Penghuni Palanta RN yth,

Berikut tulisan saya di Harian Kontan beberapa waktu lalu. Sayang, ambo
ndak basuo versi cetaknyo.

Masih ada unsur Minangkabau-nyo. Semoga bermanfaat

salam
Donard35

*UMKM dan Kesempatan di Masa Sulit*





Tulisan Profesor Elfindri yang berjudul “Tantangan Lahirkan Wirausaha
Lokal” di harian ini kembali mengingatkan kita semua betapa besarnya
harapan banyak orang agar usaha kecil bisa naik kelas. Lebih lanjut, dalam
tulisan tersebut, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) disebutkan justru
harus mampu mengambil kesempatan-kesempatan bisnis di masa sulit ini.
Mungkinkah harapan ini terjadi? Lebih tajam lagi, apa sebenarnya yang
membuat UMKM kesulitan bertransformasi menuju wirausahawan?

Ilustrasi Go-Jek (dan sejenisnya) versus ojek pangkalan  saya pikir bisa
menggambarkan situasi umum usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) Indonesia
saat ini. Apa yang paling membedakan Go-Jek dan ojek pangkalan? Salah
satunya adalah Go-Jek dan yang sejenisnya adalah entitas bisnis yang jelas.
Mereka adalah organisasi bisnis yang dicirikan oleh  adanya identitas
perusahaan, terkoordinir, dan lebih penting lagi mereka terhubung. Poin
terakhir inilah kata kuncinya, Go-Jek dan sejenisnya terhubung satu sama
lain dan terhubung pula dengan konsumen. Sementara, ojek pangkalan selama
ini kebanyakan hanya fokus pada daerah tempat mereka mangkal. Kalaupun
mereka terhubung bahkan secara emosional dengan beberapa konsumen, itu
lebih merupakan konsekuensi dari kenyataan bahwa pengojek ini merupakan
bagian dari masyarakat lokal.

Kita kini harus mafhum bahwa konsumen terutama di perkotaan telah berubah.
Mereka membutuhkan layanan alternatif transportasi yang bisa diandalkan,
dan tentunya yang bisa memberikan rasa aman. Untuk semua itu, konsumen
bersedia membayar lebih. Tambahan lagi, di kota, orang lebih banya
terhubung dengan orang lain melalui jaringan internet. Hubungan mereka
dengan masyarakat lokal juga tidak seintens mereka yang tinggal di
pinggiran kota. Disinilah konsep wirausaha lokal yang disebut-sebut
Profesor Elfindri perlu diperjelas lagi karena wirausaha saat ini
menghendaki keterhubungan yang melintas batas-batas geografis.

            Riset saya yang melibatkan lebih dari 400 UMKM mengonfirmasi
bahwa isu jaringan bisnis adalah masalah utama dalam pengimplementasian
inovasi bisnis UMKM. Padahal, inovasi adalah penanda utama karakter
kewirausahaan. UMKM, misalnya, tidak memiliki akses ke pusat-pusat inovasi
seperti universitas-universitas yang sebenarnya melakukan riset-riset yang
relevan dengan pengembangan UMKM. Alasan utama ketidakterhubungan itu
adalah konsekuensinya. Sekali terhubung, UMKM harus mengeluarkan biaya yang
tidak sedikit untuk memastikan agar mereka tidak keluar dari situ. Jika
berhubungan dengan pihak eksternal seperti pemerintah, mereka harus siap
untuk dipajaki; jika berhubungan dengan universitas mereka harus siap untuk
membiayai ide-ide baru.



*Masa Sulit*

Lagi, bagaimana dengan situasi sekarang dimana terjadi tekanan eksternal
yang cukup kuat melemahkan perekonomian. Presiden Joko Widodo sudah
menyebut banyak hal terkait faktor eksternal ini. Rupiah yang melemah
terhadap dolar Amerika, misalnya, disebut tidak lepas dari konstelasi
politik dan ekonomi internasional yang melibatkan Amerika Serikat dan
Tiongkok sebagai pemain utamanya. Bagaimana UMKM menyikapi situasi yang di
luar kontrol mereka ini? Mungkinkah UMKM Apakah tindakan pengusaha tempe
yang memilih mengurangi ukuran tempe daripada menaikkan harga adalah
tipikal respon yang realistis dari UMKM? Jika begitu, kita mungkin akan
sulit berharap usaha mikro dan kecil bertransformasi menjadi wirausahawan
yang memiliki karakteristik yang berbeda.

Krisis dalam Bahasa Tionghoa juga mengandung kesempatan. Artinya, situasi
sulit bagi UMKM ini bisa jadi menawarkan kesempatan-kesempatan. Masa sulit
ini bisa juga merupakan momentum  untuk memperbaiki diri sekaligus upaya
meningkatkan inovasi bisnis. Apalagi, temuan riset saya mengonfirmasi bahwa
UMKM kita umumnya sudah tahan banting dan telah memiliki pola pikir
tertentu terkait faktor eksternal. Mereka telah menyadari sedari awal bahwa
kondisi eksternal, iklim usaha dan inovasi di Indonesia, memang pada
dasarnya belum bisa diharapkan untuk mendukung kinerja mereka. Dengan
demikian, faktor eksternal bahkan di masa sulit sekalipun, tidak sangat
mengejutkan bagi pelaku UMKM.

Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan pelaku UMKM jika melihat adanya
kesempatan dalam situasi sulit ini. Pertama, saat ini bisa jadi merupakan
waktu yang tepat bagi pelaku UMKM untuk proaktif menghubungkan dirinya
dengan pihak eksternal. Daripada menjadi korban dari situasi eksternal, ada
baiknya UMKM mulai berani membuka diri meskipun itu berarti risiko yang
lebih tinggi. Sudah saatnya UMKM mulai berinvestasi daripada sekadar
mengejar keuntungan jangka sangat pendek semata. Begitu banyak hasil
penelitian-penelitian dari dunia kampus yang bisa diterapkan oleh UMKM.
Dengan sedikit kejelian dan kemauan untuk membuka diri terhadap bantuan
eksternal, pelaku UMKM bisa berinvestasui dan memanfaatkan ide dan inovasi
bisnis  dengan biaya yang relatif murah.

Kedua, untuk UMKM yang berpotensi untuk bisa swadaya dalam artian bisa
mencukupi kebutuhan diri mereka sendiri berbasis sumber daya yang mereka
miliki. Salah satu usaha kecil bidang olahan makanan di Pariaman yang saya
teliti secara sadar memanfaatkan sumber daya ikan darat dan laut di
sekeliling mereka. Selain itu, mereka juga memanfaatkan sumber daya
manusia, ibu-ibu yang tinggal di sekitar lokasi, untuk menjadi bagian dari
usaha tersebut. Usaha berbasis potensi daerah dan dukugan masyarakat lokal
bukan hanya akan meningkatkan perekonomian lokal, tetapi juga akan
meningkatkan kepercayaan diri usaha mikro kecil bahwa mereka bisa naik
kelas dan bertranformasi menjadi institusi bisnis yang inovatif.

Di masa lalu, di masa-masa sulit dan bahkan krisis, UMKM mampu bertahan.
Namun, bertahan terus-terusan saja mungkin tidak cukup untuk mendekati
level wirausahawan. Paling tidak, di saat pasar berubah, bukankah UMKM juga
harus ikut berubah bahkan meski di masa sulit sekalipun?



Donard G, Kandidat doktor dari The University of Western Australia Business
School

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke