Dari SIPerubahan kita baca:
SIPerubahan
DEKONSTRUKSI TEOLOGI MAUT
By Mahathir Muhammad 18 Februari 2016 0 Comments Comments 31 Views Views
Serangkaian serangan terjadi di Paris, Perancis, Jumat (13/11/2015) malam waktu
setempat, menewaskan sedikitnya 18 orang. Demikian penjelasan kepolisian.
Sebanyak 15 orang korban tewas di gedung konser Bataclan dan restoran Petit
Cambodge.
Sebagian serangan dilakukan dengan bom bunuh diri. Dalam tulisan ini, saya
ingin fokus mengkaji mengenai bom bunuh diri ini. Mengapa? Karena sebagian
teror dilakukan dengan cara ini, sehingga perlu kiranya, dalam skala tertentu,
dilakukan dekonstruksi terhadap salah satu bentuk fatalisme keagamaan tersebut.
Isy Kariman Au Mut Syahidan
Di dalam komunitas-komunitas militan, slogan “Isy Kariman Au Mut
Syahidan” amatlah familiar. Sebuah slogan yang menjadi trigger dan stimulus
terhadap aksi-aksi teror.
Pertanyannya, apakah slogan seperti itu berpengaruh terhadap perilaku
keagamaan seseorang atau kelompok keagamaan? Itu sangat bergantung kepada
pemahaman dan aktualisasinya dalam kehidupan sehari-hari. Individu atau
kelompok tertentu yang memahami doktrin tersebut sebagai ”ayat suci” secara
parokial dan tidak kontekstual akan mudah mengimplementasikan dalam pandangan
dan sikap keagamaan yang eksklusif, keras, dan militan.
Tidak jarang pandangan dan sikap keagamaannya menjadi fatalistik dengan jalan
menjauhi hidup duniawi dan sangat menggebu untuk melakukan jihad, sekalipun
harus mengorbankan nyawa sendiri. Mereka percaya bahwa mati syahid jauh lebih
mulia bila dibandingkan dengan hidup di dunia, tapi tidak ada artinya. Kelompok
ini -meminjam terminologi mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Syafi’i
Maarif- menjadikan doktrin itu sebagai ”teologi maut”. Mereka ingin cepat mati,
tetapi tidak berani hidup.
Namun, mereka yang memahami doktrin tersebut secara kritis dan kontekstual akan
paham bahwa slogan tersebut bukanlah potongan ayat suci Alquran, tetapi sebuah
”ungkapan bijak” yang perlu dilihat konteksnya. Mereka paham betul bahwa slogan
itu berasal dari nasihat bijaksana dari Asma binti Abu Bakar kepada anaknya,
Abdullah bin Zubeir.
Dalam sejarah Islam disebutkan bahwa Asma menasihati anaknya yang saat itu
menemui kesulitan dalam peperangan dan menghadapi ancaman musuh. Saat itulah
muncul nasihat isy kariman au mut syahidan itu dan kemudian menjadi sangat
ampuh untuk melecut semangat kepahlawanan Ibnu Zubair dalam peperangan, sampai
titik darah penghabisan. Ibnu Zubair memang diriwayatkan sebagai seorang
pejuang hebat yang selalu siap berjuang untuk Islam, berani mengambil risiko
dalam pertempuran, sangat tekun beribadah, dan dipandang sebagai syuhada. Tapi,
hidupnya juga berakhir secara dramatis karena tubuhnya disalib dan kepalanya
dipenggal oleh Hajjaj bin Yusuf dan dikirimkan sebagai hadiah kepada Abdul
Malik yang menjadi penguasa kekhalifahan Bani Ummayah.
Dalam sejarah gerakan modern Islam, slogan isy kariman au mut syahidan juga
dinyatakan oleh Sayyid Qutb, ideolog dan pemikir gerakan Ikhwanul Muslimin di
Mesir, di saat-saat terakhir hidupnya ketika menghadapi tiang gantungan rezim
Gamal Abdul Nasser. Ungkapan Qutb itu sering dijadikan referensi oleh
kelompok-kelompok militan dalam memperjuangkan aspirasinya. Tapi, mereka yang
memahami perkembangan gerakan Islam paham betul bahwa slogan tersebut punya
konteks historis dan politis pada masanya.
Di Indonesia, kalangan NU maupun Muhammadiyah tidak menggunakan slogan itu
karena dua ormas Islam tersebut mengembangkan pendekatan kultural dalam metode
dan strategi dakwahnya. Secara umum, NU maupun Muhammadiyah sangat menekankan
pendekatan dakwah yang inklusif dan moderat. Teologi NU bersumber pada doktrin
ahlu sunnah wal jamaah yang sangat menekankan kepada doktrin tawassuth
(moderat) dan tasamuh (toleran) dalam pandangan dan sikap keagamaan. Sementara
itu, basis sosial NU adalah pesantren yang sejak awal mendakwahkan Islam yang
ramah dan akomodatif terhadap tradisi lokal dan watak budaya Nusantara.
Berbeda dengan ideologi gerakan keagamaan transnasional Islam yang cenderung
eksklusif dan parokial, pesantren sebagai basis sosial NU mengajarkan doktrin
keagamaan yang inklusif dan orientasi kehidupan dunia dan akhirat yang
seimbang. Kekuatan pesantren terletak pada pemahaman keagamaan yang bersumber
dari khasanah tauhid, fikh, dan tasawuf yang integratif serta pengembangan
nilai-nilai kepribadian dan kemandirian hidup.
Dalam konteks fiqh, misalnya, dikenal tradisi aqwal, yakni untuk menganalisis
suatu masalah dapat digunakan banyak pendapat. Teologi dan tradisi NU itu jelas
berbeda dengan pandangan keagamaan yang eksklusif dan fatalistik.
Sementara itu, Muhammadiyah dikenal dengan usahanya untuk mengembangkan dakwah
amar ma’ruf nahi munkar melalui ”teologi Al Ma’un” yang ditransformasikan
melalui pemberdayaan umat, terutama kaum mustad’afin (kelompok dhuafa). Dalam
konteks itu, Muhammadiyah memberikan ”tafsir sosial” Surat Al Maun yang
transformatif dan membebaskan. Lewat tafsir sosial yang transformatif itu,
Muhammadiyah mengingatkan umatnya untuk tidak terjebak dalam kelompok ”yang
mendustakan agama”. Yaitu, kelompok menelantarkan kaum dhuafa; yakni mereka
yang rajin salat, tapi tidak peduli terhadap lingkungan sosialnya. Juga mereka
yang tekun beribadah dan beramal saleh, tapi semangatnya riya dan mementingkan
diri sendiri (selfish). Tafsir sosial dan teologi transformatif itulah yang
menjauhkan warga Muhammadiyah dari fatalisme keagamaan dan mengimplementasikan
makna jihad secara positif dan konstruktif dalam kerja-kerja kultural dan
intelektual.
Karena itu, doktrin isy kariman au mut syahidan yang sering ditafsirkan secara
sempit dan parokial oleh kelompok-kelompok militan perlu segera didekonstruksi.
Untuk itu, pengertian jihad yang diderivasi lewat ”teologi maut” yang
fatalistik dan menghalalkan kekerasan, bunuh diri, atau mencederai orang lain
untuk mengejar mati syahid harus ditafsirkan kembali secara kritis, substantif,
dan kontekstual. Dalam konteks itu, jihad haruslah diletakkan dalam bingkai
pemahamahan hermeunetika yang inklusif, mendalam, dan konstruktif untuk
kemaslahatan umat (bonum commune) dan kesinambungan peradaban.
Prof Khalid Abu Fadl, guru besar hukum Islam dari UCLA, Amerika, dalam
karyanya, The Great Theft: Wrestling Islam from the Extremists, mewanti-wanti
kaum muslimin agar waspada terhadap kelompok-kelompok militan yang menafsirkan
makna jihad secara serampangan dan tidak sesuai dengan semangat Alquran serta
misi otentik Islam sebagai agama kemanusiaan.
Menurut Abu Fadl, jihad dalam Islam berorientasi kepada orientasi spiritual
yang kuat dan etika kerja material yang berorientasi kepada semangat
kemanusiaan. Jadi bukan pada tafsiran yang eksklusif dan fatalistik. Sudah
saatnya para ulama, intelektual, dan juru dakwah NU dan Muhammadiyah bersatu
dan bekerja bahu-membahu membebaskan umat dari fatalisme keagamaan yang sempit
dan parokial.
--
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
1. Email besar dari 200KB;
2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi;
3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di:
http://groups.google.com/group/RantauNet/
---
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.