*Rebab Kelu Perjalanan Andrinof ChaniagoOlehIndra J PiliangPendiri Sang
Gerilya Institute*

Di angkatan senior saya di UI, tidak banyak yang saya kenal sebagai
intelektual, terlebih lagi sebagai intelektual yang berasal dari ranah
Minang. Di antara yang sedikit itu, nama Andrinof Chaniago paling menonjol.
Saya tentu sedikit menyesal, tidak mengenali Andrinof sejak di bangku
kuliah. Walau saya tahu, Andrinof aktif sebagai Ketua Badan Perwakilan
Mahasiswa FISIP UI. Saya lebih dekat dengan Chandra M Hamzah, putra Minang
lainnya. Chandra termasuk mentor saya dalam aktivitas kemahasiswaan di UI.
Hal yang paling saya ingat adalah Chandra meledek saya, setiap kali saya
bicara.

“Ndra, mending lu jangan ngomong deh. Apa yang lu omongin kagak jelas!”
kata Chandra, sambil tersenyum yang khas dan menyundut rokoknya.

Saya memang gagap, waktu semester satu hingga semester dua di UI. Mungkin
juga hingga semester berikutnya. Sejak kecil saya penyendiri, jarang
tinggal dengan orang tua. Saya dititipkan di banyak tempat, terutama dengan
nenek-nenek dan etek-etek saya. Alasannya, saya sekolah, sementara ayah dan
ibu  saya pindah-pindah, mengingat ayah saya sebagai pegawai memang sering
berpindah tempat pekerjaan mengintari Sumbar. Karena itulah, saya
tertinggal dalam hal bicara.

Saya termasuk jago di bidang matematika, bahasa Inggris, sastra, sejarah
dan bahasa Indonesia. Ya, jago dalam artian pandai menulis, tidak pandai
bicara. Kebetulan, saya membaca banyak buku,  termasuk catatan harian kakek
saya yang ditulis indah. Biasanya, kalau menulis surat kepada orangtua
saya, saya menulis berlembar-lembar, menumpahkan perasaan. Tak jarang saya
coret-coret atau saya ulangi menulisnya.

Dalam reuni dengan Angkatan 1991 Jurusan Sejarah yang tidak disengaja pada
tanggal 23 Agustus 2015 lalu di Taman Mini Indonesia Indah, Elsye, Musa,
Nunung dan teman-teman saya yang lain masih mengingat kegagapan saya.

“Gue heran, elu sekarang pandai bicara. Padahal, lu kan gagap,” kata Bodi
dan Ewan.

“Makanya gua jadi aktivis. Lu nggak tahu, setiap kali demo, gue ambil
michrophone, lalu teriak-teriak sendiri di tengah hiruk pikuk massa. Orasi
keras-keras, sambil megang catatan. Mana ada yang fokus dengerin orasi gue,
karena suasana demo kan rame!” jawab saya.

Mereka terkekeh. Benar, saya melatih diri dengan ketat, antara lain dengan
ikut aksi mahasiswa, mimbar bebas, hingga masuk ke Teater Sastra UI untuk
latihan vokal di dalam air dan di tempat sepi seperti Cibodas, kaki Gunung
Gede Pangrango. Pelatih saya adalah I Yudhi Sunarto dan terakhir,
Ramdhansyah (pernah jadi Ketua Bawaslu DKI Jakarta).

Sebanyak itu saya aktif di organisasi, saya hampir tak mengenali Andrinof.
Saya tahu, ada pimpinan mahasiswa dari berbagai fakultas yang berasal dari
Ranah Minang. Tapi Andrinof? Jarang bertemu. Saya hanya sesekali membaca
tulisannya dalam jurnal yang diterbitkan oleh mahasiswa FISIP UI.

Yang paling saya kenal di FISIP UI bukan Andrinof, melainkan Eep Saefullah
Fatah, almarhum Syamsul Hadi, Eko Sulistio, Andi Rahman atau Robertus
Robert, dan Budi Arie Setiadi. Juga aktivis KSM UI Eka Prasetya yang
berasal dari FISIP UI, seperti Sad Dian Utomo dan Sulistio. Belakangan,
saya akrab dengan Subuh Prabowo yang sampai sekarang setia mendampingi
Fadli Zon. Subuh jadi Sekretaris Umum saya dalam kegiatan Simposium
Nasional Angkatan Muda 1990-an: Menjawab Tantangan Abad 21. Saya menjadi
Ketua OC, dengan wakil Indra Kusuma dari FHUI.

Namun, mayoritas aktivis mahasiswa UI mengenal mentor saya dari FISIP UI,
Bagus Hendraning yang kini menjadi diplomat. Di luar itu, sejak aktif
sebagai bagian dari ikhwan kampus di UI, saya mengenal ikhwan-ikhwan asal
FISIP UI, seperti Komaruddin.

***

Nama Andrinof saya kenal lewat tulisan di Harian Republika. Saya menjadi
akrab dengannya, ketika saya masuk menjadi peneliti Centre for Strategic
and International Studies (CSIS). Waktu itu, Andrinof bekerja di the
Habibie Center. Kisah hubungan baik kami terjadi ketika saya diminta untuk
“menguliti” buku Gagalnya Pembangunan karangan Andrinof. Heran, dua lembaga
yang dianggap berseberangan, yakni the Habibie Center dan CSIS, justru
berakrab-akrab di depan kamera.

Ya, momentum kedekatan saya dengan Andrinof adalah ketika launching buku
Gagalnya Pembangunan itu di Hotel Four Seasons, Jakarta. Andrinof memanggil
saya sebagai salah satu dari sedikit orang yang menerima buku di depan para
undangan. Sejak itu, saya dan Andrinof menjadi kakak-adik.

Buku Andrinof ternyata dibaca banyak pihak. Tak disangka, kami dihubungi
oleh ex Dirut PT Timah TBK Erry Riyana Hardjapamengkas untuk menulis soal
konflik tambang timah inkonvensional (illegal) di Bangka Belitung. Kami
terbang kesana, melakukan penelitian. Walau tanpa dana yang cukup, kami
bekerja keras menyelesaikan laporan. Sayang, sampai hari ini, buku hasil
penelitian itu tak kunjung terbit.

Hubungan baik dengan Erry Riyana itulah yang membawanya hadir dalam resepsi
pernikahan saya di sebelah gedung Balai Kartini. Erry membaca sambutan
keluarga. Saya lupa, apakah Andrinof hadir. Tetapi sehari sebelum resepsi
itu, Faisal Basri datang di rumah calon mertua saya, menjadi saksi
pernikahan.

Ketika konflik Ambon meletus, saya dan Andrinof diundang oleh Gubernur
Maluku untuk mengisi lokakarya tentang penanganan konflik di Kota Ambon,
lewat prinsip-prinsip good governance. Saya dan Andrinof dikawal oleh satu
regu Brimob. Kami bertemu dengan seorang kawan yang sedang kuliah di USA
bernama Made. Kami makan ikan, di meja yang bersebelahan dengan Calon
Kapolda Maluku yang baru di belakang Mesjid Al Fatah.

Sepulang dari Ambon, saya jatuh sakit. Dua bulan saya diobati oleh istri
saya yang sedang hamil, dengan cara disirami cairan putih dan hanya
diselimuti satu kain panjang punya ibu mertua saya. Dari tubuh saya, keluar
nanah dan apa yang disebut sebagai panu batu. Saya tidak boleh berkeringat,
karena rasanya pedih dan gatal sekali.

Saya tidak tahu, kemana lagi bertualang bersama Andrinof. Yang jelas,
bersama 9 orang aktivis dan intelektual lainnya, kami mendirikan
Perhimpunan Rakyat Jakarta Peduli Papua (Pokja Papua). Diluar nama Andrinof
dan saya, terdapat nama Usman Hamid, Patra M Zen, Frans Maniagasi dan
lain-lain. Saya dan tim bolak-balik ke Papua, termasuk Andrinof.

Kami bertemu lagi ketika KAHMI Profesional terbentuk. Inilah KAHMI yang
berisi para profesional dan kaum intelektual, di tengah persaingan dua
KAHMI lainnya. KAHMI Profesional mengadakan kongres makalah di Hotel Atlet
Century, Senayan. Saya dan Andrinof membawakan makalah, termasuk Anies
Rasyid Baswedan dan Arief Satria.

Momen lainnya datang silih berganti. Ketika memutuskan maju sebagai calon
anggota KPU pada tahun 2007, Andrinof mendukung saya. Pada saat dokumen
saya hilang, akibat adik angkat saya Miftah Nur Sabri dirampas tasnya di
Stasiun Bogor, Andrinof menghubungi saya. Dia bilang, ada orang dari Badan
Intelijen Strategis (BAIS) yang akan membantu. Pada malam harinya, orang
itu menelepon saya. Keesokan harinya, seluruh dokumen balik ke kantor saya
di belakang Hotel Bidakara, Jakarta, diantarkan oleh seorang gelandangan.

Momen publik terakhir datang, ketika Andrinof hadir di dalam acara
pelepasan saya sebagai analis pada tanggal 6 Agustus 2008. Saya memutuskan
terjun ke dunia politik praktis dan dilepas lebih dari dua ratus kawan di
kampus Universitas Paramadina. Anies Baswedan, Effendi Ghazali, Binni
Buchori, Nurul Arifin dan lain-lainnya datang memberikan sambutan
perpisahan. Di bangku, ada Bima Arya Sugiarto yang kemudian juga mengikuti
jejak saya dengan masuk menjadi politisi Partai Amanat Nasional.

Sejak menjadi politisi, saya kehilangan aktivitas intelektual bersama
Andrinof. Tetapi Andrinof terus menyokong saya, dengan beragam cara. Yang
paling saya ingat, Andrinof bersama kawan-kawannya meluncurkan Visi
Indonesia Tahun 2033. Saya datang memberikan dukungan, bersama Nova Riyanti
Yusuf yang merupakan politisi asal Partai Demokrat.

***

Saya mengikuti Andrinof lewat tulisan-tulisan berceritanya di milis
RantauNet. Setiap kali ia mengirimkan tulisan, selalu panjang, keras, tajam
dan santun. Pertama kali mengenal nama Joko Widodo, saya ketahui lewat
tulisan Andrinof di milis yang sama. Andrinof menceritakan pertemuannya
yang bersahaya di Solo dengan Joko Widodo, termasuk makan dan diskusi
berdua, tanpa ada pengawalan. Andrinof terus bercerita tentang Joko Widodo,
ketika saya malah tak ikut menanggapi cerita Andrinof itu. Siapa Joko
Widodo? Diluar Andrinof, sedikit sekali yang tahu dan mengenali
karya-karyanya di Solo.

Survei awal pencalonan Joko Widodo di DKI Jakarta juga dilakukan Andrinof.
Banyak yang menyangsikan hasil survei itu. Andrinof dikritik, akibat
memperkenalkan nama yang bahkan tak pernah kenal Jakarta dengan baik. Saya
justru berjibaku mendukung Tantowi Yahya, sebagai bakal calon dari Partai
Golkar. Bersama Tantowi dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kami bertiga
berjuang dalam Rakernas Partai Golkar di Ancol pada 2012, agar membolehkan
kader maju lewat jalur independen. Upaya itu gagal. Parrai Golkar
mencalonkan Alex Noerdin, Ahok mendampingi Joko Widodo.

Lagi dan lagi, Andironof menunjukkan keberpihakan tinggi. Setahu saya,
Andrinof tidak terlalu ahli di bidang survei. Hasil-hasil surveinya pun
saya “curigai” terlalu berpihak kepada Joko Widodo. Variabel-variabel
potensial lebih banyak ia kemukakan, ketimbang variabel-variabel objektif.
Ia bermalam-malam menjawab setiap serangan terhadap Joko Widodo, ketika
saya jarang sekali membuka internet dan ikut berdiskusi. Saya akhirnya
memutuskan mendukung Joko Widodo – Ahok dalam putaran kedua. Saya nyatakan
langsung di depan jutaan rakyat Indonesia, lewat acara TV One.

