http://rhenaldkasali.com/be-a-driver-dont-be-a-passenger/
Oleh : Rhenald Kasali

Jika kita berkunjung ke danau Maninjau, salah satu rute paling indah adalah
Kelok Ampek Puluah Ampek. Selain paling indah, juga yang paling sulit bagi
para pengemudi dan berbahaya bagi para penumpang.Tapi dari rute ini kita
bisa belajar mengenai perubahan.

Banyak perusahaan yang jatuh karena tidak mampu beradaptasi dengan
perkembangan zaman. CEO sebagai driver harus jeli mengemudikan
perusahaannya agar sampai ke tujuan atau visi. Sebut saja Garuda Indonesia,
maskapai plat merah ini sempat beberapa kali jatuh bangun, bahkan pernah
dilarang terbang ke Eropa.

Berbagai sistem kemudian dirombak, pelayanan pada pelanggan ditingkatkan
dan daya saing perusahaan digeber. Adalah tangan Emirsyah Satar (55), pria
asli Minangkabau yang menjadi good driver di perusahaan ini. Hari ini
Garuda Indonesia telah diakui dunia dan bergabung bersama Skyteam, salah
satu aliansi penerbangan terbaik dan banyak prestasi lainnya.

Tentu banyak hambatan selama proses transformasi. Mulai dari jalanan terjal
dan berliku, lubang yang menganga bahkan umpatan dari penumpang sendiri.
Butuh kejelian dalam menjalaninya.Sama seperti melintasi Kelok Ampek Puluah
Ampek. Perubahan di Garuda Indonesia, saya ibaratkan sebuah mobil yang
melintas di jalanan ini.

*Self Driving*

Setiap manusia dianugerahkan kendaraan oleh Tuhan yaitu dirinya sendiri
(self). Kita sendiri pulalah yang menentukan seperti apa kendaraan itu
serta kemana arahnya (self driving). Ini adalah sikap mental yang
membedakan apakah orang itu paham betul falsafah ‘di mana bumi dipijak, di
situ langit dijunjung,’ dengan mereka yang tidak.

Emirsyah Satar adalah salah satu contohnya, seorang good driver yang
memiliki daya dobrak. Bukan berarti tanpa hambatan, Emir pernah didemo oleh
karyawannya sendiri namun justru berakhir manis ketika visi untuk bangkit
itu disampaikan dari hati ke hati. Semua pihak justru ingin ikut terlibat
dalam pesta perubahan.

Sebulan belakangan tak henti-hentinya saya menyampaikan tentang self
driving ke berbagai penjuru Nusantara. Baik di depan para eksekutif,
pendidik, anak muda dan juga para orangtua. Ini adalah pemahaman
yang diaplikasikan untuk mengasah inisiatif, kreativitas dan daya dobrak
seseorang.

Kita diberi kemampuan untuk memecahkan masalah yang tanpa kita sadari
jarang sekali kita gunakan. Zona nyaman dan keteraturan membuat kita
seperti burung dara yang dijahit sayapnya; tak bisa terbang tinggi. Saya
menyebutnya sebagai passengers.Hanya duduk tanpa mempedulikan risiko, boleh
tertidur dan tidak harus tahu jalan. Standar yang dimiliki rendah sementara
potensi kita adalah membelah langit bak seekor rajawali.

*Anak-Anak Jangan Dikekang*

Saya dekat dengan dua pemuda asli Minangkabau, keduanya adalah mahasiswa
saya di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (FE UI). Mereka adalah
Jombang Santani Khairen (@JS_Khairen) dan Muhammad Alfatih Timur
(@AlfatihTimur).
Akademik mereka cukup baik dan setelah lulus, mereka berdiskusi dengan saya
menanyakan baiknya kerja di bidang dan perusahaan apa. Di tengah diskusi
saya kaget, ternyata mereka memiliki kombinasi bakat, skil manajerial dan
jiwa sosial yang bisa tenggelam apabila tidak disalurkan di tempat yang
benar.

Alfatih misalnya, hari ini dia dan sahabat-sahabatnya berhasil
mengembangkan sebuah situs social crowdfunding terbesar di Indonesia,
www.kitabisa.co.id. Situs ini bisa adalah wadah untuk menghubungkan
kebaikan bagi mereka yang ingin menyumbangkan waktu, mater, tenaga serta
pikiran.

Tak seperti rekan-rekannya sesama kuliah yang memilih jalan populis untuk
bekerja di perusahaan besar, Timmy, begitu saya memanggilnya, justru
berkecimpung di dunia sosial. Hasil kerja kerasnya, diapresiasi tidak hanya
di dalam negeri bahkan juga di luar negeri. Beberapa waktu lalu ia berhasil
memenangkan sebuah kompetisi di Singapura. Penghujung tahun ini, Timmy akan
bertolak ke Amerika Serikat untuk mempresentasikan buah karyanya.

Kemudian Jombang, anak ini memiliki panca indera yang tajam. Ia mampu
melihat hal-hal yang tidak terlalu diperhatikan orang lain. Kreativitas
yang ia miliki telah membawa namanya bergabung bersama deretan penulis
handal Indonesia. Dalam kurun waktu 5 bulan, Jombang telah menerbitkan 2
novel lewat penerbit Gramedia. Novelnya pun dibaca dan diberi komentar oleh
orang-orang hebat seperti Jokowi, Jusuf Kalla, Anies Baswedan, Dian Sastro,
Riri Riza dan sederetan nama lainnya.

Mereka memiliki daya dobrak dan mental good driver. Di awal-awal, sering
kali saya mendengar curhatan mereka bahwa orangtua tidak terlalu sepakat
dengan jalan yang kini mereka tempuh. Namun hari ini, orangtua mereka
selayaknya berbangga. Mereka berhasil keluar dari perangkap passenger.

Mari kita renungkan, apakah kita sudah mendidik anak-anak kita menjadi good
driver? Kita bermimpi mereka bisa menjadi pemimpin hebat, namun ini akan
sulit jika semenjak kecil sudah kita kekang dengan kata ‘tidak boleh’ dan
‘jangan.’ Kita takut anak kita mencoba hal-hal baru.

Cobalah lihat mereka yang juara di kelas kebanyakan adalah anak yang
penurut dan lancar menyalin isi buku ke kertas.Tanpa disadari kita telah
membentuk mereka berdasarkan keinginan kita, bukan berdasarkan potensi
mereka.

Jadilah ketika lulus dari universitas, mereka hanya menjadi sarjana kertas,
hanya pandai memindahkan isi buku ke kertas. Ilmu mereka tidak pindah ke
seluruh tubuhdan hanya tersimpan di otak.Tidak tangkas dan sering
kebingungan ketika menghadapi tantangan nyata di dunia kerja.

Anak-anak hari ini, hidup dengan suplai gizi, fasilitas serta akses
pendidikan yang lebih baik. Creative dan critical thinking mereka dibentuk
setiap waktu dari segala arah. Sungguh tidak bijak jika membiarkan para
calon pemimpin ini terjebak dalam perangkap passenger.Sudah saatnya kita
membuka mata dan memberikan kesempatan yang lebih luas tanpa memerangkap
mereka.

Dari kecil mereka kita bedong, kita papah, dan kita tuntun. Jadilah mereka
generasi yang ikut-ikut saja kata orangtua dan guru seperti burung dara
yang dijahit sayapnya. Sekarang saatnya biarkan mereka menjadi rajawali. Be
a driver, don’t be a passenger!

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke