[image: PDF]
<http://harianhaluan.com/index.php/berita/haluan-padang/44497-kemunduran-minang-dipertanyakan?format=pdf>[image:
Cetak]
<http://harianhaluan.com/index.php/berita/haluan-padang/44497-kemunduran-minang-dipertanyakan?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>[image:
Surel]
<http://harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=4463ded640ca80055b2f155a3f03eccd3f2a243d>Senin,
26 Oktober 2015 02:16

*DIALOG KEBANGSAAN MINANG KOTEMPORER*

*JAKARTA, HALUAN* — Di banding masa perjuangan kemerdekaan hingga
pe­merintahan Orde Baru, pe­ran orang Minang dan Su­matera Barat di era
re­for­masi ini terasa sangat mun­dur. Sebagai masyarakat yang dikenal
egaliter dan sangat demokratis, perlu dicari akar persoalan yang sedang
dialami daerah ini.

Demikian salah satu benang merah yang me­ngapung dalam dialog ke­bangsaan
Minang Kotem­porer yang digelar Badan Koordinasi Kemasyarakat dan
Kebudayaan Alam Mi­nangkabau (BK3AM) Ja­karta Raya, di Kampus Uni­versitas
Yarsi, Jakarta, Sabtu (24/10).

Pernyataan terjadinya kemunduran itu disam­paikan dua pembicara dan satu
penanggap dalam dia­log yang dipandu Ketua Yayasan Yarsi, Prof. Dr.
Jurnalis Udin, P.A.K. Pem­bicara Prof. Musril Zahari me­ngatakan bahwa para
Datuk di Minangkabau saat ini semakin tidak dihargai lagi karena mereka
memang sedang kehilangan wi­bawa.

Akibatnya, kata Musril, anak kemenakan di ranah tidak ter­awasi lagi secara
baik dalam kehidupan bermasyarakat yang berbudaya dan beradat. “Di era
saya, membonceng wanita bukan muhrim sangat ditakuti. Seka­rang, apa yang
hendak dikata. Permainan orgen tunggal yang berbau porno saja sudah
berlang­sung di hadapan kaum ninik mamak dan ulama,” katanya.

Penilaian Musril itu tak di­ban­tah oleh moderator sendiri. Jurnalis
menambahkan, dari 120 orang datuk yang ada di kam­pungnya di daerah Solok,
100 orang berada di rantau. “Ja­ngankan mereka ini mengerti dengan masalah
adat istiadat, berbahasa Minang saja tidak bisa,” sebut Jurnalis Udin.

*Mundur Karena PRRI?*

Cendekiawan Minang Dr. Saafroedin Bahar yang tampil sebagai pembicara
kedua, mem­pertanyakan apakah kemun­duran orang Minang dalam banyak segi
itu karena pemberontakan PRRI?

Ketika Harun Zain menjadi Gubernur Sumbar pasca PRRI, kata Saaf yang pernah
menjadi kepala penerangan Kodam 17 Agustus itu, memang me­ne­mu­kan rakyat
yang sedang muno. Tak bergairah karena merasa menjadi orang kalah,
sementara generasi mudanya banyak yang eksodus ke rantau.

Saaf mengakui bahwa PRRI waktu itu memang kurang stra­tegi dan persiapan
dalam me­lakukan perlawanan terhadap tentara pusat. “Belajar menem­bak
dalam tempo satu jam me­mang bisa, tapi menjadi prajurit tentu tidak
gampang,” katanya.

Terlepas orang Minang me­rasa tidak kalah dalam peristiwa PRRI, namun
kenyataannya hing­ga sekarang masih banyak yang merasa kalah sehingga
menjadi tak kreatif. “Saya lihat orang Batak dan Manado bangga de­ngan
pem­berontakannya, lantas mengapa kepala orang Minang masih mene­kur?” ujar
Saafroe­din, penggagas dibuatnya aturan ter­tulis tentang filosofi Adat
Ba­syandi Syarak, Syarak Basandi Ki­tabullah (ABS-SBK) ter­se­but.

Wartawan senior Hasril Cha­niago mencoba menanggapi bah­wa PRRI bukan
persoalan kalah menang, tetapi bagaimana orang Minang yang memiliki
semangat egaliter, demokratis dan memang agak “karengkang” serta “gilo-gilo
baso” berusaha menegur pemerintah pusat yang sudah banyak melakukan
kekeliruan.

Penulis buku Auto Biografi tokoh PRRI Ahmad Husein itu menyebutkan bahwa
apa yang diinginkan Dewan Banteng yang kemudian berubah wujud jadi PRRI itu
sudah dilaksanakan di era reformasi sekarang, yaitu tentang otonomi daerah.
“Jadi, untuk menegur kekeliruan pe­merintah pusat memang di­perlukan sikap
sedikit ka­reng­kang dan gilo-gilo baso seperti Pak Ahmad Husein tersebut,”
katanya.

Pada era sekarang, katanya, sebenarnya orang Minang tidak mundur, cuma
memang tidak memperlihatkan sikap “karengkang”nya itu. Di era pemerintahan
SBY, sebutnya, ada sembilan menteri di kabinet yang berasal dari Minang. Di
era se­karang, meski jumlah menteri sendikit, namun yang memegang kekuasaan
di tempat lain juga masih banyak.

Tapi, peneliti senior LIPPI, Prof. Taufik Abdullah dengan kening berkerut
memang sangat heran dengan kondisi Minang sekarang. Sewaktu era terpimpin
dan otoriter, Minang bisa maju. Buktinya, daerah ini bisa men­dapatkan
penghargaan Para­samya dan Prajojana, suatu peng­hargaan tertinggi dalam
bidang pembangunan.

Lantas, mengapa di era re­formasi sekarang, justru kita mundur ke rangking
20 di bidang pelaksanaan pemerintahan dan pembangunan serta nomor 30 di
bidang kebahagiaan. “Ada apa de­ngan Minangkabau yang se­ma­kin sejajar
dengan provinsi di be­lahan timur sana,” katanya mem­pertanyakan. Ia
meng­ha­rap­kan perlu kajian mendalam soal itu.

Dr. Akmal Bagindo Basa dari UNP dan LKAAM Sumbar yang juga jadi penanggap,
mengakui bahwa Minang kalah dalam mem­perjuangkan konsep, ter­masuk soal
adanya usulan Daerah Istimewa Minangkabau (DIM). Kalau komsep DIM yang
dike­mukakan, kata dia, ini sangat berat, karena pertanyaannya adalah
tentang apa yang diis­timewakan. “Lantas, mengapa kita tidak mengedepankan
konsep kebudayaannya. Ini pasti lebih diterima oleh Negara,” kata dia.
*(rel)*
http://harianhaluan.com/index.php/berita/haluan-padang/44497-kemunduran-minang-dipertanyakan
-- 



*Wassalam*



*Nofend St. Mudo38th+/Cikarang | Asa: Nagari Pauah Duo Nan Batigo - Solok
SelatanTweet: @nofend <http://twitter.com/#!/@nofend> | YM: rankmarola *

*https://www.facebook.com/nofend <https://www.facebook.com/nofend>*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke