangsa itu.
Salam saya. Mochtar Naim--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.