Assaalamu'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuhu
Iko ado carito nan ambo tulih antah bara taun nan lapeh, pakaro istilah ayia
mancua. Mudah2an dapek panambah-nambah.
AIR MANCURAku dalam perjalanan menuju Bukit Tinggi, untuk mengikuti sebuah
seminar yang dilangsungkan di kota itu. Dari kantor kami ada dua orang utusan,
aku dan Suprapto. Kami berangkat bersama-sama dari Jakarta. Suprapto berharap
akan lebih menikmati kunjungan ke Bukit Tinggi karena berangkat bersamaku. Dari
bandara kami langsung menuju Bukit Tinggi dengan sebuah taksi. Prapto sudah
untuk ketiga kalinya berkunjung ke Sumatera Barat. Dia sangat mengagumi
keelokan pemandangan di negeri ini seperti yang diceritakannya kepadaku. Kami
berbincang-bincang santai.Tak terasa, kami sudah memasuki lembah Anai, dengan
jalan berliku di bawah tebing terjal berbatu. Aku mengingatkan sopir taksi agar
nanti berhenti di Air Mancur. Prapto yang sedikit mengerti bahasa Minang
menoleh kepadaku sambil tersenyum.‘Pasti kau mengingatkan pak sopir untuk
berhenti di air terjun lembah Anai,’ katanya.‘Benar. Rupanya kau mengerti
bahasa Minang,’ jawabku.‘Aku mengerti ketika kau menyebutkan nama dengan
istilah yang salah kaprah itu. Kalian menyebut air terjun itu air mancur.
Bukankah itu keliru ?’ Prapto berkomentar agak sedikit berlebihan.‘He..
he..he.. kau yakin itu salah kaprah?’ tanyaku.‘Ya, iyalah. Kau tentu mengerti
arti kata memancur. Air yang menyembur ke atas. Menyembur ke atas itu yang
disebut memancur. Masak kau tidak pernah melihat air mancur di depan Hotel
Indonesia?’ dia semakin sok tahu.‘Bagaimana dengan air mata?’ aku memancing
dengan sebuah pertanyaan.‘Maksudmu? Apakah air mata juga sama dengan air
mancur, begitu?’‘Bukan. Apa istilahnya ketika air mata keluar? Ketika kita
menangis?’ tanyaku lagi.‘Ya mengeluarkan air mata. Aku tidak mengerti
maksudmu,’ jawabnya agak sedikit bingung‘Pernah mendengar istilah mencucurkan
air mata?’ tanyaku.‘Ya, pernah. Mencucurkan air mata. Artinya mengeluarkan air
mata. Artinya menangis. Apa hubungannya?’‘Begini, den Mas. Mencucur itu
artinya keluar dari suatu tempat, lalu setelah itu jatuh. Mencucurkan air mata,
artinya mengeluarkan air dari mata dan akhirnya air mata itu jatuh ke bawah. Ke
pipi, ke sisi hidung. Itu artinya mencucur. Ketika yang mengeluarkan air itu
adalah mata, kita menyebut mencucurkan air mata. Nah, sebentar lagi kau akan
melihat air mencucur. Air jatuh dari sela batu di atas bukit yang ketinggian.
Dalam bahasa Minang disebut ayia mancucua, yang oleh karena pengucapan secara
cepat berubah menjadi ayia mancua. Nah! Apakah kau masih menyangka kami salah
kaprah?’ ‘Oo. Jadi begitu ceritanya. Lalu apa bahasa Minangnya air mancur
?’‘Air mancur sebenarnya juga bukan bahasa Indonesia yang benar. Yang benar
adalah air memancur. Dalam bahasa Minang disebut ayia manyambua. Atau air
menyembur dalam bahasa Indonesia.’‘Tapi, sebentar. Bukankah orang Minang juga
mengenal kata pancuran? Apakah ini juga seharusnya pancucuran?’‘Awalan pan atau
pen dalam bahasa Indonesia menunjukkan tempat. Akhiran an menunjukkan kejadian
yang berulang atau berketerusan. Nah, lalu apa kata dasarnya? Pasti bukan cur.
Cur tidak ada maknanya. Yang ada makna adalah cucur. Jadi yang benar, adalah
pencucuran atau dalam bahasa Minang pancucuran. Dalam pengucapan terjadi
penyederhanaan menjadi pancuran. Dalam bahasa Indonesia disebut secara salah
kaprah lagi, seperti istilahmu, pancuran. Orang Jakarta menyebutnya
pancoran.’’‘Hebat juga analisamu.’‘Aku bukan ahli bahasa. Aku bahkan tidak tahu
istilah yang tepat untuk pemendekan ucapan seperti mancucua menjadi mancua
tadi.’‘Baiklah. Aku ralat dan aku cabut pernyataanku bahwa orang Minang salah
kaprah ketika menyebut Ayia Mancua di Lembah Anai,’ ujar Prapto tersenyum.Taksi
kami terus melaju. Di sebelah kanan, terlihat sungai dengan batu-batu besar di
dasarnya. Lebih jauh lagi adalah tebing yang ditumbuhi pohon kayu yang cukup
rapat. Di bawah pohon-pohon kayu itu adalah semak belukar. Taksi ini berhenti
di pelataran parkir sekitar 50 meter dari Ayia Mancua. Aku dan Prapto turun
dari mobil. Kami berjalan mendekati kolam di dasar air terjun. Prapto membasuh
mukanya dengan air dingin yang sejuk itu. Kami berjalan-jalan di sekitar
tempat itu. Melihat ke arah lembah dengan batang air di bawah. Dengan rel
kereta yang bagaikan tergantung di atas lembah. Kami kembali ke taksi untuk
meneruskan perjalanan. ‘Tempat ini sebenarnya mempunyai makna tersendiri
bagiku,’ ucap Prapto seolah-olah kepada dirinya sendiri, ketika kami mulai
melanjutkan perjalanan.‘Tempat ini? Ayia mancua atau Lembah Anai ini?’
tanyaku.‘Aku tidak tahu tempatnya yang pasti. Tapi ayahku dulu terkorban di
sini,’ tambahnya.‘Maksudmu korban lalu lintas?’‘Bukan. Beliau gugur sebagai
anggota TNI yang dikirim memerangi PRRI di tahun 1958. Aku belum lahir ketika
itu.’Aku terdiam mendengar ceritanya. Kami sama-sama terdiam untuk beberapa
saat. ‘Tahun 1958?’ tanyaku memecah kesunyian.‘Ya di sekitar bulan Mai 1958.
Begitu menurut cerita yang aku dengar. Rombongan ayahku dihadang pasukan PRRI
di Lembah Anai ini. Beliau terkorban bersama beberapa orang tentara lainnya.
Beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan di Padang,’ Prapto menambahkan.Kami
kembali terdiam.‘Perang itu meninggalkan banyak sekali luka,’ aku berkomentar
asal-asalan.‘Aku tahu. Perang itu tidak seharusnya terjadi.’‘Tapi toh dia sudah
terjadi,’ komentarku, sekali lagi asal-asalan.‘Adakah anggota keluargamu yang
jadi korban?’ tanya Prapto.‘Kemenakan ayahku. Dia bukan tentara. Seorang murid
SMA. Waktu tentara APRI datang ke kampung kami, anak-anak muda seumurnya lari
ketakutan. Mereka lari ke daerah persawahan. Mungkin mereka bermaksud untuk
bersembunyi di sawah, di dalam kerimbunan padi. Tapi mereka dipergoki oleh
tentara APRI dan ditembaki tanpa ampun. Pada hari yang sama ada lima orang anak
muda mati tertembak di kampung kami.‘‘Sebuah perang yang sangat kejam....,’
Prapto menarik nafas, mendesah lirih.‘Begitu adanya,’ aku menambahkan. ‘Kau
tentu juga belum lahir kala itu ?’ dia bertanya.‘Belum. Tapi cerita itu aku
dengar dari ayahku sendiri.’‘Ayahmu ikut jadi tentara PRRI ?’‘Tidak. Ayahku
seorang petani.’‘Sebagai petani beliau tidak mendapat kesulitan dari tentara
APRI?’‘Boleh dikatakan tidak. Beliau disuruh ikut latihan ketentaraan
bersama-sama orang kampung lain. Yang memenuhi persyaratan diangkat menjadi
OPR, tentara lokal bentukan APRI. Ayahku yang tidak menyukai ketentaraan
dinyatakan gagal dalam latihan itu. Bahkan sejak latihan baris berbaris. Ayah
sengaja menampilkan diri beliau seperti orang bodoh. Tidak satupun perintah
pelatih tentara itu yang beliau turuti secara benar.’‘Pelatihnya tidak
marah?’‘Tentu marah. Ayah ditempelengnya. Tapi sesudah itu dilarang mengikuti
latihan. Justru itu yang beliau harapkan.’‘Aku sangat membenci yang namanya
perang,’ ucap Prapto.‘Karena ayahmu terbunuh di dalam peperangan?’ tanyaku
sedikit menyelidik.‘Entahlah. Tapi aku benci karena perang pada umumnya sangat
bengis. Tidak beradab. Korban yang paling banyak adalah rakyat yang tidak ikut
berperang,’ ujar Prapto bersungguh-sungguh.‘Aku setuju dengan yang kau katakan.
Perang itu bengis dan biadab. Lihatlah apa yang terjadi di Aceh beberapa tahun
yang lalu. Bukankah kita mengikuti beritanya?’ aku mengingatkan.‘Betul sekali
yang kau katakan. Perang seperti di Aceh itu sangat mengenaskan. Perang yang
mengambil korban di kalangan rakyat yang tidak terlibat tapi dicurigai. Jadi
korban dari kedua belah pihak yang berperang.’ ‘Dan kau lihat lagi perang di
Irak. Di Afghanistan,’ aku menambahkan.‘Betul. Perang akibat nafsu angkara
murka. Pemimpin-pemimpin negara yang menyulut peperangan. Yang menggiring
rakyatnya masuk ke dalam kancah peperangan. Akibatnya selalu sangat memilukan.
Kehancuran di mana-mana. Tapi.... Syukurlah Sumatera Barat tidak hancur ketika
terjadi perang PRRI.’‘Tidak hancur secara fisik, tapi moral masyarakat cukup
hancur,’ jawabku.‘Aku mendengar tentang itu. Masyarakat Minangkabau
berbondong-bondong meninggalkan kampung halaman mereka, pergi merantau sesudah
perang PRRI.’‘Kecuali sebagian. Termasuk ayahku yang tetap bertahan sebagai
petani di kampung sampai usia tuanya,’ jawabku.‘Ayahmu masih ada kan?’‘Beliau
berpulang dua tahun yang lalu.’ ‘Huh, jadi ke mana-mana cerita kita. Hanya
karena aku mengingat Lembah Anai.’‘Tadi kau bilang, kau belum lahir ketika
ayahmu meninggal. Tentulah ibumu sangat sedih ditinggal ayahmu.’‘Tentu saja.
Tapi begitulah kehidupan. Ibuku berjodoh dengan seorang laki-laki dari Minang.
Seorang duda. Beliau menikah waktu aku masih berumur empat tahun. Laki-laki
suami ibuku itu sangat baik. Aku memanggilnya ayah, dan beliau benar-benar
seperti ayah kandungku. Ibuku melahirkan tiga orang adik-adikku. Ayahku itu
yang pertama kali membawa kami mengunjungi negeri ini ketika aku masih murid
SMA.’‘Beliau masih hidup?’‘Masih. Ayah dan ibuku tinggal di Bogor.’ Taksi kami
merangkak mengikuti iringan bus dan truk yang terampun-ampun mendaki di Silaing
Kariang. Ayia Mancua dan Lembah Anai sudah kami tinggalkan di belakang kami.
Kami masih melanjutkan obrolan ke hilir ke mudik. *****
Wassalamu'alaikum, Muhammad Dafiq Saib Sutan Lembang Alam
Suku : Koto, Nagari asal : Koto Tuo - Balai Gurah, Bukit Tinggi
Lahir : Zulqaidah 1370H,
Jatibening - Bekasi
On Monday, February 22, 2016 8:03 PM, Sjamsir Sjarif
<[email protected]> wrote:
https://m.youtube.com/watch?v=_MzZXdJ3PtI
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.