Sanak Afda Rizki,

12.000 orang Tionghoa yang turun ke jalan-jalan kota Medan itu dimotori
milisi radikal Poh An Tui (disebut juga Pao An Tui), yang dikomandani
seorang Cina Medan bernama Lim Seng. Poh An Tui ini milisi yang ditakuti,
meski awal berdirinya cuma dengan 110 orang, tapi mereka dilatih langsung
oleh Brigjen Ted Kelly (salah satu komandan Tentara Sekutu), dan pasokan
senjata mereka pun dari Tentara Sekutu. Poh An Tui sendiri berarti "Barisan
Penjaga Lingkungan".

Sebetulnya Tionghoa radikal seperti anggota Poh An Tui itu jumlahnya
sedikit dibandingkan jumlah Tionghoa di Indonesia, yang secara politik
terbagi ke dalam tiga kelompok:
1. Kelompok Sinpo, yang masih mengidentifikasi diri dengan leluhur mereka
di China Daratan.
2. Kelompok Chung Hua Hui (CHH) yang pro-Belanda, dan
3. Partai Tionghoa Indonesia (PTI) yang pro-Republik. Salah seorang tokoh
Tionghoa pro-Republik adalah Siaw Giok Tjhan (perannya lebih jauh
dijelaskan di bawah nanti)

Ketika Jepang datang, ketiga kelompok itu dipaksa melebur jadi satu
kelompok yang disebut Hui Chiao Tsung Hui (HCTH) sehingga perbedaan
antarkelompok tak lagi terlihat jelas. Ketika Tentara Sekutu kembali ke
Indonesia, antara lain lewat Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya,
polarisasi HCTH kembali terlihat. Ada kelompok yang ingin Belanda kembali
berkuasa, dan ada masyarakat Tionghoa yang ingin bergabung dengan republik
yang baru merdeka.

Malangnya, Bung Tomo dalam pidatonya yang berapi-api menyatakan bahwa
masyarakat Tionghoa, terutama Tionghoa di Surabaya, lebih pro-Belanda
ketimbang pro-Republik. Dengan kata lain, mereka pengkhianat. Pidato Bung
Tomo memicu sentimen anti-Tionghoa dan gelombang serangan rakyat Surabaya
terhadap keturunan Tionghoa.

Situasi ini membuat Siaw Giok Tjhan yang selama ini pro-Republik marah dan
kecewa terhadap Bung Tomo, sehingga mengirimkan orang-orangnya untuk
bertemu Bung Tomo dengan menyatakan tidak semua orang Tionghoa pro-Belanda,
cukup banyak juga yang pro-Republik. Dalam pertemuan itu Bung Tomo
menyatakan bahwa orasinya di radio berdasarkan laporan lapangan dari
Soemarsono, komandan lapangan Pemuda Republik, yang pasukannya berhadapan
langsung dengan Poh An Tui (Surabaya).

Meski Siaw Giok Tjhan akhirnya bisa memahami penjelasan Bung Tomo, tapi
sentimen anti-Tionghoa telanjur meluas ke luar Surabaya, dan khususnya
pecah di Medan. Sepanjang Desember 1945 terjadi serangan terhadap
orang-orang Tionghoa oleh pribumi Medan. Keadaan ini membuat sebagian etnis
Tionghoa Medan memilih angkat senjata dan mendirikan Poh An Tui (cabang)
Medan, yang diketuai Lim Seng tadi, dengan anggota awal 110 orang.
Mereka mengibarkan
spanduk-spanduk bertuliskan"Republik Mengkhianati Kami".

Sampai tahap ini posisi mereka lebih bersifat defensif.

(*Note: *Ada perbedaan waktu tentang kapan persisnya demontrasi besar yang
melibatkan 12.000 etnis Tionghoa itu terjadi. Jika laman yang dirujuk sanak
Afda Rizki dan MakNgah menyebutkan peristiwa itu terjadi pada September
1947, sementara ambo yang menuliskan juga peristiwa ini dalam novel
historis *Napoleon dari Tanah Rencong* (2013),  hal. 174-177, ambo lebih
memilih versi yang menyatakan demontrasi besar itu terjadi pada akhir
Januari 1946. Salah satu rujukan ambo adalah karya Chalmers A. Johnson yang
berjudul *Peasant Nationalism and Communist Power: The Emergence of
Revolutionary China* yang banyak membahas gejala pertumbuhan Poh An Tui,
yang awalnya hanyalah milisi penjaga ketertiban distrik (hsien) di daratan
China, tapi kemudian berkembang menjadi kekuatan yang lebih menakutkan di
Indonesia).

Kembali  ke posisi Poh An Tui, usai demonstrasi besar itu, pada Maret 1946
anggota Poh An Tui mendapat pelatihan dari Brigjen Ted Kelly dan dipasok
berbagai jenis senjata, sehingga dengan cepat milisi ini membesar, punya
nyali, dan berani unjuk gigi. Lim Seng lalu menetapkan Bagan Siapi-api
sebagai "daerah uji coba" ketangguhan Poh An Tui. Di sepanjang perjalanan
Medan-Bagan Siapi-api, laskar Poh An Tui membantai secara brutal warga
pribumi yang berani melawan mereka.

Melihat kebrutalan Poh An Tui yang menjadi-jadi (bukan kebrutalan keturunan
Tionghoa secara keseluruhan sanak Afda), Komandan Divisi I Achmad Tahir
yang bermarkas di Tebingtinggi, akhirnya sewot juga dan memerintahkan
pasukan Jamin Ginting untuk menghadang Poh An Tui, sehingga terjadi
pertempuran sengit dengan banyak korban dari kedua pihak. Tetapi Jamin
Ginting akhirnya bisa membuat Lim Seng menarik mundur Poh An Tui kembali ke
Medan, di mana mereka masih mendapat perlindungan Tentara Sekutu dan NICA
yang membonceng.

Kelak -- setelah April 1946 -- giliran pasukan Aceh, yang banyak di antara
mereka memiliki kerabat di Sumatra Utara, yang mengadakan *long march*
ratusan kilometer dari tanah kelahiran mereka untuk berjihad fi sabilillah
melawan Tentara Sekutu-NICA dan antek-anteknya, Poh An Tui.

Meski pasukan-pasukan Aceh itu dipimpin para kolonel dan mayor, namun di
lapangan yang banyak membuat gebrakan dahsyat adalah para jawara
tradisional Aceh yang disebut '*Pang*' (jagoan) seperti Pang Lokop. Para
jago tua ini hanya bermodal parang dan ilmu *pelimun*, yang membuat tubuh
mereka bisa tak terlihat lawan, dan menggorok musuh dengan leluasa, sebelum
kembali ke markas pejuang Aceh dengan parang penuh darah musuh.

Salah satu kompi yang mendapat julukan mengerikan "Kompi Parang Berdarah"
itu dipimpin oleh Letnan Bustanil Arifin (kelak menjadi salah seorang tokoh
penting di era Orde Baru, a.l. sebagai Kepala Bulog dan Menteri Koperasi).

Dengan kata lain, ketika melihat peran etnis keturunan Tionghoa (juga
disebut Cina Peranakan) di Indonesia, kalau ambo tidak menyamaratakan
mereka, karena sejarah menunjukkan ada dari mereka yang pro-Republik, dan
ada dari mereka yang pro-Belanda (penjajah) dan menjadi pembantai bangsa
sendiri -- seperti juga terjadi pada etnis-etnis pribumi lainnya.

Ada yang mengorbankan jiwa raga dan berharap menemukan syahid dalam
menegakkan Indonesia merdeka, ada juga yang memilih menjadi pengkhianat dan
menikmati keuntungan dengan menghantam rakyat sendiri -- yang sebelum
revolusi terjadi, seringkali adalah tetangga di samping rumah mereka
sendiri.

Allahu a'lam.

Wassalam,

ANB

PS: Mungkin para senior dan sesepuh RN yang mengalami langsung masa-masa
pergolakan tahun 1945-1950 bisa berbagi kisah di sini.









Pada 20 Agustus 2015 14.08, Afda Rizki <[email protected]> menulis:

> Manolah Makngah jo rang palanta,
>
>
> Ado yang menarik dari buku nan Makngah agiahkan tautannyo, saroman di
> bawah:
>
>
>
> Asumsi ambo jumlah 12000-an urang ko tantulah sangaik banyak katiko maso
> itu, dan tidak lah mudah mamobilisasinyo. Jadi memang dari zaman saisuak
> kurenah rang keturunan Tionghoa ko yo banyak yang jadi tando tanyo mah.
>
>
>
> Salam hangat,
>
> Afda Rizki (Lk)
> 37thn, Piliang
>
>
> *******
> Pada Kamis, 20 Agustus 2015 05.13.44 UTC+3, Sjamsir Sjarif menulis:
>>
>>
>> https://books.google.com/books?id=z9C7NuTllisC&pg=PA315&lpg=PA315&dq=bukittinggi+17+Agustus+1947&source=bl&ots=8f6f388ZvT&sig=DFeEGSu6iHeyoHrLw_J8bSSxX2Q&hl=en&sa=X&ved=0CC8Q6AEwBmoVChMIu5Cw48e2xwIVSimICh0aLAKE
>>
>> --  Makngah
>> Sjamsir Sjarif
>>
> --
> .
> * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
> wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
> * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
> ===========================================================
> UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
> * DILARANG:
> 1. Email besar dari 200KB;
> 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
> 3. Email One Liner.
> * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
> mengirimkan biodata!
> * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
> * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
> * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama &
> mengganti subjeknya.
> ===========================================================
> Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
> http://groups.google.com/group/RantauNet/
> ---
> Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google
> Grup.
> Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini,
> kirim email ke [email protected].
> Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
>

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke