Pak Reza,
Kalau Rhenald K sudah mengakui RJL sombong (dan itu nampak dari aksinyo 
maultimatum bos2nyo), lah jaleh tu: santiang bananyo santiang soranglah.

Salam
Donard35

-----Pesan Asli-----
Dari: "muhammad syahreza" <[email protected]>
Terkirim: ‎23/‎10/‎2015 9:26
Kepada: "[email protected]" <[email protected]>
Subjek: Re: [R@ntau-Net] SURAT UNTUK BAPAK JOKOWI DAN IBU RINI SOEMARNO(KADO1 
TAHUN PEMERINTAHAN)

Assalamu'alaikum wr.wb.




Mungkin tulisan Pak Rhenald Kasali ko bisa pulo untuak mambuka pikiran kito..




http://rhenaldkasali.com/menyoal-ribut-ribut-kereta-cepat-jakarta-bandung-bagian-1/



Menyoal Ribut-ribut Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Bagian 1)
by Rhenald | Oct 12, 2015 | 2015, Kompas | 0 Comments
Seperti investasi besar lainnya, pembangunan kereta cepat (high speed train), 
yang nilainya mencapai 5,5 miliar dollar AS menjadi berita yang kontroversial.
Pertama, siapa yang menyangka presiden Joko Widodo memutuskan begitu cepat? 
Maklumlah kita sudah amat terbiasa menyaksikan ketakhadiran pengambilan 
keputusan strategis yang agile dan cepat.
Anda masih ingat bukan, proyek-proyek infrastruktur yang sudah disetujui saja 
bahkan  dibiarkan mangkrak bertahun-tahun. Rencana tinggallah rencana. Ribut 
sedikit saja sudah membuat penguasa takut dan tidak bekerja. Proyek jalan tol 
Cipularang yang bisa dituntaskan setahun saja, bahkan dulu sempat dibiarkan 
berlubang dan berdebu lebih dari 5 tahun.
Kedua, Jepang yang sudah lama mengincar proyek ini ternyata tidak terpilih. 
Memang Jepang terkesan amat berhati-hati karena kereta dapat mengganggu 
industri otomotifnya yang market size-nya begitu besar di sini. Siapapun tahu, 
sistem transportasi publik berbasiskan kereta api dapat mengganggu penjualan 
otomotif. Maka wajar bila banyak menawar dan mengulur waktu.
Sikap Jepang tiba-tiba berubah begitu menyaksikan kesungguhan Tiongkok dalam 
bersaing. Jepang yang melakukan studi dan membuat FS terlebih dahulu merasa 
lebih berhak menentukan masa depan transportasi publik Indonesia, namun tetap 
menuntut jaminan pemerintah.
Ketiga, menjadi kontroversial karena keputusan pada level bisnis juga cepat 
sekali dan terus berkembang (adaptif). Karena tak melibatkan uang dan jaminan 
negara, maka Menteri Perhubungan pun menyerahkan sepenuhnya pada mentri BUMN 
dengan skema business to business.
Melalui konsorsiumnya, Mentri BUMN merumuskan business model yang bukan 
menjadikannya sebagai proyek pembangunan kereta api semata-mata, melainkan 
hadir bersama mega proyek kota- kota baru di sekitar jalur kereta. Maka 
Gubernur Jabar dan walikotanya pun dilibatkan.
Dalam strategi pengembangannya, bukan lagi menjadi sekedar proyek transportasi, 
melainkan sebuah kegiatan ekonomi skala besar yang kelak akan melibatkan begitu 
banyak pelaku usaha besar maupun kecil. Value creation nya amat besar sehingga 
melibatkan minimal 4 BUMN inti. Ini tentu mengecohkan para pembuat opini yang 
hanya berhitung cost-benefit-risk analyses pada aspek bisnis kereta api cepat 
semata-mata.
Keempat, proses cepat ini ternyata ada cost-nya, yaitu kurang terinformasinya 
publik atas opportunity serta nilai yang diciptakan. Dilema di era keterbukaan 
dan partisipasi publik ini memang dapat kita rasakan: antara hak untuk tahu 
publik dengan keputusan bisnis adaptif yang cepat berubah dengan motif ambil 
untung para makelar tanah. Akibatnya para pengamat kebijakan publik dapat 
memberikan opini yang keliru atas ketidaksempurnaan informasi.
Kelima, persaingan Jepang vs Tiongkok dalam proyek ini telah menimbulkan opini 
pro-kontra, apalagi ruang untuk pertumbuhan ekonomi di kedua negara itu makin 
terbatas. Mereka punya kepentingan, sementara kita punya kendali dan 
kepentingan yang harus dijaga pula. Kehadiran proyek infrastruktur skala besar 
di tanah air tentu saja menimbulkan daya Tarik sendiri yang sudah pasti 
melibatkan perang opini yang dapat melibatkan conflict of interest yang cukup 
luas.
Tentu masih ada isu-isu lain dari proyek yang sebenarnya bagus bagi 
