Dari Antara Sumbar kita baca:

*Membaca Kunjungan Raja Salman Ke Indonesia* 
Sabtu, 25 Februari 2017 9:06 WIB 
Pewarta : Yon Machmudi, Ph.D
Padang, (Antara Sumbar) -Apabila tidak ada perubahan maka pada 1-9 Maret 
2017 Raja Arab Saudi, Salman bin Abdul Aziz, akan berkunjung ke Indonesia. 
Tidak tanggung-tanggung rombongan Raja akan membawa 1.500 anggota delegasi, 
termasuk 10 menteri dan 25 pangeran.

Kedatangan Raja Saudi Arabia ini memiliki arti penting dan strategis bagi 
kedua negara. Mengapa kunjungan ini sangat penting?
Ini dapat dilihat dari dua hal. Pertama, kunjungan ini adalah yang pertama 
bagi raja Saudi setelah hampir 47 tahun ini tidak ada kunjungan ke 
Indonesia.

Padahal sejak Orde Baru beberapa Presiden Indonesia telah melakukan 
beberapa kali kunjungan dimulai dari Gusdur, Megawati Soekarnoputri, Susilo 
Bambang Yudhoyono, maupupn Jokowi. Tidak adanya kunjungan Raja Saudi sejak 
tahun 1970 hingga saat ini adalah sesuatu yang janggal.

Kedua, perubahan politik dunia, terutama di Amerika Serikat (AS) yang 
sedang kurang bersabahat dengan Islam dan Timur Tengah juga menjadikan 
kunjungan ini menjadi penting.

Kebijakan Presiden Trump yang diskriminatif terhadap Islam dan Timur Tengah 
membuat ketidaknyamanan bagi para investor Timur Tengah. Indonesia sebagai 
negara Muslim terbesar di dunia mulai dilirik oleh negara-negara di kawasan 
Timur Tengah.

Pergeseran Polurgi Saudi

Sejak kepemimpinan Raja Abdullah (2005-2015) telah terjadi pergeseran arah 
politik luar negeri (polurgi) Saudi dengan menjadikan Asia sebagai mitra 
alternatif menggantikan hegemoni Barat (Amerika).

Strategi yang digunakan adalah strategi yang dikenal dengan "managed multy 
dependence" (MMD). MMD merupakan strategi mencari beragam hubungan luar 
negeri dengan negara-negara utama guna mengurangi ketergantungan dan 
hegemoni pada satu negara besar (Amerika Serikat).

Perubahan polurgi Saudi ini dapat dilihat dari dipilihnya China dan India 
sebagai prioritas kunjungan pertama Raja Abdullah di luar kawasan Timur 
Tengah pada awal 2006.

Pada Februari dan Maret 2014, Salman bin Abdul Aziz, semasa menjadi Putra 
Mahkota, mendapat tugas untuk berkunjung ke Jepang, India dan Cina. Posisi 
ketiga negara ini dinilai sangat strategis karena penggabungan kekayaan 
ketiga negara ini ternyata menyamai jumlah kekayaan negara AS yang selama 
ini menjadi sekutu setia Saudi.

Demikian juga ketiga negara Asia ini secara bersama-sama mampu menyerap 
lebih dari 39 persen minyak Saudi. Suatu jumlah yang sangat besar dibanding 
AS sendiri yang hanya menyerap 19 persen saja.

Kebijakan Raja Abdullah mereduksi hegemoni Amerika dan melirik Asia ini 
kemudian diikuti oleh penerusnya, Raja Salman.

Pada Juni 2015, Kerajan Saudi mengutus Wakil Putra Mahkota sekaligus 
Menteri Pertahanan, Muhammad bin Salman, mengunjungi Moskow guna 
menandatangani perjanjian kerja sama bilateral di sektor minyak, militer, 
nuklir dan ekspolarasi ruang angkasa.

Setelah itu kunjungan-kunjungan kerajaan dilakukan di negara-negara Asia 
seperti Jepang, China, Korsel dan India.

Walaupun AS saat ini masih mendominasi pembelian minyak Saudi (19 persen) 
tetapi empat negara Asia (Jepang, China, Korsel dan India) berpotensi 
menggantikan kedudukan Amerika.

