Bukittinggi Dikepung Banjir 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir>

Mungkin kito nan banyak indak picayo. Kalau dahulu pernah tabaiak hoax Jam 
Gadang dilando banjir, yah itu barito barito palasu buek-buek.
Tapi banjir nan iko iyo bana mah, indah bagarah doh.
-- MakNgah

Dari Haluan kito baco:
Bukittinggi Dikepung Banjir 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir>
 [image: 
PDF] 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir?format=pdf>
 [image: 
Cetak] 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/berita/sumbar/44853-bukittinggi-dikepung-banjir?tmpl=component&print=1&layout=default&page=>
 [image: 
Surel] 
<http://www.harianhaluan.com/index.php/component/mailto/?tmpl=component&link=0a442a0fbf5639fdc88347387215bbd49617b202>
 Sabtu, 
07 November 2015 02:48 

*RATUSAN RUMAH TERENDAM, WARGA DIEVAKUASI*

Berada di ketinggian tak menjamin kawasan Bukittinggi bebas banjir. Perlu 
evaluasi apa yang menjadi penyebab begitu cepatnya air meluap, seiring 
dengan tingginya curah hujan

*BUKITTINGGI, HALUAN —* Ratusan warga Kota Bu­kittinggi, tepatnya di 
kawa­san RT 1 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia, serta di kawasan RT 7 RW 1 
Kelu­rahan Cimpago Ipuh Keca­matan Mandiangin Kota Bukittinggi dievakuasi 
ke tempat yang aman, setelah rumah mereka terendam banjir setinggi dada 
orang dewasa, Jumat (6/11). 

Untuk RT 1 RW I Kelu­rahan Pulai Anak Aia, ada sekitar 125 Kepala Kelua­rga 
(KK) yang tinggal di kawasan tersebut, sementara di kawasan RT 7 RW 1 
Kelurahan Cimpago Ipuh terdapat 70 KK yang ber­mukim di kawasan itu.

Menurut keterangan Su­si (39) salah seorang warga Pulai Anak Aia, genangan 
air itu mulai memasuki rumahnya sekitar pukul 14.30 WIB. Hujan lebat tanpa 
henti yang mulai meng­guyur Bukittinggi sekitar pukul 12.55 WIB membuat 
genangan air itu cepat meninggi, dan pun­caknya sekitar pukul 15.00 WIB, 
ketinggian banjir tersebut telah mencapai dada orang dewasa.

“Dalam dua minggu terakhir, ini banjir ketiga yang kami alami. Pertama saat 
malam Minggu lalu, setelah itu pada hari Rabu, dan terakhir hari Jumat ini. 
Tapi banjir kali ini lebih parah dari yang sebelumnya,” ujar Susi.

Susi mengatakan, semua pera­latan elektronik miliknya telah diselamatkan ke 
lantai dua. Ha­nya saja, seluruh pakaian yang ada dalam lemari tidak sempat 
dise­la­mat­kan, karena banjir juga ikut merendam lemari pakaiannya.

“Air cepat sekali tingginya, sehingga tidak sempat kami menyelamatkan 
pakaian. Kami sudah menutup rumah, agar semua barang yang ada dalam rumah 
tidak hanyut dibawa arus, karena arusnya sangat deras sekali,” ucap Susi.

Susi mengaku telah tinggal selama 30 tahun di kawasan itu. Menurutnya, 
selama 30 tahun itu, rumahnya sudah tiga kali me­ngalami kebanjiran 
terparah se­tinggi dada orang dewasa. “Ka­lau banjirnya setinggi tumit atau 
betis, itu sudah tak terhitung. Sudah sering kami alami,” lanjut Susi.

Sementara itu, banjir yang melanda kawasan ini membuat Badan Penanggulangan 
Bencana Daerah (BPBD) Kota Bukit­tinggi mengerahkan satu unit perahu karet 
untuk mengeva­kuasi warga. Evakuasi ini diprio­ritaskan bagi bayi dan 
anak-anak, ibu hamil, lanjut usia (lansia) dan ibu-ibu.

Meski demikan, tak sedikit kalangan ibu-ibu enggan untuk dievakuasi dan 
lebih memilih mendekam di rumah mereka ma­sing-masing, meski rumahnya 
digenangi banjir. Mereka ber­alasan, dengan menjaga rumah, maka mereka bisa 
mengontrol isi rumah serta barang berharga mereka, serta bisa mengawasi 
jika ada binatang melata yang masuk rumah.

Sementara untuk pria dewasa lebih tampak sibuk membantu petugas BPBD untuk 
meng­eva­kuasi warga. Sebagian lagi pria dewasa tampak sibuk member­sihkan 
sampah-sampah yang terbawa arus, serta tetap berupaya menyelamatkan 
barang-barang berharga mereka.

Sebenarnya, kawasan RT 1 RW I Kelurahan Pulai Anak Aia dan kawasan RT 7 RW 
1 Kelu­rahan Cimpago Ipuh saling berse­belahan, sehingga tidak menyu­litkan 
petugas untuk menyisir korban yang masih terjebak dalam rumah. Hanya saja, 
deras­nya arus membuat petugas harus bekerja lebih keras lagi untuk 
mengontrol perahu karet yang dibawa.

Suyerman, Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Bukittinggi menyebutkan, hujan 
lebat yang mengguyur Kota Bukittinggi dari siang hingga sore telah membuat 
sejumlah kawasan di Kota Bukit­tinggi digenangi air.

“Ada enam titik banjir yang merendam tempat ibadah dan rumah warga di Kota 
Bukittinggi, diantaranya di kawasan Simpang Tarok, Pakan Kurai, Gurun 
Pan­jang, Jalan Melati Simpang Sta­siun, Jangkak, serta kawasan Pulai Anak 
Aia dan Cimpago Ipuh ini. Yang terparah memang dialami Pulai Anak Aia yang 
bersebelahan dengan Kelurahan Cimpago Ipuh samping Ma­polsek Bukittinggi,” 
ujar Su­yerman.

Menyikapi permasalahan banjir yang terus melanda Kota Bukittinggi, 
khususnya di ka­wasan Pulai Anak Aia dan Kelurahan Cimpago Ipuh ini, Ketua 
DPRD Bukittinggi Benny Yusrial ketika meninjau lokasi banjir mengatakan, 
pihaknya telah mendesak petugas PU untuk turun tangan menyelidiki penyebab 
utama banjir tersebut.

“Kami telah berkomunikasi dengan masyarakat, telah meng­himpun informasi 
dan telah menerima aduan jika ada bangu­nan yang menghambat aliran air. 
Tapi kami belum bisa mengklaim itu penyebabnya, karena harus diselidiki 
terlebih dahulu. Kami sudah meminta PU untuk me­nyelidiki itu,” ujar Benny.

Menurut Benny Yusrial, DPRD Bukittinggi nantinya tidak akan mentolerir 
siapa saja yang telah membuat aliran air tidak lancar, karena menurutnya, 
ulah orang itu telah membuat dampak yang lebih besar bagi ratusan warga di 
kawasan Pulai Anak Aia. *(h/wan)*

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke