*PABRIK PANCI ITU KEMBALI BERJAYA* Written by Haz Pohan
CATATAN saya tentang laporan Kompas Senin (23/1) tidak menyoroti mengapa sertifikasi dari lembaga pemerintah sendiri bertele-tele sehingga peluncuran perdana pesawat terbang N-219 buatan PTDI tertunda, dari rencana semula akhir tahun 2016 yang lalu. Soal-soal birokrasi negeri kita ini notorious. Semua orang mempunyai ‘agenda’ sendiri, dan tidak melihat apa yang menjadi ‘tujuan utama’ yang seyogianya kepentingan nasional. Di dalamnya ada kepentingan komersial, kebanggaan, dan bangkitnya potensi industri nasional. Belakangan ini, birokrasi pun ‘diracuni’ oleh agenda-agenda politik penguasa dan sibuk dengan agenda dengan kepentingan jangka-pendek. Berita Kompas di atas mengingatkan saya di suatu hari di tahun 2005, seorang dirjen di Kemlu bercerita. Dia baru pulang memimpin perundingan bilateral di Brazil. Salah satu program delegasi Indonesia adalah berkunjung ke industri pesawat Embraer, buatan Brazil yang menjadi salah satu perusahaan pembuat pesawat terbang regional terbesar di dunia. Persisnya nomor 4 terbesar dunia. Kemudian sang dirjen diminta berpidato setelah kunjungan ke Embraer. Dia memuji begitu cepat Brazil maju, dari negara pertanian kini menjadi negara industri. “Negeri saya perlu belajar dari Brazil bagaimana seyogianya membangun industri serupa yang sejarah pembangunannya hampir sama dengan PTDI yang dulu dikenal sebagai Nurtanio dan kemudian berganti menjadi IPTN. Kami telah memproduksi Pesawat CN235, tetapi karena perubahan politik parbrik ini terhenti,” kata sang dirjen. Kita masih ingat, salah satu buah reformasi yang berjalan tanpa-arah adalah matinya potensi industri pesawat yang memang telah diramalkan oleh BJ Habibie, insinyur jenius putra Indonesia yang berada di belakang kehebatan PTDI, akan menjadi primadona dunia. Orang-orang anti-Habibie ketika itu mencela, kita tidak sanggup dan tidak perlu membuat pesawat terbang. Hanya membuang-buang uang sia-sia, dan mendingan kita membuat pabrik panci. Mengapa panci ? Karena panci menggunakan aluminium yang juga menjadi komponen utama body pesawat terbang. Tak kurang, Gus Dur seorang kiyai dan pengeritik utama pemerintah menganjurkan hal yang sama. Bahkan PTDI dijadikan ‘joke’. “Pesawat buatan Indonesia itu tak perlu ditembak dalam keadaan perang, karena akan jatuh sendiri tidak diapa-apain. Jadi PTDI itu cukup membuat panci sajalah..” Kembali ke Brazil,sang dirjen lanjut bercerita. “Saya kaget, pidato balasan tuan-rumah tidak saya sangka-sangka,” lanjut sang dirjen. “Excellency, kami dengan rendah-hati harus mengakui justru kami yang belajar dari Indonesia. Industri pesawat Embraer ini tadinya adalah pabrik pesawat militer, dan di pertengahan tahun 1990-an kami bertekad untuk terjun ke industri pesawat sipil. Tidak mudah, karena kami belum memiliki SDM, teknologi dan know how untuk tujuan ini,” kata sang counter-part, yang juga seorang wakil menteri, menemani kunjungan sang dirjen kita. “Embraer menjadi besar seperti sekarang dibangun oleh para insinyur Indonesia, ratusan banyaknya. Dari mereka kami belajar, dan negeri Anda telah memulai. Kami hanya meneruskan, dan justru kami yang berhutang-budi pada Indonesia, karena Embraer sekarng itu dibangun oleh putera-putera Indonesia” kata wakil menteri Brazil. “Saya kaget, malu, sambil bangga, tak menyangka Embraer yang begitu digdaya itu besar di tangan putera-putera Indonesia,” ujar sang dirjen kepada saya. Ingatan saya kembali ke dialog ringan dengan sang dirjen, ketika saya dan isteri menunaikan ibadah haji dari New York, kota tempat saya bekerja di perwakilan Indonesia untuk PBB. Pesawat kami transit di London, dan di ruang tunggu saya banyak bertemu dengan orang Indonesia yang sudah berpakaian ihram. Saya menyapa salah satu di antara mereka yang duduk di sebelah saya. “Bapak dari Indonesia?” “Ya, dari Indonesia. Ada puluhan teman-teman saya serombongan. Kami dari Brazil, dan kami bekerja di sana. Anda sendiri dari mana? Alhamdulillah kita bertemu di sini.” Saya menjelaskan kami berasal dari kota New York, dan ada belasan jamaah haji dalam rombongan saya, tetapi mereka menumpang pesawat lain, kataku. Lalu aku bertanya, berapa banyak masyarakat Indonesia yang tinggal dan bekerja di Brazil. “Kami bekerja di Embraer, pabrik pesawat Brazil. Tadinya kami bekerja di PTDI, tetapi karena politik PTDI tutup. Kami harus tetap menghidupi keluarga. Kami ilmuwan tidak bisa hidup tanpa inovasi dan kreativitas serta uji-lab di workshop industri pesawat terbang. Kebetulan ada lowongan di Embraer yang sedang ekspansi, dan kualifikasi kami memenuhi syarat ilmu dan pengalaman, berkat industri CN235 buatan PTDI yang fenomenal itu.” “Ada ratusan insinyur Indonesia bekerja di Embraer, Brazil. Dan setiap tahunnya puluhan kawan-kawan bergantian cuti naik haji. Kalau saya dan isteri memang setiap tahunnya kami melaksanakan ibadah haji. Mumpung di Brazil urusan birokrasi gampang, visa gampang, dan uang ada sedikit, Alhamdulillah,” kata sang insinyur membuka cerita. Apa ceritanya kemudian dengan PTDI yang pernah menjadi kebanggaan kita? Kita tahu sama-sama, bahwa Pak Habibie —sang jenius— setelah tidak menjadi presiden kemudian fokus dan bertekad untuk mewujudkan mimpinya: Indonesia menjadi pabrik pesawat terbang terkemuka di dunia. Ketika dia meramalkan di tahun 1980-an industri pesawat regional jarak pendek dengan menggunakan baling-baling yang memerlukan lapangan terbang pendek, di bawah 1000 meter, akan merajai dunia. Segera dunia penerbangan akan berkembang cepat, dan keperluan pesawat sejenis akan tinggi. Industri pesawat dengan teknologi tinggi akan menarik gerbong industri lainnya. Habibie benar. Mungkin karena Habibie dianggap hanya seorang scientist dan tidak mengerti politik yang selalu berkaitan dengan kepentingan ekonomi dalam persaingan global. Dia pun diacuhkan, dan juga dilecehkan. Betapa sakitnya ketika ilmuwan dilecehkan dengan ejekan agar PTDI berganti produk dari pesawat terbang menjadi produsen panci. Dengan alasan sangat sederhana: emak-emak Indonesia akan bahagia. Inilah cerminan ‘mentalitas Melayu’ yang selalu merasa rendah-diri ketika berhadapan dengan ‘orang putih’. Mental inlander, anak jajahan, yang tidak percaya dengan kemampuan sendiri. Mereka tidak percaya dan tidak menganggap negeri ini perlu dan bisa bangkit dengan kekuatan sendiri. Mereka untuk keuntungan materil pribadi, senang jika kita senantiasa tergantung dengan orang luar. Mereka pun tidak segan-segan menghina bangsanya, kemampuan orang-orangnya. Mereka pun masuk dalam strategi global pesaing-pesaing yang ingin menghancurkan negeri ini. PTDI is a case in point! Di dunia, PTDI sebelum dihancurkan pada saat reformasi adalah salah satu perusahaan kedirgantaraan pribumi di Asia dengan kompetensi inti dalam desain pesawat dan pengembangan, manufaktur struktur pesawat, perakitan pesawat, dan jasa pesawat untuk sipil dan militer cahaya dan pesawat menengah. Sejak didirikan pada tahun 1976 sebagai perusahaan milik negara di Bandung, Indonesia, --meneruskan PT Nurtanio-- PT Dirgantara Indonesia telah berhasil dieksplorasi kemampuannya sebagai industri dirgantara. Di bidang manufaktur pesawat, PTDI telah memproduksi berbagai jenis pesawat, seperti CN235 di bawah TC (Type Certificate) untuk transportasi sipil atau militer, patroli maritim, surveillance, dan penjaga pantai. Bekerjasama dengan Airbus Defence and Space, PTDI memproduksi NC212i (versi perbaikan dari C212-400) dan sebagai komponen pemasok, perakitan akhir cahaya dan pusat pengiriman CN295. PTDI telah disampaikan lebih 362 pesawat untuk 49 operator. Selain memproduksi pesawat sayap tetap, PTDI juga membuat berbagai jenis helikopter, seperti NAS-332 C1, AS725-Cougar, AS365N3 + - Dauphin di bawah lisensi dari Airbus Helikopter dan BELL-412 EP di bawah lisensi dari Bell Textron, dan pembuatan komponen pesawat, peralatan, dan perlengkapan untuk Airbus A320 / 321/330/340/350/380, untuk MK2 dan EC725 dari Eurocopter Group, juga untuk CN235 dan C295 dari Airbus Defence and Space. Embraer bangkit karena nasionalisme berkaitan dengan kepentingan politik presiden yang ingin mengejar ketertinggalan Brazil. Di pertengahan 1990-an, perusahaan mengejar lini produk lebih terfokus pada pesawat komersial kecil di atas pesawat militer. Mereka pun melangkah ke pesawat regional, seperti ramalan Habibie, untuk memproduksi pesawat penumpang regional yang lebih besar, dengan 70-110 kursi, dan jet bisnis kecil. Embraer pun masuk ke bisnis jet kecil dengan produknya, Legacy 600, dan kemudian menghasilkan Embraer Executive Jets. Sukses di pesawat sipil, Embraer pun membuat pesawat angkut militer twin-jet, Embraer KC-390, yang mampu membawa kargo seberat 23 ton. Sama dengan Brazil, industri pesawat terbang buatan Pak Habibie ini dulunya mendapat proteksi dari negara. Tidak ada yang salah. Kekeliruan kita adalah komponen bangsa pun mengaminkan ‘tekanan pihak luar’ untuk menghentikan subsidi bagi PTDI. Ada kecemburuan politik di sini. Ada proxy war dalam bisnis yang sedang berlangsung dalam persaingan global ini, ketika anak-anak bangsa –menyadari atau tidak atau malah sangat menyadari – ada keuntungan dolar di baliknya embargo ini, meskipun akhirnya kepentingan strategis kita dikalahkan. Kita harus belajar menghargai bangsa sendiri yang pada dasarnya di era kemajuan informasi teknologi dan komunikasi tidak kalah dengan bangsa-bangsa unggul lainnya. Ini persoalan mental: bagaimana mengapresiasi diri sendiri. Cerita PTDI ini mengingatkan kita dengan nasib sama yang dialami oleh industri mobil nasional yang dihancurkan oleh orang-orang di dalam negeri, bekerjasama dengan orang-orang luar yang memiliki kepentingan. Dan sampai kini, negeri kita dibanjiri dengan produk-produk automotive punya orang asing. Dan mereka pun nyaman-nyaman saja. Jakarta, 23 Januari 2017 On Jan 25, 2017 04:53, "Sjamsir Sjarif" <[email protected]> wrote: > > > Presiden Jokowi Instruksikan Kesiapan TNI - POLRI Hadapi Perubahan Global > Presiden > Jokowi Instruksikan Kesiapan TNI - POLRI Hadapi Perubahan Global > <http://www.minang-terkini.com/2017/01/presiden-jokowi-instruksikan-kesiapan.html> > <https://plus.google.com/100543583788388913381> > Dari Minang Terkini kita baca: > <https://plus.google.com/100543583788388913381> > > <https://2.bp.blogspot.com/-T0Xsq-AEXe8/WHxvXDRt8cI/AAAAAAAALwg/o2SRX67CLhAYYbdkdCM9smVV6S2-qHp6wCEw/s1600/panser3.jpg> > > Minang-terkini <http://www.minang-terkini.com/>--Presiden Joko Widodo > meminta kesiapan dari seluruh punggawa Tentara Nasional Indonesia dan Polri > untuk menghadapi segala perubahan yang dengan cepatnya terjadi. Kesiapan > tersebut sangat diperlukan untuk mengantisipasi masalah-masalah dan > tantangan yang akan dihadapi Indonesia ke depannya. Demikian ditegaskan > Presiden Joko Widodo saat memberikan arahan pada Rapat Pimpinan Tentara > Nasional Indonesia (TNI) dan Perwira Tinggi Polri di Gedung Gatot Soebroto, > Markas Besar (Mabes) TNI Cilangkap, Jakarta Timur, pada Senin, 16 Januari > 2017. > > "Kita tahu perubahan global sekarang ini sangat cepat sekali. Dari detik > ke detik, menit ke menit, jam ke jam, hari ke hari perubahannya begitu > sangat cepat. Satu masalah belum selesai berganti dengan masalah yang lain, > masalah yang baru datang. Pelambatan ekonomi global masih terjadi, > pertumbuhan ekonomi dunia masih menurun, artinya situasi ekonomi dunia > belum pulih," terangnya mengawali arahan. > > Terpilihnya Donald Trump selaku Presiden Amerika Serikat disebutnya juga > dapat memengaruhi kebijakan Negeri Paman Sam tersebut. Indonesia dan > sebagian besar negara-negara lain tentunya harus bersiap dengan segala > perubahan kebijakan yang terjadi tersebut. > > Demikian halnya dengan kemajuan di bidang teknologi informasi yang > memengaruhi perubahan tatanan sosial, ekonomi, dan politik. Belakangan > dapat kita lihat fenomena di mana masyarakat kini tak perlu lagi mendatangi > pasar maupun mal untuk berbelanja. Semuanya kini dapat dilakukan hanya > melalui toko online. Kepala Negara meminta hal-hal seperti ini untuk dapat > diantisipasi. > > "Karena itu kita harus bergerak cepat mengantisipasi semua perubahan, > terutama yang berkaitan dengan kecanggihan IT yang setiap detik selalu > berubah-ubah," tegasnya. > > Dalam acara tersebut, Presiden memberikan arahannya kepada 262 perwira > tinggi TNI dan Polri. Dari jumlah tersebut, 184 orang di antaranya > merupakan perwira tinggi TNI, sementara 78 lainnya merupakan perwira tinggi > Polri. Rapat pimpinan tersebut diselenggarakan untuk membangun kesatuan > persepsi para pemimpin TNI dan Polri sehingga dapat menjalankan tugasnya > sesuai dengan arah kebijakan pemerintah dan dapat mencapai hasil yang > optimal. > > "Saya ingin agar semuanya mempunyai visi yang sama, semuanya juga > mengetahui tantangan-tantangan negara kita ini ke depan seperti apa. Baik > tantangan eksternal maupun tantangan internal sehingga bisa bersama-sama > mengambil kebijakan yang arahnya adalah memberikan jalan keluar, memberikan > solusi bagi setiap masalah, bagi setiap tantangan-tantangan yang ada di > depan kita," terangnya kepada para jurnalis. > > > <https://1.bp.blogspot.com/-bDuB4TaAz10/WHxvWIQfKwI/AAAAAAAALwc/9F18pdBHCvkN4iAR1M-EWNrAATrQIyWbACEw/s1600/panser1.jpg> > > *Pertahanan Tanah Air* > > Presiden Joko Widodo sebelumnya tiba di Mabes TNI sekitar pukul 08.47 WIB. > Kedatangannya tersebut disambut oleh jajar kehormatan di pintu utama untuk > kemudian menaiki Panser Anoa 2 6x6 Amphibious buatan PT. Pindad dengan > didampingi oleh Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo beserta para > kepala staf angkatan dan juga Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian. Panser > tersebut selanjutnya melintasi danau Mabes TNI sepanjang kurang lebih 300 > meter untuk menuju Gedung Gatot Soebroto di mana dilaksanakan Rapat > Pimpinan TNI dan Perwira Tinggi Polri. > > Presiden sempat memuji kualitas Panser Anoa Amphibi buatan lokal tersebut. > Sambil berkelakar, Kepala Negara mengaku berdebar saat Panser Anoa berjalan > melintasi danau. > > "Tadi yang Anoa Amphibious bagus sekali. Tank bisa masuk ke air, bagus. > Tadi semua juga deg-degan. Tapi saya yakin bahwa produk-produk itu memiliki > sebuah kualitas yang baik," ujarnya usai memberikan arahan. > > Terkait dengan industri pertahanan nasional, Presiden Joko Widodo > memandang bahwa saat ini sesungguhnya Indonesia memiliki kemampuan untuk > memproduksi sendiri. Hanya saja, satu hal yang ditekankan Presiden, > produk-produk buatan dalam negeri tersebut harus mampu untuk tampil > kompetitif di pasar dunia. > > "Industri pertahanan kita kalau saya lihat ini memproduksinya bisa. Yang > perlu dilihat adalah pembiayaan dari produksi itu. Kalau pembiayaannya bisa > ditekan, artinya produk itu kompetitif di pasar, menjualnya mudah. Jangan > hanya bergantung pesanan dari TNI atau Polri, tapi apakah akan seperti itu > terus? Kan tidak, mesti berani menjual ke luar," terangnya. > > Seusai memberikan arahan, mantan Gubernur DKI Jakarta tersebut juga > berkesempatan untuk meninjau pameran Alsintan (alat dan mesin pertanian) > dan Alpalhan (alat dan perlengkapan pertahanan) buatan dalam negeri. > > Tampak hadir dalam acara tersebut di antaranya Menteri Koordinator Bidang > Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman > Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menteri > Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri > Pertanian Amran Sulaiman, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, > Kapolri Jenderal Pol. Tito Karnavian, Kepala Staf TNI Angkatan Darat > Jenderal TNI Mulyono, Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Agus > Supriatna, Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana TNI Ade Supandi. > > > Jakarta, 16 Januari 2017 > Kepala Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden > > Bey Machmudin > > -- > . > * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain > wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ > * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. > =========================================================== > UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: > * DILARANG: > 1. Email besar dari 200KB; > 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; > 3. Email One Liner. > * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta > mengirimkan biodata! > * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting > * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply > * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & > mengganti subjeknya. > =========================================================== > Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: > http://groups.google.com/group/RantauNet/ > --- > Anda menerima pesan ini karena berlangganan grup "RantauNet" di Google > Grup. > Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, > kirim email ke [email protected]. > Untuk opsi lebih lanjut, kunjungi https://groups.google.com/d/optout. > -- . * Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ * Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email. =========================================================== UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi: * DILARANG: 1. Email besar dari 200KB; 2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 3. Email One Liner. * Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta mengirimkan biodata! * Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting * Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply * Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti subjeknya. =========================================================== Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: http://groups.google.com/group/RantauNet/ --- Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google Grup. Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim email ke [email protected]. Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.
