Cerpen by NN

 
PENCOPET PASAR ATAS 1964
 
Hari Rabaa pukuah satu, Sadang rami di Bukiktinggi, Urang manggaleh barang 
mudo. Begitu bunyi awal sebait pantun. Bukit Tinggi di hari Rabaa, alias hari 
Rabu sebagaimana juga di hari Sabtu ramai allahurabbi. 

Orang datang dari seputar Agam, bahkan dari Tanah Datar, Lima Puluh Koto dan 
dari Pasaman. Bahkan dari Padang dan Pekan Baru. Di Bukit Tinggi orang 
penggalas kebat mengebat, pakuk memakuk, sayat menyayat. Heboh allahurabbi. 
Orang berserak di tengah balai. Yang menjual, yang membeli. Di pasar lereng 
jalan penuh oleh pedagang di bawah payung besar. Bukan, tidak ada yang 
menyebutnya pedagang kaki lima. Orang yang ingin lalu harus 
berselingkit-selingkit, disela barang galas para pedagang, di sela ketiak orang 
lain, di sela kambuik gadang yang disandang amai-amai. 

Pasar itu heboh allahurabbi, oleh sorak dan sorai, oleh bunyi parang yang 
menetak dan memakuk.
 
Begitu pula di jenjang yang bertingkat-tingkat. Orang menggalas belaka dimana 
saja ada tempat terbuka. Menggalas apa saja, jarum penjahit dan peniti, kain 
lap dan saputangan, pisau dan lading buatan Sungai Pua. Atau yang menggalas 
kerupuk jangek balatua mentah, atau tulang cancang, atau dadih di dalam 
sambang. Semua serba ada. 

Menggelar galas di sela-sela jalan orang lalu di janjang gantung yang sempit 
berselingkit. Tidak ada yang menggerutu. Cara orang sekarang, tidak ada yang 
komplain. Semua berlapang dada saja. Semua mencari untung serupiah dua rupiah. 
Kenapa pula harus digerutui.
 
Di puncak pasar di Pasar Atas, sesudah melalui jenjang yang bertingkat-tingkat, 
sesudah melalui bau amis darah di pasar bantai, sesudah melalui bau anyir di 
pasar maco, menguap bau harum sate yang bukan sate Padang karena yang berjualan 
orang Pekan Kamis. Sate mak Mamuik (Mahmud) dan sate mak Aciak. Asapnya 
menjulang ke udara. Baunya yang semerbak menimbulkan rasa lapar. Ada pula bunyi 
bakalentongpentong orang mengaduk es di sampingnya. Es batu yang baru saja 
diketam untuk dicampurkan ke mangkuk es te bak yang sekarang diaduk dengan 
suara bakalentongpentong. Entah kenapa namanya es te bak. Tapi yang jelas 
rasanya bukan main nyaman, penawar pedas sesudah menyantap sepiring sate. Ada 
lagi soto bang Karto dan soto Haji Minah bersebelah-sebelahan. Bukan, keduanya 
bukan soto Padang. Orang yang membuatnya saja namanya bang Karto.
 
Pasar Atas ramai, idem ditto. Berselingkit pingkit orang lalu di antara jualan 
dan dagangan. Boleh masuk ke dalam los demi los. Yang diantaranya ada yang 
bernama los bergalung. Tempat orang berjualan kain dan alas kaki. Berjualan 
tikar dan lapik pandan. Berjualan segala macam rempah yang baunya harum 
menyebar kemana-mana. Berjualan tembakau dan daun terusan ataupun  daun enau, 
untuk digulung jadi paisok, yang bukan rokok.
 
Di lapangan di hadapan mesjid raya, di samping panggung (bioskop) Irian ada 
orang berjualan obat. Entah obat apa, tidaklah penting sangat. Yang berjualan 
suaranya parau. Banyak ceritanya. Berseleperan mulutnya. Kadang-kadang 
dibuatnya atraksi seperti tukang sulap. Berkerumun orang menonton dalam sebuah 
lingkaran besar. Penjual obat beraksi di tengah-tengah. Berjalan hilir mudik 
sambil mulutnya tidak henti-henti berciloteh. Mengiklankan obat pencahar yang 
dijualnya. Gelarnya konon Datuk Dalu. Obat yang dijualnya adalah untuk yang 
bermasalah dan sulit ke belakang. Kalu sudah memakan obat Datuk Dalu, puuut 
bunyi kentut, ceeer bunyi isi perut menyemprot sampai sejauh tiga meter. Meski 
yang berkerumun berbilang puluhan, yang membeli hanya empat lima orang tidaklah 
penting bagi Datuk Dalu.
 
Beberapa puluh meter ke arah sana ada pula kerumunan yang lain. Tukang obat 
juga. Agak sedikit jelas obat yang dijualnya. Air racikan daun-daunan yang 
nanti dicampurnya dengan telur ayam dan madu untuk diminum para pembeli. 
Iklannya terdengar lebih pasti. ‘Obatku obat istimewa, bukan omong kosong. Obat 
orang Jerman hanya elok untuk orang Jerman. Obat orang Jepang hanya elok untuk 
orang Jepang. Obatku boleh untuk semua makhluk. Orang Jerman boleh meminumnya. 
Orang Arab boleh meminumnya. Orang Jepang boleh meminumnya. Sedangkan diberikan 
ke kuda jadi obat bagi kuda. Diberikan ke gacik (=anjing) jadi obat bagi gacik. 
Ha, singgahlah disini. Minumlah obat sitawa sidingin penyembuh sakit kepala. 
Penyembuh sakit hulu hati.’ Begitu katanya. Tentu saja dia benar, karena telur 
dan madu memang diminum setiap bangsa untuk jadi obat.
 
Di tempat orang berkerumun menonton tukang obat itu ada pula yang sedang 
mengail rejeki. Caranya dengan merosok kantong orang diam-diam. Bagi yang 
serawarnya besar dan dompet diletakkan di kantong serawar besar itu alamat akan 
jadi makanan empuk si tukang rogoh. Si tukang copet ini biasanya berkawan, dua 
atau tiga orang. Tampangnya itu ke itu juga. Orang banyak yang tahu. Si tukang 
copet biasanya mencari tampang-tampang baru. Orang yang baru datang dari jauh. 
Orang kampung yang baru saja menjual hasil bumi. Orang merubung menonton 
penjual obat biasanya jadi sasaran enteng bagi pencopet.
 
Barudin Sutan Bagindo pagi ini membawa 40 kilo lado (cabai merah) ke pasar 
Bukit Tinggi. Panen lado sadang elok-eloknya dan harganyapun sedang 
elok-eloknya pula. Dari hasil panen kali ini Barudin berniat akan mengganti 
atap ijuk rumah gadang dengan atap seng. Uang hasil penjualan lado itu 
dibaginya dua. Separo diletakkannya ke dalam puro (=kantong khusus) kain yang 
diikatkannya dengan tali di pinggang celana. Yang separo, yang akan 
dibayarkannya sebagai uang muka pembelian seng di letakkannya dalam saku baju 
gunting cina. Sesudah menerima uang pembayaran beli lado Barudin berjalan 
santai menuju pasar atas melalui jenjang empat puluh. Jenjang ini tidak seramai 
jenjang yang lain. Hal pertama yang akan dilakukan Barudin sesampai di pasar 
atas adalah pergi makan ke lepau nasi langganannya.
 
Di jalan yang sempit berselingkit di antara puncak jenjang empat puluh dan 
kedai nasi, Barudin terhalang oleh seorang laki-laki yang membungkuk mengambil 
saputangan jatuh. Tercatat juga di otaknya, bahwa agak aneh perbuatan orang 
laki-laki bersaputangan itu. Sempat terlihat olehnya roman muka orang itu yang 
berumur sekitar tiga puluh  tahun, yang tersenyum kepadanya. Barudin tidak 
berprasangka apa-apa. Dia terus melangkah ke lepau.
 
Barudin makan enak sampai berpeluh-peluh. Makan dengan gulai cancang kambing. 
Barulah dia terperangah ketika merogoh saku baju gunting cina untuk membayar. 
Saku itu sudah kosong melompong.
 
Kapundung, katanya dalam hati. Ini rupanya arti tingkah si Kurapai yang 
membungkuk mengambil saputangan tadi. Uangnya sudah dicopet. Uang seharga 20 
kilo lado sudah raib digondol si pencopet.
 
Barudin tidak mau merisaukan diri gara-gara uangnya dicopet. Dikeluarkannya 
uang dari puro yang terikat di ikat pinggangnya untuk membayar nasi orang 
lepau. Uang yang diniatkannya akan diserahkan kepada istrinya. Barudin adalah 
seorang laki-laki ninik mamak di kampung, yang menenggang dunsanak perempuan 
dan bertanggung jawab kepada anak istri.
 
Dia tidak jadi singgah ke toko yang menjual atap seng. Biarlah besok hari Sabtu 
saja. Sesudah dia menjual lado pula di hari itu nanti. Dan mudah-mudah-mudahan 
dia bisa bertemu lagi dengan tukang copet kurapai tadi. Akan dijebaknya manusia 
jahil itu. Akan ditagihnya piutang kalau orang itu berjumpa lagi. Dia bergegas 
saja pulang ke kampungnya. Masih banyak kerja yang akan dikerjakan.
 
 
                                                                        ***
 
Sesuai rencana hari Sabtu berikutnya Barudin berangkat lagi ke pasar. Panen 
lado sedang naik. Hari ini hampir lima puluh kilo yang dibawanya. Alhamdulillah 
harganyapun bertambah elok. Lebih banyak bilangannya dari hari Rabu kemarin 
untuk sekilo lado. Barudin tidak perduli bahwa harga naik itu karena nilai uang 
kertas memang merosot terus dari sehari ke sehari. Ketika menerima uang harga 
lado dilakukannya persis seperti yang dikerjakannya tiga hari yang lalu. Uang 
itu diperduanya. Separo masuk puro dan separo masuk saku baju gunting cina. 
Hanya yang terakhir ini, kali ini dimasukkannya dulu ke dalam sebuah amplop. 
Kantong baju gunting cina menggelembung dengan amplop berisi uang kertas.
 