perekonomian kita, akhirnya terkesan kontroversial. Apakah itu pro-kontra jalur 
Jakarta -Bandung vs Jakarta-Surabaya, pertanyaan mengenai siapa saja pihak yang 
dapat bermitra, kesungguhan Tiongkok berinvestasi, di mana letak titik 
perberhentiannya, masalah apa yang akan muncul dalam tahap implementasi, 
negosiasi, dan lain sebagainya.
Tapi baiklah kita fokuskan pada keputusan yang sudah diambil dan bagaimana 
proyek ini bisa menciptakan value bagi perekonomian kita, bukan Tiongkok dan 
bukan Jepang. Karena saya bukan Menteri BUMN, maka saya mencoba menganalisis 
dari kacamata ilmuwan dan praktisi bisnis yang saya miliki. Maaf saya sama 
sekali tak mengerti soal politik, sehingga tidak mengkaitkan analisis ini 
dengan masa jabatan presiden sehingga pilihannya mungkin turut terpengaruh.
Saya hanya ingin membaca dan mengarahkan agar pemerintah paham soal ekosistem 
bisnis, peluang dan ancaman yang mungkin timbul. Saya juga ingin agar informasi 
ini dimiliki publik yang dapat membaca peluang yang mungkin bisa dimanfaatkan 
untuk keluar dari perangkap ketakutan krisis. Bahan-bahannya saya kumpulkan 
setelah bersusah payah mengorek dari para pihak yang terlibat.
Perubahan Business Model
Beberapa tahun silam saya pernah meneruskan pertanyaan para pimpinan negara 
kita kepada pimpinan BUMN di Tiongkok tentang cepatnya pembangunan jalan tol di 
negeri itu. Harap maklum, selama 35 tahun Jasa Marga berdiri, hanya 850 
kilometer jalan tol yang bisa kita bangun, sementara Tiongkok dalam 15 tahun 
bisa membangun puluhan ribu kilometer.
Jawabnya sederhana sekali. Pertama model pembangunan infrastruktur di Tiongkok 
diserahkan kepada BUMN sehingga dapat menjadi aset yang tumbuh. Dan kedua, BUMN 
Tiongkok melakukan value creation yang utuh, bukan sekedar membangun jalan tol. 
Termasuk di dalamnya menjaga kepentingan publik yang luas, ya lingkungan, ya 
rakyat jelata, petani dan pemilik tanah. Ini berbeda sekali dengan pembangunan 
jalan tol di sini.
Waktu saya tanyakan pada para taipan kita yang membangun kawasan permukiman dan 
industri di tepi-tepi jalan tol, mereka pun buka mulut. “Pemerintah kita tidak 
pandai memanfaatkan peluang. Bangun jalan tol tetapi hanya membebaskan jalannya 
saja. Kami lihat itu sebagai peluang, maka kami bebaskan tanah-tanah di dekat 
jalur keluarnya agar menjadi kawasan industri dan pemukiman,” kata seorang 
pengusaha.
Seorang taipan mengaku value creation-nya mencapai 30 hingga 50 kali lipat. 
Dari modal Rp 1 triliun kembalinya Rp 30 triliun. Modalnya pun disediakan mitra 
asing. Pantaslah mereka begitu cepat masuk dalam daftar orang terkaya dunia.
Lantas bagaimana BUMN kita? Business model  BUMN kita di masa lalu hanya fokus 
pada keahliannya saja, ya fokus. Ambil contoh saja Perumnas yang membangun 
kawasan pemukiman, lalu menyerahkan perawatan wilayahnya pada pemerintah 
daerah. Business model mereka tidak menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan 
(recurring income).
Sekarang bandingkan dengan pengembang-pengembang superblok yang setiap bulan 
memungut service charge dari berbagai jasa yang mereka jual: kebersihan, 
listrik dan air, sewa, keamanan, parkir, dan seterusnya. Kalau Anda tinggal di 
gedung bertingkat, Anda tentu paham apa yang saya maksud. Setiap bulan Anda 
kena pungutan antara Rp 500.000 hingga Rp 2 juta. Itu semua masuk ke tangan 
pengelola gedung, yang tak lain adalah pengembang itu sendiri.
Sekarang kita jadi mengerti mengapa return BUMN kita banyak yang kurang 
menarik, padahal mereka berusaha dalam bidang yang sangat menguntungkan dan 
pasarnya captive.
Kini ketika cara pandangnya berubah, giliran kita banyak yang tidak siap dan 
mati-matian mengkritik. Sementara, kalau BUMN kita kalah dengan Temasek (BUMN 
Singapura) atau Khazanah (Malaysia) kita juga ikut mengejek mereka. Padahal 
keuntungan BUMN dapat menjadi kontributor penting bagi APBN. Ia juga bisa 
menjadi akselerator pembangunan yang bekerja sama dengan mitra-mitra usaha 
swasta nasional.
 
Kuncinya: Mengenal Ekosistem Bisnis
Ini bukan soal pat gulipat memutar uang, tetapi pemahaman atas business model. 
Kalau Anda masih belum paham, mari kita lihat bisnisnya anak-anak muda yang 
kalau anda kurang paham anda pasti akan mengatakan mereka tak bakalan untung. 
Misalnya, bagaimana mungkin Gojek bisa untung kalau hanya memungut limabelas 
ribu rupiah untuk rute yang lumayan jauh. Padahal ojek pangkalan saja untuk 
rute yang sama jauhnya menuntut Rp 30.000?
Anda juga pasti akan ditertawakan Starbucks kalau menjual secangkir kopi 
seharga Rp 7.000. Mengapa? Karena ia saja terancam rugi walaupun harga 
secangkir kopi pahitnya (Americano) sudah Rp 40 ribu.
Seven Eleven Indonesia dengan model bisnis berbeda mampu membuktikan bahwa ia 
bisa untung sekaligus menjadikan outletnya teramai di dunia. Jawabnya adalah 
business model mereka berbeda.
Yang satu jual kopi yang lainnya jual ekosistem anak muda, yang satu bisnis 
ojek dan satunya bisnis aplikasi internet. Dan untuk memahami hal ini Anda 
perlu mempelajari ekosistem usaha yang digeluti.
Demikian juga Anda bisa menertawakan Tune Hotel yang menyewakan kamarnya di 
bawah Rp 100.000 per malam, dan mungkin Anda akan ikut menolak proposal 
bisnisnya karena hotel yang menjual kamar seharga Rp 1 juta per malam saja 
belum tentu menangguk untung.
Jangan lupa Tune hotel pernah memasang iklan beberapa tahun lalu dengan tarip 
Rp 35 (ya tiga puluh lima perak) permalam. Kok bisa bertahan tahunan dan untung?
Jawabnya karena business model hotel lainnya dengan Tune berbeda.
Sekarang saya ajak anda melirik goncangan dalam industri media. Dulu penerimaan 
media berasal dari dua sumber, yakni sirkulasi dan iklan. Kini tidak lagi. 
Berbekal luasnya jaringan narasumber, kini setiap media punya unit yang 
mengelola bisnis seminar, pelatihan, event organizer, dan penerbitan.
Sama halnya dengan bisnis perbankan yang meraup untung bukan dari pendapatan 
bunga, melainkan fee-based income. Jadi kini sumber penerimaan perusahaan tak 
lagi dari satu atau dua sumber konvensional, tapi lebih luas. Sumber itu datang 
dari ekosistem industrinya.
<p style="ma

[Seluruh pesan asli tidak disertakan.]

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke