Teologi Maut Versus Teologi Hidup
Oleh Khoirul Anam  - 15 April 2015  - Pada Wacana  2402   0  

BERANI HIDUP TAK TAKUT MATI

TAKUT MATI JANGAN HIDUP

TAKUT HIDUP MATI SAJA

Islam adalah agama damai, meski pemberitaan tentang rentetan perilaku keji 
sebagian oknum pengikutnya masih ditemukan. Kita masih menemukan setumpuk 
perilaku kasar yang dilakukan oleh oknum itu dengan menggunakan kalimat takbir, 
Allahu Akbar! Perilaku kekerasan itu tidak pernah memiliki dasar pembenaran 
satu pun dalam Islam, karena pasti tidak ada! Agama ini jauh dari kekerasan. 
Jangankan untuk membuat kerusakan, menunjukkan muka masam saja langsung dapat 
tegur dari Tuhan.

Buya Syafi’i Maarif pernah menyebut konsep bernama teologi maut. Keyakinan 
berupa keagungan agama yang hanya dapat diraih dengan cara kematian. 
Menurutnya, teologi maut ini sesungguhnya hanya dianut oleh orang-orang yang 
takut hidup. Semacam ingin kabur dari realitas hidup yang makin lama makin 
tidak bisa dikendalikan. Mereka sangat yakin bahwa kebahagiaan akan dapat 
diraih melalui kematian.

Benarkah para penggemar pelaku kekerasan berani menyerahkan nyawa demi 
menegakkan hukum ilahi? Atau jangan-jangan mereka mati hanya karena banyaknya 
kesulitan hidup yang tidak dapat mereka atasi, sehingga mereka menjadikan 
kematian sebagai jalan pintas untuk menyongsong kebahagiaan? Seolah hidup sudah 
tidak lagi penting untuk diperhatikan. Entahlah, hanya mereka saja yang 
mengerti. Namun kita patut waspada, karena pemikiran dan perilaku para penggila 
kekerasan ini sangat berbahaya. Kita juga jangan mudah terperdaya dengan 
janji-janji surga bagi siapa saja yang bersedia mencederai sesama, karena agama 
tidak segila itu!

Buya Syafi’i Maarif menganjurkan melawan teologi maut dengan budaya siuman, 
yakni dengan mengedapankan akal sehat dan nurani bersih. Dengan akal sehat kita 
akan jauh dari pemikiran-pemikiran sesat. Sedangkan nurani bersih akan membantu 
menjadi manusia yang seutuhnya, yang bisa mencintai dan menjaga sesama seperti 
ia mencintai dan menjaga diri sendiri.

Nabi Muhammad diutus Allah ke dunia untuk menyempurnakan akhlak, mengubah pola 
pikir dan perilaku dari yang semula nista menjadi mulia. Beliau mencontohkan 
cara beragama yang bijaksana, menebar wahyu kebenaran dengan tetap menghormati 
perbedaan. Nabi Muhammad adalah contoh nyata manusia yang sangat menikmati dan 
mensyukuri hidup. Kesempatan hidupnya dipergunakan semaksimal mungkin untuk 
memberi pengajaran menggapai hidup mulia. Ingat, hidup mulia bukan mati merana.

Jika benar bunuh diri dihadiahi surga, mengapa nabi Muhammad tidak 
melakukannya? Padahal jika beliau mau, beliau bisa saja memilih untuk mati. 
Tapi nyatanya tidak, nabi Muhammad memilih untuk tetap hidup dan berjuang 
menebar ajaran-ajaran Islam. Kehidupan Nabi pun berhenti di atas ranjang 
rumahnya dalam keadaan damai. Hal ini berarti bahwa hidup lebih bermanfaat 
daripada mati. Jadi, masih kepikiran untuk bunuh diri?

-- 
.
* Posting yg berasal dari Palanta RantauNet, dipublikasikan di tempat lain 
wajib mencantumkan sumber: ~dari Palanta R@ntauNet~ 
* Isi email, menjadi tanggung jawab pengirim email.
===========================================================
UNTUK DIPERHATIKAN, yang melanggar akan dimoderasi:
* DILARANG:
  1. Email besar dari 200KB;
  2. Email attachment, tawarkan & kirim melalui jalur pribadi; 
  3. Email One Liner.
* Anggota WAJIB mematuhi peraturan (lihat di http://goo.gl/MScz7) serta 
mengirimkan biodata!
* Tulis Nama, Umur & Lokasi disetiap posting
* Hapus footer & seluruh bagian tdk perlu dlm melakukan reply
* Untuk topik/subjek baru buat email baru, tdk mereply email lama & mengganti 
subjeknya.
===========================================================
Berhenti, bergabung kembali, mengubah konfigurasi/setting keanggotaan di: 
http://groups.google.com/group/RantauNet/
--- 
Anda menerima pesan ini karena Anda berlangganan grup "RantauNet" dari Google 
Grup.
Untuk berhenti berlangganan dan berhenti menerima email dari grup ini, kirim 
email ke [email protected].
Untuk opsi lainnya, kunjungi https://groups.google.com/d/optout.

Kirim email ke