Lalu, datanglah momentum Pilpres 2015. Andrinof rajin membuat tweet tentang
Joko Widodo. Berbulan-bulan Andrinof twitwar dengan akun-akun yang membenci
Joko Widodo. Heran, saya saja tidak membalas mention setiap akun. Andrinof
malah sebaliknya, terlihat tak tidur akibat kesibukan dalam menulis di
social media, termasuk di milis-milis.

Maka, ketika nama saya dan Andrinof bersaing dalam website Kabinet Rakyat
sebagai salah satu calon menteri Joko Widodo, saya membatin. Kalau ada satu
orang wakil dari UI dan Sumatera Barat, biarlah nama Andrinof yang muncul.
Walau, menurut hasil pooling itu nama saya mengunggguli Andrinof, saya
malah merasa tidak layak. Saya belum menulis buku setebal Andrinof. Rambut
saya juga belum sebotak Andrinof. Dan kesetiaan saya kepada Joko Widodo
belum sespartan Andrinof. Saya sempat mengkritisi Joko Widodo, ketika nama
Aburizal Bakrie masih menjadi Bakal Calon Presiden yang hendak diajukan
Partai Golkar.

Dan ketika Andrinof dilantik menjadi menteri, saya mengirimkan sms.
Andrinof menjawabnya. Juga ketika saya diangkat sebagai Ketua Tim Ahli
Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, saya
menghubungi Andrinof minta ketemu. Kebetulan, KemenPANRB lagi menyiapkan
Rencana Strategis, sebagai tugas Tim Ahli. Andrinof bersedia bertemu. Pun
ketika saya kultwit soal sekolah politik di akun twitter saya, lalu
menyebut akan menaruh seorang anak muda di samping meja kerja Andrinof
untuk belajar, Andrinof amat sangat mendukung.

Hanya saja, dari sejak dilantik, sampai akhirnya diberhentikan sebagai
menteri, saya tidak pernah bertemu Andrinof. Kesibukan saya dan dia yang
menyebabkan kami tak bisa mengawinkan waktu. Saya hanya sempat berbicara
dengan Eva Sundari, staf khusus Andrinof. Dari Eva juga saya tahu, Andrinof
usai dioperasi. Dan sejak tahu itu, saya mulai khawatir dengan kondisi
fisik Andrinof. Apakah ia sanggup menyelesaikan masa tugasnya, serta begitu
banyak konsep yang wajib disediakan? Apalagi kementeriannya tidak lagi
berada di bawah MenkoEkuin, melainkan langsung di bawah Presiden Joko
Widodo.

Ketika Andrinof diganti, saya berteriak galau di mobil dalam perjalanan
menuju Gedung Badan Pemeriksa Keuangan. Saya duduk di tangga, setelah
disambut protokol BPK. Saya minta waktu untuk duduk dan menelepon istri
saya. Sedih, bercampur gembira. Sedih dengan isu-isu yang beredar. Gembira,
mengingat Andrinof kembali menjadi dirinya sendiri, termasuk melanjutkan
kuliahnya yang terbengkalai, menggerakkan inisiatif kaum intelektual, serta
terlebih lagi memiliki waktu yang lebih longgar untuk bertemu. Intuisi saya
berkata, Andrinof bakal mendapatkan amanah lain. Walau, saya lebih
menginginkan Andrinof menyelesaikan kuliah doktoralnya. Apapun itu, sebelum
Andrinof benar-benar sibuk kembali, mungkin untuk satu amanah baru, satu
organisasi intelektual baru, atau satu jenjang pendidikan baru, saya ingin
bertemu dengannya, lalu melihat senyum khasnya.

Saya ingin mendengar ceritanya yang selalu panjang, seperti dulu saya
mendengar bunyi rabab di radio. Terkantuk, namun mengiris hati dan jiwa.
Kelu, penuh derita, namun berakhir bahagia…

Sumber:

http://m.indrapiliang.com/2015/08/25/rebab-kelu-perjalanan-andrinof-chaniago/

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke