Untuk sdr *:* Ronny P Sasmita (Analis Senior Financeroll Indonesia)

Kalau ada judul komedi tak lucu ....maka analisa pada artikel di bawah
ini,...... istilahnya lucu nggak ya ????


Sharing Ulasan dari Group chat Pasar Modal

* Crazy Valuation dan Misteri Cash Flow dari Tokopedia, Bukalapak dan Gojek
*

Inilah ulasan menarik dari Yodhia Antariksa..

Tokopedia, Bukalapak dan Gojek mungkin tiga online start up yang paling
banyak dibicarakan dalam 3 tahun terkakhir, dalam jagat e-commerce tanah
air.

Tiga start up itu digadang-gadang bisa menjadi ikon digital economy masa
depan Indonesia.

Namun Tokopedia, Bukalapak dan Gojek juga mengabarkan pelajaran amat
berharga tentang valuasi dan cash flow.

Dan tiba-tiba kita ingat papatah indah ini : *profit is queen, cash flow is
king*.

Tokopedia mungkin yang paling moncer.
Dua kali Toped mendapatkan pendanaan dari venture capital, masing-masing
senilai sekitar 1 triliun. Jadi total sudah 2 triliun disuntikkan sebaga
pendanaan.
Jika dana 2 triliun itu dikonversikan menjadi 50% saham, maka valuasi total
Tokopedia menjadi sekitar Rp 4 triliun.
Jumlah yang fenomenal untuk sebuah start up yang masih muda usianya.

Venture capital kita tahu adalah sekelompok pemodal yang rajin invest ke
start up potensial. Harapannya, mereka bisa mendapatkan profit, jika kelak
start up di go public dengan valuasi yang lebih fenomenal.

Di Indonesia sekarang ada sekitar 30-an venture capital.
Ada yang lokal seperti grup Djarum yang invest ke Bli Bli serta Kaskus;
dan Idesource yang tahun lalu invest 300 milyar ke Bhinneka.com.

Ada juga yang asing seperti East Ventures dan Softbank yang invest ke
Tokopedia.
Valuasi Tokopedia yang sekitar Rp 4 triliun artinya mendekati julukan
sebagai “UNICORN”.

Unicorn adalah sebutan bagi start up yang nilai valuasinya tembus Rp 10
triliun.
Diharapkan Tokopedia dan Bukalapak atau Gojek menjadi start up pioner
Indonesia yang menjadi Unicorn.

Dua minggu lalu, Bukalapak juga mendapatkan pendanaan baru senilai Rp 500
milyar yang dikonversikan menjadi 35 % saham.
Informasi ini tidak terbuka untuk media, saya mendapatkan dari sumber yang
layak dipercaya.
Artinya, valuasi Bukalapak senilai 1,5 triliun. Amazing.

Intinya baik Tokopedia, Bukalapak atau Gojek sudah mendapatkan guyuran dana
dari venture capital sebesar ratusan milyar bahkan triliunan.
Semuanya dengan valuasi yang rasanya fantastik untuk ukuran bisnis
tradisional.

Nah, sekarang berapa cash flow mereka? Minus atau positif?
Cash flow, kita tahu, ukuran yang lebih simpel dan powerful untuk menilai
kesehatan keuangan perusahaan.
Cash flow is king.

Aturannya sederhana : jika uang masuk lebih besar daripada pengeluaran,
Anda oke. Sebaliknya, jika pengeluaran lebih gede daripada pemasukan, ya
Anda defisit.
Kalau kelamaan defisitnya, ya kolaps. Semaput.

Model bisnis Bukalapak hanya mendapatkan pemasukan dari semacam iklan para
member-nya. Dan juga selisih uang yang dibayarkan oleh pembeli – nilainya
hanya ribuan rupiah. Dari informasi yang ada, maka estimasi pemasukan
Bukalapak dengan model bisnis seperti ini hanya Rp 1 milyar per bulan.

Pengeluarannya? Dengan karyawan 150 orang dan biaya iklan yang gencar,
estimasi pengeluarannya bisa tembus Rp 2 – 3 milyar per bulan.
Artinya desifit 1- 2 milyaran per bulan.
Dari mana defisit ini ditutup?
Ya dari uang investor tadi.

Tokopedia mendapatkan pemasukan dari fee premium member (Gold merchant) dan
juga iklan para membernya.
Pemasukan Tokopedia mungkin lebih besar daripada Bukalapak, namun biaya
pasti juga lebih besar.
Lihat saja iklannya ada dimana-mana.
Budgetnya pasti puluhan milyar.

Dengan kata lain, posisi keuangan Tokopedia sekarang juga masih minus.
Cashflow-nya belum positif.
Angka kasar defisitnya bisa 2 – 4 milyar per bulan.

Baik Tokopedia dan Bukalapak sama sekali tidak mengenakan biaya transaksi
para penjualnya. Jadi berapapun besarnya transaksi ini, maka tidak ada
dampak signifikan bagi pemasukan mereka berdua.

Burning rate......... Ini istilah kecepatan start up dalam “membakar” dana
investor. Harapannya, dengan jor-joran membuang uang untuk iklan dan
ekspansi, maka pertumbuhan akan melesat.
Pertumbuhan dalam aspek pelanggan, nilai transaksi, atau pangsa pasar.

Jadi prinsipnya : growth, growth, growth.
Meski prinsip ini harus menghabiskan ratusan milyar.
Growth dianggap lebih magis daparipada sekedar profit.

Harapannya, dengan growth yang super fantastik, kelak pembakaran uang saat
ini akan impas, dan berganti menjadi profit.

Namun harus hati-hati juga.
Terlalu agresif membakar uang, maka bekal dana investor keburu habis,
sebelum profit datang. Gojek sudah menunjukkan gejala ini.
Jalan Gojek memang terjal, sebab mereka berhadapan dengan Grab Bike yang
sialnya, juga punya amunisi modal yang masif. Grab Bike dari Malaysia
dengan pendanaan triliunan juga. Dan mereka siap perang.

Tokopedia dan Bukalapak, sebentar lagi akan menghadapi jalan terjal juga.
Lazada Indonesia sudah dicaplok raksasa Alibaba, dengan modal uang yang tak
punya lagi nomer seri.

Valuasi Tokopedia dan Bukalapak yang tembus triliunan, berasumsi bahwa
pertumbuhan pemasukan mereka bisa tembus 20 kali lipat (atau 2000 persen)
dalam 3 tahun ke depan. Pemasukan ya, bukan jumlah transaksi dan jumlah
merchant yang bergabung.

Apakah bisa pemasukan cash flow mereka melesat 20 kali lipat dalam 3 tahun
ke depan? Mudah-mudahan bisa. Sebab hanya dengan itu, maka valuasi mereka
menjadi masuk akal dan justified.

Jika tidak bisa, investor bisa terjebak dalam “financial exuberance trap” –
jebakan karena dipicu oleh euforia dan optimisme berlebihan terhadap nilai
masa depan.

Jebakan ini sama dengan ketika orang kesurupan *batu akik* atau *bunga
anthurium*. Cuma bedanya, kali ini obyeknya adalah Toko Pedia, Bukalapak dll

Financial exuberance trap bisa menimpa siapa saja : entah Anda spekulan
saham, venture capitals yang berkantor di London, atau pedagang batu akik
di pinggiran jalan.

Sebab “irasionalitas finansial” itu tidak kenal kasta, latar pendidikan
atau golongan sosial. Semua orang bisa terjebak dalam kebodohan kolektif
saat terjebak dalam keserakahan finansial

Alam takambang jadikan Guru

www.nagari.or.id

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke