Sebetulnya di samping p Andrinof Chaniago juga ada tokoh akademisi Minang yg juga besar jasanya mendongkrak popularitas walikota jokowi dengan kepakarannya di bidang psikologi politik
Lihat links berikut Hamdi Muluk : Jokowi-JK Pasangan Ideal | Jusuf Kalla jusufkalla.info › archives › 2014/04/25 Mobile-friendly - 25 Apr 2014 - Hamdi Muluk menambahkan bahwa duet ideal bagi Jokowi adalah dengan JK. Menurutnya, JK ... Prof. Hamdi Muluk: 'Epidemi' Jokowi, Modal Sosial 'Clean ... www.kompasiana.com › berthybrahawarin Mobile-friendly - 30 Agt 2013 -Menganalogikan popularitas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo (Jokowi) dengan 'epidemi' Jokowi, ... On Aug 25, 2015 12:00 PM, "Akmal Nasery Basral" <[email protected]> wrote: > > > > *Rebab Kelu Perjalanan Andrinof ChaniagoOlehIndra J PiliangPendiri Sang > Gerilya Institute* > > Di angkatan senior saya di UI, tidak banyak yang saya kenal sebagai > intelektual, terlebih lagi sebagai intelektual yang berasal dari ranah > Minang. Di antara yang sedikit itu, nama Andrinof Chaniago paling menonjol. > Saya tentu sedikit menyesal, tidak mengenali Andrinof sejak di bangku > kuliah. Walau saya tahu, Andrinof aktif sebagai Ketua Badan Perwakilan > Mahasiswa FISIP UI. Saya lebih dekat dengan Chandra M Hamzah, putra Minang > lainnya. Chandra termasuk mentor saya dalam aktivitas kemahasiswaan di UI. > Hal yang paling saya ingat adalah Chandra meledek saya, setiap kali saya > bicara. > > “Ndra, mending lu jangan ngomong deh. Apa yang lu omongin kagak jelas!” > kata Chandra, sambil tersenyum yang khas dan menyundut rokoknya. > > Saya memang gagap, waktu semester satu hingga semester dua di UI. Mungkin > juga hingga semester berikutnya. Sejak kecil saya penyendiri, jarang > tinggal dengan orang tua. Saya dititipkan di banyak tempat, terutama dengan > nenek-nenek dan etek-etek saya. Alasannya, saya sekolah, sementara ayah dan > ibu saya pindah-pindah, mengingat ayah saya sebagai pegawai memang sering > berpindah tempat pekerjaan mengintari Sumbar. Karena itulah, saya > tertinggal dalam hal bicara. > > Saya termasuk jago di bidang matematika, bahasa Inggris, sastra, sejarah > dan bahasa Indonesia. Ya, jago dalam artian pandai menulis, tidak pandai > bicara. Kebetulan, saya membaca banyak buku, termasuk catatan harian kakek > saya yang ditulis indah. Biasanya, kalau menulis surat kepada orangtua > saya, saya menulis berlembar-lembar, menumpahkan perasaan. Tak jarang saya > coret-coret atau saya ulangi menulisnya. > > Dalam reuni dengan Angkatan 1991 Jurusan Sejarah yang tidak disengaja pada > tanggal 23 Agustus 2015 lalu di Taman Mini Indonesia Indah, Elsye, Musa, > Nunung dan teman-teman saya yang lain masih mengingat kegagapan saya. > > “Gue heran, elu sekarang pandai bicara. Padahal, lu kan gagap,” kata Bodi > dan Ewan. > > “Makanya gua jadi aktivis. Lu nggak tahu, setiap kali demo, gue ambil > michrophone, lalu teriak-teriak sendiri di tengah hiruk pikuk massa. Orasi > keras-keras, sambil megang catatan. Mana ada yang fokus dengerin orasi gue, > karena suasana demo kan rame!” jawab saya. > > Mereka terkekeh. Benar, saya melatih diri dengan ketat, antara lain dengan > ikut aksi mahasiswa, mimbar bebas, hingga masuk ke Teater Sastra UI untuk > latihan vokal di dalam air dan di tempat sepi seperti Cibodas, kaki Gunung > Gede Pangrango. Pelatih saya adalah I Yudhi Sunarto dan terakhir, > Ramdhansyah (pernah jadi Ketua Bawaslu DKI Jakarta). > > Sebanyak itu saya aktif di organisasi, saya hampir tak mengenali Andrinof. > Saya tahu, ada pimpinan mahasiswa dari berbagai fakultas yang berasal dari > Ranah Minang. Tapi Andrinof? Jarang bertemu. Saya hanya sesekali membaca > tulisannya dalam jurnal yang diterbitkan oleh mahasiswa FISIP UI. > > Yang paling saya kenal di FISIP UI bukan Andrinof, melainkan Eep Saefullah > Fatah, almarhum Syamsul Hadi, Eko Sulistio, Andi Rahman atau Robertus > Robert, dan Budi Arie Setiadi. Juga aktivis KSM UI Eka Prasetya yang > berasal dari FISIP UI, seperti Sad Dian Utomo dan Sulistio. Belakangan, > saya akrab dengan Subuh Prabowo yang sampai sekarang setia mendampingi > Fadli Zon. Subuh jadi Sekretaris Umum saya dalam kegiatan Simposium > Nasional Angkatan Muda 1990-an: Menjawab Tantangan Abad 21. Saya menjadi > Ketua OC, dengan wakil Indra Kusuma dari FHUI. > > Namun, mayoritas aktivis mahasiswa UI mengenal mentor saya dari FISIP UI, > Bagus Hendraning yang kini menjadi diplomat. Di luar itu, sejak aktif > sebagai bagian dari ikhwan kampus di UI, saya mengenal ikhwan-ikhwan asal > FISIP UI, seperti Komaruddin. > > *** > > Nama Andrinof saya kenal lewat tulisan di Harian Republika. Saya menjadi > akrab dengannya, ketika saya masuk menjadi peneliti Centre for Strategic > and International Studies (CSIS). Waktu itu, Andrinof bekerja di the > Habibie Center. Kisah hubungan baik kami terjadi ketika saya diminta untuk > “menguliti” buku Gagalnya Pembangunan karangan Andrinof. Heran, dua lembaga > yang dianggap berseberangan, yakni the Habibie Center dan CSIS, justru > berakrab-akrab di depan kamera. > > Ya, momentum kedekatan saya dengan Andrinof adalah ketika launching buku > Gagalnya Pembangunan itu di Hotel Four Seasons, Jakarta. Andrinof memanggil > saya sebagai salah satu dari sedikit orang yang menerima buku di depan para > undangan. Sejak itu, saya dan Andrinof menjadi kakak-adik. > > Buku Andrinof ternyata dibaca banyak pihak. Tak disangka, kami dihubungi > oleh ex Dirut PT Timah TBK Erry Riyana Hardjapamengkas untuk menulis soal > konflik tambang timah inkonvensional (illegal) di Bangka Belitung. Kami > terbang kesana, melakukan penelitian. Walau tanpa dana yang cukup, kami > bekerja keras menyelesaikan laporan. Sayang, sampai hari ini, buku hasil > penelitian itu tak kunjung terbit. > > Hubungan baik dengan Erry Riyana itulah yang membawanya hadir dalam > resepsi pernikahan saya di sebelah gedung Balai Kartini. Erry membaca > sambutan keluarga. Saya lupa, apakah Andrinof hadir. Tetapi sehari sebelum > resepsi itu, Faisal Basri datang di rumah calon mertua saya, menjadi saksi > pernikahan. > > Ketika konflik Ambon meletus, saya dan Andrinof diundang oleh Gubernur > Maluku untuk mengisi lokakarya tentang penanganan konflik di Kota Ambon, > lewat prinsip-prinsip good governance. Saya dan Andrinof dikawal oleh satu > regu Brimob. Kami bertemu dengan seorang kawan yang sedang kuliah di USA > bernama Made. Kami makan ikan, di meja yang bersebelahan dengan Calon > Kapolda Maluku yang baru di belakang Mesjid Al Fatah. > > Sepulang dari Ambon, saya jatuh sakit. Dua bulan saya diobati oleh istri > saya yang sedang hamil, dengan cara disirami cairan putih dan hanya > diselimuti satu kain panjang punya ibu mertua saya. Dari tubuh saya, keluar > nanah dan apa yang disebut sebagai panu batu. Saya tidak boleh berkeringat, > karena rasanya pedih dan gatal sekali. > > Saya tidak tahu, kemana lagi bertualang bersama Andrinof. Yang jelas, > bersama 9 orang aktivis dan intelektual lainnya, kami mendirikan > Perhimpunan Rakyat Jakarta Peduli Papua (Pokja Papua). Diluar nama Andrinof > dan saya, terdapat nama Usman Hamid, Patra M Zen, Frans Maniagasi dan > lain-lain. Saya dan tim bolak-balik ke Papua, termasuk Andrinof. > > Kami bertemu lagi ketika KAHMI Profesional terbentuk. Inilah KAHMI yang > berisi para profesional dan kaum intelektual, di tengah persaingan dua > KAHMI lainnya. KAHMI Profesional mengadakan kongres makalah di Hotel Atlet > Century, Senayan. Saya dan Andrinof membawakan makalah, termasuk Anies > Rasyid Baswedan dan Arief Satria. > > Momen lainnya datang silih berganti. Ketika memutuskan maju sebagai calon > anggota KPU pada tahun 2007, Andrinof mendukung saya. Pada saat dokumen > saya hilang, akibat adik angkat saya Miftah Nur Sabri dirampas tasnya di > Stasiun Bogor, Andrinof menghubungi saya. Dia bilang, ada orang dari Badan > Intelijen Strategis (BAIS) yang akan membantu. Pada malam harinya, orang > itu menelepon saya. Keesokan harinya, seluruh dokumen balik ke kantor saya > di belakang Hotel Bidakara, Jakarta, diantarkan oleh seorang gelandangan. > > Momen publik terakhir datang, ketika Andrinof hadir di dalam acara > pelepasan saya sebagai analis pada tanggal 6 Agustus 2008. Saya memutuskan > terjun ke dunia politik praktis dan dilepas lebih dari dua ratus kawan di > kampus Universitas Paramadina. Anies Baswedan, Effendi Ghazali, Binni > Buchori, Nurul Arifin dan lain-lainnya datang memberikan sambutan > perpisahan. Di bangku, ada Bima Arya Sugiarto yang kemudian juga mengikuti > jejak saya dengan masuk menjadi politisi Partai Amanat Nasional. > > Sejak menjadi politisi, saya kehilangan aktivitas intelektual bersama > Andrinof. Tetapi Andrinof terus menyokong saya, dengan beragam cara. Yang > paling saya ingat, Andrinof bersama kawan-kawannya meluncurkan Visi > Indonesia Tahun 2033. Saya datang memberikan dukungan, bersama Nova Riyanti > Yusuf yang merupakan politisi asal Partai Demokrat. > > *** > > Saya mengikuti Andrinof lewat tulisan-tulisan berceritanya di milis > RantauNet. Setiap kali ia mengirimkan tulisan, selalu panjang, keras, tajam > dan santun. Pertama kali mengenal nama Joko Widodo, saya ketahui lewat > tulisan Andrinof di milis yang sama. Andrinof menceritakan pertemuannya > yang bersahaya di Solo dengan Joko Widodo, termasuk makan dan diskusi > berdua, tanpa ada pengawalan. Andrinof terus bercerita tentang Joko Widodo, > ketika saya malah tak ikut menanggapi cerita Andrinof itu. Siapa Joko > Widodo? Diluar Andrinof, sedikit sekali yang tahu dan mengenali > karya-karyanya di Solo. > > Survei awal pencalonan Joko Widodo di DKI Jakarta juga dilakukan Andrinof. > Banyak yang menyangsikan hasil survei itu. Andrinof dikritik, akibat > memperkenalkan nama yang bahkan tak pernah kenal Jakarta dengan baik. Saya > justru berjibaku mendukung Tantowi Yahya, sebagai bakal calon dari Partai > Golkar. Bersama Tantowi dan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), kami bertiga > berjuang dalam Rakernas Partai Golkar di Ancol pada 2012, agar membolehkan > kader maju lewat jalur independen. Upaya itu gagal. Parrai Golkar > mencalonkan Alex Noerdin, Ahok mendampingi Joko Widodo. > > Lagi dan lagi, Andironof menunjukkan keberpihakan tinggi. Setahu saya, > Andrinof tidak terlalu ahli di bidang survei. Hasil-hasil surveinya pun > saya “curigai” terlalu berpihak kepada Joko Widodo. Variabel-variabel > potensial lebih banyak ia kemukakan, ketimbang variabel-variabel objektif. > Ia bermalam-malam menjawab setiap serangan terhadap Joko Widodo, ketika > saya jarang sekali membuka internet dan ikut berdiskusi. Saya akhirnya > memutuskan mendukung Joko Widodo – Ahok dalam putaran kedua. Saya nyatakan > langsung di depan jutaan rakyat Indonesia, lewat acara TV One. > > Lalu, datanglah momentum Pilpres 2015. Andrinof rajin membuat tweet > tentang Joko Widodo. Berbulan-bulan Andrinof twitwar dengan akun-akun yang > membenci Joko Widodo. Heran, saya saja tidak membalas mention setiap akun. > Andrinof malah sebaliknya, terlihat tak tidur akibat kesibukan dalam > menulis di social media, termasuk di milis-milis. > > Maka, ketika nama saya dan Andrinof bersaing dalam website Kabinet Rakyat > sebagai salah satu calon menteri Joko Widodo, saya membatin. Kalau ada satu > orang wakil dari UI dan Sumatera Barat, biarlah nama Andrinof yang muncul. > Walau, menurut hasil pooling itu nama saya mengunggguli Andrinof, saya > malah merasa tidak layak. Saya belum menulis buku setebal Andrinof. Rambut > saya juga belum sebotak Andrinof. Dan kesetiaan saya kepada Joko Widodo > belum sespartan Andrinof. Saya sempat mengkritisi Joko Widodo, ketika nama > Aburizal Bakrie masih menjadi Bakal Calon Presiden yang hendak diajukan > Partai Golkar. > > Dan ketika Andrinof dilantik menjadi menteri, saya mengirimkan sms. > Andrinof menjawabnya. Juga ketika saya diangkat sebagai Ketua Tim Ahli > Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi, saya > menghubungi Andrinof minta ketemu. Kebetulan, KemenPANRB lagi menyiapkan > Rencana Strategis, sebagai tugas Tim Ahli. Andrinof bersedia bertemu. Pun > ketika saya kultwit soal sekolah politik di akun twitter saya, lalu > menyebut akan menaruh seorang anak muda di samping meja kerja Andrinof > untuk belajar, Andrinof amat sangat mendukung. > > Hanya saja, dari sejak dilantik, sampai akhirnya diberhentikan sebagai > menteri, saya tidak pernah bertemu Andrinof. Kesibukan saya dan dia yang > menyebabkan kami tak bisa mengawinkan waktu. Saya hanya sempat berbicara > dengan Eva Sundari, staf khusus Andrinof. Dari Eva juga saya tahu, Andrinof > usai dioperasi. Dan sejak tahu itu, saya mulai khawatir dengan kondisi > fisik Andrinof. Apakah ia sanggup menyelesaikan masa tugasnya, serta begitu > banyak konsep yang wajib disediakan? Apalagi kementeriannya tidak lagi > berada di bawah MenkoEkuin, melainkan langsung di bawah Presiden Joko > Widodo. > > Ketika Andrinof diganti, saya berteriak galau di mobil dalam perjalanan > menuju Gedung Badan Pemeriksa Keuangan. Saya duduk di tangga, setelah > disambut protokol BPK. Saya minta waktu untuk duduk dan menelepon istri > saya. Sedih, bercampur gembira. Sedih dengan isu-isu yang beredar. Gembira, > mengingat Andrinof kembali menjadi dirinya sendiri, termasuk melanjutkan > kuliahnya yang terbengkalai, menggerakkan inisiatif kaum intelektual, serta > terlebih lagi memiliki waktu yang lebih longgar untuk bertemu. Intuisi saya > berkata, Andrinof bakal mendapatkan amanah lain. Walau, saya lebih > menginginkan Andrinof menyelesaikan kuliah doktoralnya. Apapun itu, sebelum > Andrinof benar-benar sibuk kembali, mungkin untuk satu amanah baru, satu > organisasi intelektual baru, atau satu jenjang pendidikan baru, saya ingin > bertemu dengannya, lalu melihat senyum khasnya. > > Saya ingin mendengar ceritanya yang selalu panjang, seperti dulu saya > mendengar bunyi rabab di radio. Terkantuk, namun mengiris hati dan jiwa. > Kelu, penuh derita, namun berakhir bahagia… > > Sumber: > > > http://m.indrapiliang.com/2015/08/25/rebab-kelu-perjalanan-andrinof-chaniago/ > > > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
