Wassalamualaikum Pak Reza, ambo inshaallah Lai mangarati paralu pemimpin nan tageh karano ambo Lai acok basuo Jo ceo2 tamasuak di ostrali. Nan ambo garisbawahi guru besar UI tantu tau ma nan pede ma nan sombong.
Pak Nanang, iko indak ado hubungan Jo hasil pemilihan umum do. Siapapun presidennyo ambo akan berpendapat kalau kito ndak butuh nan sombong (kecek Rhenald K). Nan tageh Jo pede dan sombong tu ndak samo. Salam kenal Donard35 -----Pesan Asli----- Dari: "'asfarinalnanang' via RantauNet" <[email protected]> Terkirim: 23/10/2015 14:17 Kepada: "muhammad syahreza" <[email protected]>; "[email protected]" <[email protected]> Subjek: Re: [R@ntau-Net] SURAT UNTUK BAPAK JOKOWI DAN IBU RINI SOEMARNO(KADO1TAHUN PEMERINTAHAN) reza, koknyo caliak lo ba a gaya Emirsyah Satar, nyo liek lo ba a gaya CT ka anak buahnyo, masiang2 punyo gaya mamimpin. Indonesia butuh perubahan, butuh CEO2 tageh. jan gara2 kebencian dek kalah pemilu patang ko mangurangi penilaian awak terhadap prestasi. Rhenald Kasali mesti nyo caritoan pulo ba a gaya Emirsyah waktu diamanatkan mamimpin Garuda. Caritoan pulo ba a Jonan bisa mambarasihan stasiun kereta. ambo raso kini maso emasnyo CEO BUMN (pindad, pelindo, dll) Nanang, jkt Sent from my BlackBerry 10 smartphone on the Indosat network. From: muhammad syahreza Sent: Friday, 23 October 2015 13:53 To: [email protected] Reply To: [email protected] Subject: Re: [R@ntau-Net] SURAT UNTUK BAPAK JOKOWI DAN IBU RINI SOEMARNO(KADO1 TAHUN PEMERINTAHAN) Assalamu'alaikum wr.wb. Da Donard Kadang untuak perubahan tu paralu kareh, walau urang lain mancaliak sombong. Manuruik ambo, baa mako inyo barani kareh, karano inyo tahu apo nan kadirubah nyo, inyo tahu apo goal dan target yang akan inyo capai. Untuak mancapai target/goal tadi tantu indak bisa jo caro memble do. Ambo alun pernah batamu lansuang jo RJ. Lino, tapi dari mancaliak style nyo di TV, ambo yakin inyo figur yang pas untuak marubah birokrasi Pelindo. Sebagai contoh, Ambo pernah mancaliak lansuang , milyuner yang di media dan even-even sosial kesan nyo sangaik ramah, katiko rapek samo anak buah nyo, ndak tangguang kareh nyo do, kadang kalua bahaso kasa bagai. Salam Reza 2015-10-23 12:00 GMT+07:00 Donard Games <[email protected]>: Pak Reza, Kalau Rhenald K sudah mengakui RJL sombong (dan itu nampak dari aksinyo maultimatum bos2nyo), lah jaleh tu: santiang bananyo santiang soranglah. Salam Donard35 Dari: muhammad syahreza Terkirim: 23/10/2015 9:26 Kepada: [email protected] Subjek: Re: [R@ntau-Net] SURAT UNTUK BAPAK JOKOWI DAN IBU RINI SOEMARNO(KADO1 TAHUN PEMERINTAHAN) Assalamu'alaikum wr.wb. Mungkin tulisan Pak Rhenald Kasali ko bisa pulo untuak mambuka pikiran kito.. http://rhenaldkasali.com/menyoal-ribut-ribut-kereta-cepat-jakarta-bandung-bagian-1/ Menyoal Ribut-ribut Kereta Cepat Jakarta-Bandung (Bagian 1) by Rhenald | Oct 12, 2015 | 2015, Kompas | 0 Comments Seperti investasi besar lainnya, pembangunan kereta cepat (high speed train), yang nilainya mencapai 5,5 miliar dollar AS menjadi berita yang kontroversial. Pertama, siapa yang menyangka presiden Joko Widodo memutuskan begitu cepat? Maklumlah kita sudah amat terbiasa menyaksikan ketakhadiran pengambilan keputusan strategis yang agile dan cepat. Anda masih ingat bukan, proyek-proyek infrastruktur yang sudah disetujui saja bahkan dibiarkan mangkrak bertahun-tahun. Rencana tinggallah rencana. Ribut sedikit saja sudah membuat penguasa takut dan tidak bekerja. Proyek jalan tol Cipularang yang bisa dituntaskan setahun saja, bahkan dulu sempat dibiarkan berlubang dan berdebu lebih dari 5 tahun. Kedua, Jepang yang sudah lama mengincar proyek ini ternyata tidak terpilih. Memang Jepang terkesan amat berhati-hati karena kereta dapat mengganggu industri otomotifnya yang market size-nya begitu besar di sini. Siapapun tahu, sistem transportasi publik berbasiskan kereta api dapat mengganggu penjualan otomotif. Maka wajar bila banyak menawar dan mengulur waktu. Sikap Jepang tiba-tiba berubah begitu menyaksikan kesungguhan Tiongkok dalam bersaing. Jepang yang melakukan studi dan membuat FS terlebih dahulu merasa lebih berhak menentukan masa depan transportasi publik Indonesia, namun tetap menuntut jaminan pemerintah. Ketiga, menjadi kontroversial karena keputusan pada level bisnis juga cepat sekali dan terus berkembang (adaptif). Karena tak melibatkan uang dan jaminan negara, maka Menteri Perhubungan pun menyerahkan sepenuhnya pada mentri BUMN dengan skema business to business. Melalui konsorsiumnya, Mentri BUMN merumuskan business model yang bukan menjadikannya sebagai proyek pembangunan kereta api semata-mata, melainkan hadir bersama mega proyek kota- kota baru di sekitar jalur kereta. Maka Gubernur Jabar dan walikotanya pun dilibatkan. Dalam strategi pengembangannya, bukan lagi menjadi sekedar proyek transportasi, melainkan sebuah kegiatan ekonomi skala besar yang kelak akan melibatkan begitu banyak pelaku usaha besar maupun kecil. Value creation nya amat besar sehingga melibatkan minimal 4 BUMN inti. Ini tentu mengecohkan para pembuat opini yang hanya berhitung cost-benefit-risk analyses pada aspek bisnis kereta api cepat semata-mata. Keempat, proses cepat ini ternyata ada cost-nya, yaitu kurang terinformasinya publik atas opportunity serta nilai yang diciptakan. Dilema di era keterbukaan dan partisipasi publik ini memang dapat kita rasakan: antara hak untuk tahu publik dengan keputusan bisnis adaptif yang cepat berubah dengan motif ambil untung para makelar tanah. Akibatnya para pengamat kebijakan publik dapat memberikan opini yang keliru atas ketidaksempurnaan informasi. Kelima, persaingan Jepang vs Tiongkok dalam proyek ini telah menimbulkan opini pro-kontra, apalagi ruang untuk pertumbuhan ekonomi di kedua negara itu makin terbatas. Mereka punya kepentingan, sementara kita punya kendali dan kepentingan yang harus dijaga pula. Kehadiran proyek infrastruktur skala besar di tanah air tentu saja menimbulkan daya Tarik sendiri yang sudah pasti melibatkan perang opini yang dapat melibatkan conflict of interest yang cukup luas. Tentu masih ada isu-isu lain dari proyek yang sebenarnya bagus bagi perekonomian kita, akhirnya terkesan kontroversial. Apakah itu pro-kontra jalur Jakarta -Bandung vs Jakarta-Surabaya, pertanyaan mengenai siapa saja pihak yang dapat bermitra, kesungguhan Tiongkok berinvestasi, di mana letak titik perberhentiannya, masalah apa yang akan muncul dalam tahap implementasi, negosiasi, dan lain sebagainya. Tapi baiklah kita fokuskan pada keputusan yang sudah diambil dan bagaimana proyek ini bisa menciptakan value bagi perekonomian kita, bukan Tiongkok dan bukan Jepang. Karena saya bukan Menteri BUMN, maka saya mencoba menganalisis dari kacamata ilmuwan dan praktisi bisnis yang saya miliki. Maaf saya sama sekali tak mengerti soal politik, sehingga tidak mengkaitkan analisis ini dengan masa jabatan presiden sehingga pilihannya mungkin turut terpengaruh. Saya hanya ingin membaca dan mengarahkan agar pemerintah paham soal ekosistem bisnis, peluang dan ancaman yang mungkin timbul. Saya juga ingin agar informasi ini dimiliki publik yang dapat membaca peluang yang mungkin bisa dimanfaatkan untuk keluar dari perangkap ketakutan krisis. Bahan-bahannya saya kumpulkan setelah bersusah payah mengorek dari para pihak yang terlibat. Perubahan Business Model Beberapa tahun silam saya pernah meneruskan pertanyaan para pimpinan negara kita kepada pimpinan BUMN di Tiongkok tentang cepatnya pembangunan jalan tol di negeri itu. Harap maklum, selama 35 tahun Jasa Marga berdiri, hanya 850 kilometer jalan tol yang bisa kita bangun, sementara Tiongkok dalam 15 tahun bisa membangun puluhan ribu kilometer. Jawabnya sederhana sekali. Pertama model pembangunan infrastruktur di Tiongkok diserahkan kepada BUMN sehingga dapat menjadi aset yang tumbuh. Dan kedua, BUMN Tiongkok melakukan value creation yang utuh, bukan sekedar membangun jalan tol. Termasuk di dalamnya menjaga kepentingan publik yang luas, ya lingkungan, ya rakyat jelata, petani dan pemilik tanah. Ini berbeda sekali dengan pembangunan jalan tol di sini. Waktu saya tanyakan pada para taipan kita yang membangun kawasan permukiman dan industri di tepi-tepi jalan tol, mereka pun buka mulut. “Pemerintah kita tidak pandai memanfaatkan peluang. Bangun jalan tol tetapi hanya membebaskan jalannya saja. Kami lihat itu sebagai peluang, maka kami bebaskan tanah-tanah di dekat jalur keluarnya agar menjadi kawasan industri dan pemukiman,” kata seorang pengusaha. Seorang taipan mengaku value creation-nya mencapai 30 hingga 50 kali lipat. Dari modal Rp 1 triliun kembalinya Rp 30 triliun. Modalnya pun disediakan mitra asing. Pantaslah mereka begitu cepat masuk dalam daftar orang terkaya dunia. Lantas bagaimana BUMN kita? Business model BUMN kita di masa lalu hanya fokus pada keahliannya saja, ya fokus. Ambil contoh saja Perumnas yang membangun kawasan pemukiman, lalu menyerahkan perawatan wilayahnya pada pemerintah daerah. Business model mereka tidak mengh [Seluruh pesan asli tidak disertakan.] -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