Keempat negara ini masing-masing membeli minyak ke Saudi sebesar 1,2 juta 
bpd (Jepang), 1,1 juta bpd (China), 0,9 juta bpd (Korea Selatan) dan 0,8 
juta bpd (India). Total impor negara-negara Asia dari Saudi mencapai 4 juta 
bpd (51 persen).

Bahkan hingga 2040 kebutuhan mereka akan terus meningkat sementara AS saat 
ini mulai membatasi impor minyaknya karena fokus untuk memenuhi sendiri 
kebutuhannya (Yamada, 2015).

Impor minyak Indonesia saat ini mencapai 0,55 juta bpd dan akan terus 
menanjak hingga 0,88 juta bpd. Sekitar 29 persen kebutuhan minyak Indonesia 
disuplai dari Saudi.

Karenanya, seiring dengan strategi MMD Saudi yang cukup efektif ini dalam 
menggeser hegemoni AS di Saudi, posisi Indonesia menjadi sangat penting 
karena kebutuhan impor minyak Indonesia yang cukup besar di bawah India. 
Dan ini akan menjadi prospek pasar penting bagi Saudi.

Mispersepsi Hubungan

Walaupun Indonesia-Arab Saudi secara historis memiliki hubungan khusus 
karena kesamaan agama tetapi hubungan bilateral kedua negera ini tidaklah 
sekuat sebagaimana sering diasumsikan banyak kalangan.

Indonesia tidak menjadi mitra strategis bagi Arab Saudi sementara strategi 
polurgi Indonesia cenderung berkiblat ke Barat. Isu-isu yang dominan justru 
berkaitan dengan masalah-masalah tenaga kerja wanita Indonesia di Saudi.

Ada mispersepsi di antara kedua negara ini sehingga berpengaruh terhadap 
tidak optimalnya hubungan bilateral keduanya.

Saudi yang sering menggunakan strategi bantuan (politics of assistance) 
lebih banyak memfokuskan kerja sama di bidang keagamaan dengan membangun 
fasilitas-fasilitas keagamaan (rumah ibadah) maupun sekolah-sekolah agama.

Uniknya, peran diplomasi Kerajaan Arab Saudi di Indonesia lebih banyak 
dilakukan oleh atase Agama karena tidak adanya atase perdagangan maupun 
pendidikan.

Bantuan keagamaan Saudi bukan berarti tanpa masalah. Besarnya bantuan 
kepada yayasan-yayasan keagamaan yang berbeda aliran dengan mayoritas umat 
Islam di Indonesia telah menimbulkan potensi konflik keagamaan.

Sejak era Orde Baru sikap pemerintah Indonesia terhadap negara-negara di 
Timur Tengah kurang positif karena isu-isu radikalisme. Timur Tengah, 
termasuk Saudi Arabia dicurigai sebagai pusat penyebaran gerakan-gerakan 
Islam radikal di Indonesia.

Tidak disadari penekanan kerjasama keagamaan ternyata menjadikan hubungan 
kedua negara itu tidak optimal. Saudi menganggap Indonesia defisit dalam 
hal keagamaan sementara pihak Indonesia mengkhawatirkan potensi masuknya 
aliran-aliran radikal ke Indonesia.

Akibatnya kerja sama di bidang ekonomi dan pendidikan non agama tidak 
maksimal, padahal potensi kedua negara ini sangat besar.

Prospek Ekonomi

Dari sisi investasi, Arab Saudi memiliki potensi yang sangat besar. Para 
investor Saudi sangat identik dengan keluarga istana. Artinya, kebijakan 
politik istana dan ekonomi selalu saling berkaitan. Sebagian besar 
orang-orang kaya Saudi adalah keluarga istana.

Sebut saja Pangeran Walid bin Talal bin Abdul Aziz adalah termasuk orang 
terkaya di dunia dengan kekayaan mencapai USD 20 milyar. Pada 2005 dia 
menyumbang Universitas Harvard dan Georgetown sebesar USD 40 juta dolar 
untuk pengembangan studi Islam.

Pada sisi lain kerjasama pendidikan di Indonesia lebih banyak diperankan 
oleh Lembaga Pendidikan Islam dan Arab (LIPIA) di Jakarta yang rencananya 
akan dikembangkan di tiga wilayah di Indonesia.

Kerja sama dan bantuan pendidikan tidak banyak dilakukan dengan 
universitas-universitas umum ternama di Indonesia.

Akibatnya, peran Saudi di Indonesia cenderung periperal karena hanya nampak 
di ranah keagamaan. Berbeda dengan Iran dan Turki misalnya, mulai fokus 
menggarap kerja sama di bidang ekonomi dan pendidikan umum.

Presiden Ahmadinejad (2006) dan Abdullah Gul (2011) misalnya, menyempatkan 
berkunjung ke Univeristas Indonesia guna menyampaikan pesan perdamaian yang 
dihadiri oleh ribuan mahasiswa. Resonansinya pun membahana di kalangan 
anak-anak muda Indonesia.

Investasi Saudi di AS juga tergolong besar yaitu mencapai 600 miliar dolar 
AS. Baru-baru ini, Departemen Keuangan AS membuka informasi tentang nilai 
hutang AS kepada Saudi yang mencapai 116,8 miliar dolar AS atau sekitar 
Rp1.551 triliun (CNN, 17/5/16). 
Perubahan politik di AS, terutama sejak Trump berkuasa, menyebabkan 
kerajaan Saudi dan para investornya merasa tidak nyaman dan mulai 
memindahkan dana mereka.

Kemarahan Saudi ditumpahkan kepada AS ketika negara ini berusaha 
mengesahkan Undang-Undang tentang terorisme yang memberikan kesempatan 
kepada keluarga korban September 11 menuntut Saudi bertanggung jawab 
terhadap peristiwa itu. Pihak kerajaan pun mengancam akan menarik dananya 
dari AS.

Pada tahun lalu dikabarkan sebanyak USD 200-300 milyarditarik oleh investor 
Saudi dari AS (South Front, 17/12/16) dan sisanya sedang menunggu 
perkembangan.

Indonesia sebagai negara Muslim terbesar di dunia dimana pada 2050 akan 
masuk empat besar raksasa ekonomi dunia sangat berpotensi menjadi 
alternatif bagi para investor Saudi.

Ubah Persepsi

Tergantung bagaimana kedua negara ini menyikapi rencana kunjungan yang 
sangat bersejarah ini. Jika kedua negara menginginkan hubungan yang kuat 
dan saling menguntungkan maka mereka perlu mengubah persepsi yang 
berkembang saat ini.

Saudi harus memperlakukan Indonesia sebagaimana mereka menempatkan mitra 
strategisnya di kawasan Asia seperti Cina, India, Korea, dan Jepang.

Wacana untuk belajar dari Saudi dalam menangani terorisme misalnya, 
bukanlah suatu kebijakan yang tepat. Fakta membuktikan bahwa negara-negara 
Timur Tengah terbukti gagal dalam mengendalikan potensi terorisme.

Sangatlah naif kalau Indonesia justru belajar kepada negara-negara Timur 
Tengah dalam memerangi terorisme tetapi tidak optimal memanfaatkan potensi 
ekonomi yang luar biasa ini.

Kepentingan ekonomi menjadi sangat penting dibanding masalah keagamaan dan 
keamanan. Besarnya rombongan Raja dan lamanya kunjungan telah mengukuhkan 
karakteristik polutik luar negeri Saudi yang dibangun atas dasar 
kekeluargaan, persahabatan dan kepercayaan.

Dengan demikian kedua negara ini akan duduk sebagai dua negara yang sejajar 
dan berpengaruh di dunia Islam dan Timur Tengah. Selamat Datang Yang Mulia 
Raja Salman bin Abdul Aziz di Indonesia!

*) Penulis adalah Dosen Program Studi Arab Universitas Indonesia, Direktur 
Indonesia-Middle East Institute (IMEINS) dan kontributor buku Saudi Arabian 
Foreign Policy: Conflict and Cooperation (2016), IB Tauris: London





Editor : Ikhwan

COPYRIGHT © ANTARASUMBAR 2017

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke