Terima kasih informasinya saya seorang perantau sangat setuju duduk bersama dan
langsung dieksikusi secara gotongroyong dan kami perlu lahan untuk tanam jagung
guna nemenuhi kebutuhan pakan ternak ayam. Jika ada yang berminat dari rantau
mari kita rundingkan. Wass
Skickat från min Samsung-enhet
-------- Originalmeddelande --------
Från: 'Mochtar Naim' via RantauNet <[email protected]>
Datum: 07-12-2015 10:35 (GMT+01:00)
Till: RantauNet Group <[email protected]>, "Dr. Saafroedin BAHAR"
<[email protected]>, Amri AZIZ <[email protected]>,
Mohcholilbaridjambek <[email protected]>, Nasir Zulhasril
<[email protected]>, Mestika Zed <[email protected]>, Herlina Hasan Basri
<[email protected]>, Azmi Dt Bgd Abu
<[email protected]>, "Ir. Raja Ermansyah YAMIN"
<[email protected]>, Yahoo! <[email protected]>, "Dr. Gusti ASNAN"
<[email protected]>, "Yulizal Yunus Dt. Rajo Bagindo" <[email protected]>, Prof
Dr Djohermansyah DJOHAN <[email protected]>, "Prof. Dr Azyumardi AZRA"
<[email protected]>, Prof Dr Taufik ABDULLAH
<[email protected]>, Ilhamy Elias <[email protected]>, Mas'oed
ABIDIN <[email protected]>, Miko Kamal <[email protected]>, Asmun
Sjueib <[email protected]>, Fasli JALAL <[email protected]>, Edy Utama
<[email protected]>, Drs Sjafnir Aboe NAIN <[email protected]>, Zulharbi
Salim <[email protected]>, Lies Suryadi <[email protected]>, Alfitri
FISIP <[email protected]>, Harlizon MBAu <[email protected]>, Anggun Gunawan
<[email protected]>, Basri Mangun <[email protected]>, Irman Gusman
<[email protected]>, "Feraldi W. Loeis" <[email protected]>,
[email protected], Chairil Anwar <[email protected]>,
Zulhendri Chaniago <[email protected]>, BADRUL MUSTAFA
<[email protected]>, yahoogroups <[email protected]>, Novesar62
<[email protected]>, Jusril Jamarin <[email protected]>, Nurmatias
Zakaria <[email protected]>, "Dr. Herwandi WENDY"
<[email protected]>, Jafrinur Jafrinur <[email protected]>, Emil
Habli HasanNaim <[email protected]>, BUNDO KANDUANG LIMPAPEH RUMAH GADANG
BERSATU <[email protected]>, Kardimatus Suheimi
<[email protected]>, Arief Rangkayo Mulia <[email protected]>, Meuthia
Suyudi <[email protected]>, Elfitra Baikoeni <[email protected]>,
Yuliasma Muluk <[email protected]>, yahoogroups <[email protected]>,
Abdurrahman Aman <[email protected]>, "M. ABDUH" <[email protected]>, Amelia
Naim Indrajaya <[email protected]>, "Prof.Dr Emil SALIM"
<[email protected]>, Bunda Nismah <[email protected]>, Darman -
MOENIR <[email protected]>, Novizar Zen <[email protected]>, Riri
Chaidir <[email protected]>, Muslim Kasim <[email protected]>, Ambiar
Lani <[email protected]>, Khairul Jasmi <[email protected]>,
Elvira Naim <[email protected]>, Gebuminang Pusat
<[email protected]>, Sutan Sinaro <[email protected]>, Eri Bagindo
Rajo <[email protected]>, Opinihaluan <[email protected]>, Sjamsir_sjarif
<[email protected]>, OBS Saldi <[email protected]>, Muslih Sayan
<[email protected]>, Zulfahmi Burhan <[email protected]>,
Redaksi_haluan <[email protected]>, "S. SURYADI"
<[email protected]>, Zizie Fauzan <[email protected]>, WiNda
AmeLia <[email protected]>, Datuk Endang <[email protected]>,
Ajoduta <[email protected]>, Rahim Jabbar <[email protected]>, Asmardi Arbi
<[email protected]>, ADMIN DIM ORI
<[email protected]>, Susi Moeis <[email protected]>, Nina
Rivai <[email protected]>, Herman Jambak <[email protected]>, PUSAT
KAJIAN ADAT ALAM MINANGKABAU <[email protected]>, Rizal Ramli
<[email protected]>, Zuriyati Ati <[email protected]>, Revrisond Baswir
<[email protected]>, Yeyen Kiram <[email protected]>, Kasim Musliar
<[email protected]>, Dutamardin Umar <[email protected]>, Asril Tanjung
<[email protected]>, Chaca Mesyarah <[email protected]>, Wannofri
Samry <[email protected]>, Tata Marnarita <[email protected]>, Imsa Us
<[email protected]>, Zukri Saad <[email protected]>, Midawati Unand
<[email protected]>, [email protected], Muslim Kasim
<[email protected]>, Luth Fina <[email protected]>, Rina Novita
<[email protected]>, Hanifah Daman <[email protected]>
Rubrik: [R@ntau-Net] MOCHTAR NAIM: "DAJJALNYA RIZA KHALID DAN EKONOMI MINANG KE
MASA DEPAN"
DAJJALNYA
RIZA KHALID
DAN EKONOMI MINANG KE MASA DEPAN
Mochtar Naim
7 Des 2015
K
EKESALAN Riza Khalid dengan
Gubernur Sumbar yang menghalangi rencananya membangun Perkebunan Sawit di
Sumbar, lalu menyatakan Sumbar adalah negeri Dajjal, seluruh rakyat Sumbar yang
di ranah dan di rantau spontan pada meronta dan menyatakan kemarahan mereka
kepada
Riza Khalid secara terbuka melalui media massa. Riza dikatakan sebagai tidak
etis, tidak sopan, dan bahkan kurang
ajar dengan memakai kata kasar Dajjal itu.
Pada hal
semua orang tahu bahwa selain di Papua dan beberapa daerah lainnya, di Sumbar
di ranah Minang pun tanah itu pada dasarnya adalah tanah ulayat adat milik
bersama secara turun temurun. Pemerintah saja tidak bisa mengambilnya tanpa
seizin kaum atau nagari yang memilikinya. Makanya pemakaian tanah ulayat oleh
perusahaan ataupun per orangan untuk tujuan komersial diatur dengan sistem HGU
(Hak Guna Usaha) untuk suatu batas waktu tertentu, misalnya 30 tahun, dan bisa
diperbaharui.
Namun, kenyataan yang bersua, minimal sejak PRRI ke mari,
50an tahun sudah, bisa jauh panggang dari api. Sejak kebun karet rakyat berubah
menjadi kebun sawit, praktis semuanya
sekarang, dalam jumlah ratusan ribu hektar di Sumbar saja, dan jutaan hektar di
seluruh daerah di Indonesia, telah menjadi kebun sawit milik para konglomerat
yang tumbuh dan berkembangnya dibek-ap oleh para pejabat lupa-diri yang
mendapatkan
sagu-hati dari para konglomerat itu. Konglomerat yang menguasai perkebunan itu
tidak hanya yang dari Indonesia saja, tapi juga dari Singapura, Malaysia,
Thailand dan dari negeri asal mereka sendiri di Timur Jauh.
Di Sumbar dan di manapun, rakyat yang tadinya pemilik
tanah ulayat, yang sekarang tanah itu telah menjadi perkebunan sawit, dsb,
rata-rata telah menjadi buruh alias kuli di bekas tanahnya itu, yang bekerja di
kebun terbuka, yang kalau hujan kehujanan, kalau panas kepanasan. Pergi dan
pulangnya diantar dengan truk-truk perusahaan yang tegak berdiri bersusun bahu,
laki-laki dan perempuan, terhoyong-hoyong bersenggolan di atas truk karena
jalannya yang asalan dan bergelombang. Bagaimana dahulu di zaman penjajahan,
begitu pula laiknya mereka sekarang ini.
Yang konyol juga, tidak sedikit pula dari para
ninik-mamak pemangku adat sendiri yang turut pula tergiur mengambil manfaat
dengan diserahkannya tanah ulayat kaum dan nagari itu kepada para konglomerat
melalui proses HGU itu. Apalagi daerah-daerah yang menjadi daerah perkebunan
sawit itu kebanyakan berada di lingkaran luar Sumbar, di Pasaman, Darmasraya,
Solok Selatan dan Pesisir Selatan yang adatnya berpenghulu beraja-raja, yang
tanah ulayat juga diatur oleh penguasa rantau adat itu.
Saya
berpendapat, mumpung Riza Khalid membenturkan persoalannya dengan teriakan
Dajjal itu, kenapa kita tidak dudukkan saja sekali mengenai tanah ulayat kaum
dan nagari ini, sehingga duduk dan tuntas sekali permasalahannya. Pertama,
tanah ulayat yang telah menjadi obyek perkebunan ini yang rata-rata dikuasai
oleh para konglomerat yang dibek-ap oleh para pejabat itu. Tanpa harus merubah
sistem HGU yang sudah berlaku itu, mana-mana yang sudah habis masa berlakunya
harus kembali dan dikembalikan menjadi milik rakyat dengan segala kekayaan yang
ada di dalamnya. Rakyat dari nagari bersangkutan bisa menentukan pilihan, mau
meneruskan
dengan mengelolanya secara Koperasi Syariah Nagari (KSN), atau melanjutkan
kerjasama dengan pengusaha semula dengan sistem bagi hasil yang saling
menguntungkan.
Khusus
mengenai fabrik pengolahan sawit yang ada di atasnya, juga berlaku pilihan yang
sama: dilanjutkan pengelolaannya oleh rakyat dengan sistem KSN yang sama atau
kerjasama
bagi-hasil dengan pengelola semula.
Kedua, tanah ulayat nagari yang masih tersisa dan
tersedia, di seluruh Sumbar, dijadikan sebagai lahan untuk mengembangkan usaha
anak nagari dalam bentuk usaha KSN yang cocok dan serasi dengan wujud dan
potensi
lahannya, baik untuk peternakan, perikanan, perkebunan, pertanian, perhutanan,
dsb.
Dengan itu kita merombak sistem perekonomian
anak nagari di Sumbar, dari cara sederhana sendiri-sendiri seperti selama ini
ke cara bersama dengan bentuk usaha KSN. Untuk itu pemerintah di Provinsi,
Kabupaten/Kota, Kecamatan dan Nagari, dengan keperan-sertaan dari sistem
perbankan yang ada, baik milik pemerintah maupun swasta, membangun sistem
ekonomi kerakyatan berbentuk KSN itu seperti yang diidamkan oleh Pancasila dan
UUD1945, khususnya Pasal 33 itu.
Berguru kepada negara-negara maju di Timur Jauh: Jepang,
Korea dan Tiongkok, serta juga negara-negara yang sedang berkembang di Asean:
Malaysia,
Viet Nam dan Thailand, yang semuanya memulai usaha ekonomi mereka dari bawah,
dari akar rumput, dengan ekonomi kerakyatannya, waktunya kita di Sumbar
menirunya dan melakukan hal serupa yang dimulai dari bawah dari akar rumput
itu. Dan sistemnya adalah KSN itu!
Semoga dengan itu rakyat di Sumbar akan mendapatkan
peluang yang luas terbuka dalam mengembangkan bakat dan keterampilannya dalam
usaha ekonomi ke masa depan. Apalagi setelah Sumbar telah berubah bentuk
menjadi DIM (Daerah Istimewa Minangkabau) di mana filosofi dasarnya adalah
ABS-SBK (Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah); Syarak Mengata,
Adat Memakai, Alam Terkembang Jadi Guru.
Semoga Allah swt membukakan pintu peluang yang
seluas-luasnya untuk itu, amin. ***
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.