Barudin mampir sebentar ke peturasan di dekat surau di pasar bawah. Seperti 
orang akan buang air kecil. Di kakus itu dikeluarkannya kembali uang yang di 
dalam amplop dan dimasukkannya semua ke dalam puro. Amplop itu diisinya dengan 
kertas sehingga tetap menggelembung dalam sakunya. Barulah dia melangkah keluar.
 
Hatinya berdetak bahwa dia sudah diamati orang sejak dia menerima uang 
pembelian lado tadi. Sekarang dia melangkah menuju jenjang empat puluh. Seperti 
hari Rabu kemarin. Melalui jalan yang sama. Dia akan menuju lepau yang sama. 
Persis ketika akan menjejak jenjang empat puluh yang sebenarnya, dia di dahului 
tiga orang laki-laki. Satu dari ketiga laki-laki itu mengatakan ‘daulu saketek, 
mak’ (=saya duluan, paman) dengan sopan. Dan orang itu adalah yang waktu itu 
mengambil saputangan jatuh.
 
Barudin bergumam dalam hati. Akan kuterima piutang, katanya.
 
Dia sampai di puncak jenjang. Di hadapannya adalah keramaian pasar dengan orang 
yang sangat banyak. Barudin berjalan saja menekur seperti biasa. Tapi kali ini 
dia sedang berhitung dan berencana. Akan menagih piutangnya.
 
Benar saja. Beberapa langkah menjelang lepau nasi. Di jalan yang sempit seperti 
kemarin. Tiba-tiba saja Barudin sudah berada di antara dua orang laki-laki. Di 
depannya adalah orang yang kemarin mengambil saputangan jatuh. Saat ini dia 
memegang sebungkus rokok Kansas. Di belakangnya terasa ada orang yang 
menyelingkit-nyelingkit sambil mendorong. Barudin sedang waspada penuh.
 
Nah, inilah saatnya. Yang di depan menjatuhkan bungkus rokoknya. Barudin 
melihat itu dengan jelas karena memang sudah ditunggunya dari tadi. Berikutnya 
orang itu membungkuk mengambil rokok dengan mukanya seperti kemarin lagi, 
melengah ke belakang ke arahnya sambil tersenyum. Tangan orang yang di 
belakangnya secepat itu pula merogoh ke dalam kantong baju gunting cina 
Barudin. Inilah yang ditunggunya dari tadi. Secepat kilat, tangan yang sedang 
berada di saku bajunya itu ditangkapnya dengan tangan kanannya. Cap, 
tertangkap. Orang itu berusaha melepaskan tangannya dengan muka ketakutan. 
Barudin tidak mengambil banyak tempo. Dengan sekelebatan yang hanya berbilang 
detik, tangan orang itu dikeripukkannya sampai berbunyi seperti tulang patah. 
Pada saat yang sama si tukang halang di depannya yang baru bangkit dari 
mengambil rokok jatuh disepohnya dengan kaki sehingga jatuh terjengkang.
 
Si perogoh melolong kesakitan. Telunjuk dan jari tenganya patah terkulai-kulai. 
Si penghalang yang jatuh terjengkang luka keningnya terhempas ke jalan. Barudin 
melihat orang ketiga. Dia sudah mengenalinya sejak menaiki jenjang tadi. Dia 
berbaju berwarna biru. Ketika orang ketiga ini berusaha menghindar, Barudin 
menarik pinggang celananya. Orang itupun pucat pasi ketika menoleh kepadanya. 
Dengan gerakan secepat kilat pula diraihnya tangan orang itu dan dipelintirnya 
dengan gerakan sangat cepat. Terkeripuk pula dengan bunyi tulang patah. Diapun 
melolong kesakitan.
 
Semua itu berlangsung dalam waktu tidak sampai lima belas detik. Orang di 
tengah balai yang ramai itu terheran-heran menyaksikan dua orang yang 
meraung-raung kesakitan. Tidak ada seorangpun yang tahu entah apa sebenarnya 
yang terjadi.
 
Barudin mendekat ke si kening berdarah sebelum berlalu. ‘Ba karilahan wak yo,’ 
(=Saling mengikhlaskan kita, ya) katanya. Si kening berdarah hanya bisa 
menyeringai. Jual beli itu memang sudah selesai. Barudin mengambil untung 
sedikit dari ketiga sekawan yang kemarin sudah lebih dulu menerima uangnya. 
Hari ini giliran Barudin menerima piutang.
 
Barudin melanjutkan langkahnya ke lepau nasi. Makan nasi dengan gulai cancang 
seperti kemarin dulu. Bahkan dua kali bertambuh. Habis juga tenaganya sesudah 
bersilat tiga jurus tadi. Barulah sesudah itu dia pergi ke toko seng.
 
 
                                                                        *****
 
AnwarDjambak
Alam Takambang Jadikan Guru
Sent by Maxis from my BlackBerry® smartphone

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke